The King

The King
Episode 65


__ADS_3

"Apakah Anda sudah siap?" tanya Leonard yang ada disamping Layla.


Dia menarik napas besar sebelum menjawab


"Iya. Siap"


"Oke"


Rombongan Layla akhirnya masuk ke dalam gedung perusahaan Graham Real Estate yang megah.


Hanya beberapa orang yang menoleh saat Layla masuk ke dalam lift. Mungkin mereka menganggap Layla hanyalah tamu perusahaan yang biasa datang. Maklum saja, wajah Layla memang tidak dikenal sebagai putri pemilik perusahaan.


"Hari ini Anda akan diperkenalkan di depan para Direktur dan besok baru semua karyawan akan mengetahui identitas Anda yang sebenarnya"


"Aku mengerti"


"Saya cukup terkejut, ternyata Nona tampak lebih dewasa karena mengenakan pakaian membosankan seperti ini"


Layla tersenyum sedikit, merespon gurauan Leonard.


"Aku masih dua puluh satu tahun. Kau yang tampak lebih tua"


"Benarkah. Tapi hari ini Anda memang tampak lebih dewasa Nona"


Layla menggigit bibir bawahnya dan mulai bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah dia tampak dewasa karena apa yang dilakukannya semalam dengan pak Zahid? Kakinya terasa sangat lemah sekarang, tapi dia harus tetap berdiri tegak dan itu sangat menyiksanya. Dia tidak mpernah tahu kalau kegiatan seperti itu akan membuat semua tulangnya terasa remuk. Namun rasanya sangat menyenangkan. Dia merasa bersemangat dan ... bergairah.


"Leo, apakah kau akan ada di sisiku terus hari ini?" tanya Layla penasaran.


Dari pagi tadi, Leo tidak pernah meninggalkan sisinya, bahkan untuk pergi ke toilet rumah.


"Untuk hari ini Anda sebaiknya tidak mempersoalkan hal itu. Apa yang Anda lakukan dan saya lakukan berbeda. Dan Nona hanya perlu fokus pada pekerjaan Anda hari ini"


"Baiklah"


Pintu lift terbuka dan di depan mata Layla berdirilah laki-laki yang kemarin malam menyentuh kulit, dan membuatnya mendesah berulang kali. Ohhh, kenapa dia merasa malu sekali sekarang?


"Selamat datang, Nyonya" sapa para karyawan di ruangan Presdir.


layla melangkah dengan mantap keluar dari lift dan melempar pandangan ke seluruh ruangan. Ini pertama kalinya, dia masuk ke dalam ruangan Presdir. Ayahnya tidak pernah sekalipun memperbolehkannya berada di ruangan atau perusahaan sekalipun.


"Aku akan membawamu ke ruangan" kata laki-laki itu menggetarkan hati Layla.

__ADS_1


Bagaimana bisa suaminya berlakuseperti biasanya sejak tadi pagi? Seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi, bukankah itu yang seharusnya terjadi? Apa yang mereka lakukan semalam adalah rahasia diantara keduanya saja. Tidak perlu orang lain tahu.


"Iya"


Layla dan Leonard mengikuti langkah pak Zahid menuju ruangan Presdir. Dua pengawal yang mengikuti mereka sejak dari rumah hanya berdiri di dekat lift. Toh di lntai ini hanya ada ruangan Presdir dan ruangan sekretariat khusus Presdir. Ruangan pak Boni dan dua sekertaris pak Zahid.


Sampai di ruangan besar dengan meja besar, Layla mulai merasa keputusannya salah. Perusahaan yang dibangun ayahnya sejak masih muda ini tidaklah kecil. Malah bisa dibilang perusahaan besar yang emmiliki banyak pegawai. Apakah dia sanggup menggantikan ayahnya dan pak Zahid untuk memimpin perusahaan ini?


"Masuklah!" kata pak Zahid. Layla menekan kekhawatirannya lalu masuk ke dalam ruangan Presdir.


"Saya akan melihat ruangan Nona yang Anda siapkan" ucap Leonard lalu meninggalkan Layla di ruangan pak Zahid sendiri.


"Kupikir dia tidak akan pergi"


Layla membuka matanya lebar lalu menatap ke punggung Leonard yang menghilang dari ruangan.


"Leonard?"


"Iya. Dia akan selalu bersamamu mulai sekarang dan sepertinya sampai batas waktu yang diperlukan"


"Selalu?"


Ohh. Layla baru tahu hal itu. Memang Frank yang menyuruh Leonard datang kembali. Tapi bersamanya sepanjang waktu? Itu yang dia baru tahu. Apa alasannya Leonard harus selalu bersamanya?


