The King

The King
Episode 50


__ADS_3

Besok paginya Layla tidak melihat bekas kehadiran suaminya sama sekali. Laki-laki itu berangkat pagi dan tidak menunggunya bangun. Apa sebenarnya yang dia harapkan? Bukankah ini juga yang dia inginkan? pikir Layla lalu duduk di meja makan kosong. Tak berapa lama pelayan datang menyiapkan sarapan di depannya. Layla memilih untuk diam dan segera berangkat ke kampus.


"Kamu belum makan siang?" tanya Raya yang datang ke kampus hari ini untuk menjemputnya.


"Belum. Apa kita bisa berhenti di suatu tempat untuk makan?"


Raya menjemputnya tepat setelah kuliah kedua selesai. Sahabatnya itu mengajaknya berbelanja. Layla pikir ini adalah waktu yang tepat baginya untuknya beristirahat. Hanya empat jam saja.


"Kita makan di pusat perbelanjaan saja"


Layla menyesap sisa air putih yang digunakannya untuk menahan rasa lapar.


Layla mengenal pusat perbelanjaan yang dimasukinya bersama Raya. Salah satu gedung milik ayahnya. Juga menyimpan kenangan tentang mantan majikannya. Tidak lupa, merupakan tempat bekerja Sarah, wanita yang dimasukkan suaminya ke dalam hotel saat hari pernikahan mereka. Sebenarnya dia enggan sekali masuk kembali ke pusat perbelanjaan ini. Tapi rasa lapar mengalahkan penolakannya.


"Kau mau apa?" tanya Raya lalu mengajaknya segera pergi ke tempat makan.


"Apa saja, yang cepat dimasak"


Mereka sampai di lantai tempat beberapa restoran terkenal berada. Raya mengajak Layla masuk ke dalam salah satunya dan segera memesan makanan.


Saat menunggu makanan tiba, Layla menerima pesan dari ibunya. Akan ada acara perusahaan besok malam. Layla diminta datang menemani suaminya.


"Sial" katanya


"Apa???" Layla lupa kalau dia bersama Raya sekarang.


"Bukan. Besok ada acara perusahaan"


"Kamu mau datang?"


"Terpaksa"


"Kalau begitu, sekalian saja kamu belanja disini. Aku pasti bisa memilihkan gaun tercantik dan terbaik untukmu" kata Raya dengan semangat.


"Tidak perlu. Orang rumah pasti sudah menyiapkan semuanya"


"Ah, benar juga"

__ADS_1


Akhirnya makanan yang ditunggu Layla datang juga. Tanpa memperhatikan cara makan benar, dia mulai memasukkan semuanya ke dalam mulut. Mengunyah secara cepat lalu menelannya.


"Pelan-pelan"


Raya berusaha memperingatkannya tapi Layla tidak mendengarkan. Saat perutnya agak penuh, Layla mulai menikmati makan siangnya. Dia juga mengedarkan padangan ke arah pengunjung lain dan menemukan sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan baginya.


"Pak Zahid" katanya membuat Raya terkejut.


"Siapa? Pak Zahid? Kau masih memanggil suamimu dengan panggilan itu?"


Tidak mendengar jawaban dari Layla, Raya mulai memusatkan mata ke arah pandangan mata temannya berada.


Disana, di meja lain, berjarak sekitar enam meter, suami Layla sang penerus baru keluarga Graham sedang makan siang. Tidak sendirian tapi dengan dua wanita yang pernah dikenal oleh Layla.


"Apa-apaan itu?" komentar Raya pada situasi yang mengejutkan seperti ini.


Layla tidak ingin berkomentar apapun. Dia hanya ingin segera pergi dari restoran ini, kalau bisa dari pusat perbelanjaan ini.


"Itu wanita yang sama dengan masalah yang terjadi saat pernikahan kalian. Benar kan? Dia membawa siapa itu?"


"Apa suamimu bodoh? Setidaknya dia bisa menyewa kamar hotel dan menyembunyikan selirnya disana. Untuk apa membawa wanita itu dan yang lain di depan umum?"


Layla tidak ingin menanggapi semua pertanyaan Raya, karena dia tidak tahu alasan pak Zahid bertemu dengan Sarah dan Tante Martha disini. Di pusat perbelanjaan yang ramai dan penuh dengan orang. Wajah pak Zahid pasti masih banyak dikenal meskipun tidak lagi aktif di dunia film serta drama. L:ayla juga berulang kali memperingatkan laki-laki itu agar tidak menimbulkan isu yang tidak penting seperti ini.


