
Zahid pulang ke rumah bersama ibunya dalam keadaan kenyang. Mereka juga membeli makanan untuk Layla yang sedang berpura-pura sakit di rumah. Tapi, kenapa Zahid tidak melihat perempuan itu? Zahid mulai mencari ke kamar, halaman belakang bahkan kamarnya di lantai dua. Tapi tidak ada perempuan itu dimanapun.
"Apa Layla kabur? Barang-barangnya juga menghilang"
Zahid segera memeriksa kamar Layla dan benar kata ibunya. barang-barang Layla tidak ada disana. Kemana perempuan itu pergi? Tiba-tiba saja Zahid terpikir sesuatu. Dia menghubungi Frank di kamarnya tanpa memperbolehkan ibunya tahu. Beberapa nada panggilan lalu suara pria yang dalam terdengar.
"Saya membawa Nona Layla pulang"
Zahid merasa lega. paling tidak kini dia tahu kemana perginya perempuan itu.
"Kenapa?" tanyanya
"Saya mengerti Anda adalah calon suami Nona. Tapi ... melakukan hal itu bukanlah sesuatu yang saya harapkan dari seorang calon menantu keluarga Graham"
Zahid merasa malu sekali. Dia tidak bisa menahan nafsunya sendiri.dan melakukan sesuatu yang sangat bodoh.
"Maafkan aku. Tapi, apa dia baik-baik saja?"
Terdapat keheningan selama beberapa menit lalu Frank menjawab
"Nona baik-baik saja sekarang. Untuk pertemuan keluarga sepertinya akan berjalan sesuai dengan rencana sebelumnya. Sebaiknya Anda bersiap"
"Baiklah, dan tolong lindungi Layla"
Zahid menutup telepon dan merasa hampa. Mendadak, dia merasa kesepian berada di rumah ini. Untung saja ibunya datang hari ini.
"Apa kau sudah mengetahui keberadaan Layla?"
"Iya"
"Lalu?"
__ADS_1
"Dia berhenti"
"Apa?"
"Ibu menginap disini saja selama beberapa hari. kabarnya Tuan Graham akan mempercepat pertemuan keluarga"
Zahid melihat ibunya terkejut dengan berita yang dibawanya. Akhirnya tiba saatnya untuk mengadakan pertemuan keluarga. Sebaiknya Zahid menghubungi Boni dan mempersiapkan jadualnya.
"Ibu tidak percaya Layla akan pergi tanpa pamit seperti ini. Apa kau melakukan kesalahan padanya? Ibu lihat tadi kau memeluknya"
Zahid melihat ke arah ibunya yang curiga dan berusaha menutupi wajahnya yang terkejut.
"Tidak ada. Sebaiknya ibu beristirahat" ucapnya lalu pergi ke kamar Layla. Seperti ingin melihat perempuan itu sekali lagi, meskipun hanya untuk waktu yang singkat.
Layla diantar oleh Frank ke rumahnya. Mereka sampai di gerbang besar berwarna putih yang dijaga oleh dua orang. Dan keduanya memberi hormat pada Layla. Mobil Frank melewati deretan pohon cemara yang membatasi tanah seluas lima hektare tertutup dengan rumput rapi. Sudah empat bulan Layla tidak melihat semua ini. Ada rasa rindu dan benci yang sedang bertarung di dalam hatinya saat ini. Sesudah seratus meter, bangunan rumah dengan gaya kontemporer yang tertutup batu tampak berdiri kokoh disana. Rumah yang terdiri dari tiga bangunan utama yang tidak berubah. Bangunan pertama merupakan tempat kamar Layla, kamar orang tuanya serta ruang kerja ayahnya berada. Bangunan kedua adalah dapur, ruang makan, ruang tengah dan ruang menjamu keluarga. bangunan ketiga adalah tempat keluarganya mengadakan pesta, dan perayaan sederhana. Ketiganya terhubung oleh sebuah jalan yang sebagian tertutup dinding kaca. Sebuah kolam renang berada di bangunan yang agak jauh dari bangunan rumah utama. Sebuah tempat yang berfungsi sebagai tempat tinggal pelayan serta koleksi mobil keluarganya ada di bangunan yang lain.
"Silahkan keluar dan jangan lupa menutup leher Anda rapat-rapat" kata Frank yang membuka pintu. Seorang wanita berumur lima puluh tahun terlihat berlari dari dalam rumah dan keluar untuk menyambut putrinya yang pulang. Layla terpaksa menutup lehernya dengan jas Frank.
Ibunya memeluk Layla dengan erat, membuatnyatidak bisa bernapas.
