
"Jadi, ini rumah sang aktor kita?" tanya Leo setelah pak Boni mengantar Layla pulang. Leo tidak berjaga di depan rumah seperti pengawal lainnya dan menemani Layla yang sekarang sedang mengemasi belanjaan.
"Iya"
"Bagus juga. Tapi, saya pikir dia akan lebih kaya dari ini"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena dia menjadi Presdir selama satu tahun ini"
Layla berhenti mengemasi belanjaan dan mulai berpikir. Iya juga ya. Bukankah pak Zahid mendapatkan gaji sebagai Presdir? Tapi kenapa Layla tidak pernah mendapat kabar laki-laki itu membeli tanah atau rumah baru? Apa mungkin pak Zahid mengalihkan pendapatannya untuk orang lain? Ibunya, atau Sarah? Berbagai kesimpulan berputar di otak Layla, membuatnya sedikit sedih sekarang.
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu"
"Tapi Anda kan istrinya?"
"Kau pasti tahu kalau itu semua hanyalah ... "
"Sandiwara?"
Layla menatap teman sekaligus pengawalnya dari kecil itu.
"Iya"
"Anda sudah dewasa rupanya Nona"
"Apa maksudmu?"
"Anda bisa membedakan mana kenyataan dan khayalan"
Kata-kata Leo begitu mengena di hati Layla. Kenyataan dan khayalan. Bagian mana yang sedang dijalaninya saat ini? Khayalan karena menikah dengan pak Zahid? Atau bersikap seperti istri meskipun kenyataannya mereka dipaksa untuk bersatu karena masalah perusahaan.
"Dan kau sangat pandai bicara sekarang. Apa yang membuatmu datang kemari Leonard?" tanya Layla. Sepengetahuannya, sejak peristiwa mengerikan itu Frank membawa Leonard keluar negeri untuk perawatan. Sampai hari ini, Layla menganggap Leonard telah tinggal disana dengan nyaman, bahkan mungkin sudah berkeluarga. Tapi ternyata ... .
"Saya datang kesini untuk menjaga Nona"
"Dari apa?"
Leonard tidak segera menjawab pertanyaan layla. Muncullah rasa khawatir di hatinya.
"Dari ... "
"Apakah mereka akan melakukan sesuatu lagi?"
"Kemungkinan"
"Kenapa?"
"Karena kabar kalau Anda akan menjabat sebagai Presdir perusahaan"
"Kenapa mereka baru melakukan sesuatu sekarang? Bukankah pak Zahid juga merupakan orang lain"
"Kelihatannya suami Anda itu orang yang pintar. Dia bisa mendekatkan musuh dengan mudah dan membuat mereka menjadi kawan. Sungguh pebisnis yang berpengalaman"
Layla terkejut.Selama ini dia tidak tahu apa-a apa tentang hal itu.
"Jadi, maksudmu?"
"Saya masih belum mengenal suami Anda dengan baik. Nanti ... kalau saya lebih mengenalnya, Anda akan mendapatkan berita lengkap"
__ADS_1
Layla menelan ludah yang ada di rongga mulutnya dengan suah. Bayangan kejadian lima belas tahun yang lalu muncul kembali di kepalanya. Wajah ayah dan ibunya yang tak henti menangis, juga banyak darah menutupi badan Leonard. Sungguh, dia ingin melupakan semuanya tapi tidak mudah untuk dilakukan.
"Kalau begitu kita harus berkenalan"
Suara yang dalam perlahan membuat Layla tenang. Dia mendongak dan melihat pak Zahid masuk ke dalam rumah. Kali ini tanpa pak Boni.
"Ohh. iya. Tentu saja" jawab Leonard lalu maju mendekati pak Zahid. Tinggi mereka mungkin hampir sama, tapi Layla melihat wibawa pak Zahid begitu memancar sehingga menutupi gaya jalanan Leonard.
"Aku Zahid Abassy"
"Saya Leonard"
"Aku suami Layla"
"Saya pengawalnya. Dan perlu dikoreksi, Anda adalah suami di atas kertas Nona"
Pak Zahid berjalan melewati Leonard lalu mengambil belanjaan dari tangan Layla.
"Aku adalah suami Layla Graham"
Seberkas cahaya seperti masuk ke dalam hati Layla yang selama setahun ini dingin.
"Hahaha. Baiklah. Sebenarnya saya juga sudah mengetahui semua tentang Anda. Termasuk keluarga dan juga selingkuhan Anda"
Pak Zahid menatap mata Layla lalu mengatakan seusatu yang membuatnya hancur berkeping-keping.
"Sarah maksudmu?"
Layla mengalihkan pandangannya dan berusaha tetap tegar meskipun suaminya sendiri mengakui perselingkuhan di depannya. Bahkan menyebut nama wanita itu.
"Bisakah kalian bicara sendiri? Aku harus membereskan semuanya ini"
"Saya bisa melakukannya sendiri"
"Apa kau sudah memilih baju untuk digunakan besok?"
"Sudah"
"Kau harus benar-benar siap sebelum melangkahkan kaki ke perusahaan"
Sudah. Jangan bicara lagi! pinta Layla dalam hati. Dia tidak akan tahan kalau terus mendengar suara laki-laki ini. Bisa-bisa dia menangis disini.
