
Layla tidak menyangka, acara perkenalan dirinya ke semua Direktur melelahkan sampai seperti ini. Kakinya yang tidak biasa memakai hak tinggi memberontak ingin berlari dari perusahaan. Apalagi, Layla menemukan fakta kalau tidak semua Direktur yang ada di perusahaan ayahnya ini mengenalnya.Apa yang ayahnya lakukan sampai ada beberapa orang yang idak mengenalnya? padahala dia adalah putri ayahnya. Satu-satunya putri Harold Graham.
"Apa kau lelah?"
Layla mendongak dan melihat pak Zahid membawa dua gelas minuman.
"Anda tidak perlu melakukan ini"
"Hanya minum. Kau pasti lelah bersikap baik sepanjang perkenalan tadi"
"Tidak. Saya tidak lelah. Tapi ... "
"Terkejut karena banyak dari mereka tidak mengenalimu?"
Memang itulah yang dirasakan oleh Layla. Dia tidak tahu bagaimana ayahnya menyembunyikan keberadaannya. Tapi, itu bukan masalah. layla pernah mengalami yang lebih buruk daripada tidak dikenali saja.
"Apa pekerjaan yang bisa saya lakukan setelah ini?" tanyanya pada pak Zahid.
"Kau masih ingin bekerja setelah tadi?"
"Iya. Saya pikir Anda tidak ingin menunda apapun"
"Baiklah. Lebih baik sekarang kau pergi ke ruanganmu dan menunggu tugas yang akan kuberikan"
"Baik" kata Layla lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan suaminya. Ruangan yang seharusnya menjadi miliknya.
Layla menatap ruangan yang jauh lebih kecil dengan meja, telepon dan lampu belajar seperti milik mahasiswa itu. Apa ini? Bukankah jabatannya disini adalah Wakil Direktur? Kenapa ruangannya bahkan lebih kecil dripada milik pak Boni? Dia ingin protes tapi tidak jadi. Ini baru hari pertama. Dia tidak boleh manja dan meminta sesuatu yang belum bisa menjadi hak-nya.
"Selamat pagi Nyonya" sapa Pak Boni mengejutkannya.
"Iya"
"Ini adalah berkas perusahaan sejak berdiri sampai sekarang. Tuan meminta Anda untuk mempelajari berbagai kerjasama yang dilakukan oleh perusahaan sampai sekarang" ujar pak Boni lalu meninggalkan tumpukan berkas di meja kecil itu.
"Ini semua?"
__ADS_1
"Ini? Belum"
Tanpa Layla sadari, ternyata di belakang pak Boni ada dua sekertaris suaminya yang lain. Mereka juga membawa tumpukan berkas dan meletakkannya di meja Layla. Meja kecil itu kini tak tampak pinggirannya lagi.
"Ini sudah semua. Tuan juga mengatakan agar Anda tidak memaksakan diri"
Apa tadi pak Boni bilang? Tidak memaksakan diri? Sungguh perhatian sekali. Layla mulai masuk ke dalam tumpukan berkas itu dan memilih tahun awal perusahaan berdiri. Tahun 1995. Enam tahun sebelum Layla lahir. Saat itu ayah pertama kali bertemu dengan ibu, pikir Layla. Kata ibu, mereka bertemu di depan sebuah toko dan menyimpan perasaan satu sama lain. Tapi ayah saat itu sedang mengadakan pertemuan bisnis pertamanya. Layla membuka berkas dan melihat kuitansi pembelian tanah pertama ayahnya. Tanah yang berukuran dua ratus meter. Tanah yang kemudian berkembang lima kali lipat dan menjadi gedung perusahaan yang sekarang dimasuki Layla. Memeriksa berkas perjanjian bisnis ayahnya seperti memasuki lorong waktu. Lorong yang membawa Layla sadar kalau ayahnya melakukan banyak hal dalam hidupnya, tentu saja selain berkeluarga dan memilikinya sebagai anak.
