
"Tuan Zahid akan pergi ke luar negeri selama beberapa hari" lapor pak Boni yang sengaja datang ke ruangan Layla pagi itu. Ingin sekali dia bersorak senang karena mendengar kabar bahagia itu. Tapi Layla menahannya. Dia harus menahan karena ada Leonard yang menemaninya sejak berangkat dari rumah tadi.
"Oh, iya"
"Tuan tidak bisa pulang nanti malam karena harus berangkat siang ini. Apa Anda memiliki pesan yang harus saya sampaikan pada Tuan?"
Pesan? Kenapa dia memiliki pesan untuk pak Zahid yang terus menyiksanya setiap malam itu?
"Tidak. Tidak ada"
"Kata Tuan. Anda harus membuat laporan tentang semua kerjasama yang dilakukan perusahaan selama ini. Dan saat beliau pulang, Anda harus segera menyerahkannya"
"Baiklah"
Pak Boni keluar dari ruangan dan senyum segera mengembang di wajah Layla.
"Sungguh mudah ditebak" kata Leonard mengganggu kesenangannya.
"Apa?"
"Anda sangat mudah ditebak Nona"
"Apa maksudmu?"
Layla kembali duduk dan memeriksa semua laporan di depannya dengan perasaan lega.
"Anda sangat senang sendirian di rumah beberapa hari ke depan?"
"Apa maksudmu?"
Tentu saja Layla senang. Dia akan terbebas dari laki-laki itu setidaknya sampai beberapa hari ke depan. Hal itu merupakan sebuah hadiah yang besar untuknya.
"Apa ini karena berita tadi pagi?"
Layla memunculkan kepalanya dan melihat ke arah Leonard.
"Berita?"
__ADS_1
"Iya. Tentang cinta segitiga Pak Zahid dan dua wanita simpanannya"
Berita itu. Memang cukup membuat Layla merasa heran, tapi dia tidak ingin terganggu dengan hal-hal semacam itu. Semakin sering pak Zahid menghabiskan waktu dengan dua simpanannya, maka semakin bebas dia di rumah.
"Aku tidak terlalu memikirkannya"
"Apa karena Anda yakin dengan cinta pak Zahid?"
Layla menghentikan pekerjaannya dan menatap teman masa kecil sekaligus pengawalnya itu.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain?"
"Anda mengusir saya Nona? Sungguh kejam sekali"
"Pergilah melapor ke Frank atau apa sana!"
"Ouch. Sakit sekali hati saya. Padahal saya ada disini untuk menemani Anda"
"Sudah pergi saja"
"Baiklah"
Hari demi hari tanpa pak Zahid berlalu dan Layla merasa hidup lagi sebagai dirinya yang dulu. Cukup tidur, cukup makan, bekerja keras menyusun laporan, beli sesuatu di pinggir jalan dan yang lebih penting tidak menghadiri acara resmi apapun. Lalu, datanglah seseorang yang merusak kenyamanannya di pagi hari kelima tanpa pak Zahid.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Layla pada wanita simpanan nomor satu suaminya.
"Dimana kak Zahid?"
"Tidak ada"
"Apa benar dia membawa artis itu keluar negeri? Kenapa?"
Layla heran, kenapa sekarang Sarah berteriak-teriak lalu menangis di depannya, mengeluhkan tentang selngkuhan suaminya yang kedua.
Layla terpaksa menyuguhkan teh pada wanita yang selesai menangis itu.
"Aku akan bekerja. Sebaiknya kau juga pergi"
__ADS_1
"Apa kau akan terus seperti ini?"
Meskipun Sarah memnag lebih tua beberapa tahun dari layla, tapi sepertinya ucapannya tidak sopan.
"Apa maksudmu?"
"Suamimu pergi keluar negeri membawa wanita lain. Suamimu yang menguasai perusahaanmu!! Apa kau tidak pernah berpikir untuk marah??"
Dia marah? Kenapa dia mau melakukan sesuatu yang konyol seperti itu? Lagipula, pak Zahid menikah dengannya hanya untuk menggantikan ayahnya. Dan nanti Layla akan segera menduduki posisi Presdir setelah dirasa mampu oleh laki-laki itu.
