
Frank tidak membuang waktu dan segera pergi ke rumah peristirahatan baru Tuan Besarnya. Dua jam kemudian dia sampai dan melihat Tuan Besar menikmati waktu bersama istrinya.
"Tuan"
"Oh, Frank, darimana saja kau? Aku sudah lama ingin mengabarkan sesuatu yang menyenangkan untukmu" jawab Nyonya Besar.
"Saya akan senang mendengarnya nanti Nyonya. Sekarang ada berita yang lebih penting daripada itu"
"Apa yang lebih penting dari ... " Belum selesai Nyonya Besar bicara, Tuan Harold menghentikannya.
"Katakan!"
"Nona Muda akn menjabat sebagai Wakil Direktur perusahaan mulai lusa nanti"
Sejenak hanya ada suara deru angin yang terdengar di telinga Frank.
"Benarkah?"
"Iya Nyonya"
"Apa dia bicara sendiri? Dengan mulutnya?"
"Saya sudah memastikannya"
Suara angin kembali hadir mengisi rongga telinga Frank ketika Tuan Besar mulai berjalan menjauhi istrinya. Dengan sigap, Frank mengikuti Tuannya dan mendengarkan apa yang harus dilakukannya.
"Persiapkan dengan baik. Panggil Leonard kembali untuk menjaganya!"
"Bukankah seharusnya saya yang ... "
"Tidak. Aku ingin kau tetap bersamaku. Biarkan dia menemukan dirinya sendiri dengan orang baru"
Meskipun berat, Frank terpaksa menuruti kemauan Tuan Besarnya.
"Baik Tuan. Saya akan memanggil Leonard pulang"
"Dan, siapkan acara pengunduran diri Zahid dan perceraian mereka"
"Tapi Tuan, Tuan Zahid juga ... "
"Aku tahu. Anak itu memang berbakat. Tapi dia membuat putriku hidup dalam kegelapan selama satu tahun dan mengajak wanita lain ke tiap acara perusahaan resmi. Apa kau pikir aku akan memaafkan semua itu"
"Saya akan menyiapkan semuanya" kata Frank lalu menjauhi Tuan Besarnya. Setelah berpamitan pada Nyonya besarnya, Frank menghubungi anak buah setianya dan menyuruhnya untuk pulang.
"Ada pekerjaan"
"Aku menikmati hidupku Frank"
"Lepaskan semuanya. Nona Muda membutuhkanmu"
"Benarkah? Aku akan berangkat hari ini"
"Bersiaplah! Banyak orang yang kau kenal disini"
"Aku siap menghadapi semuanya"
Frank menutup telepon dan tersenyum. Leonard, anak buahnya yang pernah menjaga Nona Muda sejak kecil sampai remaja akhirnya kembali. Hanya pada anak itu, Frank dapat mempercayakan keamanan Nona Layla-nya.
Layla memilih untuk berjalan pulang dari cafe tempatnya bertemu dengan Frank. Dia menikmati saat terakhirnya bisa menikmati suasana pinggir jalan yang dulu selalu ingin dialaminya. Telepon masuk ke dalam ponselnya, dan itu dari Raya.
__ADS_1
"Dimana kau sekarang?" tanya Raya segera.
"Aku sedang berjalan-jalan"
"Kudengar kau dipaksa untuk tinggal satu rumah dengan suamimu?"
"Iya"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Layla, jujurlah. Apa yang sudah kalian lakukan sampai saat ini?"
"Tidak ada" jawab Layla lalu mengingat ciuman yang dilakukannya dengan pak Zahid beberapa waktu lalu.
"Bohong" tuduh Raya.
"Benar. Aku sedang berjalan sendirian sekarang dan ingin membeli sesuatu yang sepertinya enak"
"Apa itu? Kau dimana? Aku akan menjemputmu asalkan kau membelikanku juga"
"Baiklah"
Layla berakhir di salah satu gerai makanan pinggir jalan dan mulai memesan dua porsi jajanan yang sepertinya terkenal. Meskipun antri selama beberapa menit, dia tidak keberatan. Setelah memperoleh pesanannya, Layla pergi ke mobil Raya yang diparkir agak jauh. Mereka makan bersama dalam mobil dan merasa hal itu adalah kemewahan.
"Enak"
"Iya. Harusnya mereka menjual di tempat yang lebih bagus"
"Raya, ada yang mau aku bicarakan"
"Aku harus berhenti dari pekerjaanku sekarang"
"Apa?"