"Jadi ... " Baru saja Layla ingin mengagumi pemandangan yang terlihat dari jendela ruangan ini, pertanyaannya dipotong oleh pak Zahid.


"Bagaimana badanmu?"


"Hm?"


Laki-laki itu berbalik lalu tiba-tiba berlutut di depan Layla. Memegang lututnya yang tertutup stocking berwarna hitam.


"Pasti kau memaksa untuk berdiri pagi ini"


Pipi Layla memanas, dia tidak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Apalagi mengingat kalau suaminya memiliki wanita lain yang dicintainya.


"Tidak apa-apa. Saya bisa menahannya"


Laki-laki itu lalu berdiri tepat di hadapan Layla dan memberinya kecupaqn singkat di dahi.


"Kau tidak perlu menahannya. Setidaknya di depanku, kau tidak perlu menahannya"

__ADS_1


Apa?


Apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki ini?


Kenapa Layla mendapatkan kesan kalau pak Zahid ... menyayanginya? Ini semua tidak benar kan? Laki-laki ini bicara sendiri dari mulutnya, mengakui memiliki wanita lain yang dicintainya. Bahkan mengatakan nama Sarah tanpa berkedip di depan Layla. Lalu, kenapa sekarang mengatakan hal seperti itu dengan nda halus dan lembut? Apa Layla boleh menerima ucapan seperti ini? Apa dia boleh merasa senang karena menerima ucapan seperti ini? Tidak. Tidak boleh.l Sesenang apapun dia semalam dan pagi ini, Layla tidak boleh terlena. Laki-laki ini akan pergi nantinya, meninggalkan dia sendiri untuk memimpin perusahaan. Semalam adalah mimpi indah yang tidak akan terulang lagi. Layla menghalau tangan besar yang memegang pinggangnya dan melangkah mundur.


"Sebaiknya Anda tidak melakukan hal ini" kata Layla tegas.


 


Zahid memperhatikan langkah mundur yang dilakukan istrinya. Dia juga mendengar kata menolak dari Layla. Diucapkan begitu tegas, berbeda dari ******* yang semalam didengarnya. Bodohnya dia. Kenapa dia terlena akan kejadian semalam dan tidak bisa bersikap seperti biasanya? Seperti yang selalu dilakukannya pada perempuan ini. Tidak menghiraukan dan menolak semua jenis kedekatan mereka.


"Aku hanya mencoba bersikap baik" balasnya lalu mereka berdua terdiam di dalam ruangan itu.


Hari ini adalah pertama kalinya Layla akan dikenalkan ke semua Direktur di perusahaan. Mulai hari ini akan dimulai hitung mundur waktunya di samping perempuan ini. Dan setelah waktunya menyiapkan Layla menjadi Presdir habis, maka dia akan pergi tanpa sesal. karena semalam, dia telah mendapatkan apa yang selalu diinginkannya dari Layla. Tubuh, pikiran dan hati perempuan itu telah menjadi miliknya seutuhnya. Dan itu sudah ... cukup baginya.


"Ini adalah ruangan Presdir. Ruangan yang akan kau dapatkan setelah dianggap layak menjadi Pimpinan tertinggi perusahaan ini" katanya memecah keheningan.


"Luas sekali"


Zahid terkejut, dalam hati dia bertanya-tanya apakah perempuan ini tidak pernah masuk ruangan tempat ayahnya bekerja.


"Apakah kau ... "


"Oh, saya tidak pernah datang kemari. Ayah tidak pernah memperbolehkan saya datang"


"Ke ruangannya?"


"Tidak. Ke perusahaan juga"


Heran, itulah yang dirasakan oleh Zahid sekarang. Tuan Graham benar-benar aneh. Melarang putri satu-satunya untuk datang ke perusahaan. Apakah karena masalah keamanan yang selalu ditakutkan orang tua itu? Zahid harus menunda rasa penasaran karena Boni datang ke ruangannya.


"Semua sudah siap Tuan, Nyonya"


Akhirnya ... satu langkah waktu hitung mundur Zahid akan segera dimulai. Dia menatap ke arah perempuan yang terlihat sangat cantik itu dan mengangguk.


"Apa kau siap menemui para Direktur sekarang?"


"Siap" Sungguh tegas dan tegar. Zahid berharap Layla dapat mempertahankan sikap itu sampai seterusnya. Karena dia tahu, memimpin perusahaan Graham ini seperti bertarung di medan perang.


"Ayo pergi" ajaknya lalu berjalan di depan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2