
"Apa agenda hari ini?" tanya Zahid pada Boni yang sekarang lebih mirip seorang eksekutif daripada dia.
"Anda dijadwalkan datang ke pengambilan iklan serta pemotretan. Dan malam ini akan ada makan malam dengan Nona Sarah di hotel"
"Apa yang sekarang diinginkannya?"
"Nona Sarah ingin membicarakan sesuatu yang penting"
Dan kini Boni lebih terbiasa memanggilnya dengan hormat tidak seperti awal-awal dulu.
"Kapan kita berangkat?"
"Sekitar satu jam lagi"
"Keluar dan kembalilah satu jam lagi"
Boni menatapnya dan mengerti permintaan Zahid hanya dalam beberapa detik.
"Baiklah Pak"
Setelah Boni keluar dari ruangannya, Zahid merebahkan punggungnya di kursi kebesarannya dan melihat ke arah gedung-gedung bertingkat dibawah perusahaan Graham. Hari ini satu tahun yang lalu, dia resmi menikahi Layla. Dan sampai sekarang Zahid tidak pernah sekalipun menyentuh istrinya itu. Bukan karena tidak mampu, tapi Layla menolak untuk bertemu dengannya. Sejak makan malam keluarga Graham saat itu, Zahid dipaksa pindah ke apartemen dan Layla juga keluar dari rumah. Dan Zahid tidak pernah melihat istrinya lagi sejak saat itu. Tempat tinggalnya sulit untuk dilacak karena Frank sangat melindungi Layla. Bahkan bertemu dengan istrinya itu, Zahid juga tidak pernah sama sekali.
Waktu istirahat yang jarang didapatnya itu berlalu dengan cepat dan Zahid kembali lagi menjadi seorang Presiden Direktur perusahaan Graham yang semakin merajai bisnis real estate di negeri ini. Dia melangkah masuk ke sebuah studio dan melihat banyak orang menyapanya dengan hormat. Melihat tempat dan staf pengambilan gambar mengingatkannya pada pekerjaannya dahulu. Dia juga sering mendapatkan iklan karena wajah dan tubuhnya. Sesuatu yang tidak berguna lagi sekarang.
"Selamat datang Pak. Sangat senang bertemu dengan Anda" kata sutradara yang emmimpin pengambilan gambar hari ini. Zahid tiba-tiba merasa rindu dengan atmosfir yang ada disini. Dia berkeliling dengan semangat dan melihat-lihat properti yang akan digunakan untuk pengambilan gambar.
"Ini adalah model iklan hari ini, Pak. Dari perusahaan sahabat dari Nyonya muda" jelas sutradara itu membuat Zahid menatap seorang wanita dengan make up tebal di depannya. Dan tidak tahu kenapa, Zahid tiba-tiba melihat sebuah siluet yang dikenalnya. Siluet tubuh seorang perempuan yang dikenalnya. Zahid menerobos kerumunan model, manajer serta penata rias dan menemukan seorang perempuan dengan celana denim dan kemeja biru sederhana. Rambut yang diikat, riasan tipis serta gaya malu-malu, tampilan yang dirindukan olehnya. Siapapun di tempat ini pasti tidak tahu kalau perempuan ini adalah istrinya. Pemilik perusahaan Graham yang sebenarnya. Pemilik semua yang ada disini.
Merasakan perhatian banyak orang mulai tertuju pada Layla membuat Zahid mundur selangkah dan kembali berjalan. Menjauh dari istrinya yang tidak ditemuinya selama delapan bulan itu.
"Apa Anda mengenali seseorang, Pak" tanya sutradara penasaran.
"Hanya berusaha mengingat apa yang kukerjakan dulu" jawabnya menyelesaikan rasa penasaran semua orang.
"Saya mengerti. Anda pasti merindukan dunia ini"
Padahal, Zahid sama sekali tidak merindukan dunia selebritis yang dijalaninya dulu. Dia sama sekali tidak berniat untuk kembali ke duania itu meskipun ditendang oleh Tuan Graham. Zahid ingin tinggal di rumah ibunya, bekerja di ladang dan hidup sederhana. Tapi ... perempuan yang sedang menyembunyikan identitasnya lagi itu manahannya.
