
Setelah selesai merapikan meja Agnes, kini Agnes dan Leo mengelilingi kantor kebesaran milik Roy. Leo dengan telaten menjelaskan apa-apa saja yang harus di lakukan Agnes sebagai sekertaris Roy
Sebenarnya Agnes tidak terlalu mendengarkan, karena di pikiran Agnes menjadi seorang sekretaris pribadi itu ya sangat gampang lah. Tapi mau tidak mau dia harus benar-benar mendengarkan dengan seksama apa yang di jelas Leo
"Yang paling penting, kamu harus benar-benar sabar dan telaten menghadapi calon bos kamu" ucap Leo di akhir penjelasan nya
"Dia itu kadang aneh. Kadang baik seperti malaikat, kadang jahat layaknya seperti setan" tambah Leo
"Tapi selama saya bekerja dengan dia, saya memperhatikan dia tidak pernah bersikap baik pada perempuan. Dan sangat jarang bahkan tidak pernah seorang perempuan pun yang berhasil menjadi sekertaris nya" tambah Leo lagi
"Saya tidak terlalu peduli" ucap Agnes acuh
"Tapi saya rasa, bos kamu itu punya perasaan sama kamu" ucap Leo tiba-tiba yang membuat langkah kaki Agnes terhenti
"Maksudnya?" tanya Agnes polos
"Ya, mungkin saja dia suka sama kamu atau.............
cinta mungkin" jawab Leo tepat di hadapan Agnes
"Waw itu luar biasa sekali" jawab Agnes enteng dengan nada meremehkan
__ADS_1
" Jika dia cinta sama saya, saya akan menjadi nyonya di sini dan akan memecat kamu" jawab Agnes enteng dan pergi meninggalkan Leo yang ternganga mendengar ucapan Agnes
"Sialan" umpat Leo
"Apa dia gak punya hati ya? Bisa-bisanya dia gak terpesona sama si Roy atau....... jangan-jangan matanya sakit ya" tebak Leo
Jam semakin meninggi, tugas Agnes telah selesai sebagai sekertaris Roy yang belum aktif. Agnes beranjak dari duduk nya untuk meninggalkan kursi kebesaran nya malam ini.
Takdir yang baik ternyata tidak menghampiri Agnes, setalah lima belas menit meninggalkan kantor Agnes masih setia berdiri di pinggiran jalan hanya untuk menunggu transportasi jalan yang akan lewat. Ponsel yang canggih baru saja lowbat sehingga memperkeruh suasana malam dingin Agnes kali ini.
Sementara Roy baru saja selesai melakukan kerjaan nya. Dengan sedikit peregangan, dia memperhatikan keadaan sekitar dan ternyata hanya dia seorang diri yang berada di kegelapan bangunan tinggi tersebut.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, Roy bergegas meninggalkan bangunan keluarganya, menyusuri jalanan dengan motor pribadi, menikmati angin malam yang sama sekali tidak tembus ke dalam kulit nya.
Ada niat ingin membantu Agnes, ternyata hilang begitu saja. Diganti dengan niat ingin mengerjai gadis keras kepala itu. Ingin mengetahui sekeras apa kepalanya. Dengan tancapkan gas yang tidak terlalu kencang, Roy berhasil memberhentikan motornya tepat di samping Agnes
"Mau bareng?" tanya Roy
Agnes hanya menatap sekilas
"Tidak terimakasih" jawab Agnes santai dan masih terus berjalan
__ADS_1
"Dasar keras kepala" ucap Roy pelan namun masih bisa di dengar Agnes
"Emang mau sampai kapan kamu jalan terus?" tanya Roy yang setia mengikuti Agnes dengan motor nya
"Sampai gua dapat angkutan umum" jawab Agnes santai
"Okeeyyy" jawab Roy pasrah
Sekilas Roy melihat rombongan motor dengan pakaian hitam-hitam yang masih setia memakai helm dan Dudi di motor mereka masing-masing
"Takdir selalu berpihak kepada orang yang sabar" batin Roy bangga
"Yakin gak mau ikut?" tanya Roy lagi
"Enggakkkkk!!!" jawab Agnes tegas
Sekilas Roy melihat rombongan motor yang memakai pakaian serba hitam dan helm yang masih terpakai. Tanpa pikir panjang Roy langsung mengerjai Agnes dengan menakut-nakutinya.
"Menurut yang saya dengar, ini jalan cukup menakutkan bagi seorang pejalan sendiri seperti kamu" goda Roy
"Apalagi sekarang lagi marak-maraknya nya begal" goda Roy lagi
__ADS_1
"Byeee, selamat berjuang sendiri" ucap Roy dan pergi meninggalkan Agnes sendiri
Mendengar penjelasan Roy, Agnes bergidik ngeri. Langsung memperhatikan sekeliling dan menangkap rombongan pemotor berpakaian serba hitam