
"Kenapa?" tanya laki-laki itu tiba-tiba setelah selesai mencium Layla.
"Saya sudah bilang kalau pak Zahid tidak seharusnya melakukan hal ini"
"Apa? Menciummu? Kau istriku" Layla tidak dapat melawan saat laki-laki itu membawanya ke atas ranjang dan mulai memberikan ciuman di leher dan dadanya.
"Kita hanya menikah karena ayah memerlukan seorang penerus untuk perusahaan"
"Apa maksudmu?"
"Sebaiknya pak Zahid segera membiasakan diri dengan jabatan baru ini dan berusaha bertanggung jawab dengan lebih serius lagi"
Layla sama sekali tidak gentar karena tatapan suaminya yang berada di depannya. Dia menatap lurus ke arah mata tajam yang seakan dapat melepaskan kulitnya itu.
"Apa ini karena berita yang baru saja kau dengar?"
Ternyata laki-laki ini tahu tentang berita itu, pikir Layla. Berani sekali laki-laki ini berpikir dapat melakukan hal ini setelah memasukkan perempuan ke dalam hotel tempat mereka menikah beberapa jam yang lalu.
Layla berusaha bangun dan mendorong laki-laki dari atas tubuhnya lalu berdiri dan menjauh dari ranjang.
"Saya tidak terlalu peduli dengan rumor yang Anda timbulkan dengan siapapun. Lagipula itu bukan urusan saya"
"Apa?"
"Lebih baik saya tidur di tempat lain sementara pak Zahid beristirahat. Selamat malam" ucap Layla lalu menyambar ponselnya di atas meja dan keluar dari kamar yang seharusnya menjadi saksi malam pengantinya.
Zahid tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya di atas ranjang pengantinnya. Istri yang baru saja dinikahinya menolak secara terang-terangan untuk melayaninya. Dia sebenarnya merasa bersqalah karena menimbulkan masalah di hari pernikahannya. Namun, Zahid terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Layla. Dia pikir perempuan itu menyukainya sejak mereka masih menjadi majikan dan asisten rumah tangga. Apa dia salah? Tidak, sepertinya tidak. Layla sama sekali tidak menolak sentuhan yang diberikan olehnya. Bahkan Zahid yakin Layla menikmati ciuman yang mereka lakukan. Lalu, apa ini?
Zahid berbaring di atas ranjang dan merasa sangat lelah. Semua yang terjadi hari ini begitu membuatnya lelah. Dan sebaiknya dia tidur dan tidak memikirkan apapun. Karena besok, dia harus pergi ke negara lain untuk mengurus bisnis perusahaan yang baru dipimpinnya selama dua bulan. Tak lama, Zahid tertidur dan tidak memberikas sebuah kata yang ingin didengar oleh Layla.
Esoknya, Zahid keluar dari kamar dalam keadaan siap untuk bekerja. Dia tidak melihat sosok Layla dimanapun.
"Nona tadi pagi-pagi sekali berangkat ke Universitas" lapor salah satu pelayan yang ada di rumah baru itu. Zahid menghela napas dan memakan sarapannya sebelum Boni datang dan memaparkan jadwal kegiatannya hari ini.
"Kita akan berangkat siang ini, aku sudah menyiapkan semua barangmu di mobil"
"Baiklah"
"Masalah kemarin sudah dapat teratasi. Tidak ada siapapun yang akan mengganggu Sarah dan ibunya."
"Baguslah"
Mereka berdua keluar dari rumah dan melihat seorang wanita yang berjalan dari rumah utama keluarga Graham.
"Nyonya Graham"
__ADS_1
"Kau seharusnya memanggilku dengan sebutan lain sekarang, Zahid"
"Maafkan saya"
"Tidak apa. Aku juga tidak berharap kita bisa sedekat itu dalam waktu singkat"
Zahid merasakan aura kemarahan dalam setiap kata yang dilontarkan oleh ibu mertuanya. Pasti karena masalah yang terjadi kemarin.
"Apa ada sesuatu yang harus saya tahu?" tanya Zahid berusaha mencari tahu isi hati ibu mertuanya.
"Aku mengerti kau menikah dengan Layla hanya untuk masalah penerus perusahaan. Tapi ... jangan pernah memperlihatkannya di depan umum"
Setelah memberi peringatan seperti itu, Nyonya Graham segera berbalik dan berjalan kembali ke arah rumah utama. Bahunya yang tadi lurus terlihat bergerak ke arah bawah. Zahid kini mulai merasa bersalah, dia membuka ponsel dan menghubungi istrinya. Tiga kali mencoba dan kemudian menyerah karena Layla tidak mengangkat teleponnya. Bahkan dua pesan yang dikirimkan Zahid saat di mobil dalam perjalanan ke perusahaan tidak dibaca oleh perempuan berumur dua puluh tahun itu.
"Zahid" panggil Boni dari kursi penumpang depan. Zahid mendongak dan memasukkan ponselnbya ke dalam kantung jas.
