The King

The King
Episode 32


__ADS_3

Zahid masuk ke dalam kamarnya dan menerima telepon dari seseorang.


"Iya, Tuan Graham"


"Aku sudah mengurus masalah manajermu yang tidak bisa menahan dirinya dengan benar"


Entah kenapa, Zahid tiba-tiba berdiri dengan tegak karena merasa masalah. Dalam wawancara tentang film barunya, Zahid terus menerus dicerca pertanyaan tentang hubungannya dengan perusahaan Graham Real Estate. Dia selalu memberikan jawaban yang diplomatis dan tertata rapi. Tapi ... Boni akhirnya tidak bisa manehan dirinya sendiri. karena desakan wartawan yang terus mengikuti dan bertanya, Boni mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Bahwa Zahid adalah penerus dari perusahaan Tuan Graham. Zahid dapat meralat pernyataan yang dikeluarkan oleh Boni, tapi tidak dengan menahan berita yang terlanjur tercipta. Untungnya, kini dia bisa tenang karena calon mertuanya sudah melakukan langkah pencegahan yang cepat.


"Terima kasih, Tuan"


"Pertimbangkan untuk mengganti calon asistenmu"


Setelah berkata seperti itu, calon mertuanya menutup telepon. Meninggalkan Zahid dalam keadaan bingung. Tapi dia tidak bisa mengganti Boni dengan orang lain. Boni adalah orang yang mengerti tentang perangainya dan apa yang diinginkannya selama ini. Kalau ada orang yang bisa membantunya beradaptasi dengan berbagai situasi, itu adalah Boni.


"Pak" Suara perempuan tiba-tiba mengganggunya.Layla, apa perempuan itu mendengar pembicaraan anata Boni dan dirinya tadi? Semoga saja tidak. Kerna Zahid masih kecewa karena cintanya ditolak begitu saja.


"Masuklah"


Layla masuk ke dalam kamar dengan wajah yang khawatir.


"Pak Boni tadi pergi begitu saja"


"Biar saja"


"Tapi, Pak. Sepertinya pak Boni sedang dalam keadaan kesal sekali"


"Biarkan saja dia! Urus saja pekerjaanmu" ucap Zahid dengan nada suara agak tinggi. Tapi, perempuan yang ingin dia usir dari kamarnya itu tidak berkutik sama sekali.


"Tadi, saya mendengar sesuatu tentang perusahaan Graham"


Ternyata, perempuan ini mendengar pembicaraannya dengan Boni. Apa Layla mulai mencurigai sesuatu? Zahid maju dan berada tepat di hadapan Layla. Hanya jarak selebar tiga puluh sentimeter diantara mereka.


"Apa lagi yang kau dengar?" tanyanya lalu memperpendek jarak antara mereka berdua.


"Saya ... "

__ADS_1


Melihat Layla ragu, Zahid menjadi yakin kalau pembicaraannya tidak semua didengar oleh perempuan ini. Untunglah. Jangan sampai Layla mengetahui bahwa dia adalah calon suami yang disiapkan oleh ayahnya lalu kabur begitu saja. Tapi ... berada dekat sekali dengan Layla, membuatnya merasa lemah. Dia mengangkat tangan lalu membelai rambut hitam kecoklatan milik Layla. Tentu saja mata lebar perempuan itu menatap ke arahnya karena perbuatannya. Zahid tidak mempedulikannya dan semakin mendekati calon istrinya.


"Pak"


"Enam minggu. Aku tidak bertemu denganmu"


"Iya, pak Zahid bekerja. Film" jawab Layla lalu mengambil satu langkah mundur. Tentu saja Zahid tidak membiarkannya lepas. Dia terus menekan perempuan itu sehingga tidak dapat melarikan diri lagi. Bau harum rambut dan tubuh perempuan ini menari-nari di hidung Zahid. Begitu kuat dan memabukkan. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Layla yang terus berkedip dan tersenyum.


"Kau cantik"


Mata Layla membuka semakin lebar karena pujiannya.


"Pak, jangan!"


Mendengar kata itu, Zahid mundur dan tertawa. Tertawa sangat keras sampai Layla tidak bisa berkata apapun.


"Memangnya, apa yang akan kulakukan denganmu?"


"Apa?"


Perkataan Zahid sepertinya menyinggung perasaan Layla. Perempuan itu segera keluar dari kamar dan membanting pintu. Selepas Layla pergi, Zahid mulai menyesali semua yang keluar dari mulutnya.


Bodoh ... bodoh ... bodoh


'Kau bodoh sekali, Layla' kata Layla pada dirinya sendiri.


Dia turun dari kamar majikannya secepat kilat lalu masuk ke dalam kamarnya. Layla melihat koper yang sudah disiapkannya sejak seminggu yang lalu. Seharusnya, dia pergi saja tanpa harus berpamitan pada laki-laki itu. Laki-laki yang jahat seperti itu tidak berhak menerima kesopanan apapun darinya. Layla kesal sekali karena diperlakukan seperti ini.