"Tidak dan sebaiknya kau pergi"
"Kupikir kau mencintainya"
Layla batal berdiri dan melihat ke arah wanita yang dulu sempat dilihatnya saat masih bekerja sebagai pembantu pak Zahid. Layla pikir Sarah adalah wanita yang tangguh. tapi kini, dia merubah cara pandangnya. Sarah hanyalah wanita manja yang terlena akan kasih sayang dan perhatian dari pak Zahid.
"Kau harus pergi sekarang. Aku akan bekerja"
"Apa kau tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan di luar negeri? Apa kau tidak ingin tahu apakah mereka berciuman, tinggal satu kamar atau bahkan melakukan itu berapa kali? Apa kau tidak tersiksa dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam hati?"
Layla terdiam. Cemburu, tersiksa, kesal dan marah. Dia merasakan semua itu selama satu tahun sejak menikah dengan pak Zahid. Suaminya itu tidak pernah menyentuh, menanyakan kabar, menghubungi atau apapaun terhadapnya. bahkan saat dia mengasingkan diri sendiri, pak Zahid sama sekali tidak mencarinya. Layla menangis saat melihat berita tentang suaminya itu muncul di pesta bersama Sarah. Bahkan berita yang belum terbukti kebenarannya tentang pak Zahid menghabiskan malam dan liburan bersama keluarga Sarah, membuatnya tersiksa. Apa yang dapat dia lakukan saat itu? hanya menangis dan menahan diri.
Karena Layla tahu dia tidak akan mendapatkan apa-apa meskipun marah pada suaminya. Dia sadar laki-laki itu menikah dengannya bukan karena cinta. namun hanya karena sebuah balas budi yang sebenarnya menyiksa keduanya. Baik pak Zahid maupun Layla. Jadi ... tidak. Daripada merasa cemburu atau marah, dia kini hanya ingin ketenangan. Walaupun pak Zahid menunjukkan perilaku yang aneh dengan menyentuhnya setiap hari, tapi layla tidak mau bermimpi dan berharap lagi. Dia sudah lelah. Lebih baik dia menggunakan semua tenaga dan perasaannya demi perusahaan.
"Kau benar-benar harus pergi sekarang! Aku tidak ingin harus memanggil pengawal untuk mengusirmu dari rumah ini" katanya lalu berdiri dan ingin pergi ke lantai atas sampai terhenti karena kata-kata Sarah yang membuatnya terkejut.
"Asal kau tahu. Selama ini meskipun aku mendesaknya. Kak Zahid tidak pernah menyentuhku. Itu karena dia menghormati aku sebagai wanita dan adik dari temannya. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya dengan menikahimu, tapi kalau bisa. Segera kembalikan dia seperti dulu. Kembalikan kak Zahid yang hanya menjadi milikku"
Apa? Tidak pernah menyentuh Sarah? Ingin sekali Layla menanyakan kebenaran itu, tapi wanita itu keburu pergi karena kedatangan Leonard.
"Apa ada masalah Nona?"
"Tidak. Tidak ada. Apa Sarah sudah pergi?"
"Iya. Ada orang pak Zahid yang menjaganya"
Orang pak Zahid? Menjaga Sarah? Untuk apa?
__ADS_1
Layla tidak bisa berkonsentrasi bekerja dan terus emmikirkan ucapan Sarah. Kenapa pak Zahid tidak menyentuh Sarah? Selama ini? Bukankah laki-laki itu mencintai Sarah? Dan lagi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Memang pak Zahid memimpin perusahaan karena sebuah balas budi. tapi kenapa harus bertahan dengan pernikahan yang tidak disukainya? Pak Zahid memiliki uang banyak bahkan sebelum memimpin perusahaan. Laki-laki itu bisa membayar pada ayahnya dan melepas semua tanggung jawab balas budi. Lalu, kenapa pak Zahid lebih memilih untuk menikah dengannya dan memimpin perusahaan? Layla masih berada di dalam lamunannya saat Leonard tiba-tiba berdiri dan mulai menghubungi pengawal lainnya untuk merapat.