The King

The King
Episode 48


__ADS_3

"Semua kontrak sudah selesai. Kita bisa pulang besok pagi" kabar Boni yang sibuk mengurus kontrak kerja perusahaan Graham dan partnernya di Tiongkok. Tentu saja dibantu oleh sekertaris Tuan Graham yang selalu mengikuti perjalanan mereka dari awal Zahid menjabat sebagai Presdir.


"Kalau begitu, kita bisa pulang malam ini" jawab Zahid lalu menutup berkas yang ada di depannya.


"Ada makan malam yang harus Anda hadiri, Tuan Abassy" Zahid menoleh ke kiri dan wajah tegas sekertaris Tuan Graham membuatnya terdiam.


"Jam berapa?"


"Tujuh malam. Anda akan menemui banyak orang penting di negeri ini"


Zahid memasukkan penanya ke dalam kantung jas lalu mengangguk untuk menyetujui jadwal selanjutnya.


Zahid berjalan keluar ruangan rapat dan memasang senyum palsunya untuk kembali ke hotel.


"Apa kau tidak ingin pulang?" tanya Boni dengan nada kesal lalu menerima deheman keras sekertaris Tuan Graham.


"Apa Tuan Abassy tidak berencana pulang malam ini?" ralat Boni lalu melirik rekannya yang sangat mengerikan ketegasannya.


"Kita akan pulang saat semua urusan disini selesai. Aku akan istirahat selama tiga jam" kata Zahid lalu masuk ke dalam kamarnya. Mninggalkan Boni diluar dengan rasa kesal yang tidak dapat disalurkannya. Apalagi dengan rekannya yang selalu memandangnya rendah.


"Sebaiknya Anda menyiapkan setelan untuk Tuan Abassy"


"Iya, aku sudah tahu"


"Jangan lupa warna setelannya harus berbeda dengan apa yang dipakai Tuan Abassy siang ini"


"Iya"


"Dan jaga kata-kata Anda di depan Tuan Abassy. Anda hanya seorang asisten"


"Iya ... aku sudah tahu. Terima kasih atas peringatannya" ucap Boni lalu berjalan ke arah kamarnya yang ada di samping kamar Zahid dengan langkah yang keras. Membuat sekertaris Tuan Graham menggeleng heran.


Di dalam kamar, Zahid melihat ponselnya yang sejak dua minggu lalu tidak pernah berhenti berdering. Kebanyakan karena teman-temannya yang menanyakan kebenaran pernikahannya dengan putri tunggal Tuan Graham, sang pengusaha kaya raya itu. Sebagian adalah ibunya yang bertanya tentang keadaannya setiap hari. Beberapa dari Sarah yang mengabarkan bahwa dia dan ibunya baik-baik saja. Tapi tidak ada satupun pesan ataupun panggilan dari seseorang yang ditunggunya. Layla.

__ADS_1


Perempuan itu membuatnya terus berpikir selama dua minggu ini. Kebanyakan tentang besarnya tanggung jawab yang sedang dipikulnya saat ini. Benar, dia memang adalah Presdir yang merupakan kepanjangan tangan Tuan Graham yang sekarang adalah mertuanya. Tapi semua ini bukanlah miliknya. Dia tidak dapat dengan seenaknya melakukan apapun dan kemudian menghancurkan citra perusahaan dan membuat lima ribu pegawai kecewa. Zahid tidak dapat lagi memutuskan semua dengan egois karena banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan. Terutama karena nilai tiap kerja sama, pembelian maupun penjualan yang dilakukannya sekarang sangatlah besar. Bisa mencapai seratus ribu kali nilai kopntrak filmnya.


Zahid duduk dan menatap ponselnya. Hanya ada layar hitam disana, dengan sebuah nama diatas nomor ponsel. Di negaranya, sekarang pasti sudah malam. Dia tidak ingin mengganggu Layla. Lagipula, perempuan itu tidak akan mengangkat teleponnya. Kemana perginya perempuan yang terus berada di dekatnya dan berbicara dengan leluasa itu? Dia merindukan Layla yang seperti itu. Dia merindukan Layla yang menjadi asisten rumah tangganya. Bukan Layla yang sekarang menjadi istrinya.


Layla sedang menghirup bau kopi panas di tangannya lalu melihat hujan diluar jendela. Beberapa detik kemudian, dia kembali pada tugas kuliahnya yang menumpuk. Kalau ingin segera lulus dan membangun bisnisnya, maka Layla harus bekerja sangat keras sekarang. Semua ini karena keputusannya yang kekanak-kanakan. Seharusnya Layla tidak pernah kabur dan segera menyelesaikan kuliahnya. Meskipun itu artinya dia akan menikah dengan siapapun yang dianggap ayahnya mampu memimpin perusahaan.


