The King

The King
Episode 51


__ADS_3

Keduanya terdiam dalam mobil yang terus melaju ke arah rumah mereka. Zahid tidak berniat untuk berbicara lagi dengan perempuan yang ada disampingnya. Dia kesal dan marah. Dia berpikir perempuan ini akan selalu bersikap dewasa. Tapi Zahid salah, perempuan ini memang masih berusia dua puluh tahun. Ponsel Zahid berdering, memecah suasana hening di dalam mobil.


"Ada apa?" tanya Zahid pada Boni yang menghubunginya.


"Akan ada makan malam di rumah keluarga Graham hari ini. Kau akan bertemu semua anggota keluarga secara resmi"


Akhirnya hari ini tiba. Zahid menarik napas berat lalu menghembuskannya lagi. Keluarga dari Tuan Graham akhirnya ingin lebih mengenalnya. Dua bulan awal dia diperkenalkan sebagai Presdir perusahaan, tidak ada tindakan apapun dari mereka. Keluarga Tuan Graham bersikap manis sampai sekarang.


Malam ini, dia pasti akan melihat salah satu sifat asli mereka. Jadi Zahid harus bersiap.


Disebelahnya, Layla juga menerima pesan masuk ke dalam ponselnya. Perempuan ini pasti sudah menerima pemberitahuan makan malam dari Frank atau ibunya.


"Apa Anda memiliki rencana malam ini?" tanya perempuan itu tiba-tiba membuat Zahid terkejut.


"Iya" jawab Zahid singkat.


"Apakah Anda bisa meluangkan waktu untuk saya?"


Apa ini? Kenapa tiba-tiba perempuan ini mengajaknya? Zahid mulai curiga. Apakah Layla tidak terlalu menyukai saudara ayahnya. Atau Layla sudah tahu kalau saudara ayahnya adalah orang yang perlu dihindari. Tapi, Zahid ingin sekali tahu apa rencana perempuan ini untuknya.


"Apa yang ingin kau lakukan malam ini denganku?"


"Apa?" Sepertinya Layla tidak menyangka pertanyaan Zahid.


"Kau yang ingin aku meluangkan waktu untukmu"


"Maksud saya, saya ingin ... "


Zahid melihat Layla yang sama dengan yang dikenalnya dulu. Bukan putri Tuan Graham, tapi Layla yang bekerja di rumahnya. Zahid segera menutup jendela kecil yang menghubungkannya dengan kursi supirnya lalu menatap Layla.

__ADS_1


"Apa yang Anda inginkan?" katanya dengan nada menggoda, membuat perempuan itu sedikit ketakutan. Cantik sekali.


 


'Sial, sepertinya aku salah' pikir Layla mulai menyesali ajakannya yang tidak jelas. Sekarang, laki-laki itu melihatnya dengan mata yang dirindukannya. Dan sepertinya, pak Zahid juga mulai mendekat padanya. Harusnya dia dapat menahan emosi di restoran tadi. Harusnya dia tidak mengganggu makan siang suaminya dan keluarga Nyonya Martha. Harusnya dia menolak keras saat suaminya memaksanya masuk ke dalam mobil. dan seharusnya dia berpikir sebelum mengatakan apa-apa. Semua ini karena pesan tentang makan malam.


Layla sangat mengenal keluarga ayahnya. Mereka bukanlah orang yang baik, setidaknya itulah kesan Layla setiap kali bertemu dengan mereka. Apa yang mereka bicarakan di setiap acara makan malam atau apapun selalu berusaha merendahkan ayah, ibu dan dirinya. Terutama ibu Layla yang tidak bisa melahirkan seorang penerus. Layla tidak menyukai mereka. Tapi sejahat apapun, mereka tetaplah saudara ayahnya. Layla tetap harus menghormati mereka.


"Apa yang Anda inginkan?" tanya Layla lalu menyadari pak Zahid berada dekat sekali dengannya. Bibir mereka hampir saja bersentuhan kalau Layla bergerak.


"Apapun yang aku inginkan?"


Serangan aroma laki-laki ini membuat jantung Layla berdetak sangat kencang. Layla lupa betapa menggodanya laki-laki di depannya ini. Sebelum Layla sempat menjawab, pak Zahid meletakkan jari telunjuknya untuk menyusuri bibirnya. Dan perlahan tapi mengejutkan, Layla merasakan sentuhan panas tangan pak Zahid di kulit punggungnya. Dia terkejap dan tak sengaja merekatkan bibir mereka berdua.