__ADS_1
"Siapkan ruangan untuk kami berdua" perintahnya segera dimengerti Boni yang mengikutinya dari tadi.
"Baik, dan saya juga terkejut sekarang"
"Tidak ada seorangpun disini tahu dan pertahankan seperti itu"
"Rasanya seperti kembali ke masa lalu"
Zahid menoleh ke arah Boni dan tersenyum mengingat saat Layla menyamar sebagai orang miskin di rumahnya.
"Yah, semuanya berbeda sekarang. Dan kita berdua tahu hal itu dengan baik"
"Saya sangat mengenal tempat ini, mudah menemukan tempat yang sepi, tapi sussah untuk keluar secara diam-diam"
"Paksa dia masuk ke dalam mobil" kata Zahid lagi lalu mengedarkan pandangannya ke arah tempat istrinya berdiri.
"Akan saya coba, tapi Frank pasti ada disekitar sini"
"Lakukan apa saja dan aku akan memberimu cuti sehari"
"Baik Pak. Saya akan menjalankan perintah dengan senang hati"
"Sudah" kata Boni membuat Zahid segera pergi dari studio tanpa menoleh ke belakang.
"Apa dia berontak?" tanyanya pada Boni yang kesulitan mengikuti langkahnya ke mobil.
"Tidak. Tidak sama sekali"
"Benarkah?"
"Iya"
"Baguslah. Jaga jarakmu!"
"Zahid, tidakkah sebaiknya kalian mengatur waktu untuk bicara?"
"Aku tidak punya waktu"
__ADS_1
Boni berhenti saat jarak mereka dengan mobil semakin mendekat. Zahid berdiri tepat didekat pintu mobil dan menarik napas sebelum membukanya.
Di dalam mobil duduk seorang perempuan yang duduk diam dan menatap lurus ke arah depan. Zahid duduk disebelahnya dan mulai canggung. Padahal, ini adalah saat yang sangat dinantikannya selama ini.
"Ada apa memanggilku?" Tiba-tiba saja perempuan yang diam itu bertanya dengan suara yang hampir dilupakan oleh Zahid. Suara ringan yang terasa berbeda dari terakhir kali dia ingat. Dan lagi, Layla tidak memakai panggilan hormat lagi padanya.
"Kita harus menghadiri satu acara bersama minggu depan" jawab Zahid membuat alasan. Untungnya acara ulang tahun perusahaan benar-benar akan diadakan akhir pekan ini. Selama ini Layla selalu menolak hadir pada acara resmi yang seharusnya mereka hadiri tapi kali ini tidak bisa lagi. Perusahaan ini adalah perusahaan ayahnya.
"Aku tahu"
"Aku akan menjemputmu"
"Tidak perlu"
"Kita harus datang bersama"
"Tidak perlu, aku akan datang dengan ayah dan ibu. Juga Nyonya Hannah"
"Kau mengajak ibuku?"
Zahid terkejut, ternyata Layla masih mengingat ibunya.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi" Layla sepertinya ingin segera keluar dari mobil dan Zahid menahannya. Dia memegang lengan istri yang tidak disentuhnya selama hampir satu tahun. Terasa lebih kecil daripada yang diingatnya.
"Kau tinggal dimana?"
Layla menoleh ke arahnya dan perlahan melepas tangan Zahid
"Kau tidak perlu tahu"
"Aku suamimu. Masih suamimu"
Zahid melihat perempuan ini berbeda dari Layla yang dulu. Istrinya ini terkesan lebih dewasa sekarang. Layla sangat tenang dan tidak meledak-ledak.
"Akan kukirimkan pada pak Boni"
Zahid kehilangan kata-kata yang selama ini disiapkannya ketika bertemu Layla. Hanya dengan melihat dan mendengarkan suara istrinya saja , membuatnya puas. Dia tidak ingin menekan Layla dan membuatnya semakin jauh.
__ADS_1
"Lakukan saja seperti keinginanmu" katanya lalu melihat Layla keluar dari mobil begitu saja.
Dia segera memanggil Boni untuk melanjutkan pekerjaan mereka