
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya ibu Zahid yang masih harus berada di kota ini karena acara pertunangan Sabtu nanti.
"Tidak ada. Aku sudah mengundurkan diri dan tidak memiliki pekerjaan sekarang" jawabnya dengan tenang.
"Zahid, kau menyukai putri Tuan Graham? Sejak kapan?"
Zahid melihat ibunya yang menatap dengan harap. Apa ini karena dia mencium dahi Layla malam itu?
"Itu tidak seperti yang ibu pikirkan"
"Apa? Kau mencium Layla di depan semua orang. Apa artinya itu kalau bukan kau menyukainya?"
Zahid pindah dari tempat makan ke ruang tengah, tapi ibunya terus saja mengikuti setiap langkahnya.
"Itu adalah sesuatu yang biasa kulakukan"
"Pada Layla?"
Rasanya ingin tersedak saat ibunya bertanya seperti itu. Bagaimana bisa ibunya menyimpulkan hal seperti ini.
"Pada semua lawan mainku" jelasnya lalu berbaring di atas sofa. Lalu, teringatlah Zahid kalau dia pernah berbaring di atas pangkuan Layla di sofa yang sama. Dia segera bangun dan membatalkan niat berbaringnya.
"Kau berbohong. Kau pasti menyukai Layla. Buktinya, saat Layla tidak ada di rumah ini beberapa hari yang lalu, kau sangat kebingungan. Kau pergi kesana kemari tidak mempedulikan apapun untuk mencarinya"
"Dia adalah asisten di rumah ini. Tentu saja aku terkejut karena dia tiba-tiba saja menghilang"
"Tapi ibu melihat sesuatu yang aneh pada kalian berdua saat itu"
Zahid menatap wajah ibunya yang tersenyum iseng. Apa yang dilihat ibunya?
"Syal yang dipakainya tidak cukup untuk menutupi semua tanda kemerahan itu"
Zahid bangkit dari duduknya dan merasa gagap. Dia tidak tahu kalau ibunya mengetahui tanda merah yang dibuatnya.
"Itu, salah paham. Ibu salah lihat" katanya lalu kabur ke halaman belakang.
Hannah senang sekali melihat wajah putranya memerah karena kenyataan yang diketahuinya. Sebenarnya, Hannah merasa khawatir dengan perjodohan yang mengikat Zahid sejak lama ini. Tapi, sekarang Hannah tidak terlalu khawatir lagi. Karena calon menantunya adalah perempuan yang baik. Dan putranya terlihat menyukai calon istrinya.
"Apa yang kau lakukan sampai Zahid kabur seperti itu?" tanya Martha yang setia menemani Hannah di rumah putranya.
"Aku hanya senang melihat putraku akhirnya ... " Hannah menghentikan perkataannya dan melihat ke arah temannya. Dia lupa, kalau Martha ... .
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Aku juga ikut senang dengan pernikahan Zahid. Sudah lama sekali sebenarnya aku ingin melihat Zahid menikah. Karena dia seperti pengganti Lucas"
"Martha, maafkan aku"
"Kenapa kau meminta maaf? kau tidak salah apa-apa. Tapi ... aku belum tahu siapa calon istri Zahid sebenarnya"
"Kau mengenalnya"
"Apa?"
"Iya. Dia bahkan pernah datang ke rumah dan menginap disana"
Martha terlihat bingung dengan teka-teki yang diungkapkan olehnya.
"Layla. Layla Graham, putri tunggal dari Tuan Graham"
"Tuan Graham? Tuan Graham yang itu? Pemilik perusahaan besar itu? Dan Layla asisten Zahid itu sebenarnya adalah putri Tuan Graham?" tanya Martha tidak percaya dengan apa yang diberitahukan oleh Hannah.
"Iya. Aku juga sangat terkejut dengan kebetulan yang aneh ini. Apalagi, mereka sebenarnya sudah dijodohkan sejak lima belas tahun yang lalu. Jadi, aku sangat heran sekali dengan keberuntungan ini"
Hannah pikir temannya itu akan ikut senang dengan apa yang dipikirkannya. Tapi ... ternyata tidak. Martha memiliki raut wajah yang sulit untuk diartikan. Apa dia salah bicara? Apa dia terlalu bahagia sedangkan Martha tidak bisa memiliki menantu karena putranya sudah meninggal tiga belas tahun yang lalu?
Tanpa berkata apa-apa, Martha meninggalkannya dan menyusul ke arah halaman belakang. Pasti Hannah salah bicara.