"Ibu, sudah"
"baiklah. baiklah. Apa kau ingin makan sayang? Ibu menyiapkan makanan kesukaanmu"
"Aku hanya ingin tidur" jawab Layla membuat ibunya kecewa. Tapi dia tidak ingin berbicara banyak untuk hari ini. Lagipula, tanda merah di lehernya akan terlihat kalau ibunya terus memaksanya makan. Layla berjalan melewati ruang tengah yang sepi dan masuk ke dalam kamarnya.
Dia menjatuhkan badan di atas ranjang dan melepas jas Frank. Layla meraba lehernya dan terasa kehangatan disana. Dia tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi sekarang. Laki-laki yang membuatnya merasa berdebar dan kesal dalam waktu bersamaan. Pak Zahid, pak Boni, Nyonya Hannah, Nyonya Martha, pekerjaannya, semua sudah usai. Sekarang yang menantinya hanyalah kewajiban sebagai seorang putri keluarga Graham.
Tidak menunggu kesiapan putrinya, ayah Layla segera mempercepat pertemuan keluarga. Hanya dua hari setelah Layla pulang dari acara kaburnya yang tidak berguna.
"Kau cantik sekali putriku" puji ibunya saat melihat bayangan Layla yang terpantul di cermin. Sapuan riasan tipis, rambut yang rapi digerai dan gaun biru muda pendek tanpa lengan dengan bahan yang berkibar-kibar saat dipakai berjalan. layla tidak melihat dirinya yang sebenarnya dalam tampilan seperti ini.
__ADS_1
"Apa mereka sudah datang, Bu?" tanya layla gugup.
"Lima menit lagi. Sekarang kita harus pergi ke ruang makan"
layla dipaksa untuk pergi ke ruang keluarga tempat ayahnya bersantai membaca koran pagi tadi dan minum kopi.
"Aku sudah bilang agar kau tidak minum kopi sebelum makan" ujar ibunya kesal lalu memberikan kopi ayah kepada pelayan.
"Tamu Anda telah datang, Tuan, Nyonya" lapor pelayan membuat Layla semakin gugup. Akan seperti apa rupa calon suaminya? Apa pendek? Tinggi? Jelek? Tampan? Layla ingin sekali kabur dari rumah saat merasa gugup seperti ini. Frank masuk ke dalam ruang keluarga dengan tegapnya membuat Layla kesal. Lalu, masuklah seorang sosok yang pernah dilihat Layla. Orang yang selama beberapa hari ini muncul dalam pikirannya. Pak Zahid. Laki-laki itu muncul dengan berpakaian resmi sekali. Setelan jas hitam dengan rompi di dalamnya. Membuatnya semakin tampan. Lalu ... Nyonya Hannah yang berpakaian rapi serta pak Boni juga masuk ke dalam ruang keluarga. Layla sangat terkejut dengan kedatangan orang-orang yang dikenalnya.
"Akhirnya kau datang juga, calon menantuku"
Perkataan ayahnya seperti sebuah genderang besar dipukul di dekat telinga layla. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang. Calon menantu? Pak Zahid?
"Benarkah?! Benar aktor terkenal ini adalah calon menantu kita?" seru ibunya terdengar sangat bersemangat dengan apa yang sedang terjadi. Layla memperhatikan sekitar dan para pelayannya juga terlihat cukup bersemangat dengan kehadiran aktor yang terkenal dengan peran raja-nya itu.
"Selamat malan, Tuan, Nyonya"
"Jangan panggil Nyonya. nanti kita akan segera menjadi keluarga"
Layla hanya terpaku di tempat melihat ibunya bersalaman dengan keluarga Abassy yang datang, juga pak Boni.
"Senang sekali bertemu dengan Anda berdua" sapa Nyonya Hannah
"Jangan terlalu resmi, kita akan segera menjadi keluarga"
"Tidak, itu tidak sopan"
Kedua ibu itu berusaha mendekatkan diri karena akan menjadi keluarga. Sebuah peristiwa yang membuat Layla ingin muntah.
"Perkenalkan ini adalah putri kami. Layla Graham"
__ADS_1
Dan seketika, mata Nyonya Hannah terbuka lebar melihat Layla. Sepertinya Nyonya Hannah sangat terkejut dengan kebetulan yang sedang terjadi. Tapi Layla tidak melihat rasa terkejut itu di wajah pak Zahid dan pak Boni. Apa mereka sudah tahu kalau layla adalah putri keluarga Graham? Sejak kapan? Berbagai pertanyaan timbul di pikiran Layla, membuatnya tidak mendengar apapun yang sedang dikatakan orang-orang disekitarnya.