
"Bagaimana makan siangmu?" tanya ibu Layla saat dia masuk ke dalam rumah.
"Menyenangkan" jawab Layla membuat ibunya senang sekali. Padahal layla tidak bertemu dengan laki-laki yang membuat janji makan siang itu. Frank terlihat terus menghubungi pak Zahid tapi tidak menerima jawaban apapun. Dan setelah mengantar Layla pulang, kelihatannya Frank kembali ke kantor untuk melaporkan hal ini pada atasannya. Ayah Layla.
"Ibu sedang mengurus pesta dua hari lagi. Apa kau mau membantuku, sayang?" Layla tersenyum dan menghampiri ibunya.
"Apa ibu tidak merasa kesal karena pesta ulang tahun ibu dipakai untuk pengumuman pertunangan?"
"Tidak. Ibu sangat senang kau mau menerima pertunangan yang diajukan ayahmu"
"Ibu" Layla melihat ibunya dengan tatapan sedih. Sebenarnya bukan Layla yang merasa menderita karena perjodohan ini. Ibunya sebagai menantu keluarga Graham yang tidak bisa memberikan penerus laki-laki pasti lebih tersiksa daripada dia.
"Setidaknya hanya ini yang bisa ibu lakukan"
Layla menggenggam tangan ibunya yang hangat. Betapa kuat ibunya menghadapi semua ini.
"Ibu adalah ibu paling hebat di dunia" puji L:ayla membuat ibunya lebih bahagia.
"Kau itu, memang putri yang terbaik"
Layla selesai memabntu ibunya mengurus semua kelengkapan pesta yang akan diadakan dua hari lagi dan menemukan sebuah gaun di dalam kamarnya. Gaun berwarna milk tea berhiaskan kristal gelap di bagian dada, pinggang dan bagian bawahnya. Sangat cantik. Ibunya memang memiliki selera yang sangat bagus.
"Nona" Layla menoleh dan melihat kepala pelayannya masuk membawa punch berry segar.
"Terima kasih"
"Nyonya memang pandai memilih" puji kepala pelayannya kepada gaun pilihan ibunya.
"Memang"
"Nona pasti terlihat sangat cantik dengan gaun ini"
"Entahlah"
"Nona"
__ADS_1
"Apa semua akan baik-baik saja?"
"Tentu saja. Nona adalah putri yang sangat pandai. Tuan dan Nyonya juga akan selalu berada di belakang Nona"
Layla melihat kepala pelayannya lalu menghela napas panjang. Tapi, kenapa sebenarnya laki-laki itu tidak datang pada janji makan siangnya sendiri? Apa yang terjadi pada pak Zahid? Apa laki-laki itu kabur? kalau itu yang terjadi maka Layla akan senang sekali.
Sayangnya harapan Layla tidak terjadi.
"Calon Tuan Muda sudah datang Nona, Tuan mengharap Nona turun sekarang" kata kepala pelayannya membuat Layla kecewa. Dia terpaksa mengikuti langkah kepala pelayannya turun dari lantai atas hotel menuju tempat pesta dilaksanakan. Semua tamu sepertinya sudah datang dan sedang berharap dapat melihatnya. Di depan ruang pesta, Frank menyambutnya.
"Anda sudah siap Nona?"
Sebenarnya layla pernah menghadiri pesta yang serupa. tapi dia tidak pernah diperkenalkan secara resmi oleh orang tuanya kepada para tamu. Jadilah dia hanya menonton semua pesta dari meja saja. Tidak tahu kenapa, tapi ayahnya selalu memperlakukannya seperti ini. Dan kali ini, adalah saat debutnya. Tampil di depan semua orang sebagai putri tunggal keluarga Graham. yang akan segera menikah.
Layla memegang lengan Frank dan berjalan ke dalam tempat pesta. Perlahan tapi pasti, semua pasang mata mengarah kepadanya. Tentu saja. Layla terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pilihan ibunya. Rambut yang terbiasa digerai atau diikat biasa itu tergelung rapi memperlihatkan lehernya yang putih. Riasan wajah sederhana dan beberapa perhiasan berlian membuat Layla tampak semakin berkilau di tengah-tengah para tamu orang tuanya. Dan yang lebih mempertegas keberadaannya adalah Frank yang merupakan tangan kanan ayahnya. Tidak sembarang orang bisa terlihat berjalan dengan Frank, kecuali anggota keluarga Graham.
Dari kejauhan terlihat pak Zahid di sebelah orang tuanya berdiri melihat ke arahnya.
"Apa kau sudah tahu alasan laki-laki itu tidak datang beberapa hari lalu?" tanya Layla pada Frank, tentu saja dengan suara hampir berbisik.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja"
"Lebih baik Anda bersiap untuk menyapa semua orang disini, Nona"
Frank melepaskan tangan layla dengan sopan dan menyerahkannya ke ayahnya. Baru kali ini, ayahnya tersenyum di depan Layla. Sebuah pemandangan langka yang membuat layla sempat termenung sekejap. bahkan saat Layla lulus dengan nilai terbaik, ayahnya tidak pernah tersenyum. tapi sekarang, saat Layla akan diserahkan kepada laki-laki lain ayahnya tersenyum. 'Begitu senangnya ayah dapat menyerahkan beban yaitu dirinya pada orang lain' pikir Layla sedih.
"Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi kami keluarga Graham. karena putri tunggal kami yang beranjak dewasa akan segera menikah"
Itulah pengumuman yang dibuat ayahnya kepada semua tamu. Tentu saja pengumuman itu mengejutkan tamu yang hadir. karena Layla tidak pernah terlihat dan juga karena laki-laki yang maju meraih tangan Layla.
"Beberapa bulan lagi, putri kami Layla Graham akan menikah dengan Zahid Amizan Abassy"
Terjadi keheningan yang singkat sebelum terdengar riuh tepuk tangan merayakan pertunangan yang baru saja dilaksanakan ini. Layla merasa perutnya tiba-tiba sakit tanpa alasan. Sepertinya semua beban yang ditanggung oleh ibunya selama ini berpindah ke atas pundaknya.
Dia menoleh ke arah laki-laki yang sedang memegang tangannya dengan lembut dan merasa asing. Pak Zahid tidak terlihat seperti biasanya. Paling tidak, bukan seperti yang biasanya dilihat oleh Layla. Malam ini, pak Zahid tampak lebih serius dan dingin. Benar-benar bukan seperti majikan yang pernah dikenalnya. Apa karena laki-laki ini juga gugup? Tapi, pak Zahid terbiasa menghadapi kilatan kamera dan perhatian orang banyak, tidak sepertinya. Layla berusaha menahan sakit perutnya sampai riuh tepuk tangan berakhir. Dan setelahnya Layla segera berkeliling ruangan pesta untuk memperkenalkan dirinya dan calon suaminya kepada para tamu undangan.
__ADS_1
Sesudah tiga puluh menit, akhirnya acara perkenalannya selesai dan Layla dapat duduk di kursinya. Dia melihat ke arah mantan majikannya dan masih melihat ekspresi yang sama. Apa sebenarnya yang terjadi dengan laki-laki ini? Pak Zahid tidak bicara bahkan menyapanya sama sekali. Ada rasa sedih muncul di dalam hati Layla, tapi dia berusaha untuk tidak menampakkannya. Mungkin pak Zahid akan menjadi seperti orang-orang lain yang dikenalnya. Menganggap Layla hanyalah sebagai sebagai hiasan yang mahal.
"Apa kau lelah?" tiba-tiba saja laki-laki itu menyentuh bagian punggung Layla yang sedikit terbuka. Sentuhan tangan hangat pak Zahid memanaskan punggung Layla.
"Tidak" jawabnya singkat.
"Kita sudah selesai menyapa semua orang, sekarang makanlah meskipun sedikit"
Apa laki-laki ini dari tadi memperhatikannya tidak menyentuh makanan apapun yang dihidangkan dihadapannya? layla menghentikan perasaan senangnya lalu mengangguk pelan.
"Iya"
"Aku sangat gugup, apa kau juga gugup?"
"Tidak mungkin. pak Zahid biasa menghadapi sesuatu seperti ini"
"Kau seharusnya tidak memanggilku seperti itu sekarang"
Layla terkejut dan menggigit bibir bawahnya, menyadari kesalahannya.
"Panggil aku sayangku, pasti itu lebih baik untukku dan orang lain yang sedang melihat kita sekarang"
layla tidak percaya laki-laki ini bisa bercanda di situasi seperti ini. Layla melihat ke arah calon suaminya dan ada senyum yang sudah lama dirindukannya. Pak Zahid selalu tersenyum seperti itu saat dia masih bekerja sebagai pelayannya dulu. Wajah layla memanas tanpa peringatan apapun dan merasa salah tingkah. Belum sempat menenangklan hati dan pikirannya, pak Zahid menarik dan memberikan kecupan singkat di punggung tangannya. Kini, Layla benar-benar merasa malu. Bukan karena semua mata yang melihat ke arah mereka. Tapi karena mata berwana hitam pekat yang seperti sedang menusuk jantungnya ini
"Apa yang sedang dilakukannya??" Frank yang ada di tepi ruangan merasa kesal karena kelakuan laki-laki yang sedang mencium tangan nona mudanya.
"Frank, kau harus terbiasa dengan hal ini. Tuan muda Zahid akan segera menjadi suami Nona Layla dan mereka akan melakukan yang lebih daripada hal itu" komentar kepala pelayan yang lebih seperti pengasuh Layla. Dia senang calon suami nona mudanya berlaku begitu lembut.
"Cih, aku akan membunuhnya kalau bisa"
"Tenanglah, bukankah hal ini merupakan hal yang baik? Nona menikah dengan laki-laki yang sangat tampan, tinggi, kaya dan lembut"
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menyentuh Nona muda sampai lima atau sepuluh tahun lagi!!"
"Frank, kau konyol sekali" kata pengasuh Layla lalu memukul pengawal yang berlebihan itu. Dia tidak tahu ada satu lagi pria yang ingin membunuh calon tuan muda mereka. Dan pria itu duduk tepat di hadapan nona muda mereka.
__ADS_1