"Aku dengan calon istrimu adalah putri Tuan Graham, pengusaha besar itu"
"Ah, iya. Dia ... iya" jawab Zahid tidak nyaman.
"Dan kau sudah dijodohkan sejak lima belas tahun yang lalu?"
Zahid mulai menganggap semua pertanyaan yang diajukan Tante Martha adalah sesuatu yang serius.
"Iya"
"Ayahmu meninggal lima belas tahun yang lalu"
"Iya"
"Kau juga tiba-tiba meninggalkan Lucas dan menjadi aktor"
"Iya" Zahid tidak bisa berhenti menjawab iya pada semua pertanyaan Tante Martha di depannya.
__ADS_1
"Apa itu semua karena perjodohan itu? Kau meninggalkan Lucas dan menjadi aktor karena perjodohan ini?"
Tante Martha mengatakan sudah melupakan kejadian masala lalu. Tapi Zahid bisa memastikan Tante Martha masih menyimpan sebuah perasaan kesal seperti yang dilakukan Zarah. Kesal karena Zahid meninggalkan Lucas, yang menyebabkan karir putranya berhenti begitu saja.
"Tante, aku ... "
"Iya, ternyata benar kata Sarah. Kau meninbggalkan putraku begitu saja dan akhirnya ... "
Tante Martha meninggalkan Zahid yang masih berdiri dalam diam di halaman belakang dan segera mengemasi semua barangnya.
"Martha, apa yang kau lakukan?" tanya ibu Zahid terkejut melihat temannya berkemas.
"Aku tidak percaya ternyata Sarah benar"
"Apa?"
"Sarah selalu berpikir kalau putramu adalah penyebab Lucas melakukan hal itu. Aku selalu tidak mempercayainya. Tapi ternyata, semua itu benar. Lucasku, putraku, harus menanggung semuanya sendiri disaat putramu melambung tinggi. Dan ternyata semua itu karena bantuan seseorang yang besar dibelakangnya"
Tante Martha menangis dengan berteriak, membuat Zahid tidak bisa mengatakan apapun dan hanya melihat ibunya berusaha menghalangi temannya pergi.
"Putraku tidak salah. Dia hanya melakukan semua itu untuk menyelamatkan keluarganya"
"Dengan mengorbankan putraku??!!!" teriakan Tante Martha membuat suasana hening semakin mencekam. Ibu Zahid terlihat terpiukul mendengar teriakan seseorang yang sudah dianggapnya teman sejak dsatu dekade yang lalu.
"Semoga kau bahagia dengan hidup nyaman dan mewahmu itu, Zahid. Semoga kau bangga dengan pencapaian yang kaulakukan dengan mengorbankan nyawa putraku" kata Tante Martha lalu pergi meninggalkan rumah.
Zahid hanya dapat melihat ibunya jatuh terduduk di tengah ruangan tanpa bisa melakukan apapun.
Layla datang di restoran untuk makan siang sejak satu jam yang lalu. Dia menunggu seseorang yang membuat janji tapi tidak datang. Apa Pak Zahid mempermainkannya? Apa laki-laki itu memang sengaja melakukan ini hanya untuk membuatnya menunggu lama dan kelaparan? Tidak ingin menunggu lebih lama, Layla bangkit dari kursinya dan pergi tanpa memesan apapun. Frank yang menunggunya di depan restoran terlihat menghubungi seseorang berulang kali.
"Frank, bisakah kau membelikanku burger keju?" tanya Layla mengejutkan Frank. Kelihatannya Frank juga kesal dengan seseorang tapi berusaha menekannya karena ada Layla dihadapannya.
"Apa Anda menginginkan yang double?"
"Tidak, aku ingin kentang goreng dan juga cola. Apa boleh?"
Frank tersenyum mendengar permintaan Layla lalu memberi tanda setuju. Layla segera naik mobil yang mengantarkannya ke sebuah restoran cepat saji. Frank benar-benar membelikannya set burger keju lengkap dan menemaninya makan.
"Saya mohon maaf telah membuat Nona muda menunggu lama di restoran" kata Frank merasa bersalah. Padahal semua itu bukan salah Frank.
"Tidak apa, dengan begitu aku bisa makan burger keju"
__ADS_1
Frank tertawa dengan candaan yang diucapkan Layla dan mereka makan dengan lahap. Diselingi pembicaraan tentang impian Layla. Hanya kepada Frank, dia bisa terbuka tentang segalanya. Dia merasa beruntung mantan majikannya itu tidak datang pada janji makan siang kali ini.