The King

The King
Episode 69


__ADS_3

Zahid berjalan dengan riang menuju kantornya hari ini. Senyum masih mengembang di wajahnya saat Boni mkasuk untuk mengatakan agendanya.


"Apa ada yang terjadi semalam?" tanya Boni penasaran.


"Semalam? Tidak ada"


"Berita Anda sudah keluar semalam. Dan sepertinya hal itu membuat para sepupu Nyonya sedikit tenang. Apalagi setelah mendengar kalau kalian keluar dari hotel yang sama"


"Yah. Apa Layla sudah datang?"


"Nyonya? Sudah. Beberapa menit yang lalu. Tapi ... sepertinya ada yang aneh dengan Nyonya"


"Apa maksudmu?"


Kenapa? Kenapa ada yang aneh dengan Layla? Membuat Zahid mulai khawatir.


"Nyonya terlihat tidak bersemangat. Apa itu karena berita yang keluar semalam?"


Tidak bersemangat? Apa maksudnya kelelahan? Mungkin dia melakukannya dengan terlalu bersemangat tadi? Sepertinya tidak. Apa dua kali terlalu berlebihan untuk istrinya yang masih muda itu? Zahid berpikir tanpa menanggalkan senyum di wajahnya.


"Aku yakin ada alasan lain"


"Kenapa denganmu?"


"Apa?"


"Kenapa kau tersenyum mendengar kalau istrimu terlihat sedih? Apa kau berniat memajukan rencana untuk bercerai darinya?"


"Sial. Apa yang kau bicarakan? Diamlah dan pergi sana! jangan ganggu pagiku yang indah" kata Zahid lalu kembali tersenyum dan bersenandung. Sedangkan Boni keluar dari ruangannya dengan ekspresi campur aduk.


Layla akhirnya berhasil duduk di kursi dan ruangannya. Sepertinya perjalanan menuju perusahaan hari ini terasa sangat lama dan lambat. Pasti karena kakinya terus gemetar sejak tadi. Dasar laki-laki kurang ajar. Bagaimana bisa laki-laki itu melakukan sesuatu seperti ini padanya? Pagi-pagi saat dia sudah siap untuk pergi ke perusahaan. Layla ingin sekali menampar dan menghalangi apa yang dilakukan suaminya tadi, tapi apa daya. Kekuatannya tidak sebanding dengan laki-laki itu. Terpaksa dia menerima semua perlakuan pak Zahid dan berakhir dengan kelelahan.


"Anda kenapa Nona?" tanya Leonard yang baru datang. Laki-laki ini juga tidak menjemputnya di rumah tadi.


"Tidak ada. Aku hanya ... "


"Apa karena berita itu?"


"Apa?" Berita? Oh, layla baru ingat tentang berita perselingkuhan suaminya yang terbit semalam. bagaimana bisa laki-laki yang berselingkuh juga melakukan itu dengan istrinya? Bahkan sampai dua kali? Apa sebenarnya pak Zahid adalah maniak?


"Anda terlihat lelah. Apa Anda menangis semalaman?"


Ingin sekali Layla berteriak "Tidaaaaak" di depan Leo dan mengatakan kalau wajahnya menjadi begini karena hal lain. Tapi ... tentu saja dia menahan lidahnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku ... hanya kurang tidur"


"Saya tidak tahu kalau berita ini akan dirilis semalam. Apalagi hanya beberapa jam setelah Anda masuk ke dalam perusahaan. Sepertinya Tuan Zahid mulai mengeluarkan sifat yang tidak saya ketahui"


Tidak diketahui? Iya. Layla juga berpikir begitu. Atau sebenarnya Layla sudah tahu? Dari saat mereka masih menjadi majikan dan pembantu dulu, pak Zahid memang sudah terlihat seperti maniak. Sial. Kenapa dia menikah dengan orang seperti itu?


"Iya" jawab Layla sebisanya. Dia tidak tahu apakah sekarang masih bisa bekerja.


"Sebaiknya Anda tidur saja sekarang. Saya akan berjaga di depan dan memastikan tidak ada yang mengganggu"


"Tidak. Aku harus bekerja"


Layla menguatkan diri dan mulai mempelajari perjanjian kerja perusahaan ayahnya. Akhirnya satu hari lagi berlalu dengan cepat saat dia bekerja. Layla mulai mengerti perusahaan dan orang seperti apa yang diajak kerja sama oleh ayahnya. Kebanyakan adalah perusahaan dan orang yang berasal dari nol. Atau mereka adalah pengusaha yang berjuang keras untuk hidup. Sama seperti ayahnya. Hanya dua hari, Layla dibuat kagum dengan cara kerja ayahnya.


