
Setelah kepergian Rizki, kini Angel berlalu meninggalkan kantor mantan tunangan nya itu, Roy.
Di tempat lain, tepat di kampus Agnes, Agnes yang sangat merasa gugup karena hari ini adalah hari penentuan untuknya, dan untuk satu angkatan nya di kampus nya.
"Van, sumpah gue takut banget" ucap Agnes yang melihat ruang skripsi.
"Iya sama, gue juga" ucap Vani
"Agnes Aqqela Ananda Putri" ucap salah satu dosen yang ikut berpartisipasi dalam acara meja hijau.
Agnes yang merasa dirinya dipanggil langsung berdiri
"Semangat nes" ucap Vani menyemangati Agnes
30 menit berlalu, Agnes tak kunjung keluar dari ruangan yang menegakkan itu.
Sedangkan di ruangan, momen yang sangat menegangkan batin dan hati Agnes, ia hanya bisa diam duduk menunggu hasil akhir sidangnya.
"Hufttt......" napas tidak terlalu panjang dikeluarkan sang dosen
"Agnes Aqqela Ananda Putri" baca sang dosen pada halaman pertama buku skirpsi Agnes
Dengan rasa tak bersalah, si dosen memasang wajah sedihnya dan sedikit membolak-balik buku yang ditangannya.
Agnes yang melihat mimik wajah si dosen, dengan susah payahnya ia menelan saliva nya
"Apapun keputusan nya kamu harus menerima nya, Nes" batin Agnes menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Selamat Agnes, kamu lulus dengan nilai IPK tertinggi di kampus ini. Bulan depan kamu akan kerja di perusahaan ...... karena mereka membutuhkan orang seperti kamu" jelas sang dosen dengan semangat
Mendengar penjelasan dosen tersebut, Agnes terkejut dan tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum bahagia tanpa disadari air mata kebahagiaan nya keluar dengan sendirinya.
Dengan cepat Agnes mengusap pipinya dan berlari ke meja para dosen dan menyalami satu persatu sambil mengucapkan terimakasih kepada mereka sangking bahagia dan terharu nya.
Ceklek.....
Tanda pintu ruang sidang tersebut terbuka dan memunculkan wajah manis Agnes yang berubah menjadi masam.
Vani yang melihat perubahan wajah Agnes langsung menghampiri nya dan menarik dia ke tempat duduk mereka semula.
"Gimana......gimana......?" tanya Vani kepo
Agnes hanya memasang wajah cemberut nya.
Agnes hanya menghela napas panjang tanda pasrah. Agnes dengan sengaja mengeluarkan air matanya dan sedikit mengeluarkan isakan tangis membuat Vani panik apalagi saat Agnes tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Kenapa Nes?" tanya Vani lembut sambil mengusap kepala Agnes dengan penuh kelembutan
"Hiks....hikss....." Agnes semakin menangis dengan sejadinya
Vani yang belum pernah melihat Agnes menangis sebelumnya membuat dia sedikit kewalahan.
"Are you oke?" tanya Vani lagi yang kemudian mengusap punggung Agnes
Tangis Agnes semakin pecah. Vani yang benar-benar kebingungan hanya bisa diam dan mengelus punggung sahabatnya itu.
__ADS_1
Selesai menangis, Agnes melepaskan pelukannya dari Vani dan menghapus sisa air mata yang ada di mata dan pipinya, dan di bantu oleh Vani.
Setelah keadaan mulai membaik, Vani memberanikan diri untuk bertanya lagi dengan menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.
Melihat kode itu Agnes langsung tersenyum lebar selebar mungkin.
"Maafin gue" ucap Agnes yang membuat Vani semakin bingung
"Soal?" tanya Vani bingung
"Gue dah nangis dipelukan Lo dan membasahi baju lu" ucap Agnes
"It's okay babyy" jawab Vani
"Itu gimana, hasil sidang Lo?" tanya Vani penasaran
"Nah itu dia........" ucap Agnes yang sedikit menjeda ucapannya
"Iya gimana?" tanya Vani dengan penasaran
"Gue........." ucap Agnes dan memasang wajah sedihnya
"Jangan bilang Lo........"
Agnes menggelengkan kepalanya ke atas dan bawah
"Gak mungkin" ucap Vani frustasi
__ADS_1
"Ceritain semuanya" kata Vani sambil menggoyangkan kedua pundak Agnes dengan kuat