The King

The King
Episode 43


__ADS_3

Satu bulan selanjutnya Layla disibukkan dengan kuliahnya yang kembali berjalan. Dia bertemu dengan teman-temannya, juga Raya. Setiap hari dijalaninya seperti sebelum masalah pertunangan dibahas. Di sisi lain calon suaminya belajar untuk memimpin sebuah perusahaan besar. Tentu saja aktor berumur tiga puluh lima tahun itu kesulitan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukannya. Setidaknya dua hari sekali, Zahid juga menyempatkan diri untuk datang ke rumah keluarga Lucas, berharap mendapatkan maaf.


Keduanya berjalan menjauh disaat tanggal pernikahan semakin dekat. Tepat sebulan sebelum pernikahan, Zahid dan Layla dipertemukan secara paksa dan mereka merasa canggung dengan satu sama lain.


"Lama tidak bertemu, kau terlihat segar" kata Zahid melihat calon istrinya tampak begitu muda dengan rambutnya yang diikat sembarangan.


"Terima kasih. Pak Zahid terlihat kelelahan" jawab Layla terkejut melihat perubahan wajah calon suaminya. Laki-laki yang selalu memiliki wajah bersinar itu mulai terlihat lebih tua dari usianya. Sepertinya perusahaan membuat pak Zahid kesulitan.


"Apakah terlihat di wajahku?"


"Iya. Lebih baik kita batalkan makan malam agar pak Zahid dapat berisitirahat"


"Mungkin lebih baik seperti itu"


Sebenarnya Layla sempat lupa kalau dia sudah bertunangan sekarang. Juga tentang pernikahan yang tidak lama lagi akan mereka lakukan.Saat bertemu dengan laki-laki ini malam ini, Layla kemudian mengingat semuanya. Dia juga dengan cepat menyesuaikan diri. Tapi, laki-laki ini tampak berubah. Berbeda dengan mantan majikan yang pernah dia kenal. Mungkin karena urusan perusahaan yang baru dipegangnya. Layla berjalan berdampingan dengan calon suaminya dan melihat sopir baru yang tidak pernah dikenalnya.


"Apa ini mobil Anda?"


"Iya, ayahmu yang memberikannya satu minggu lalu"


Layla menggigit bibir bawahnya. Ayahnya benar-benar memperlakukan laki-laki ini sebagai penerusnya. Tidak ada celah untuknya masuk.


"Saya akan pulang dengan taksi. Pak Zahid sebaiknya pulang saja"


Saat Layla pikir, laki-laki itu akan bersikeras mengantarnya pulang, pak Zahid ternyata masuk ke dalam mobil tanpa menjawab sama sekali.


Ada kekecewaan merasuki hatinya.


Perlahan, Layla merasa ada yang tidak beres dengan perlakuan laki-laki itu padanya. Mereka akan segera menikah, tapi sepertinya Layla merasa laki-laki itu semakin menjauh. Layla tidak menemukan alasannya sampai sebelum pernikahan akan dilaksanakan. Semua urusan pernikahan diselesaikan oleh keluarga masing-masing dan Layla tidak pernah bertemu sama sekali dengan calon suaminya. Bahkan sampai sekarang.  Kegiatannya juga tidak berubah karena pernikahan, hanya saja akan tidak pantas untuknya masuk kuliah disaat seperti ini.


"Lalu, kau mengajakku makan siang disaat aku sedang sibuk hanya untuk menemanimu yang sedang kesepian?" ujar Raya tidak rela pekerjaannya terganggu.


"Aku hanya ingin minum kopi bersama sahabatku. Apa itu berat untukmu?"


Mendengar jawaban Layla, membuat Raya memesan kopi untuknya sendiri dan diam menurut.


"Apa kau sudah siap untuk besok?"


Layla memasang jari telunjuknya di depan bibir dan meminta Raya diam. Upacara pernikahannya akan dilaksanakan di rumah dan dihadiri oleh keluarga duia belah pihak saja. Orang tuanya sengaja melakukan hal itu karena tidak ada gunanya malksanakan pernikahan mewah. Juga menghindari pembicaraan di media.


"Begitulah"


"Begitulah? Apa kau tidak merasa senang, sedih atau khawatir?"


"Tidak tahu. Rasanya hanya seperti melaksanakan hari-hari seperti biasa saja"

__ADS_1


Raya pasti mengerti tentang perasaan Layla sekarang. Karena keduanya juga sering melihat pernikahan tanpa didasari oleh cinta. Berada di kalangan atas seperti mereka, membuat keduanya harus cepat mengerti dan banyak diam.


"Yah, setidaknya kau diperbolehkan menyelesaikan pendidikanmu"


"Iya, kurasa itu juga hal yang baik"


Layla sebenarnya sangat takut sekarang. takut kalau pernikahannya besok adalah suatu kesalahan yang akan dilaksanakanya seumur hidup.


Disaat mereka menikmati kopi, ada suara yang menyapa Layla.


"Kau perempuan itu kan?"


Layla menoleh dan mengenal wanita yang menyapanya. Kalau tidak salah dia pernah melihat wanita ini dengan pak Zahid di pusat perbelanjaan dan pemakaman dulu. Tapi Layla lupa namanya.


