The King

The King
Episode 33


__ADS_3

Layla dalam keadaan yang semakin buruk saat majikannya terus menerus memberikan tanda kepemilikan di tubuhnya. Suara desahan tidak dapat dia tahan setiap kali pak Zahid menciumnya dengan penuh. Layla tidak bisa berpikir dengan benar dengan tangan yang berusaha menahan laki-laki itu menyentuhnya. Mendadak, suara dering bel rumah menghentikan laki-laki yang sedang menindihnya. Mata yang kejam itu berubah seperti terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


Pak Zahid akhirnya melepaskan bagian tubuh Mia yang diremasnya sejak tadi lalu berdiri. Layla yang merasa tidak berdaya hanya dapat memperbaiki keadaan bajunya yang terbuka disana-sini. Tubuhnya gemetar menahan marah dan tangis yang ingin keluar. Dering bel rumah kembali terdengar dan pak Zahid mulai bicara sesuatu yang semakin menyakiti hati Layla.


"Bangunlah dan ingat satu hal. Aku melakukannya bukan karena menyukaimu. Aku tidak suka kau yang seorang asisten rumah bicara tidak sopan padaku. Mengerti!!" katanya lalu berbalik pergi menuju pintu depan. Meninggalkan Layla yang tangisnya tidak jadi keluar.


Dia bangun dan pergi ke kamarnya. Membasuh wajah dan melihat bekas merah yang tertinggal di lehernya. Tak lama tubuhnya terjatuh ke bawah dan air mata keluar tak tertahan lagi. Dia tidak pernah mengira, sama sekali tidak mengira kalau majikannya adalah orang brengsek. Berani melakukan hal seperti ini lalu bilang kalau semua itu adalah salah Layla. Dari balik dinding kamarnya, Layla bisa mendengar tamu yang datang ke rumah majikan brengseknya. Dia merasa mengenal suara perempuan yang sedang berada di ruang tengah tempat pak Zahid tadi menindihnya. Itu ... ibu majikannya. Nyonya Hannah Abassy.


"Apa asisten rumahmu mengundurkan diri lagi?"


"Tidak"


"Lalu, kemana dia? Belanja?"


"Sakit. Aku menyuruhnya istirahat. Ibu tahu kalau aku tidak suka berada di sekitar orang sakit"


Layla mendengar semua yang dikatakan oleh majikannya dan semakin merasa marah. Bukannya laki-laki tua itu yang membuatnya seperti ini. Dasar aktor brengsek.


"Benarkah? Kasihan sekali, pasti Layla kecapekan karena harus mengurus rumah sebesar ini sendiri. Apa kau tidak bisa memberinya teman untuk membantu?" kata Nyonya Hannah lagi terdengar dari kamar layla.


"Tidak perlu. Tidak banyak pekerjaan yang dilakukan selama aku bekerja. Perempuan itu sakit karena salahnya sendiri"


Sungguh ... Layla ingin sekali memukul laki-laki yang terus menyalahkan dirinya karena kejadian tadi. Layla akan senang sekali kalau bisa menarik rambut laki-laki itu dan membuatnya jelek walaupun hanya sebentar. Dia kesal sekali tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin layla keluar dari kamar dan memperlihatkan tanda merah yang ada di lehernya ini. Laki-laki brengsek itu.


"Bagaimanapun ibu harus melihatnya. Layla pasti merasa sangat kesepian kau biarkan tidur di kamar sendirian seperti itu"


Mendengar ucapan ibu majikannya, membuat Layla kebingungan. Hal pertama yang dilakukannya adalah berbaring di atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki dengan selimut.


"Tidak perlu. Nanti ibu juga ikut sakit"


"Tidak mungkin. Pasti Layla hanya kelelahan bekerja karena permintaanmu yang banyak"

__ADS_1


Layla menutup mulutnya rapat-rapat saat kenop pintu di kamarnya memutar. Untungnya, dia sempat mengunci pintu tadi. Tapi ... Nyonya Hannah tidak menyerah karenanya.


"Layla, apa kau tidur? Layla"


"Sudah Bu, biarkan saja perempuan itu tidur"


"Kau diam saja"


Layla mendengar perdebatan ibu dan anak dari atas ranjang dan mulai ragu dengan apa yang harus dilakukannya. Apa dia harus menjawab kekhawatiran ibu majikannya dengan berpura-pura sakit? Atau diam saja di kamar berpura-pura seolah sudah mati?


Semuanya bukan pilihan yang baik, menurutnya. Saat dia bingung memilih, ibu majikannya kembali mengetuk pintu dan memanggil namanya.


"Layla. Apa kau baik-baik saja?"