'Oh, tidak' pikir Layla saat pak Zahid mulai menekan bibirnya. Dan setelah tiga bulan lebih, Layla merasakan kehngatan meluncur turun ke tubuhnya. Cara pak Zahid memainkan bibirnya membut ciuman mereka berlangsung lama. Membuat Layla sesak napas sebelum dapat mendapatkan oksigen baru. Tangan pak Zahid yang ada di punggungnya juga mulai bergerak semakin ke atas. Layla bergetar dan mendesah secara bersamaan. Dia menginginkan sentuhan ini. Dia merindukan laki-laki ini di setiap napasnya. Tapi ... sepertinya ada yang lebih penting baginya.


Sebelum dia sempat berpikir, pak Zahid kembali menciumnya. Kali ini laki-laki itu menekannya sampai tertidur di atas kursi mobil.  Anehnya, Layla merasa nyaman sekali dibawah tubuh besar laki-laki ini. Perasaannya sungguh ringan dan dia tidak berpikir apapun lagi. Sepertinya, semua masalah yang dihadapinya hilang begitu saja. Tapi ... Layla mendorong pak Zahid dengan kedua tangannya. Dia tidak boleh melakukan ini. Dia tidak boleh tergoda dengan sentuhan laki-laki ini.


"Tidak"


"Tidak" Layla harus mengerahkan tenagannya untuk mengangkat tubuh besar itu dari tubuhnya.


"Apa kau tidak ingin melakukannya di mobil?" tanya pak Zahid membuat wajah Layla bersemu merah. Apa yang sudah dilakukannya? Kenapa dia membuat laki-laki ini berpikir kalau ... .


"Tidak"


"Kau ingin melakukannya di rumah?"


"Apa?"

__ADS_1


Layla tidak pernah berpikir melakukan pembicaraan tentang sesuatu seperti ini.


"Kalau ini yang pertama bagimu, maka aku meyarankan kita melakukannya di rumah"


"Apa? Tidak! Saya tidak ingin melakukan apa-apa sekarang" katanya dengan suara panik.


Layla segera bergeser menjuhi laki-laki di depannya dan terpaksa merasakan tangan panas itu terlepas dari punggungnya.


"Maaf, saya ... tidak ... "


"Apa kau takut? Tenang saja, aku akan sangat lembut"


"Pak Zahid!! Bisakah kita tidak membicarakan ini?"


Layla malu. Dialah yang mengakibatkan adanya pembicaraan masalah ini, dan sekarang Layla hanya dapat menunduk malu di depan suaminya.


Mobil perlahan melambat dan Layla melihat wajah pak Boni diluar perusahaan. Gila, apa yang dilakukannya kalau pak Boni sampai membuka pintu lalu melihatnya dibawah tubuh pak Zahid.


"Kalau kau malu, kita bisa pelan-pelan saja" kata pak Zahid membuatnya sedikit tenang.


"Terima kasih"


"Tapi, aku akan pulang ke rumah malam ini. Acara makan malam itu, aku juga akan menghadirinya, karena ini adalah tugasku"


"Tapi, Pak. Makan malam kali ini"


"Aku tahu, karena itu aku harus menghadirinya"


Layla terkejut melihat kekerasan hati suaminya menghadiri acara makan malam hari ini. Padahal, dia tidak ingin pak Zahid melihat semua yang selama ini dialaminya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Anda sebaiknya segera bersiap" kata Layla pasrah. Sepertinya akn sulit baginya merubah keputusan pak Zahid.


"Kau juga harus bersiap. Karena setelah makan malam nanti, akan ada banyak sekali waktu untuk kita berdua. Sekarang pulanglah, kau butuh tidur yang cukup untuk malam nanti" kata pak Zahid, lalu menghadiahkan ciuman singkat di bibir Layla dan keluar dari mobil. Otak Layla seperti membeku mendengar suaminya berkata seperti itu. Dia terlalu gugup dengan acara makan malam dan tidak berpikir dengan benar. Apa yang sudah dilakukannya???


__ADS_2