
"Kenapa kau biarkan Layla pergi ke ruanganku?" tanya Zahid pada pengawal Layla.
"Saya tidak bisa menahan Nona"
"Kau harus selalu siaga"
"Tanpa perlu Anda minta saya akan melakukan itu"
Zahid melihat kursi yang akan menjadi milik istrinya kelak itu.
"Mereka telah bergerak sejauh ini. Jaga Layla saat aku tidak bisa bersamanya" pinta Zahid merendahkan harga dirinya. Dia memang tidak dapat selalu berada di samping istrinya dan hal itu menyiksa. Tapi apa boleh buat. Dia harus tetap membuat perusahaan berjalan.
"Kalau Anda mengijinkan maka saya akan tetap bersama Nona selama dua puluh empat jam"
Zahid tersenyum lalu berbalik melihat pengawal yang merupakan teman kecil Layla itu. Anak muda berumur dua puluh lima tahun dan memiliki pengalaman melindungi Layla sampai hampir mengorbankan nyawanya sendiri.
"Kau akan mendapat kesempatan itu saat aku tidak lagi menjadi suami Layla"
"Apa Anda benar-benar akan meninggalkan Nona saat itu?"
"Tentu saja. Aku telah menjadi tidak berguna saat itu. Saat Layla dapat duduk dan memimpin perusahaan dengan kekuatannya sendiri, maka kau tidak akan pernah meninggalkan sisinya"
Pahit sekali mulut Zahid setelah mengatakan semua itu. Tapi itulah yang memang akan terjadi. Paling lama satu tahun dari sekarang. Dia akan membentuk seorang perempuan dan pemimpin perusahaan yang begitu kuat. Layla, perempuan yang dicintainya itu akan menjadi penerus sah perusahaan.
Leonard meninggalkan ruangannya tanpa bicara lagi dan Zahid mulai merasa kesal. Kesal dengan dirinya sendiri yang tidak dapat menemukan cara efektif untuk menjauhkan para sepupu Graham dari istrinya. Cara wanita lain yang dilakukan oleh Zahid selama ini tidak l;agi bisa menahan mereka untuk mendekati Layla.
"Boni, carikan aku setelan baru. Aku tidak suka berkeringat seperti ini" perintahnya melalui telepon ke mantan manajernya itu.
"Baiklah"
Tak lama Boni masuk membawa setelan jas yang baru.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Cari tempat yang bagus untuk meletakkan wanita itu!"
"Dan Layla?"
"Aku akan memikirkan hal lain"
"Aku pikir mereka tidak akan berhenti sampai bisa merebut perusahaan ini"
"Kau pikir aku tidak tahu hal itu?"
"Kalau seperti ini, aku merindukan pekerjaan lamaku. Paling tidak ... aku tidak perlu berurusan dengan orang yang ingin membunuhku" kata Boni lalu memberikan jas pada Zahid
"Saat itu kita hanya berurusan dengan rating dan para sutradara"
"Juga wartawan dan para fans"
Terkadang Zahid juga berpikir kalau pekerjaan menjadi seorang aktor tidaklah terlihat buruk sekarang. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan akan mati jika salah langkah.
"Kau yakin bisa meninggalkan Layla saat itu?"
"Harus. Dia memiliki masa depan yang sangat cerah"
"Tapi kau menyukainya"
Apa yang dikatakan Boni benar dan Zahid memang sempat memiliki keraguan yang sama. Apakah dia bisa meninggalkan Layla kalau saatnya tiba nanti? Apalagi mereka kini tidak lagi hanya menjadi suami istri di atas kertas.
"Harus bisa. Aku hanyalah pengganti sementara. Layla berhak mendapatkan orang yang lebih sesuai dengannya nanti"
"Kau harus bisa menahan diri. Jangan menyentuhnya. Atau kau tidak akan bisa melepaskannya" kata Boni lalu keluar dari ruangan.
Terlambat. Dia telah menyentuh perempuan itu. Tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi berulang kali karena tidak bisa menahan nafsunya sendiri.
'Kau memang binatang' pikir Zahid mengatai dirinya sendiri. Saat bersama Layla, akal sehatnya tidak bisa berjalan baik. Badannya seperti bergerak sendiri dan merasa haus akan aroma manis yang ad di tubuh Layla. Dan saat dia bersatu dengan perempuan itu, ada rasa bahagia yang tidak dapat didapatkannya dari tempat lain. Apalagi saat Layla juga mendapatkan kepuasan yang sama, Zahid seperti mendapatkan kekuatan tambahan. Tapi benar kata Boni, dia harus menahan diri. Dia tidak boleh terlena dan melakukan kesalahan.
