The King

The King
Episode 75


__ADS_3

"Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Zahid penuh amarah.


"Belum Tuan"


"Apa kalian bodoh?!" teriak Zahid lalu melihat ke arah Leonard.


"Kau adalah orang yang diutus Frank untuk melindungi Layla. Apa yang kau lakukan disini sekarang dan tidak mencarinya?" lanjutnya ingin sekali memukul anak kecil yang menjadi pengawal istrinya itu.


"Saya yakin Nona tidak pergi terllau jauh dan orang-orang itu juga tak ada di sekitar perusahaan"


"Kau!!! Temukan Layla sebelum aku berangkat!"


Dan tiba-tiba saja, seorang perempuan lewat di depan ruangan Zahid dengan santainya. Leonard yang juga mengetahui perempuan itu datang segera menyusulnya. Meninggalkan Zahid dalam keadaan penuh amarah.


"Bagaimana bisa dia??"


Meskipun kesal dan marah, Zahid tidak bisa menunjukkan hal itu di depan Layla. Dia harus tetap menjauhi perempuan itu agar semua yang direncanakannya berjalan lancar.


"Apa kita akan berangkat sekarang Tuan?"


Zahid berusaha menenangkan diri dan mulai memakai mantel panjangnya.


"Kita berangkat sekarang. Dan pastikan anak kecil itu melakukan pekerjaannya dengan baik!"


"Baik Tuan"


Akhirnya Zahid berangkat ke Taiwan. Dia memang berusaha menghindari Layla dengan banyak bepergian dan menimbulkan rumor tentang hubungannya yang kembali bersama Sarah. Dengan seperti ini, dia berharap Layla akan kembali membenci dan tidak berharap lagi padanya. Pewrempuan itu tidak boleh menyukai ataupun mencintainya. Mereka akan berpisah kurang lebih sepuluh bulan lagi dan tugas Zahid menyiapkan Layla sebagai seorang Presdir masih sangat panjang. Seharusnya perempuan itu berusaha sebaik mungkin dalam masalah perusahaan ayahnya dan tidak menumbuhkan perasaan apapun meskipun mereka bersentuhan.


"Anda pergi membeli kopi?" tanya Leonard yang melihat Layla dari luar ruangannya.


"Iya. Kenapa?"


"Apa Anda tahu saya mencari Anda?"


"Aku hanya pergi sebentar"


"Nona, seharusnya Anda menyuruh saya saja ... tapi Anda tidak apa-apa?"


Bagaimana bisa Layla baik-baik saja saat pikirannya terpusat pada kata yang diucapkan Raya tadi. Hamil. Ohh, seharusnya tidak begini. Dia masih terlalu muda. Bukan. Bukan iu masalahnya. Dia akan segera bercerai dari suaminya paling lambat sepuluh bulan dari sekarang. Dia juga harus mewarisi sebuah perusahaan. Apa yang akan dia perbuat seandainya kecurigaan Raya ternyata benar?


"Aku ... ingin pulang"


"Apa?"


Layla membawa tasnya lalu melewati ruangan Presdir yang terlihat kosong.


"Tuan Abassy pergi ke Taiwan hari ini sampai empat hari ke depan"

__ADS_1


Layla hanya mengangguk sebentar lalu melanjutkan langkahnya ke lift. Sampai di basement, dia harus menunggu pengawalnya mengambil mobil. Di tempatnya berdiri bersama Leonard, Layla dapat melihat seorang wanita yang dikenalnya sedang berlari. Bukankah itu ... ? Wanita itu berlari lalu memeluk tubuh laki-laki yang dia kenal sebagai suaminya.


"Apa mereka akan pergi bersama?" tanya Layla yang dia yakini didengar oleh Leonard.


"Sepertinya begitu"


Biasanya Layla memilih untuk tidak menghiraukan apa yang dilihatnya. Tapi sekarang tidak tahu kenapa tangannya mengepal dengan keras. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya dan perlahan tubuhnya kehilangan tenaga. Badannya melorot turun ke bawah dan dengan sigap Leonard menangkapnya.


"Aku ... ingin cepat pulang"


"Nona. Anda pucat. Apa kita tidak seharusnya ke dokter?"


"Aku ingin pulang"


"Baiklah"


Layla sampai di rumah besar dan kosong itu tepat saat matahari mulai condong ke Barat.


"Rumah ini ternyata sepi sekali" komentar Leonard yang mengantarnya masuk.


