The King

The King
Episode 68


__ADS_3

"Pergilah!" kata Zahid pada Sarah yang masih bertahan di kantornya meski Layla memergoki mereka.


"Kenapa? Aku masih ingin bicara dengan kakak. Anak kecil itu biar saja salah paham sendiri"


Zahid tidak tahan lagi. Semakin lama Sarah menjadi semakin tidak bisa diatur. Dia pikir adik Lukas itu tidak akan menjadi seperti ini dalam perjalanannya tumbuh. Zahid memegang leher Sarah, lebih nseperti mencekiknya dan menatap wanita itu.


"Anak kecil itulah pemilik seluruh perusahaan ini. Jaga bicaramu dan pergilah dari sini. Jangan berani kemari lagi kalau aku tidak menyuruhmu!" kata Zahid lalu melepaskan tangannya dari leher Sarah. Wanita itu kelihatannya terkejut dengan perlakuan Zahid dan segera keluar dari ruangan Presdir.


Sialan. Seharusnya dia tidak pernah menerima kedatangan Sarah ke kantornya kali ini. Sekarang apa yang sedang dipikirkan oleh Layla? Padahal mereka telah menjadi sedikit lebih dekat.


"Sarah kenapa?"{ tanya Boni yang baru kembali dari makan siang"


Lain kali jangan pernah kau mengijinkan wanita itu masuk kemari"


"Lho kenapa? Bukannya memang kehadiran Sarah dibutuhkan untuk menciptakan rumor tentangmu yang tidak setia? Jangan sampai sepupu-sepupu Graham menganggapmu suami yang baik kan?"


"****" umpat Zahid.


"Apa kau masih tetap dalam keputusanmu?"


"Kenapa?"


"Karena hari ini kau terlihat lain. Apa ada yang terjadi kemarin?"


"Sarah menganggap lain"


"Ohhh. Sudah waktunya"


"Kenapa kau bicara dengan enteng seperti itu?"


Zahid kesal sekali pada Boni yang kini lebih tampak seperti asisten sungguhan daripada sebelumnya.


"Aku sudah menduganya. Sepertinya Sarah mulai mengejar sesuatu darimu. Bagaimana? Apa kita harus menggantinya dengan orang lain?"


"Siapa yang mau menjadi kekasih bayaranku selain Sarah?"


"Banyak sekali. Kalau kau memerintahkan aku untuk mencari maka aku pasti akan menemukan lebih dari sepuluh"


"Sial kau. Tapi coba kau cari, tapi yang tidak akan membuat masalah"


"lalu Sarah?"


"Aku akan mengurusnya"


Dan hanya seperti itu akhirnya Zahid memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerja tak tertulis antara dirinya dengan Sarah. Dia tidak tahu kalau semua pembicaraannya di dalam kantor didengarkan oleh seseorang sekarang.


"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Layla pada Leo yang kini sedang tersenyum senang.


"Tidak ada Nona. Apakah Anda akan pulang tepat waktu hari ini?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu. Tidak ada lagi yang harus kulakukan"


"Baiklah. Saya akan menyiapkan mobil"


Layla memutuskan untuk pulang kantor tepat jam lima sore dan bertemu dengan suaminya terlebih dahulu. bagaimanapun dia kini adalah karyawaqn di perusahaan ini. Tapi niatnya berhenti sebelum masuk ke dalam ruangan Presdir. Karena sekertaris pak Zahid memberitahunya sedang ada rapat Direksi di ruang yang lain. Layla ingin sekali tahu bagaimana suasana rapat Direksi tapi tidak ingin emngganggu di hari pertamanya. Jadi dia memutuskan untuk pulang saja dan menitipkan pesan pada sekertaris pak Zahid.


"Bagaimana hari pertama Anda bekerja Nona?" tanya Leonard yang sedang menemaninya pulang.


"Biasa saja"


"Anda akan segera bertemu kenyataan bekerja tidak lama lagi. jadi saya pikir Anda harus bersiap"


"Yah. Aku memang harus siap"


Layla akhirnya bisa tersenyum karena merasa tenang ada Leo di dekatnya. Setidaknya dia memiliki teman bicara di ruangan dan mobil yang sepi ini.


Layla membuka-buka kembali catatan pekerjaan yang dibuatnya tadi dan membandingkan semuanya dengan informasi di internet. Ternyata memang di internet tidak pernah disebutkan detail tentang kerjasama yang dibuat oleh perusahaan ayahnya. Sedangkan Layla dulu mempercayai internet karena tidak bisa mengkonfirmasi pekerjaan ayahnya secara langsung. Dia menjadi merasa bersalah pada ayahnya dan memutuskan untuk menghubunginya.


"Ayah"


"Bagaimana pekerjaanmu?" Ayahnya memang bukan orang yang bisa menyapanya dengan hangat.


"Baik. Baru hari pertama"


"Kau harus serius meskipun ini baru hari pertama"


"Iya"


"Istirahatlah!" kata ayahnya.


