The King

The King
Episode 64


__ADS_3

"Kak Zahid harus menikahiku karena sudah membuat hidupku jadi berantakan seperti ini" kata Sarah melanjutkan.


Zahid teringat semua peringatan yang diberikan Boni padanya tentang hal ini. Dia sama sekali tidak pernah berpikir kalau Sarah memandangnya dengan cara yang lain.


"Dan jangan beralasan kalau aku masih kecil. Usiaku sepuluh tahun lebih tua daripada istrrimu. Jadi, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri"


Zahid berdiri dari ranjangnya lalu menatap wanita yang selama ini selalu dianggapnya sebagai adik itu.


"Kau adalah adik Lucas. Selamanya akan menjadi adik Lucas bagiku. Tidak akan lebih"


"Kak Lucas menyuruhmu untuk menjagaku. jadi, jaga aku sebagai istrimu!"


Nada bicara Sarah menjadi semakin keras sekarang. Dan tiba-tiba wanita itu melepas gaunnya di depan Zahid. Menampilkan tubuh polos seorang wanita dan Zahid segera mengalihkan pandangannya.


"Pakai lagi bajumu!" perintah Zahid tapi tidak dilakukan oleh Sarah. Wanita itu berjalan maju ke arah Zahid dan memperlihatkan raut wajah yang menyedihkan. Persis seperti wanita-wanita murahan yang selama satu tahun ini selalu dikirimkan oleh keluarga sepupu Layla padanya.


"Lihat aku. Lihat aku kak Zahid. Lihat aku"


Zahid tidak tahan lagi dan segera menghempaskan tubuh Sarah ke ranjangnya. Dia lalu segera keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Tapi, dia bertemu dengan ibunya yang mungkin sejak tadi ada di depan kamar. Dan mungkin juga sudah mendengar semuanya. Ibunya tidak berkata apa-apa dan Zahid juga tidak ada niat untuk bicara. Dia segera pergi dari rumah ibunya dan pulang.


Rumahnya terlihat sepi tanpa ada lampu yang menyala. Layla tidak mungkin keluar dari rumah malam-malm begini. Dan benar saja, dia menemukan istrinya sedang meringkuk di sofa. Sepertinya tertidur setelah memeriksa beberapa berkas perusahaan yang diberikan Zahid. Zahid berjongkok dan menatap wajah Layla.Kulit halus, wajah muda dan cantik, bibir berwarna merah muda dan juga ... . Tanpa sadr Zahid telah menyesap aroma tubuh istrinya dari jarak yang sangat dekat.Dia ingin sekali melupakan apa yang baru saja dilihatnya di rumah ibunya. Dia ingin menggantikan ingatan itu dengan wajah, dan rupa tubuh Layla. Sayangnya dia tidak akan pernah bisa melakukan hal itu.


Zahid tidak berani menyentuh perempuan yang ada di depannya ini. Alasannya sudah jelas. Karena perempuan ini tidak akan pernah menjadi miliknya. Perempuan ini akan menikah lagi dengan laki-laki yang mungkin seumuran dan menjalani kehidupan bahagia sebagai sebuah keluarga. Zahid hanyalah pengganti sementara pemimpin perusahaan. hanya itulah jabatannya sampai mereka nanti bercerai. Dia melawan keinginan kuatnya untuk menyentuh Layla dan pergi mandi. Mendinginkan diri di bawah pancuran air dingin.


Hampir selesai mandi, dia mendengar suara pintu kaca yang bergeser dibelakangnya. Dia berbalik unttuk melihat sebab pintu itu bergeser lalu terpana dengan apa yang ddilihatnya. Di dekat pintu kaca itu berdiri seorang perempuan dengan baju tidur tipis. Zahid bisa melihat smua yang ada dibalik baju itu dengan sangat baik. Apalagi dengan penerangan bagus di kamar mandi serta tetes air yang perlahan membuat baju itu menempel erat di badan Layla. Dia merasa gila. Lain dengan perbuatan Sarah tadi. Kali ini, Zahid ingin sekali menyentuh tubuh istrinya tapi ... dia harus menahannya dengan sangat keras. Hal itu sangat sulit, apalagi saat bagian bawah tubuhnya mulai bereaksi. Zahid harus cepat pergi, sekarang juga. Itulan pikirnya sebelum perempuan itu maju mendekatinya.


