The King

The King
Episode 28


__ADS_3

Zahid melihat perempuan yang ada di depannya dan merasa tidak percaya dengan kebetulan yang terjadi. Bagaimana bisa calon istri yang selama ini selalu dirahasiakan, sekarang duduk dan makan roti dengannya. Rambut halus yang tergerai, mata besar, hidung mancung, bibir tebal, dan badan yang sempurna itu tidak lama lagi akan menjadi miliknya. Miliknya seutuhnya.


"Apa kau tahu perusahaan Graham?" tanya Zahid tiba-tiba, ingin mengetahui reaksi dari Layla. Perempuan di depannya seperti terkejut lalu melihat ke arahnya.


"Perusahaan Graham?"


Zahid ingin sekali tertawa melihat wajah Layla sekarang. Perempun ini ingin menyembunyikan identitasnya dengan baik.


"Iya. Film-ku disponsori oleh perusahaan Graham yang besar itu. Tapi aku tidak tahu kenapa mereka melakukannya"


"Mungkin ... perusahaan itu tertarik dengan keuntungan saja"


Zahid kembali ingin tertawa mendengar jawaban dari Layla. Keuntungan. Alahkah baiknya kalau perusahaan Graham memang memandang semua proyek yang dilakukan oleh Zahid mendatangkan banyak keuntungan bagi mereka. Tapi Zahid tahu kalau itu hanya sekedar untuk membelenggunya agar tidak kabur.


"Aku tidak suka dengan perusahaan itu" kata Zahid lagi membuat perempuan di depannya terlihat heran.


"Kenapa?" tanya Layla.


"Mereka membuat keuntungan besar dari mengambil lahan orang lain dengan murah"


Layla terdiam sebentar lalu mulai membela perusahaan ayahnya.


"Perusahaan Graham sebenarnya tidak pernah mengira kalau mereka akan sebesar sekarang. Setahusaya, mereka membeli beberapa lahan itu tanpa ada pikiran untuk mendapatkan keuntungan besar. Mungkin ... faktor keberuntungan jugalah yang membuat perusahaan Graham seperti sekarang ini"


Zahid takjub mendengar penjelasan Layla. Sebenarnya, Zahid mengira kalau putri Tuan Graham adalah anak yang manja dengan semua fasilitas yang dia miliki. Tapi ... setelah mengenal Layla selama beberapa bulan ini, Zahid mulai berpikir lain. Tapi ada satu yang membuatnya penasaran, kenapa Layla kabur saat seharsnya mereka bertemu?


"Kau seperti mengenal perusahaan Graham dengan baik"


"Tidak, Pak. Saya hanya pernah membacanya di sebuah majalah"


Layla menunduk, menyembunyikan dirinya sendiri. Zahid tiba-tiba saja merasa rendah diri dihadapan perempuan yang baru berumur dua puluh tahun ini. Entah kenapa. Mungkin juga sebenarnya Layla adalah perempuan dengan kemampuan, pemikiran dan kekayaan yang luar biasa besar. Bahkan mungkin Zahid hanya selevel dengan salah satu karyawan di perusahaan ayahnya.


"Apa yang akan kau lakukan hari ini?"


"Pak Boni tadi pagi menghubungi saya, katanya pak Zahid ada pemotretan petang ini"


Zahid lupa dengan jadwalnya sendiri sekarang. Dia meregangkan tangan dan badannya lalu melihat Layla mulai membereskan piring.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau menjadi asisten pribadiku untuk hari ini?" tanya Zahid menghentikan Layla pergi ke dapur.


"Tapi ... sudah ada pak Boni"


"Boni hanya manajerku. Aku akan menunggumu diluar, kita harus pergi berolahraga sampai petang nanti"


"Tapi, Pak"


Zahid menunggu Layla di dalam mobil. Perempuan itu tidak mengganti bajunya dan hanya melapisi kaus putihnya dengan sebuah jaket denim.


"Lama sekali"


"Saya harus bertanya kepada pak Boni tentang ini. Saya tidak mau membuat masalah lagi setelah ... "


Zahid sudah lupa kalau perempuan ini pernah membiarkan beberapa penggemarnya menerobos masuk. Zahid mengeluarkan mobilnya dan tidak melihat adanya pengawal di sekitar rumahnya. Dia baru sadar kalau keberadaan pengawal di sekitarnya dan di rumahnya kemungkinan besar karena adanya perempuan yang ada disebelahnya ini. Tuan Graham ternyata memikirkan putrinya dengan baik. Padahal, Zahid sempat berpikir kalau Tuan Graham mengkhawatirkan keselamatannya.