"Kau siapa?" tanya Raya tidak suka.


"Benar, kau adalah perempuan yang akan dinikahi oleh kak Zahid, kan? Putri pengusaha kaya itu?"


Ucapan wanita ini sungguh tidak sopan tapi Layla tidak terpancing. Lain dengan Raya yang berdiri dari kursinya.


Tidak mengindahkan ucapan Raya, wanita itu kembali berbicara.


"Perlu kau tahu ya. Kak Zahid itu terpaksa menikah dan masuk ke dalam jebakan ayahmu. Dasar pengusaha licik. Kalau tidak ada kalian, maka kakakku masih hidup. Kalian yang membunuh kakakku dan menyiksa kak Zahid. Dasar orang yang tidak memiliki hati!!" ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan Layla dan Raya.


"Apa-apaan wanita itu? Kenapa dia bicara seperti itu? Memangnya kau mengenalnya?"


"Dia ... aku pernah melihatnya"


"Lalu, kenapa dia bicara seperti itu?"


"Tidak tahu"


Layla tidak mengerti dengan semua cercaan yang keluar dari mulut Sarah tadi. Dan kenapa Sarah menyebut tentang ayahnya menjebak pak Zahid? Lalu, kakak Sarah meninggal karena ayahnya? Kalau begitu, makam yang mereka kunjungi waktu itu adalah ... .


Walaupun berpikir begitu berat, tidak ada satupun jawaban yang ada di pikiran Layla. Karena dia tidak tahu apapun. Sebenarnya dia juga penasaran bagaimana ayahnya dapat memilih pak Zahid sebagai calon suaminya.


"Dasar wanita sialan. Kenapa dia berteriak-teriak seperti itu?"


Layla tersadar kalau sekarang banyak orang yang sedang melihat ke arahnya karena komentar Raya.


"Lebih baik kita pergi"


"Iya"


"Jangan terlalu dipikirkan, sepertinya wanita itu gila. Gan lagi ... bukannya pernikahanmu ini hanya untuk mendapatkan penerus perusahaan saja"

__ADS_1


Layla melihat sahabatnya dan sadar dengan alasan pernikahannya dilaksanakan secepat ini. Namun, seandainya ada sesuatu yang tidak dia ketahui, bukannya itu membuatnya tampak seperti orang bodoh?


"Terima kasih sudah mengantarku" kata Layla pada Raya yang mengantarnya sampai ke rumah.


"Bersiap-siaplah untuk besok, jangan pikirkan hal lain"


"Iya"


Layla melihat mobil Raya menjauh lalu menghubungi Frank. Disaat seperti ini hanya Frank yang dapat berkata jujur padanya. Tapi, secara mengejutkan, ayahnya meminta untuk bertemu dengan Layla di ruang kerja. Dia terpaksa pergi kesana dan menghadapi ayahnya tepat dua puluh jam sebelum pernikahan.


"Kau lelah?" tanya Boni pada Zahid yang sekarang duduk di jabatan tertinggi perusahaan Graham.


"Tidak lagi. Sepertinya, aku sudah terbiasa" jawab Zahid lalu memeriksa berkas yang ada di mejanya.


"Gila, aku masih tidak bisa mengerti bagaimana Tuan Graham dan Frank melakukan hal ini selama empat puluh tahun"


Boni merasa berat badannya turun drastis setelah bekerja sebagai asisten Zahid. Untuk jabatannya yang baru.


"Kau boleh berhenti sekarang"


"Sungguh mudah bagimu untuk mengucapkan hal itu sekarang?"


Zahid tersenyum menjawab sindiran Boni.


"Tapi, besok adalah hari pernikahanmu. Dan Tuan Graham menyuruhmu libur selama tiga hari. Kenapa kau tidak libur?"


"Aku tidak ingin semua tertunda hanya karena pernikahanku"


"Kau menikah dengan putri Tuan Graham. Memangnya dia tidak bisa memaafkanmu untuk hal itu? Lagipula, seharusnya kau menghabiskan waktu dengan Layla dan bukan bekerja seperti ini"


"Perbaiki panggilanmu!"


Boni melihat tatapan kejam Zahid dan mengangguk. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar.


"Iya, Nyonya Layla. Tuan Zahid"


"Kau menerima pekerjaan ini dan bertanggung jawablah dengan pilihanmu. Seperti yang kulakukan sekarang"


"Jadi, kau menerima pernikahan ini hanya sebagai pekerjaan?"


Zahid berhenti membaca berkas perusahaan untuk sekejap karena ucapan Boni. Dia juga tidak tahu bagaimana menyikapi pernikahan yang akan dilakukannya besok. Dia tidak mengerti bagaimana memperlakukan istrinya disaat hatinya tersiksa karena penolakan Sarah dan Tante Martha.


"Aku akan bertanggung jawab pada pekerjaan dan Layla. Kurasa itu cukup"


Boni sedih mendengar jawaban Zahid yang begitu diplomatis. Tidak seperti Zahid yang dikenalnya. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk menduduki jabatan setinggi ini? tanya Boni dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2