"Apa ada masalah?"
"Kita harus berangkat sekarang juga. Tidak ada waktu ke perusahaan sama sekali"
"Baiklah"
Zahid keluar dari mobil dan segera berpindah ke sebuah pesawat pribadi keluarga Graham yang resmi digunakannya sejak menjabat sebagai Presdir. Dia segera tenggelam dalam peran barunya dan melupakan masalah yang terjadi pagi tadi.
Layla sedang melihat-lihat pemandangan yang tidak pernah dijumpai olehnya selama tinggal di lingkungan rumah keluarga Graham. Mungkin karena sudut pandang yang baru, kini Layla dapat melihat jajaran pohon cemara yang mengelilingi tembok batas tanah keluarganya. Rumah baru yang baru ditinggalinya selama satu minggu ini mulai terasa nyaman. Mungkin karena dia kembali tinggal sendiri, seperti sebelumnya. Laki-laki yang menjadi suaminya itu kabarnya sedang mengurus bisnis yang penting di luar negeri dan tidak tahu kapan akan kembali. Layla semakin yakin kalau pernikahan mereka benar-benar hanya karena masalah penerus perusahaan. Tidak ada perasaan apapun antara dia dan mantan majikannya itu. Dan untuk kejadian-kejadian yang sebelumnya terjadi, Layla memilih untuk berpikir bahwa itu hanyalah sesuatu yang tidak penting. Mereka berada di posisi yang berbeda dari sekarang dan sebaiknya Layla segera melupakan semuanya. Termasuk ciuman yang dilakukan oleh suaminya di hari pernikahan mereka.
"Ibu datang lagi?"
"Kenapa ibu merasa kau tidak senang dengan kedatangan ibu?"
"Tidak. Tentu saja aku senang. Tapi seharusnya Layla yang pergi ke rumah utama"
"Ayahmu sedang menyebalkan dan ibu tidak ingin melihatnya"
"Apa karena tidak ada pekerjaan?"
"Iya. Kalau begini, ibu berharap ayahmu tidak pensiun"
Layla tersenyum mendengar sebuah kabar yang membuatnya sedikit geli. Membayasngkan bersama ayahnya setiap hari di rumah selama dua puluh empat jam pasti mengerikan sekali.
"Zahid belum pulang?"
Layla meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan melihat ke arah halaman luas di sebelah kanannya, berusaha menghindari menjawab untuk masalah ini.
"Bagaimana dengan tugas akhirmu?"
__ADS_1
Dan ibunya dengan baik hati mengganti topik pembicaraan.
"Baik. Semua berjalan baik. Mungkin satu semester lagi semua akan selesai"
"Lalu, apa yang akan putriku lakukan setelah itu?"
Layla terdiam mendengar pertanyaan ibunya. Tapi kali ini dia tidak berpaling dan hanya menatap mata berwarna coklat itu dalam-dalam. Sebenarnya, layla sama sekali belum berpikir sampai kesana. Dia terlalu sibuk mengejar semua mata kuliah yang ditinggalkannya selama enam bulan sebelumnya.
"Entahlah" jawabnya ragu.
"Kau akan segera mengetahuinya. Jangan khawatir" jawab ibunya berusaha menghibur.
"Tapi, Bu. Apakah aku boleh memiliki impian seperti itu?"
"Apa?" Ibunya seperti tidak percaya dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Layla.
"Maksud Layla. Sekarang Layla adalah istri seseorang dan ... "
"Layla sayang. Ayah dan ibu menikahkanmu dengan Zahid bukan untuk membuatmu mengubur semua impianmu. Ayahmu ingin agar kau mewujudkan semua keinginanmu tanpa harus berpikir tentang perusahaan"
Tidak pernah sekalipun Layla berpikir tentang hal ini. Dia pikir, ayahnya begitu membencinya sehingga tidak ingin meneruskan perusahaan di tangannya. Tapi ... ternyata.
"Apa itu benar?"
"Layla, kenapa kau berpikir seperti itu? Ayahmu dan ibu sangat menyayangimu. Kaulah putri kami satu-satunya"
Ibunya pasti tidak tahu kalau apa yang baru saja dikatakannya meleburkan dinding yang ada di kepala dan hati Layla. Dia merasa seperti terbebas dari kekangan yang dibuatnya sendiri. jadi, selama ini orang tuanya menyayanginya. Mewreka hanya tidak ingin mengekangnya dalam perusahaan.
"Terima kasih Bu. Ibu tidak tahu betapa berharganya hal itu bagi Layla"
Ibu dan anak itu berpelukan dengan erat. Tapi ibu Layla menganggap putrinya sangat aneh. Bagaimana bisa orang tua tidak menyayangi anaknya sendiri.
Penulis memohon maaf sebesar-besarnya karena baru update setelah lamaaa sekali
Semua itu karena penulis harus istirahat total selama beberapa minggu.
Tapi sekarang udah mulai nulis lagi
Tetep setia membaca ya ...
__ADS_1