"Aku akan bekerja di perusahaan ayah mulai lusa nanti"
"Apa??? Benarkah? Kau sudah ... siap?"
Siap? Tidak mungkin. Layla bukanlah seseorang yang sangat pandai dalam menangani sebuah perusahaan. Apalagi perusahaan itu telah berada di tangan yang tepat selama ini. Sedangkan dia? hanya anak ingusan dalam dunia itu.
"Aku harus siap"
Raya berhenti mengunyah dan melihat ke arah Layla secara intens.
"Sebenarnya, Zahid melakukan hal yang baik sampai sekarang. Lalu kenapa kau?"
"Iya"
"Maksudku. Selain kabar perselingkuhannya, Zahid meneruskan kursi pemimpin perusahaan dengan baik"
"Iya. Memang"
"Apa kau sudah tidak bisa menahannya lagi?"
"Apa?" Layla tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Kau tidak bisa menahan rasa cemburu itu lagi?"
"Tidak. Tentu saja bukan itu alasannya. Aku ... malah ingin dia bahagia dengan perempuan yang dia inginkan"
__ADS_1
"Apa kau gila? Bukannya kau menyukainya?"
"Aku ... tidak boleh menahannya lebih lama lagi. Aku akan mengambil alih posisi Direktur perusahaan dan menceraikan pak Zahid"
"Kau sudah yakin?"
"Iya. Belum pernah aku seyakin ini"
Sahabatnya tidak berkata apa-apa lagi. Dan mereka berdua hanya bisa saling menatap dalam diam.
"Kau harus benar-benar kuat Layla. Mungkin kali ini lebih kuat dari yang pernah kau bayangkan sebelumnya" nasehat Raya setelah beberapa menit berlalu.
"Iya"
Raya mengantar Layla pulang ke rumah pak Zahid.
"Oh, ini rumah yang pernah kau ceritakan dulu?"
"Iya"
"Bagus juga selera suamimu. Eh, maaf"
"Tidak apa-apa. Aku pulang dulu. Terima kasih sudah mengantar, Bos"
"Yah. Berakhir sudah saat-saat aku bisa memarahimu"
Layla tersenyum lalu menutup pintu mobil Raya dan melihat sahabatnya pergi. Dia berjalan ke rumah pak Zahid lalu masuk ke dalamnya. Tidak ada siapapun di dalam rumah itu. Bahkan bayangan suaminya dan ibu mertuanya juga tidak ada. Kemana semuanya pergi? Layla menarik napas lalu pergi ke kamar di lantai atas. Yang dilihatnya disana hanyalah kamar yang kosong.
Melihat ranjang yang hangat, Layla mulai merasa mengantuk. Dia meletakkan tasnya di lantai lalu naik ke atas ranjang. Begitu hangat, beda dengan sofa tempat dia tidur semalam. Tak lama dia tertidur pulas. Tidak tahu kalau suaminya pulang dari memaksa ibunya pulang kemudian tidur di samping Layla.
Beberapa jam kemudian, Layla membuka mata dan menguap lebar-lebar. Dia menggerakkan tubuhnya untuk berbaring miring ke kiri dan melihat mata hitam yang sedang menatapnya.
"Oh" Dia baru saja ingin segera bangun dan pergi dari ranjang saat laki-laki itu mulai bicara.
"Jangan pergi. Kau tidur saja disini. Aku ... tidak akan melakukan apapun kepadamu"
Tidak akan melakukan apapun? Layla merasa ada sebuah batu menekan dadanya saat suaminya bicara seperti itu. Tapi dia harus bersikap biasa.
"Apa Nyonya Hannah?"
"Aku memaksanya pulang"
"Padahal Nyonya Hannah pasti kecapekan"
"Jangan bicarakan ibuku. Tidurlah lagi! Aku akan pergi ke bawah"
Layla melihat laki-laki itu bangkit dari ranjang dan akan berjalan menjauh. Sebaiknya kini dia membicarakan sesuatu yang sudah diputuskannya tadi.
"Aku akan mengambil jabatan dalam perusahaan"
Laki-laki itu berhenti berjalan dan berbalik.
"Benarkah?"
"Iya"
"Kenapa tiba-tiba?"
"Karena aku ingin kita segera bercerai"
Akhirnya, kata-kata itu meluncur lepas dari mulut Layla. Selama ini dia tidak pernah membayangkan akan bicara seperti itu karena masih berharap akan ada keajaiban dalam hubungan mereka. Tapi kini dia sudah menyerah.Dia hanya akan menjadi Layla Graham. Bukan istri Zahid Abassy.
__ADS_1