
Layla berhasil menyingkirkan gaun pengantin berat yang membuatnya sangat lelah dengan bantuan pelayan yang dikirim oleh ibunya. Suara desahannya setelah terbebas membuat para pelayan merasa kasihan padanya.
"Sebaiknya Anda mandi air hangat, Nona Muda"
Sebenarnya Layla merasa tidak nyaman saat pelayan terlalu mengaturnya. Sejak di rumah utama, dia juga tidak pernah memerintahkan pelayan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Selama dia bisa melakukan apapun sendiri, maka dia tidak akan meminta bantuan. Kecuali hari ini. Paling tidak, dia ingin sekali pelayan membantunya untuk mengisi air hangat di bak mandi. Karena tubuhnya terasa lelah sekali.
"Aku akan berterima kasih kalau kau bisa melakukan itu"
"Baik, Nona"
Selama pelayannya mengisi air hangat dan mengambilkannya air madu, layla melihat ponselnya. Berita pernikahannya tersebar di media sosial. tapi tidak dengan dirinya. Hanya ada foto pak Zahid di semua berita itu. Layla kembali mendesah lalu mendengar suara pesan masuk ke dalam ponselnya. Sebuah artikel muncul saat Layla memencet pesan yang dikirimkan oleh Raya. Dan disana foto pak Zahid dengan tuksedonya sedang memeluk seorang perempuan menyita perhatiannya. Selain foto itu, ada juga foto lainnya yang menunjukkan kalau pak Zahid membawa perempuan itu ke dalam hotel tempat pernikahan berlangsung.
"Apa ini perempuan yang mengganggumu kemarin?" tanya Raya dalam pesannya yang berikutnya.
Layla mencoba meneliti dengan benar sosok perempuan yang bergandengan tangan dengan pak Zahid. Benar. Ini Sarah. Tapi ... kenapa mereka? Belum sempat Layla menjawab, pesan lainnya datang.
"Dasar laki-laki brengsek. Rupanya aktor memang tidak dapat dipercaya. Jangan beri dia tubuhmu atau kau akan dihancurkan oleh laki-laki tua itu"
Layla meletakkan ponsel di sebelahnya lalu pelayannya memanggil. Dia memilih untuk menghilangkan lelah di bak mandi daripada harus melihat berita baru yang menyita perhatian masyarakat itu. Media kini mulai menjuluki pak Zahid sebagai Raja yang tidak sabar untuk mengangkat selir. Sebenarnya, apa alasan ayah mengangkat pak Zahid setinggi ini? Dan lagi, kenapa berita seperti ini tetap ada padahal hari ini adalah hari dimana putrinya menikah? Apa ayah sengaja tidak menenggelamkan berita ini untuk menyakitinya? Menunjukkan bahwa laki-laki berbeda dari perempuan? Ahhhh, sungguh melelahkan. Kenapa dia harus memikirkan hal itu saat masa depannya sendiri belum pasti. Layla menenggelamkan kepalanya di dalam air dan mencoba untuk tenang.
"Zahid, kita dalam masalah" kata Boni lalu menyerahkan ponsel ke Zahid.
Sebuah headline berita mengusiknya.
"Sial"
Dia memang salah. Sebagai seorang aktor selama tujuh belas tahun, seharusnya dia tahu kalau sesuatu seperti ini akan segera mengakhiri karirnya. Rumor tak berdasar yang dilakukan media hanya untuk menyerangnya. Masalahnya adalah dia tidak lagi menjadi aktor tapi Presiden Direktur sebuah perusahaan besar. Gan yang lebih penting, dia baru saja menikah siang ini. Rasa bersalah mulai membuatnya kesal. Harusnya dia tidak mengejar Sarah dan membawanya ke hotel ini untuk makan malam bersama. Seharusnya dia segera pulang ke istrinya dan menikmati malam pertama mereka.
"Apa ada masalah, Kak?" tanya Sarah tidak tahu.
"Aneh, biasanya Frank akan memberi instruksi disaat seperti ini" bisik Boni lalu melihat ponselnya.
__ADS_1
Tapi, tidak ada siapapun yang menghubungi Boni. Sepertinya Frank dan Tuan Graham tidak akan membantu mereka dalam situasi seperti ini. Kemungkinan besar karena Zahid telah membuat kesalahan besar pada putri kesayangan mereka.
"Panggil pengawal dan bawa Sarah pulang!" perintah Zahid lalu pergi ke jendela untuk melihat keadaan. Para wartawan telah menunggu di sekitar hotel, membuatnya tidak bisa keluar dengan Sarah.