Mereka sampai di sebuah pusat olahraga, dan Zahid segera memulai latihannya. Layla sepertinya tidak pernah ke tempat seperti ini.


"Apa kau belum pernah ke tempat seperti ini?"


Layla melihat-lihat ke egala arah lalu menjawab "Tidak pernah, Pak. Ini pertama kalinya"


"Apa kau ingin berolah raga bersamaku?"


"Apa?"


Zahid segera mengatur baju dan sepatu untuk Layla. Perempuan itu terlihat bingung saat menerima pakaian dan sepatu baru untuknya, tapi tetap pergi ke ruang ganti. Zahid memulai pelatihan ringannya selama sepuluh menit. Tak lama ada sepasang kaki yang berdiri di depannya. Zahid melepas beban yang menahannya lalu melihat kaki jenjang dan baju olahraga yang melekat erat di tubuh Layla.


Pemandangan yang sering dilihatnya, Tapi kali ini, Zahid merasa ada ang tidak beres dengannya. Perempuan ini masih berusia dua puluh tahun, berulangkali Zahid berusaha mengingatnya.


"Kau mau berlari atau?" tawarnya kepada Layla. Peremuan yang kini mengikat rambutnya ke atas dan memperlihatkan leher jenjangnya itu melihat-lihat sekeliling.


"Boleh"


Zahid membawa Layla menuju deretan treadmill dan mulai tidak suka dengan tatapan beberapa pria yang ada di sekitar mereka. Selama ini dia selalu mendapatkan penggemar wanita, apa badannya begitu bagus sampai pria juga menghormtinya? Atau ... karena disampingnya berdiri seorang perempuan yang sangat cantik.


Layla memulai olahraga pertamanya dan Zahid kembali ke pelatihnya. Tapi ... dia tidak bisa fokus dengan latihannya. Matanya terus melihat ke arah tubuh bagian belakang Layla. Dia pernah memegangnya, ternyata seperti itu bentuknya. Kenyal dan pasti sangat lembut kalau dielus.

__ADS_1


"Katanya kau ada pemotretan malam ini?" tanya pelatihnya serius.


"Otot perutku sudah terbentuk"


"Beberapa seri lagi lalu kau boleh menjaga kekasihmu dari mata para serigala lapar itu"


Zahid tidak memperhatikan sebelumnya karena matanya selalu tertuju kepada Layla. Ternyta ada beberapa pria yang mulai berlatih di sekitar calon istrinya itu. Dan mta para serigala lapar itu memang melihat ke arah tubuh Layla. Sial.


Zahid bersemangat untuk segera menyelesaikan latihannya dan menghampiri Layla seperti orang gila.


"Hah hah hah. Ada apa, Pak?"


Layla terkejut, majikannya tiba-tiba saja mematikan mesin yang sedang dipakainya.


"Kita pulang"


Layla melihat keringat yang ada di kaos tanpa lengan majikannya dan menganggap kalau latihan Pak Zahid sudah berakhir.


"Baik. Saya akan ganti pakaian" Layla berjalan ke arah ruang ganti dan membungkus pakaian olahraganya. Sudah lebih dari setengah tahun, dia tidak pernah berolahraga. Semua karena masalah pernikahan yang mendadak diutarakan ayahnya. padahal Layla adalah perempuan yang senang kalau badannya bugar.


Layla keluar dari ruang ganti dan melihat majikannya juga siap pergi. Dengan sedikit berlari, Layla sampai di hadapan majikannya.


"Maaf kalau pak Zahid menunggu lama"


Majikannya itu segera melingkarkan lengan kanannya di tubuh Layla dan membuatnya terkejut.


"Ayo kita pergi"


Layla menurut dan tidak mencoba untuk menepis tangan majikannya. Mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Tapi rasa kantuk mulai menyerang Layla. Sudah lama tidak berolahraga. Sekali melakukannya, tenaga Layla terkuras dengan mudahnya. Dia perlahan menutup mata dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


Tak lama dia merasa badannya hangat dan ingin membuka mata. Tapi semuanya dia batalkan karena ada bayangan wajah pak Zahid tepat di hadapannya.


'Apa yang mau dilakukan laki-laki ini?'


Belum sempat Layla mencari tahu, sebuah kecupan hangat tepat di bibirnya membuatnya merasakan sesuatu yang menyenangkan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2