
"Apa kau masih ada di apartemen kumuh itu?"
Layla hanya membalas pertanyaan ayahnya dengan anggukan.
"Sampai kapan kau tidak akan serumah dengan suamimu sendiri?"
"Ayah tidak perlu mengurus hal itu"
"Ayah memang tidak suka kau dekat dengan Zahid. hanya saja, rumor yang berkembang terlalu meresahkan"
Malam ini, harusnya Layla tidak pulang ke rumah san menunggu kedatangan orang tuanya di tempat pesta ulang tahun Perusahaan. Kalau saja ibunya tidak memaksanya memakai gaun yang sudah disiapkan, Layla tidak akan berbicara dengan ayahnya seperti ini.
"Asalkan perusahaan tetap berjalan dan semakin baik. Layla pikir tidak masalah"
"Bagaimana bisa tidak masalah saat putriku dibuat seperti makhluk menyedihkan yang diselingkuhi oleh suaminya?" tambah ibunya yang masuk ruang kerja ayahnya entah dari pintu mana. Ternyata ini tujuan sebenarnya ibu Layla memanggilnya ke rumah.
"Bu, Sudahlah. Kita akan terlambat nanti"
"Ibu tidak peduli. Kalian harus kembali ke satu rumah. Entah kalian kembali ke rumah itu atau kau tinggal di apartemen suamimu"
Selama setahun ini Layla berpikir orang tuanya tidak akan peduli tentang hal ini. Mereka tahu pernikahan ini bukanlah pernikahan dengan cinta. Tapi, sekarang kenapa mereka meributkan hal seperti ini hanya karena headline berita yang selalu menyudutkannya?
"Aku tidak akan melakukan itu" kata Layla tegas tanpa melihat kedua orang tuanya.
"Apa??? Kalau begitu kalian bercerai saja" jerit ibunya kesal. Layla terpaksa melihat ibunya yang mulai menangis dan menarik napas panjang.
"Ada alasan Pak Zahid berada di posisinya saat ini. layla sangat mengerti hal itu dan tidak akan mempertanyakan keputusan ayah. Tapi ... bukan berarti Layla harus mengorbankan segalanya hanya untuk tujuan ayah. Jadi, biarakan Layla melakukan semuanya dengan cara Layla sendiri Bu"
Ayahnya begtiu diam di balik meja besarnya. Tidak berniat menyangkal perkataan putrinya.
"Tapi sayang. Anakku. Ibu tidak ingin kau tersu dibandingkan dengan ... " Belum selesai ibunya bicara, Layla menyela.
__ADS_1
"Layla tidak pernah mempedulikan hal itu Bu. Yang terpenting adalah perusahaan dan semua karyawan yang ada di dalamnya. Sekarang ... bisakah kita tidak membuat mereka menunggu lagi dan segera berangkat?"
Layla keluar dari ruang kerja ayahnya dan tidak merasa sedih sama sekali.
Seperti pesta resmi perusahaan lainnya, Layla datang dengan keua orang tuanya serta mertuanya. Tapi ... dia tidak masuk ke tempat acara bersama mereka. Dia memilih masuk diam-diam dan tetap berada di pinggir tempat pesta serta tak terlihat. Bahkan saat suaminya datang dengan wanita manapun, dia tidak akan pernah melihat. Layla telah melakukan hal ini selama delapan bulan dan selamat dari pengamatan siapapun. Termasuk media yang lama kelamaan lupa dengan wajahnya.
Berada diantara bayang-bayang dekorasi tidak selamanya menyenangkan. Kadang dia tidak sengaja bertemu dengan rekan kerjanya di perusahaan Raya dan mencari berbagai alasan agar tidak tampak aneh berada di pesta Graham Real Estate. Tapi, kali ini ada yang berbeda saat suaminya masuk ke dalam ruangan. Menurut semua orang, suaminya itu tidak menggandeng wanita manapun. Apa Sarah atau siapapun wanita yang biasanya ikut dengannya sibuk? pikir Layla lalu kembali menghilang dari sinar lampu.