"Anda akan pulang sekarang?" tanya Leo yang setia menemaninya hari ini.


"Iya"


"Kali ini saya akan menjaga Anda di rumah"


"Tidak perlu"


Tiba-tiba terdengar suara yang Layla kenal dari luar ruangan. Suami yang sudah menyiksanya tadi pagi berani muncul di hadapannya.


"Tuan Abassy"


"Bukankah Anda juga harus menjaga seseorang yang lain Tuan?"


"Itu bukan urusanmu"


"Hebat sekali. Anda sungguh pria yang pandai memikat wanita"


"Kenapa? kau mau belajar?"


Layla melihat dua laki-laki yang saling sindir di depannya. Keduanya tidak mau kalah dan seperti ingin menantang satu sama lain. Tidak tahu apa alasannya.


"Saya akan mengantar Nyonya"


"Tidak perlu. Karena hari ini akan ada acara makan malam di rumah Paman pertama istriku"


Apa? makan malam di rumah Paman pertama? Untuk apa? Sekalipun Layla tidak pernah diundang di rumah Paman pertamanya. Itu karena ayahnya tidak pernah memperbolehkan datang. Tapi kenapa sekarang dia boleh datang? Apa karena pak Zahid?


"Sebaiknya Nyonya tidak kesana"

__ADS_1


"Tenanglah. Dia datang bersamaku"


"Tapi ... "


"Ayo kita pergi" ajak pak Zahid dan Layla terpaksa mengikuti. Dia juga ingin melihat rumah paman pertama yang selalu mengharapkan anaknya untuk mewarisi perusahaan Graham Real Estate. tapi Leo tidak melepasnya pergi dengan mudah. Leo dan dua pengawalnya tetap mengikuti Layla untuk pergi ke rumah paman pertama.


"Apa benar kalau ada acara makan ...hmp" layla tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena dibungkam oleh suaminya. Dibungkam dengan ciuman yang seperti tidak akan pernah berakhir. Apa-apaan orang ini? Setelah sembuh dari rasa terkejut, Layla segera mendorong pak Zahid menjauh.


"Anda ... apa yang Anda lakukan?"


"Kenapa? Aku tidak boleh melakukan itu setelah tadi pagi "


"Tidak!!!" teriak Layla mencoba untuk menghentikan pak Zahid bicara.


"Kenapa?"


Tiba-tiba saja Layla mendengar suara yang aneh dari mulut laki-laki ini. Suara yang seperti dipaksakan untuk imut tapi menjijikkan.


"Saya ... ini di mobil"


"Kau pikir aku akan menurut?"


"Apa?"


Pak Zahid kembali mendekat dan mulai mencium Layla. Tangan laki-laki itu juga menyentuh semua bagian tubuhnya dengan leluasa. Layla merasa kalau pak Zahid memang seorang maniak. maniak yang tidak tahu tempat dan waktu untuk melakukannya. Tapi ... dia tidak bisa menolaknya. karena .,. dia tidak bisa berpikir apapaun saat laki-laki itu mulai menyentuhnya. Dan perasaan seperti itu ternyata sangat menyenangkan untuknya.


"Kau ingin melanjutkannya sekarang?" tanya pak Zahid setelah berhasil membuat Layla kehabisan napas.


"Bisakah?"


"Sepertinya tidak bisa, karena kita sudah sampai di rumah paman pertamamu"


"Apa?"


Layla segera memperbaiki baju serta posisi duduknya. Dia berhasil melakukan semuanya dalam waktu singkat, sebelum Leonard mengetuk pintu mobil.


"Nyonya"


"Iya" jawab Layla dengan suara sengau.


"Silahkan keluar"


"Hmm"

__ADS_1


Pak Zahid yang pertama keluar dari mobil lalu disusul oleh Layla. Matanya kemudian dengan cepat terbuka dengan lebar. Di depannya berdiri sebuah rumah yang mirip istana Presiden Amerika. Sungguh besar dan megah. berbeda sekali dengan rumah milik orang tuanya yang lebih mementingkan pemandangan dan suasana. Tapi ... bagaimana bisa pamannya memiliki rumah sebesar dan semegah ini? Bukankah usaha pamannya gulung tikar sepuluh tahun lalu. Bahkan pamannya tidak bisa melanjutkan usaha karena masalah hutang yang dibuat oleh anak laki-laki tunggalnya itu? Lalu ini apa?


Layla masih terdiam dan mengagumi rumah mewah yang ada di depannya saat seorang wanita berlari dari dalam dan segera memeluk pak Zahid. Wanita itu, bukankah artis yang dirumorkan dekat dengan suaminya semalam? Layla tidak bisa berkata-kata dan memilih untuk diam.


__ADS_2