
Zahid masih memeluk adik Lucas selama beberapa menit sampai suara tangis Sarah menghilang. Setelah memastikan Sarah sedikit tenang, Zahid melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku. Aku ... "
Sarah tidak membiarkannya berbicara lagi dan memukul dada Zahid dengan cukup keras.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Bagiku, kaulah yang membunuh kakakku" katanya lalu meninggalkan Zahid dalam keadaan merasa sangat bersalah.
Seharusnya dia tidak melupakan Lucas meskipun jadwalnya sibuk. Seharusnya dia memastikan Lucas memiliki karir cemerlang setelah Zahid meninggalkan duo. Seharusnya dia tidak terlalu sibuk dengan apa yang dipersiapkan oleh Tuan Besar Brengsek itu dan membiarkan Lucas ... mati. Zahid berlutut di atas makam temannya dan menangis. Dia tidak bisa bangun saat Boni yang mencarinya datang. Boni mengangkat badan yang jauh lebih besar darinya untuk masuk ke dalam mobil. Boni sudah menyuruh seseorang untuk membawa mobil yang digunakan Zahid pulang ke apartemen. Kini, Boni menyetir ke arah rumah yang baru saja dibeli oleh Zahid sebulan yang lalu. Rumah dengan lokasi yang belum diketahui oleh pihak perusahaan dan penggemar.
"Aku sudah memberitahu Direktur kalau kau akan beristirahat selama beberapa hari. Jangan pikirkan apa-apa dan jangan buka ponselmu!"
Zahid menurut dan segera berbaring di atas ranjang yang baru saja datang pagi tadi. Boni melihat mata Zahid yang kosong dan merasa kasihan. Anak berumur dua puluh dua tahun yang dihadapkan dengan kekejaman dunia hiburan.
"Dunia ini tidak mengenal teman ataupun kenalan. Disaat kau sudah diputuskan untuk naik ke puncak sendiri maka tidak ada yang bisa dilakukan oleh temanmu. Semua orang akhirnya akan berjuang sendiri kalau memang mereka bisa bertahan di dunia yang keras ini. Mungkin saja Lucas bukan orang yang bisa berjuang di jalan ini dan memutuskan bahwa apa yang dilakukannya membebaskannya. Jadi ... jangan terlalu merasa bersalah dan bangkitlah"
Zahid tersenyum sinis dan menutup mata. Dia tahu semua yang dikatakan Boni benar setelah berada di dunia ini selama tujuh tahun. Tapi ... itu tidak membuatnya nyaman. Lucas bukanlah teman yang baru dikenalnya. Lucas adalah seseorang yang menerimanya disaat Zahid berada jauh dari orang tuanya. Lucas adalah sahabat yang mengiijikankannya masuk ke dalam rumah yang penuh kehangatan dan Zahid mengkhianatinya begitu saja.Dan semua itu karena keputusannya menerima tawaran pernikahan konyol dari Tuan Graham. Seharusnya dia membiarkan keluarganya hancur begitu saja, tapi ... semua sudah terjadi dan tidak ada kata mundur lagi.
Dia hanya bisa berbaring di ranjang, meringkuk memeluk lututnya dan merasa sangat bersalah pada Lucas dan keluarganya.
Kini, dia masih berada di kamar yang sama. Sedang menatap foto temqnnya yang tersenyum di sebelah adik perempuannya. Tante Martha mengucapkan selamat padanya tanpa mengetahui bahwa keluarga Graham adalah salah satu penyebab Lucas pergi.
"Sial!!!" katanya lalu melempar bantal ke arah lantai.
Dia juga seperti laki-laki bodoh yang tidak memiliki batasan dan jatuh hati begitu saja pada anak perempuan yang dulu bahkan tidak pernah dikenal serta sempat dibencinya itu. Layla. Apa yang dilakukan perempuan itu sekarang?
__ADS_1
Layla menghela napas beberapa kali saat ibunya bertanya tentang rancangan gaun mana yang akan dipakainya Sabtu ini. Ibunya sangat bersemangat padahal ulang tahunnya digunakan untuk agenda yang lain.
"Apa kau suka warna merah muda ini?" tanya ibunya tidak membuat Layla menoleh tertarik.
"Nona muda"
Layla akhirnya menoleh ke arah gambar yang ada di tangan ibunya setelah mendapat teguran dari pelayan yang lebih bisa dipanggil pengasuhnya itu.