"Aku tidak mengira kau akan ada disini lagi" kata Raya yang terlihat sangat cantik. pasti temannya ini mencari ke semua sudut ruangan.
"Kenapa begitu?"
"Karena ini acara spesial. Ulang tahun perusahaan ayahmu" bisiknya.
"Tidak ada bedanya"
"Kau memang gila"
"Kau baru tahu?"
"Suamimu kesini, apa kau mau ikut denganku menyapanya?" canda Raya yang bersiap memberi selamat pada Pak Zahid.
"Tidak terima kasih Bos" Layla hanya bisa tersenyum melepas kepergian Raya ke tengah ruangan dan bercengkrama selayaknya pemilik perusahaan lainnya. Sungguh hebat, dan Layla belum bisa berada di tingkat yang sama dengan mereka.
Pesta ulang tahun perusahaan segera berakhir dan Layla bersiap untuk pulang saat ada seseorang tiba-tiba duduk di kursi sebelahnya. Seseorang yang menimbulkan perhatian banyak orang tertuju langsung kepadanya. Layla melihat setelan jas mahal berwarna hitam dengan dasi yang terbuat dari bahan yang sama dengan gaunnya. Dia segera memperbaiki duduknya yang sembarangan lalu berbisik.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Ternyata kau bisa melihat semua yang terjadi dari tempat ini. Pantas saja kau selalu berada disini dan tidak mendampingiku" jawab laki-laki itu dengan sikap santai sekali. Padahal media dan para karyawan lain mulai mendekat dan membicarakan mereka. Sialnya,
"Bisakah kau pergi?" bisiknya lagi, kini dengan penekanan berbeda.
__ADS_1
"Kenapa? Baru sekarang aku bisa menemukan persembunyian istriku dalam setiap pesta"
Apa? Apa laki-laki ini mencarinya di setiap pesta yang mereka hadiri? Tapi, kenapa dia tidak pernah tahu? Ah, itu bukan sesuatu yang penting sekarang, pikirnya. Tapi, kenapa bru sekarang laki-laki ini menemukannya? Padahal mereka menghadiri banyak acara yang sama. Layla semakin curiga saat melihat tingkah ibunya jauh di depan podium.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Kita berdua di rumah yang sama"
"Aku tidak mau"
"Bukan rumah itu"
Layla menoleh dan heran. Bukan rumah itu? Apa maksud laki-laki ini? Apa pak Zahid ingin dia tinggal di apartemennya yang selalu ramai pengunjung itu?
"Kita akan tinggal di rumahku. Kalau kau lupa, kita pernah melakukan sesuatu disana" sambung laki-laki itu membuat layla mengingat satu tempat. Rumah pak Zahid. Rumah tempat Layla menjadi asisten rumah tangga selama empat bulan.
Saat Layla sibuk berpikir, laki-laki itu bangkit dari duduknya. Tapi kembali lagi untuk meletakkan jasnya ke tubuh Layla.
"Kau duduk tepat di depan pendingin udara" kata laki-laki itu lalu pergi, meninggalkan Layla di tengah rasa penasaran banyak orang. Tidak ingin membuat masalah, dia memilih unuk segera pergi dari tempat pesta. Sampai diluar tempat pesta, Layla disambut oleh Frank.
"Semua barang Anda telah dipindahkan ke rumah Tuan Abassy"
"Pasti ibu sudah merencanakan semua ini"
"Apakah Anda ingin tinggal di hotel malam ini?" tanya Frank.
"Tidak. kali ini aku akan menuruti keinginan ibu" jawabnya.
"Tapi ... "
"Aku bisa menjaga diri Frank, jangan khawatir!"
__ADS_1
"Baik Nona"
Layla masuk ke dalam mobil masih dalam balutan jas suaminya dan berangkat ke rumah yang lama tidak pernah dia lihat. Dalam hatinya, ada rasa senang karena tidak lama lagi bisa melihat rumah tempat dia pertama kali bertemu suaminya.