"Baiklah"


Layla menutup teleponnya dan mendesah. Sepertinya akan ada perjalanan panjang untuknya bisa dekat dengan ayahnya.


Hampir pukul sepuluh saat Laila mulai merasa lapar. Dia sama sekali tidak sadar belum makan apa-apa sejak tadi siang. Dia turun ke bawah dan berencana membuat sandwich saat mendengar suara orang terjatuh di ruang tengah.


"Pak Zahid?"


Layla melihat laki-laki itu seperti sedang mabuk dan benar. Kelihatannya pak Zahid mabuk.


"Tuan, Anda tidak bisa ... Oh, Nyonya selamat malam"


"Pak Boni"


"Maaf. Tuan agak sedikit mabuk karena tadi bertemu dengan ... "


Kenapa pak Boni tidak melanjutkan perkataannya? Apa ada sesuatu yang terjadi sebelum pak Zahid pulang?


"Bisakah Anda membantu membawa pak Zahid ke atas?" pinta Layla dengan sopan.

__ADS_1


Tentu saja pak Boni membantunya membawa suaminya ke kamar lalu meninggalkan mereka sendiri. Tanpa perintah, Layla kemudian melepaskan sepatu dan jas suaminya. Dia kemudian turun kembali ke bawah dan mengantar kepergian pak Boni pulang. Setelahnya dia melanjutkan makan dan membaca-baca berita di internet.


"Putus dengan Sarah, pacar kecilnya. Presdir perusahaan Graham terlihat keluar dari hotel dengan aktris baru"


Layla membaca tagline berita teratas di ponselnya dan terdiam. Dia membaca berita itu dengan seksama dan mengetahui bahwa aktris baru yang dimaksud pernah bekerja sama dengan pak Zahid di sebuah drama. Aktris itu sangat cantik dengan rambut kemerahan panjang dan badan yang berisi. Sangat jauh bila dibandingkan dengan tubuh Layla. Sungguh, Layla merasa menyesal karena menyerahkan diri kemarin malam. Seharusnya dia tidak pernah melakukannya.


Layla meletakkan piring dengan makanan yang masih utuh di meja. Mengambil bantal dan selimut di kamar lamanya dan tidur di sofa. Dia tidak akan pernah sekamar lagi dengan pak Zahid. Dia hanya membutuhkan pak Zahid untuk mengajarkannya menjadi Presdir yang baik sebelum mengambil alih perusahaan. Hanya itu.


Besok paginya Layla menyiapkan sarapan sederhana untuknya dan pak Zahid. Laki-laki itu turun dari kamar tidur dalam keadaan bersih. Mungkin laki-laki itu sudah membersihkan dirinya sendiri dari mabuk semalam.


"Kau tidak tidur di kamar" komentar pak Zahid saat melihatnya.


"Saya tidak suka bau alkohol"


"Benarkah?"


"Iya" jawab Layla tanpa melihat wajah suaminya sama sekali.


"Kalau begitu sekarang boleh"


Layla tidak mengerti dengan arah pembicaraan suaminya tapi merasakan tubuhnya terangkat ke atas meja. Laki-laki itu rupanya menempatkan tubuhnya di atas meja dan mulai mendekat.


"Apa yang Anda lakukan?" Layla ingin turun dari meja tapi ditahan oleh badan pak Zahid yang kini mengurungnya.


"Aku ingin ini"


Pak Zahid mulai menyentuh bibir Layla dengan ujung jarinya .


"Saya harus bersiap ke perusahaan"


"Aku adalah presdirnya dan kupikir kau boleh terlambat"


Pak Zahid menekan tubuhnya ke Layla dan mulai menciumnya. Layla menikmati keintiman mereka lalu teringat pada berita yang dibacanya semalam.


Dia mendorong tubuh pak Zahid dan mencoba untuk bernapas dengan normal.


"Anda lakukan saja dengan kekasih baru Anda" katanya lalu berusaha turun dari meja.


"Kau cemburu?"


"Apa?"


"Kau cemburu aku memiliki kekasih baru?"


Kurang ajar sekali laki-laki ini. Bagaimana bisa laki-laki ini bicara dengan bangga tentang kekasih barunya di depan Layla.


"Tidak. Saya tidak cemburu"


"Kalau begitu kau tidak keberatan untuk ini"

__ADS_1


Dengan satu dorongan kuat, pak Zahid berhasil membuat Layla terbaring di atas meja makan. Laki-laki itu lalu melepaskan kaos putihnya dan mulai mencium Layla. Suara piring yang terdorong oleh kaki Layla mulai mengisi rumah besar sepi itu. Bersamaan dengan ******* dari mulut Layla yang tidak lagi dapat ditahan.


"Tidak!! Hentikan!!" pinta Layla tapi tidak didengar oleh pak Zahid yang kemudian menguasai tubuhnya seutuhnya.


__ADS_2