
"Awww....sakit monyet" ucap Agnes
"Makanya cerita" tegas Vani
"Gua......"
"Iya lu, lu kenapa......" potong Vani
"Gue lulus dengan nilai IPK tertinggi dan bulan depan gua Uda kerja di perusahaan ......." jelas Agnes dengan bangga sambil mengangkat kedua tangannya
"Trus tadi ngapain nangis?" tanya Vani dengan sedikit kesel
"Gue terharu" ucap Agnes dengan rasa tidak berdosa
"Terharu..... terharu" kesel Agnes
"Lu tau gak......"
"Iya gua tau. Lo pasti ngira gua gak lulus kan" potong Agnes
"Nah itu Lo tau" kesel Vani
"Kalo ada kabar baik yah ekspresi nya baik, kalo ada kabar sedih ekspresi nya juga sedih. Jangan kabar baik ekspresi nya sedih kan bingung gua" jelas Vani dengan sedikit emosi
"Hehehe, iya maaf" ucap Agnes dengan manja dan kembali memeluk Vani lebih erat
"Lain kali jangan gitu" ucap Vani
"Iya...iya....maaf" jawab Agnes sambil mendongakkan wajahnya dan memainkan puppy eyes nya dengan telaten
Vani yang melihat Agnes langsung tersenyum dan membalas pelukan hangat dari sahabat nya itu.
Adegan mesra itu berakhir ketika salah seorang dosen memanggil nama Vani
"Vani Pricillia" panggil dosen
"Gue masuk dulu ya" ucap Vani yang melepaskan pelukannya
Sama halnya dengan Agnes, Vani yang baru masuk ke ruangan sidang itu langsung panas dingin.
__ADS_1
"Silahkan" ucap dosen pada Vani
......
45 menit dalam ruangan yang ber-AC namun sangat panas dirasakan Vani tidak mampu membohongi semuanya itu.
Panas dingin yang dirasakan nya selama lima menit terakhir tidak ada artinya dengan kata terakhir yang terucap dari bibir sang dosen, yaitu Lulus
Bahagia, sedih, terharu, semua perasaan bercampur aduk dalam diri Vani
Berbeda dengan Agnes, keluarnya Vani dari ruangan yang menegangkan itu, Ia hanya memancarkan senyum manisnya dan berlari menuju Agnes duduk.
"Gue lulus" ucap Vani dengan bahagia
"Masaaa?" goda Agnes
"Idih.. Lo ya" ucap Vani sambil menoyor kepala Agnes
"Hahahaha" tawa Agnes pecah
"Akhirnya kita sudah gak mahasiswi lagi" ucap Vani girang
"Ehhh, kita makan dulu yuk di depan" kata Vani
"Ayokkk" jawab Agnes dengan penuh semangat
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kantor Roy. Roy merasa bangga dengan hasil kerja Leo yang dengan cepat mengetahui perkembangan Agnes
"Gue bangga sama lu" kata Roy
"Cehh, baru kali ini lu muji gua" ejek Leo
"Biasanya gak pernah" tambah Leo
"Padahal bukan cuma ini saja tugas gue yang beres" tambah Leo lagi
"Lu rempong banget sih" jengkel Roy
"Masih mendingan gua puji Lo" kesel Roy
__ADS_1
"Lebih baik gak usah dipuji" sungut Leo
"Yaelahhh, Lo jadi cowok baperan amat sih" ucap Riy
"Emang" ketus Leo
"Lu tau, gua udah lama kerja ama lu dan baru kali ini lu muji gua hanya karena ini" ucap Leo dengan nada sok disedihkan
"Lu anggap gua apa Roy?" tanya Leo lebay sambil menggoyangkan pundak Roy
"Babu" singkat Roy
"Gilak sih....Lo benar-benar gila men" ucap Leo
"Cowok setampan gue Lo anggap babu" tambah Leo sembil melihat pancaran dirinya di cermin kerja Roy
"Sakit hati gua bro" kata Leo sambil memukul pelan dada bidangnya
"Bodo amat" singkat Roy
"Lebay banget sih Lo" ucap Roy jijik
"Mennn, come on" ucap Leo
"What honeyy" goda Roy sambil mendekat pada Leo
"Bajingan mesum" rutuk Leo pada Roy
"Ayolahhhh" goda Roy lagi.....
"Gila lu ya" marah Leo
"Tenang aku ............"
Leo dengan cepat mendorong kuat badan kekar Roy, membuat Roy tertawa terbahak-bahak
"Senjata makan tuan kan lu" ucap Roy penuh kemenangan
Leo hanya diam mematung merutuki kebodohan nya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1