"Saya sudah siap" kata Layla lalu mengambil alih belanjaannya dan masuk ke kamar ganti.
Tidak tahu berapa lama Layla memegang belanjaannya di balik pintu. Dia hanya melakukannya selama beberapa waktu. Setidaknya sampai rasa sakit itu tidak lagi menyiksanya. Mencoba untuk menarik dan membuang napas secara teratur dan perlahan lalu melanjutkan pekerjaannya. Dia juga harus mulai memasak sekarang. Matahari sudah mulai tenggelam di Barat dan menyisakan sinar jingga indah. Tak seindah suasana hati Layla. Dia keluar dan mencari-cari Leonard.
"Anak itu sudah pergi"
Layla mendongak dan melihat pak Zahid sudah berganti pakaian.
"Kenapa Leo?"
"Frank memanggilnya"
"Oh" Kalau untuk alasan itu, Layla tidak bisa mendebatnya. Hanya saja, dia ingin memasak untuk Leonard tapi sekarang tidak bisa.
"Saya akan menyiapkan makan malam"
"Tidak perlu"
__ADS_1
"Tapi"
"Aku sudah bilang kalau pekerjaanmu disini bukan untuk memasak. Apalagi kau adalah calon Presdir perusahaan"
"Tapi saya ... " Baru saja Layla ingin mengatakan kalau dia lapar, pak Zahid sudah memotong pembicaraannya.
"Aku akan makan diluar, bersama Sarah. Jangan tunggu aku pulang"
Pak Zahid melangkah pergi dari rumahnya sendiri. Meninggalkan Layla yang mematung untuk beberapa waktu sebelum masuk ke dapur. Dia membuka lemari es dan menemukan telur juga nasi. Apa boleh buat, sebaiknya dia memasak sesuatu yang sederhana untuknya sendiri.
Semangkuk nasi goreng dan segelas air dingin diletakkan Layla di meja makan. Berteman ponsel, dia mulai makan. Tapi, dia tidak bisa makan. Dia terlalu sibuk menggigit bibir untuk menahan tangis. Berada di rumah besar ini sendiri. Kesepian. Layla seperti kembali pada masa remajanya setelah Lonard pergi waktu itu. Dia tahu kalau inilah yang akan dihadapi setelah memutuskan untuk menjadi Presdir. Dan Layla tidak bisa mundur lagi. Yang bisa dia lakukan adalah belajar dan menguasai semuanya dalam waktu cepat. Dengan begitu, dia bisa membebaskan pak Zahid dengan cepat dan tidak menyusahkan orang tuanya lagi. Layla membawa nasi goreng yang dibuatnya ke dapur dan membuangnya. Dia hanya meminum air lalu pergi tidur.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya ibu Zahid melihat anaknya datang tepat di jam makan malam.
"Aku ingin makan dengan ibu"
"Benarkah?"
"Iya"
Tiba-tiba dari belakang ibunya, Zahid melihat wanita yang namanya disebutkan di depan Layla.
"Selamat malam Kak Zahid" sapa Sarah lalu mendekat.
"Kau disini?"
"Iya. Aku datang untuk mengantarkan makanan buatan ibu"
"Kalau begitu, aku akan ke kamar Bu"
"Aku akan memberitahumu kalau makan malam sudah siap" kata ibunya membiarkan Zahid pergi ke kamarnya.
Yang tidak Zahid tahu, Sarah mengikutinya dari belakang. Dia masuk ke dalam kamar lalu berbaring di atas ranjang. Rasanya sangat lelah sekali hari ini. Dia harus menyiapkan jabatan untuk Layla dan meyakinkan semua orang perempuan itu datang hanya untuk belajar berbisnis. Dia sampai harus menemani sepupu Layla minum. Untung saja dia tidak tertipu dan bisa pulang tanpa merasa mabuk. Lalu menimpanya tepat di dada. Matanya terbuka dan Zahid melihat wajah Sarah disana.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kenapa? Kak Zahid tidak tahu kenapa aku melakukan ini?"
"Pergilah ke dapur!"
Sarah akhirnya meninggalkan tubuhnya tapi tidak dari kamar.
"Aku sudah bersabar selama satu tahun, menjadi selingkuhan kak Zahid. Apa kakak tahu bagaimana rasanya dianggap sebagai perusak rumah tangga orang di pekerjaanku?"
"Aku sudah menyuruhmu berhenti. Semua gaji dan biaya hidupmu juga selalu kukirim"
"Ibu ingin aku menikah. Usiaku tidak muda lagi"
"Aku akan mencarikan suami untukmu"
"Dengan latar belakang selingkuhanmu. Bagaimana bisa aku menikah?"
"Lalu, apa maumu?"
"Nikahi aku!"
Zahid tidak percaya dia mendengar sesuatu yang konyol seperti ini. Boni sudah pernah mengingatkan dia akan hal ini, tapi dia tidak menganggap Sarah akan melakukan hal itu. Tapi kini dia sadar. Hati wanita memang tidak pernah orang tahu isinya.
__ADS_1