"Kau boleh pergi sekarang"


"Tapi Nona. Wajah Anda masih terlihat pucat. Apa saya harus memanggil dokter atau ... "


"Bisakah kau pergi sekarang? Aku ingin tidur" ucap Layla laluberbaring di sofa. Tampatnya biasa tidur.


Layla tidak menjawab dan Leonard tahu itu waktu untuk meninggalkannya sendiri.


Baru ingin memejamkan mata, rasa mual kembali menyiksanya. Layla berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya yang kosong sejak siang tadi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa yang akan terjad kalau dia benar-benar hamil? Layla mulai merasa baikan dan kembali duduk di sofa.Tapi tidak. Dia harus yakin kalau hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak mungkin dia hamil. karena melihat situasi yang terjadi sekarang, seharusnya bukan dia yang hamil. Tapi Sarah. Karena wanita itu menghabiskan banyak sekali waktu dengan pak Zahid dan bukan dirinya. Lebih baik dia tidur saja dan melenyapkan segala pemikiran tentang kehamilan yang dikatakan oleh Raya. Dia hanya meminum terlalu banyak kopi dan akan memperbaiki pola makannya besok.


Dan benar saja. Ternyata semua kekhawatirannya tidak terbukti. Dia harus menghukum Raya karena mengatakan sesuatu yang membuatnya tersiksa. Setelah makan dengan benar selama tiga hari, keadaan tubuhnya membaik. Bahkan lebih segar daripada sebelumnya.


"Hari ini Tuan Abassy datang Nona" lapor Leonard saat Layla sibuk membuat laporan.


"Oh. iya"


"Apa Anda tidak akan menyambutnya?"


"Tidak perlu. Tapi aku membutuhkan waktu Presdir untuk memberikan laporanku"


"Anda sudah menyelesaikannya?"


"Iya"


Saat laki-laki itu datang, Layla mengantri untuk bertemu. Dan setelah menunggu selama satu jam akhirnya dia masuk ke dalam ruangan Presdir.


"Apa kau sudah menyelesaikan yang kuperintahkan?"

__ADS_1


"Sudah Pak"


Laki-laki itu lalu melihat ke arahnya dan Layla tiba-tiba merasa perutnya bergejolak, seakan ingin muntah. Apa yang terjadi padanya? Dia tidak minum kopi atau apapun yang bisa membuat mual.


"Apa kau tahu sekarang yang kumaksudkan?"


"Iya" jawab Layla menahan rasa mual.


"Katakan padaku!"


"Ayah ... Pak Presdir sebelumnya selalu melakukan perjanjian kerja sama dengan pemimpin perusahaan pemula"


"Akhirnya kau menemukannya. Lalu, apa keuntungan dan kerugian dari hal itu?"


"Keuntungan dibagi sama rata. Kerugiannya kerja sama itu berjalan sangat lama dan lambat"


"Apa kau tahu alasannya?"


"Iya" Layla hampir tidak bisa menahan rasa mual itu lagi, tapi dia harus bertahan.


"Apa itu?"


Tidak. Layla tidak bisa menahannya lagi. Dengan cepat, dia berlari keluar dari ruangan Presdir dan pergi ke toilet.


"Nona!"


Layla mendengar Leonard meneriakkan namanya tapi tidak peduli lagi. Dia harus segera mneyingkirkan rasa mual ini. Badannya terasa lemah setelah muntah, membuat Layla duduk di atas toilet selama beberapa saat sebelum bisa berdiri lagi.


"Apa yang terjadi padamu?"


Layla terkejut dengan keberadaan pak Zahid di depan toilet yang sedang dipakainya.


"Ini toilet perempuan"


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?"


Untuk apa laki-laki ini peduli padanya? Bukankah dia selalu ditinggalkan sendiri sedangkan laki-laki itu bersenang-senang di negeri lain bersama Sarah?


"Saya tidak apa-apa"


"Apa kau makan dengan benar selama ini? APa kau butuh ke dokter? Apa kau ... "


"Diam!!" teriak Layla tidak tahan lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan tak berarti dari suaminya. Entah kenapa dia merasa benci sekali melihat wajah laki-laki itu.


"Kau berani ... "


Sebelum laki-laki itu bicara lagi, Layla melangkah untuk keluar dari toilet. Tapi laki-laki itu berhasil menahannya dan kini sedang menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Hal itu membuat perut Layla bergejolak kembali. Ada apa sebenarnya dengan tubuhnya?

__ADS_1


__ADS_2