"Baiklah. Ayo Sarah, ikut aku"
"Kak? Pasti aku membuat masalah untuk kak Zahid"
"Tidak apa-apa. Ini kesalahanku. Berikan salamku untuk Tante Martha"
"Baiklah"
Sebelum mobil pengawal yang membawa Sarah keluar, Zahid menampakkan wajahnya ke media dengan berjalan keluar hotel penuh percaya diri. Boni yang kembali dari mengantar Sarah ke mobil pengawal membukakan pintu untuk Zahid. Wartawan tidak dapat masuk ke area hotel, membuat pelariannya menjadi sedikit lebih mudah. tapi dia tidak dapat mengatur spekulasi yang ada di media.
"Sarah sudah ada di rumahnya" lapor Boni, saat mereka sedikit lagi sampai di kediaman keluarga Graham.
"Apa Layla sudah membaca berita ini?" tanya Zahid khawatir.
"Pasti sudah. kau tahu sendiri temannya itu ternyata pemilik perusahaan entertainment saingan kita dulu"
Zahid terpaksa menggunakan kemampuan orang-orang yang pernah membantunya saat masih menjadi aktor.
"Mereka akan memberi hasil setelah lima menit. Sebaiknya kau segera masuk ke dalam rumah dan berhadapan dengan istrimu. Sial sekali Frank melepas semua tanggung jawabnya"
"Jangan berkata seperti itu. Kini kita sendirian di perang ini"
Sejak menerima tugas besar sebagai Presiden Direktur baru di perusahaan Graham, Zahid telah mengetahui kelamnya dunia baru yang dimasukinya. Tuan Graham telah memperingatkannya untuk berhati-hati pada rumor karena itu dapat menghancurkan perusahaan. tapi dia tidak mengindahkannya. Ini adalah kesalahan besar yang dia lakukan. dan dia harus dapat menyelesaikannya sendiri. Sebagai asisten pribadinya, Boni juga harus lebih siap menghadapi semua ini. Terutama karena Boni bukanlah dari militer seperti Frank. Untungnya kerja sama mereka sebagai aktor dan manajernya terbukti utuh sejak tujuh belas tahun yang lalu.
"Pastikan mereka menghapus apapun yang berkaitan dengan berita ini. Terutama Sarah. Dan juga besok pagi, aku akan berangkat bulan madu" kata Zahid pada Boni lalu melihat rumah lain yang ditujunya.
"Bulan madu? Kau kan menghapusnya dari rencana karena Layla harus kuliah"
__ADS_1
"Aku harus melakukannya sekarang. Tidak ada cara lain. Tapi, kenapa kita ada disini?" tanya Zahid heran melihat rumah yang tidak dikenalnya.
"Oh, Frank memberitahuku kalau Nyonya Graham yang mengatur rumah ini untuk kalian. Kado pernikahan katanya"
"Benarkah? Jadi, mereka memisahkan diri sejak hari pertama?"
"Memangnya ada masalah?"
"Tidak. Aku akan pulang dan siapkan tiket kemanapun untuk besok!"
"Baiklah. Tapi bisakah kau mempertimbangkan untuk menambah asistem pribadi?" kata Boni dengan nada suara lemah.
"Aku akan mencarinya besok"
Mendengar kepastian akan ada pembantu untuknya, membuat Boni bersemangat lalu pergi dari rumah baru Zahid dan istrinya.
Zahid masuk ke dalam rumah barunya dan disambut lima pelayan.
"Selamat malam Tuan Muda" sapa mereka bersamaan.
"Dimana Layla?" tanyanya segera.
"Nona Muda sedang ada di kamar"
Zahid berjalan dengan penunjuk yang didapatnya dari pelayan. Menuju sebuah ruangan dengan daun pintu ganda berwarna hitam. Dia mendorong pintu dan melihat seorang perempuan sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias berwarna senada.
Zahid berjalan mendekat ke arah perempuan yang sedang memejamkan mata dan menikmati udara panas dari pengering rambut.
"Kenapa tidak menungguku mandi?" tanya mengejutkan perempuan di depannya. Tapi tidak terlalu terkejut sampai menjatuhkan pengering rambut. Bahkan Layla hanya melihatnya sekilas lalu mematiukan pengering rambut dengan gerakan tenang.
"Saya hanya merasa lelah tadi dan ingin segera mandi. Apa pak Zahid juga ingin mandi? Saya akan menyuruh pelayan menyiapkan airnya" jawab Layla begitu tertata dan tenang. Apa perempuan ini tidak tahu tentang berita dirinya atau tidak peduli?
__ADS_1
Zahid menahan Layla dengan tangannya dan membawa perempuan itu dalam pelukannya. Dia memegang wajah istrinya dan memberi ciuman yang sangat lama. Dia tidak merasakan penolakan dari perempuan yang diciumnya lalu melanjutkan untuk membawa perempuan itu ke ranjang.
Zahid menatap mata Layla dan tidak merasakan apapun. Perempuan itu seperti cangkang kosong yang tidak memiliki apapun di dalamnya. Berbeda dengan istri yang baru dinikahinya siang ini.