"Apa kau masih ingin berbelanja setelah ini?" tanya Layla pada temannya yang terus saja memperhatikan pak Zahid dan Sarah.


"Apa? kenapa memangnya?"


"Aku tidak bisa membiarkan laki-laki itu menghancurkan perusahaan" kata Layla lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke meja tempat suaminya makan dengan Sarah dan Tante Martha.


Raya tidak dapat melarangnya karena mengerti dengan beban yang ditanggung oleh Layla sejak lahir sampai sekarang.


"Selamat siang" sapanya lalu menampilkan putri kaya Tuan Graham yang sempurna. Untung saja hari ini dia memakai gaun berwarna biru tua dengan cardigan sederhana yang tampak elegan.


Ketiga orang di meja itu segera menghentikan tawa mereka dan menoleh ke arahnya.Hanya Nyonya Martha yang memiliki ekspresi terkejut. Sedangkan Sarah dan suaminya memberi kesan kesal karena diganggu.


"Kau ... Layla?" tanya Nyonya Martha.

__ADS_1


"Iya. Maaf kita harus bertemu disaat seperti ini Nyonya"


"Kenapa kau memanggilku Nyonya. Harusnya aku yang memanggilmu seperti itu"


"Itu tidak perlu"


"Bagaimana bisa. Kau adalah putri pemilik perusahaan Graham Real Estate"


Sebenarnya Layla tidak suka selalu dihubungkan dengan ayahnya. Tapi kali ini dia tidak punya pilihan selain sabar menerima ucapan seperti itu.


Setelah beberapa menit Layla baru sadar bahwa baik suami atau dua wanita di depannya tidak menghendaki kehadirannya. Sama sekali tidak ada yang mempersilahkannya duduk. padahal kursi di samping suaminya kosong. Sialan, pikir Layla. Apa yang harus dilakukannya sekarang?


"Kami sudah selesai makan siang" kata laki-laki itu lalu berdiri dengan tinggi di samping Layla. Dia mengerti maksud suaminya mengatakan hal itu. Pasti laki-laki sialan ini ingin dia kembali ke Raya.


"Benarkah? Sayang sekali. Tapi ... bisakah kalian pergi secara terpisah?" kata Layla membuat ketiganya menatap dengan aneh.


"Itu karena rumor yang terakhir kali melibatkan putri Anda dan suami saya" jelas Layla membuat Nyonya Martha malu. Layla yakin Nyonya Martha bukanlah orang bodoh. Nyonya martha pasti mengerti kalau sosok yang berada di hotel bersama pak Zahid adalah putrinya.


Hanya saja, sambutan yang diharapkan oleh Layla karena perkataannya tidak terlalu menyenangkan. Buktinya, kini dia ditarik pergi oleh suaminya ke mobil. rasa sakit mulai menjalar di bahunya yang dicengkeram kuat oleh pak Zahid.


"Kau keterlaluan" kata laki-laki itu setelah membuatnya masuk ke dalam mobil secara paksa.


Layla memperbaiki posisi duduknya lalu menatap lurus ke arah jalan.


"Saya pikir, saya telah menjelaskan kepada pak Zahid. Anda tidak boleh sembarangan menimbulkan rumor yang dapat menghancurkan perusahaan. Anda harus sadar tiap kelakuan Anda akan berpengaruh pada lima ribu pegawai dibawah Anda"


Layla membayangkan suaminya ini akan mengerti seperti terakhir kali. Ternyata perkiraannya salah. Pak Zahid mencengkeram kedua bahu dan menggoyang-goyangkan Layla seperti boneka.


"Aku sudah melakukan pekerjaanku. Kau tidak perlu ikut campur masalah pribadiku. Kecuali ... kau cemburu pada Sarah" Ada jeda yang membuat suara pak Zahid terasa tajam di hati Layla. Dia berusaha melepaskan bahunya tapi tidak bisa. Yang dapat dilakukannya adalah tersenyum dan membalas tatapan tajam suaminya. Layla semakin mendekati tubuh laki-laki itu, seperti menantangnya.


"Saya adalah Layla Graham. Saya tidak pernah merasa cemburu pada wanita lain yang ada disamping Anda. Siapapun itu"


Ucapannya membuat pak Zahid melepaskannya dengan kasar. Dia mengambil napas, berusaha menenangkan hatinya.


"Kau benar. kau adalah Layla Graham, putri Tuan Graham. Bukan perempuan yang kukenal"


Keheningan tercipta diantara keduanya, membuat suasana semakin sepi. Layla tidak ingin lagi menanggapi semua perkataan suaminya itu. Dia lelah. Dia lelah menjadi Layla Graham.

__ADS_1


__ADS_2