"Nyonya, apa Anda butuh makanan untuk menemani kopi itu?"


Layla menoleh ke belakang dan melihat salah satu pelayannya setia menemani sampai dini hari seperti ini.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan apapun sekarang. Lagipula aku bisa mengambilnya sendiri. Beristirahatlah sekarang!"


"Baik Nyonya muda"


Dia menarik napas mendengar panggilan yang masih terasa asing itu. Tapi, dua minggu sudah berlalu sejak panggilan itu melekat padanya. Seharusnya Layla mulai membiasakan dirinya. Lagipula, tidak ada kewajiban yang melekat pada panggilan itu. Jadi, Layla tidak akan merasa aneh lagi saat pelayannya memanggilnya lagi. Dia kembali larut dalam pekerjaannya di laptop lalu merasa sangat lelah dan tertidur di atas semua laporannya.


Paginya, Layla terbangun dengan kaget lalu segera merapikan buku, laptop dan laporannya. Dia harus kuliah jam sembilan pagi. Dengan tergesa-gesa, dia membersihkan diri lalu melesat pergi begitu saja tanpa memakan sarapannya. Tapi langkahnya diluar rumah tertahan oleh seorang pria yang lama tidak dilihatnya.


"Frank!!!" Layla segera memeluk teman yang paling dirindukannya itu. Tapi dia segera melepaskan pelukannya karena tidak ingin dilihat oleh pelayan rumahnya.


Bahkan Frank memanggilnya seperti itu sekarang. Layla benar-benar harus segera membiasakan diri.


"Aku baik. Apa kau baik juga?"


"tentu saja. Pekerjaan saya hanya menemani Tuan besar membaca koran dan berolah raga akhir-akhir ini"


Layla tertawa dengan jabaran pekerjaan yang terkesan membosankan itu.


"Apa kau ada waktu sekarang?" tanya Layla tetap dengan senyuman di wajahnya yang selama dua minggu ini menghilang begitu saja.


"Saya berencana menggantikan pekerjaan supir Anda satu hari ini"


"Benarkah?" seru Layla tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya.

__ADS_1


"Benar"


"Baiklah. Lagipula supirku butuh istirahat hari ini"


Jadilah Frank menggantikan supir Layla untuk hari ini. Dan Layla tidak duduk di belakang seperti biasanya. Dia hanya duduk di kursi penumpang depan dengan senyum yang masih berkembang di wajahnya.


"Tuan Abassy akan pulang hari ini"


Seketika senyum di wajah Layla menghilang begitu saja.


"Benarkah?" tanyanya tidak ingin tahu.


"Pekerjaannya cukup baik kali ini dan Tuan besar berencana memberi Anda berdua liburan selama beberapa hari"


"Apa?"


"Anda dan Tuan Abassy belum melaksanakan bulan madu. Jadi Tuan besar ... "


Sebelum Frank menyelesaikan kata-katanya, Layla menghentikannya.


"Katakan pada ayah kalau aku tidak menginginkannya. Banyak tugas kuliah yang harus kuselesaikan sekarang"


"Tapi, Nyonya muda. Anda sebaiknya beristirahat"


"Frank, kau sangat tahu kalau pernikahan ini bukanlah seperti yang orang biasa lakukan. Jadi ... jangan memaksaku melakukan semua itu"


Keduanya terdiam dsalam mobil yang berjalan lurus ke arah kampus Layla.


"Saya akan mengabarkannya kepada Tuan besar" kata Frank membuat Layla lega.


Dia tidak pernah berpikir akan melakukan sesuatu dengan suami yang sudah dua minggu tidak pernah dilihatnya itu. Kenapa juga dia harus berbulan madu saat pernikahan ini tidak dilakukan dengan alasan yang benar.


"Aku harus kuliah dulu. Dan jangan khawatirklan aku" kata Layla lalu keluar dari mobil. Frank masih memandangnya dengan tatapan khawatir dan layla membencinya.

__ADS_1


Meskipun ibunya telah menjelaskan semuanya tapi dia tidak dapat dengan mudah dekat dengan ayahnya lagi. Semua sudah terlambat, karena kini Layla bukan anak kecil lagi. Dan juga perlahan, dia merasa bingung dengan alasan ayahnya tidak menjadikannya pemimpin perusahaan. Kalau ayahnya memang menyayanginya, bukankah seharusnya Layla didukung untuk menjadi pemimpin perusahaan? Kenapa juga memilih seorang aktor untuk melakukan pernikahan demi menunjuknya menjadi Presdir baru? Semua pertanyaan itu belum dapat dijawab oleh Layla. Tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuknya tidak fokus pada kuliah. Tujuannya adalah segera menyelesaikan kuliah yang tertunda lalu merencanakan bisnisnya sendiri. Lepas dari nama besar keluarga Graham akan lebih baik.


__ADS_2