Awalnya, dia mengira pak Zahid akan mencium dan menyentuhnya. Layla bersiap untuk menerima sesuatu yang buruk dan tiba-tiba saja semua berhenti begitu saja. Ditambah dengan sebuah fakta yang cukup mengguncang dirinya. Majikannya memang aktor yang bagus. Layla tidak tahu kalau semua itu hanya kebohongan yang diciptakan oleh pak Zahid. Dan lagi ... dia berharap ada sesuatu yang terjadi tadi. Bodohnya


Layla masih merasa kesal lalu berbaring di atas ranjangnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ayahnya sudah memberi tambahan waktu saat dia mengatakan bahwa majikannya masih berada diluar kota. Akan sangat tidak sopan baginya mengundurkan diri secara sepihak. Dan kini? Lebih baik tadi dia segera pergi dari tempat ini dan tidak bertemu dengan laki-laki nanrsis itu lagi. Mia memukul-mukul kakinya ke ranjang dengan kuat lalu mencoba untuk tidur.


Paginya, Layla kembali ke pekerjaannya sebagai asisten rumah aktor terkenal itu. Dia sudah lupa dengan pembicaraan anatara kedua majikannya yang menyebut nama ayah dan sahabat setianya.


"Apa itu?" terdengar pertanyaan dari laki-laki yang sudah mempermalukannya semalam.

__ADS_1


"Dada ayam panggang, sayur rebus, yoghurt dan buah potong, Pak"


"Apa yang terjadi sehingga aku makan sarapan seperti ini?" tanya pak Zahid lalu duduk di hadapan makanan yang sudah disajikan dengan rapi di atas meja.


"Pak Zahid adalah aktor, harus menjaga badan agar terus laku" balas L:ayla lalu pergi ke dapur. Meninggalkan laki-laki yang tertawa dengan keras itu. Dia kesal sekali mendengar majikannya terus tertawa sampai layla harus melewati ruangan makan untuk ke halaman belakang.


Semoga saja laki-laki itu tersedak dan wajahnya berubah menjadi jelek, harapnya dalam hati.


Layla melanjutkan pekerjaannya dan kembali ke dalam rumah saat majikannya selesai makan. Dia menatap piring kosong di atas meja.


"Kenapa? Apa kau lapar dan berharap makan denganku?" kata majikannya, terdengar seperti ejekan di telinga Layla.


"Mana berani saya makan satu meja dengan aktor yang terkenal ini" sindir Layla, membuahkan tawa majikannya lagi. Aneh, kenapa laki-laki ini terus tertawa mendengar kekesalannya.


"Mungkin kau membutuhkan aktor terkenal ini untuk makan?"


"Oh, saya tidak bisa membayar biaya aktor terkenal seperti Anda"


Layla terus saja berjalan ke arah kamar cuci untuk meletakkan selimut yang baru saja dia jemur di halaman belakang kemarin siang. Dia tidak sadar kalau laki-laki yang selesai makan itu mengikutinya.


"Kau bisa membayarku dengan hal lain"


"Saya tidak memiliki emas dan berlian, Pak. Yang saya punya hanya wajah kurang cantik dan tubuh tidak terlelu menarik seperti lawan main Anda di drama serta film itu"


Segera setel;ah Layla menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya berhenti secara mendadak. Dia melepaskan selimut yang dibawanya karena pinggangnya tertarik ke arah belakang. Sebuah bisikan lalu menyadarkan Layla kalau dia salah biacara selama beberapa menit ini.


"Kalau begitu, aku menerima bayaran tubuhmu"


Bibir majikannya mendarat di leher Layla, membuatnya mengerang. rasanya seperti ada bola panas yang bergulir di lehernya. Yang tidak pernah dibayangkannya terjadi, ternyata saat ini sedang dialaminya. Tangan pak Zahid berada tepat di bagian depan tubuhnya dan meremas sesuatu yang sangat sensitif bagi Layla.


"Pak, apa yang Anda lakukan?"


"Pak Zahid"


"Pak"

__ADS_1


Layla terus saja berusaha menyadarkan majikannya, tapi laki-laki itu terusa saja menyentuh dan mencium tubuhnya. Pak Zahid bahkan berani meletakkannya di lantai dan mengangkat kaos yang sedang dipakai Layla. Memperlihatkan kulit putih perut dan dada Layla. Keadaan ini membuat Layla sangat takut. Dia tidak boleh mengikuti perasaannya. Layla harus segera menghentikan majikannya sebelum terjadi sesuatu yang akan mereka sesali bersama. Karena layla harus menjaga kesuciannya untuk suami yang akan dinikahinya dua bulan dari sekarang.


__ADS_2