"Bu, perempuan itu pasti tidur"


"Kenapa kau tidak khawatir dengan asisten rumah tanggamu yang sakit? Bagaimana kalau ternyata Layla merasakan sakit parah di dalam sana dan kau tidak tahu?"


Layla menyerah. Dia tidak mungkin berdiam diri di dalam kamar, berpura-pura seperti orang yang sudah mati. Dia mengenakan baju hangat, dan syal untuk menyembunyikan semua tanda merah yang ditinggalkan majikannya tadi dan membuka pintu.


"Layla. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau pucat sekali"


Layla tidak tahu kalau wajahnya benar-benar pucat, mungkin takut karena terpaksa harus berbohong.


"Saya hanya kelelahan. Tuan Zahid memberi saya libu untuk beristirahat hari ini"


"Omong kosong. Bagaimana bisa kau sembuh tanpa makan dan minum?" kata Nyonya Hannah yang melihat ke dalam kamar. Bodohnya Layla. Seharusnya dia meletakkan minum di sebelah ranjang sebelum membuka pintu. Tapi, dia memang tidak membawa minum ke dalam kamar tadi.


"Dia hanya kelelahan Bu. Beristirahat seharian pasti membuatnya lebih baik"


"Bagaimana bisa seorang majikan berkata begitu pada asisten rumahnya sendiri? Layla adalah asisten rumah paling lama yang pernah kau miliki. Jadi, dia harus diperlakukan lebih baik"

__ADS_1


Paling lama? Padahal layla bekerja di rumah pak Zahid hanya selama empat bulan. memangnya, asisten rumah sebelum dia bekerja dalam jangka waktu berapa bulan? pikir Layla.


"Benar, Nyonya. Saya hanya butuh tidur. Semua akan baik-baik saja besok" kata Layla tidak untuk mendukung majikannya. Tapi caranya melarikan diri dari situasi yang berbahaya.


"Tidak. Aku membawa banyak makanan. Martha juga membawakan sesuatu untukmu. Kemarilah!"


Layla ditarik oleh ibu majikannya ke ruang tengah dan melihat begitu banyak kotak makanan disana. Wah banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukannya hari ini.


"Apa semua ini makanan, Nyonya?"


"Iya, Martha juga membawakan sebuah bungkusan untukmu"


Layla bertanya-tanya apa yang dibawakan teman ibu majikannya itu untuknya tapi terkejut karena sentuhan yang dirasakannya di belakang leher. Rupanya, pak Zahid menyentuhnya lagi. Dan kali ini di depan ibunya yang sedang sibuk membuka setiap bungkusan makanan disana.


"Syalnya bergeser. Aku hanya memperbaikinya" bisik laki-laki itu tapi tidak melepaskan jarinya dari kulit Layla. Tubuh Layla bergetar setiap jari itu bergerak semakin ke bawah dan masuk ke dalam jaketnya. Dengan satu gerakan cepat, Layla memutuskan bergeser menjauh dari jangkauan laki-laki yang sekarang berdiri dengan senyum di wajahnya. Sial. laki-laki brengsek. majikan brengsek. harusnya Layla mengundurkan diri tadi malam dan tidak perlu melihat wajah tampan mengesalkan itu lagi.


"Coba lihat ini!" kata Nyonya Hannah memecahkan pikiran Layla ke majikannya.


Layla melihat sebuah kotak berisi sepatu perempuan berwarna putih yang sangat cantik.


"Apa itu Nyonya?"


"Sepatu" jawab Nyonya Hannah lalu disertari suara tawa dari putranya, sang laki-laki brengsek.


"Maksud saya. Sepatu untuk saya?"


"Iya, katanya, putrinya bertemu denganmu dua kali tapi tidak pernah menyapamu dengan benar. Ini bentuk permintaan maafnya"


Putri Nyonya Martha? Bertemu dua kali? Rasanya Layla tidak pernah bertemu dengan putri Nyonya Martha. Setelah berpikir agak lama, dia mengingat seorang perempuan yang dijumpai majikannya sebanyak dua kali. Dan saat itu Layla ada disana. Ternyata ... perempuan itu putri Nyonya Martha.


"Cobalah!"

__ADS_1


Meskipun malu-malu, Layla mencoba sepatu putih dengan hak yang cukup tinggi itu. Sangat pas dan membuat Layla tumbuh tinggi dalam satu detik saja.


"Sarah salah. Sepatu itu tidak cocok dipakai olehnya. Mana ada asisten rumah yang memakai sepatu seperti itu" ucap Zahid lalu pergi meninggalkan Layla dan ibunya. Apa yang terjadi pada laki-laki itu? Aneh. Layla melihat ke arah Nyonya Hannah dan ternyata wanita itu memiliki raut wajah yang sulit dijelaskan.


__ADS_2