Di tengah-tengah waktu memeriksa berkas, ada telepon masuk ke ruangannya. Layla sibuk mencari telepon yang sudah hilang dibalik semua berkas dan akhirnya menemukannya. Untung saja dering teleponnya belum berhenti.
"Lama sekali"
"Siapa ini?" tanya Layla.
"Aku yang memberimu pekerjaan"
Ohh, pak Zahid yang menghubunginya.
"Ada apa?"
"Belum. Saya baru sampai di tahun 1997"
"Lambat sekali. Apa kau tahu ini sudah tiga jam sejak kau bekerja?"
Layla melihat ke arah jendela kecil yang ada di ruangannya dan baru sadar kalau sekarang sudah siang.
"Apa saya harus melakukannya dengan cepat?"
"Tentu saja. Aku juga akan memintamu membuat laporan tentang hal itu. Juga tes"
"Apa?" Layla bingung. Seharusnya dia mencatat apa saja yang sudah dibacanya tadi.
"Untuk sekarang datang ke ruanganku!"
"Apa?"
__ADS_1
"Cepat!"
Layla dengan cepat berlari ke ruangan suaminya yang terletak di ujung lorong dan bertemu dengan pak Boni serta dua sekertaris Direktur.
"Nyonya" sapa mereka dengan hormat.
"Iya" Layla juga membalas dengan membungkuk. Sadar kalau dia berada disini unttuk belajar.
Sampai di ruangan suaminya, Layla terkejut. Bukan tes atau kuis yang menunggunya. Tapi dua kotak makanan serta minuman di depan pak Zahid.
"Pak"
"Kemarilah. Kau juga harus makan ssiang"
"Tapi saya bisa makan di kantin" jawab Layla. Menurut beberapa pegawai kantin perusahaan ayahnya sangat baik dalam mengolah makanan. Tiap hari kantin memasak makanan yang super enak untuk para pegawai.
"Kau pikir bagaimana perasaan pegawai lain saat mereka tahu ka;lau anak pemilik perusahaan makan bersama mereka?"
"Ohhh" Layla mengangguk. Dia harusnya memikirkan hal itu.
"Duduklah!"
Layla menurut dan duduk dihdapan laki-laki yang semalam ... . Ingin sekali Layla melupakannya, tapi bagaimana bisa. Mereka berada dalam satu ruangn dan pak Zahid menggulung lengan kemejanya. Menampilkan otot tangan yang semalam dipakainya untuk menahan tubuh Layla di atas. Tidak. Dia harus segera melupakan semuanya. Tidak baik kalau Layla tetap mengingatnya sedangkanmereka akan berpisah nanti.
"Terima kasih" kata Layla lalu mengambil minum dan melegakan kerongkongannya. Dia juga mulai makan tanpa melihat ke arah suaminya sama sekali.
Apa yang sedang ada dipikiran Zahid saat ini? Semuanya adalah hal mesum. Bagaimana tidak? Baru saja selesai bercinta dengan istrinya, dia terpaksa harus menekan hasratnya itu. Apakah sulit? Tentu saja. Dia adalah laki-laki normal yang memiliki nafsu untuk melakukan hal itu. Apalagi, Layla ada di depannya sekarang.Setiap gerakan Layla, dia mengamatinya dengan seksama. Bibir Layla yang meminum dari sedotan lalu gerakan halus istrinya untuk memasukkan makanan ke mulut. Semuanya tidak luput dari pengamatannya. Hasratnya memuncak dan dia ingin melakukan apa yang mereka lakukan semalam, disini juga.
"Anda tidak makan?" tanya Layla menyadarkannya dengan keras.
"Aku? Tentu saja makan" jawab Zahid lalu menelan ludah dengan susah payah.
Dia sudah gila. Ini kantor ayah Layla. Perusahaan yang kelak akan menjadi milik istrinya. bagaimana bisa dia memikirkan hal itu?
__ADS_1