__ADS_1
Zahid melepas jas dan kemeja yang basah karena keringat dan mulai merasa sedikit nyaman. Lalu telinganya mendengar sesuatu dan hidungnya mencium aroma manis yang dirindukannya selama empat hari ini. Perempuan ini, kenapa masuk ke ruangannya? Sepertinya Layla ingin keluar lagi tapi melakukannya dengan super pelan. Tentu saja hal itu tidak berguna lagi karena Zahid memergokinya. Ketika perempuan itu hampir berhasil membuka pintu, Zahid memeluk tubuh yang disukainya. Dia tahu harus berhenti menggoda perempuan itu agar tidak lagi melakukan kesalahan. Tapi tubuh Layla terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi saat jari jemari Layla mulai menyentuh kulit Zahid. Dia terbangun dengan mudah. Kini ... tidak ada lagi yang bisa mencegahnya menikmati kebersamaan mereka.
Meja kerja besar itu kini menjadi ranjang penuh ******* kenikmatan yang dikeluarkan keduanya. Dan saat Zahid hampir mencapai puncak, sebuah bisikan dari bibir Layla mengejutkannya.
"I love you"
Zahid segera menjauhkan dirinya sendiri dari tubuh istrinya yang kini hampir terbuka seluruhnya itu. Tidak boleh. Seharusnya tidak begini. bagaimana bisa perempuan itu mencintainya? Bukankah seharusnya Layla membencinya? Dia sudah menciptakan keadaan dimana seharusnya Layla membencinya. Bukan mencintainya.
"Keluar dari sini!!" perintahnya mengejutkan Layla.
Tapi perempuan itu tidak bicara apa-apa dan segera membetulkan penampilannya dan keluar dari ruangan Zahid. Sial. Apa yang sudah dilakukannya? Dia kembali menyakiti perempuan itu. sampai dia membenci dirinya sendiri.
Layla terkejut mendengar laki-laki itu mengusirnya tepat setelah berbisik kata cinta. Tangan Layla mengepal dan mulai menyalahkan perasaannya yang mudah terhanyut. benar. laki-laki itu tidak melakukan semua ini karena cinta. laki-laki itu mencintai perempuan lain dan bukan dirinya. Alasan laki-laki itu melakukan semua ini masih menjadi misteri. Tapi pasti bukan karena mencintai Layla. Merasa malu pada diriny sendiri, Layla memutuskan untuk segera keluar dari ruangan Presdir.
"Nona, Anda mau kemana?" tanya Leonard yang ada di depan ruangannya.
"Aku sakit perut"
"Apa?"
Layla berlari ke toilet dan melihat dirinya sendiri yang berantakan. Dia mulai menata rambut dan juga pakaiannya, kembali seperti sebelum masuk ke dalam ruangan laki-laki itu. Tak lupa Layla membasuh leher dan bibirnya. Berusaha menghilangkan aroma laki-laki itu dari tubuhnya. Percuma, hidungnya masih bisa mencium aroma laki-laki itu dari dirinya sendiri. Air mata yang ditahannya selama ini akhirnya jatuh juga. Tapi dia segera menghapusnya dan menarik napas panjang. Berusaha tampak baik-baik saja meskipun hatinya sekarang hancur. Dalam diri laki-laki itu, dia hanyalah seorang istri di atas kertas. Perempuan yang bisa dipakai saat senggang. Jadi Layla harus sadar diri dan tidak mengharapkan lebih.
Yang terpenting adalah perusahaan. Hanya itulah yang harus menjadi prioritas utamanya. Layla menegakkan punggung dan kembali ke ruangannya.
"Anda baik-baik saja Nona?" tanya Leonard.
"Iya. hanya sedikit diare"
"Wajah Anda pucat sekali. Saya akan membelikan sesuatu"
Ingin sekali Layla menolak, tapi dia juga membutuhkan waktu untuk sendiri.
"Iya" jawabnya lalu Leonard pergi meninggalkannya sendiri di ruangan. Layla tidak membuang waktu untuk menyesali apa yang terjadi dan segera bekerja.
__ADS_1