"Aku tidak menyukainya"
"Benarkah? Ibu pikir kau menyukainya. Lalu, bagaimana dengan gaun biru tua ini? Sepertinya terlalu gelap"
Layla kembali menggeleng sebagai tanda tidak menyukai pilihan gaun ibunya. Padahal dia juga tidak akan peduli dengan gaun yang akan dikenakannya Sabtu malam nanti. Dia pasti hanya ada disana sebagai pajangan pesta saat pak Zahid dikerumuni orang nantinya. Para tamu pesta memilih untuk mendekati penerus perusahaan daripada anak perempuan tunggal yang bahkan belum lulus sekolah.
"Maaf, saya harus permisi sebentar. Ibu memiliki selera yang bagus" katanya lalu meninggalkan ibunya dengan beberapa perancang gaun ternama di negeri ini. Meskipun apa yang dilakukannya tidak sopan, tapi kepalanya terasa sakit sekali. Dia tidak bisa menahan sakit dan tetap berusaha tersenyum seperti bergembira dengan rencana pertunangannya.
Bagaimana bisa dia merasakan sesuatu pada laki-laki yang akhirnya akan segera menghancurkan impiannya? Seharusnya dia tidak pernah kabur dari rumah dan bertemu dengan laki-laki itu. Seharusnya dia tidak membiarkan pak Zahid memperlakukannya begitu manis dan ... .
"URGGHHH" teriaknya dengan menutup mulut rapat-rapat.
Kini, tidak ada lagi yang dapat dia lakukan. Hanya menjalani hari dan jalan yang sudah dibuat oleh ayahnya.
Layla memilih untuk tidur sampai tengah malam. Dia tidak lagi bertemu ibu yang selalu mendesaknya memilih gaun dan ayah yang berwajah muram. Layla keluar dari kamar dan bertemu dengan Frank di taman samping.
"Nona baru bangun?"
__ADS_1
"Iya"
"Apa perasaan Anda baik malam ini?"
"Lebih baik dari tadi pagi"
"Apa Anda ingin berjalan-jalan?"
Layla ingin sekali peri dari rumah malam ini. Tapi Frank tidak muda lagi. Dia harus mengerti hal itu dan kembali ke kamar.
"Tidak, sebaiknya aku kembali"
Sebelum dia kembali masuk ke dalam rumah, Layla berbalik dan menanyakan sesuatu kepada Frank.
"Apa ayah akan menepati janjinya padaku?"
"Tuan Besar ingin Anda memiliki pendidikan yang tinggi. Tentu saja Tuan Besar akan menepati janjinya. Anda tidak perlu khawatir"
Layla tersenyum kepada Frank dan meneruskan kembali ke kamar. Tak lama setelah kembali ke kamarnya, ada seorang pelayan yang mengantar makanan. Pasti Frank memerintahkan pelayan membuatkan makanan untuknya. Layla menyantap makan siang sekaligus makan malamnya dengan perlahan lalu tidur lagi.
Keesokan harinya, Layla bangun dengan perasaan yang lebih baik. Dia makan pagi dengan ayah dan ibunya tanpa menimbulkan situasi yang tidak nyaman.
"Ibu memutuskan warna merah untuk gaunmu. Bagaimana menurutmu?"
"Aku akan memakainya dengan senang" jawabnya lalu tersenyum kepada ibunya.
__ADS_1
"Siang nanti, kau akan makan siang dengan calon suamimu. Frank akan mengantarmu kesana" kata ayahnya membuat Layla terkejut. Makan siang dengan pak Zahid? Untuk apa? Bukannya mereka sudah pasti akan menikah nantinya? Tidak ada sesuatu yang perlu dibicarakan lagi tentang hal ini. Lalu apa tujuan makan siang kali ini? Kenapa Frank tidak memberitahunya apapun kemarin malam?
Layla sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang timbul di kepalanya dan tidak menyadari waktu sarapan telah habis. Dia kembali ke kamar dan melihat ponselnya sudah kehabisan baterai, mungkin sejak kemarin siang. Setelah menyalakan ponsel, Layla melihat beberapa pesan masuk. Salah satunya adalah pesan dari Raya yang menanyakan tentang pernikahan mendadaknya. Ada juga pesan dari salah satu teman kuliah yang menanyakan keadaannya. Layla tersenyum melihat ada temannya yang setidaknya benar-benar peduli dengan keadaaannya sekarang.