"Hanya malam ini. Bisakah Anda memperlakukan saya sebagai istri?"


Suara Layla begitu kecil dan bergetar. Seakan tidak yakin dengan perbuatannya. Dan itu adalah tanda untuk Zahid menolak ide gila ini.


"Saya tahu kalau Anda mencintai wanita lain. Dan saya hanya meminta malam ini saja. Hanya malam ini"


Sial. bagaimana ini? Desakan gairah yang ada di dalam diri Zahid semakin memuncak karena kini baju tidur Layla telah basah sepenuhnya. Terlihat semua yang ingin dilihat oleh Zahid selama ini. Dia harus segera pergi sebelum kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Dia menggeser tubuh basah Layla ke samping dan keluar dari tempat shower dengan menutup bagian tubuhnya yang terlanjur bangkit. Lalu sesuatu menghentikan langkahnya pergi.


"Memang tidak bisa ya Anda menganggap saya sebagai istri?"


Kata-kata yang keluar dari mulut Layla terdengar begitu menyedihkan di telinga Zahid. Dia melakukan semua ini demi istrinya. Tidak ingin menyakiti tubuh yang masih begitu muda itu. Tapi ... apa memang ini adalah sesuatu yang benar? Karena kini perempuan yang selama setahun terakhir menjadi istrinya sedang memeluk tubuhnya sendiri di bawah aliran air yang dingin. Dia memang ingin melindungi Layla, tapi bukan membuatnya terluka seperti itu. Zahid membuka pintu kaca dan mematikan shower yang masih mengucurkan air dingin itu. Dia mengangkat dagu Layla dan mulai mengecup bibir merah muda istrinya. Begitu dingin awalnya lalu berubah menjadi panas dan tubuh mereka telah melekat satu sama lain.

__ADS_1


"Maafkan saya" kata Layla saat mereka berpindah ke atas ranjang. Tentu saja itu membuat Zahid kesal. Kenapa harus meminta maaf untuk sesuatu seperti ini?


"Bisakah kau diam?" katanya mencoba untuk berhati-hati agar tidak terlalu menyakiti Layla.


Zahid sudah meninggalkan tanda kecupan di semua bagian tubuh Layla dan kini dia akan mencoba menyatu. Saat akhirnya tubuh mereka menyatu, Zahid merasakan kenikmatan yang sulit untuk dijabarkan. Sungguh, ini memang yang diinginkannya sejak setahun, bukan bahkan sebelum mereka berdua menikah.


"Apa sakit?" tanyanya lalu merasakan geliat tubuh Layla.


"Sedikit, tapi ... "


Zahid sedkit mempercepat gerakannya dan membuat perempuan di bawahnya mendesah keras. Kini tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya lengkingan kecil saat Layla mendapatkan puncaknya. Tapi Zahid tidak membiarkannya beristirahat. Malam ini dia akan melakukan semua yang ingin dia lakukan pada istrinya. Semuanya. Ciuman, kecupan, sentuhan dan semuanya. Dia akan melakukannya terus menerus sampai matahari terbit dan mengembalikan mereka berdua ke tempat sebelumnya. Tempat dimana mereka dipaksa untuk menjadi suami istri di atas kertas saja.


Matahari akhirnya menunjukkan sinarnya yang menerobos ke dalam kamar Zahid. Dia belum pernah selelah ini sebelumnya lalu terjatuh berbaring disebelah tubuh Layla. Lelah tapi ... puas sekali. Dia memeriksa keadaan Layla yang masih juga terjaga sampai sekarang dan tidak mengeluh sama sekali. Tangannya mengulur pelan, menyibakkan rambut Layla yang menutupi mulut dan kemudian mengecupnya pelan.


"Kau pasti lelah. Kita bisa tidur tiga jam sebelum berangkat ke perusahaan" kata Zahid lalu mendapatkan anggukan kecil Layla.


"Terima kasih" kata Layla lalu Zahid memeluk badan lemah itu.


Tidak perlu berterima kasih. Karena dia merasa sangat bahagia sekarang. Seumur hidupnya belum pernah Zahid merasa bahagia karena mencintai seseorang sampai seperti ini. Dialah yang seharusnya berterima kasih. karena bisa bertemu dengan perempuan yang begitu cantik dan polos seperti istrinya ini.

__ADS_1


__ADS_2