The King

The King
Episode 72


__ADS_3

"Tuan. Mereka bergerak" lapor Boni pada Zahid ditengah rapatnya dengan pemimpin proyek di Cina.


"Dimana?"


"Perusahaan"


"Apa Leonard ada di dekat Layla?"


"Iya"


"Kita selesaikan ini dan segera kembali"


"Baik"


Zahid mempersingkat rapat yang dilakukannya dan memberikan beberapa pengarahan sebelum kembali ke hotel dan bersiap untuk kembali ke perusahaan. APa yang mereka lakukan disana? Bukankah seharusnya mereka diam karena tidak melihat ada pergerakan apapun dari Layla? Apa keberadaan Layla mengancam mereka? Sial. Zahid tidak menyangka mereka akan bergerak secepat ini.


"Apa yang mereka lakukan sekarang?"


"Ke ruangan Anda"


"Apa? Sudah satu tahun mereka diam dan hanya mengamati. Kenapa sekarang seperti ini?"


"Mungkin karena kehadiran Nyonya di perusahaan"


"Layla hanya kuberikan tugas sederhana. Tidak ada yang akan melapor kepada mereka kalau Layla sudah siap memimpin perusahaan. Dimana istriku?"


"Nyonya ... berhadapan dengan mereka di ruangan Anda?"


"Sial. Apa pesawat ini tidak bisa lebih cepat lagi?"


"Kita berada di penerbangan komersil Tuan"


"kenapa juga kau memberiku pesawat ini?"


"Hanya ini penerbangan yang tersedia. Pesawat jet Tuan Graham tidak dijadwalkan terbang hari ini"


"Sial. Sial. Apa kau sudah menghubungi Frank?"


"Sudah.Tapi Tuan Graham tetap di kediamannya. Karena ... "


"kalau Tuan Graham bergerak, maka itu menegaskan arti keberadaan Layla di perusahaan. Sialan. Harusnya aku tetap berada di perusahaan"


Saat Zahid sibuk mengumpat di atas awan, Layla berdiri berhadapan dengan sepupu pertamanya yang sedang duduk di kursi Presdir.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Layla tidak percaya dengan yang sedang dilihatnya.


"Sepupuku. Ternyata kau emmang ada di perusahaan"


"Apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


"Aku? Aku sedang mencoba kursi yang diduduki oleh aktor kita yang pandai berakting itu"


Aktor? Apa maksus sepupu Layla itu adalah pak Zahid? Bukankah hubungan mereka baik? Kenapa Layla merasa sepupunya itu tidak menyukai pak Zahid sekarang?


"Lalu?"


"Apa?"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan disini?" tanya Layla lagi. Dia yakin sepupunya itu ada disini bukan hanya untuk mencoba kursi pak Zahid. Melihat betapa ketatnya pengamanan untuknya yang dilakukan Leonard, sepertinya Layla bisa menebak.


"Tidak ada. Aku hanya mendengar kalau suamimu tersayang sedang berlibur di luar negeri bersama kekasih barunya. Dan aku ... menghangatkan kursinya"


Layla menatap sepupunya curiga. Layla tahu kalau paman dan sepupu pertamanya itu sangat ingin menduduki puncak kepemimpinan perusahaan Graham. Tapi tidak tahu kalau mereka berani sampai datang ke perusahaan dan melakukan hal ini.


"Kurasa sekarang kursinya sudah cukup hangat" kata Layla tegas. Dia juga mendenkat ke arah kursi yang sekarang menjadi milik suaminya itu.


"Kenapa? Apa kau juga ingin duduk disini?"


"Kenapa Nona ingin duduk disitu? Nona bisa mendapatkan apapun tanpa harus duduk di kursi itu" ucap Leonard tiba-tiba mengejutkan Layla. Sepupu pertamanya tertawa kencang dan sedikit mengerikan lalu berdiri dari kursi dan segera menghampiri Leonard. Layla mengikuti langkah sepupu pertamanya dan kembali terkejut saat sebuah tamparan keras mendarat di pipi teman masa kecilnya.


"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya lalu memeriksa keadaan pipi Leonard.


"Seorang pengawal rendahan sepertimu harusnya tetap menghilang dan tidak kembali kesini" kata sepupu Layla lalu pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Layla ingin menyusul sepupunya dan balas menampar tapi dihentikan oleh Leonard.


"Jangan Nona. Saya tidak apa-apa"


"Dia tidak berhak melakukan itu. Tunggu saja aku akan ... "


"Apa?"


"Anda harus tetap di perusahaan sampai Tuan Abassy pulang"


"Laki-laki itu pulang? Bukankah agendanya di Cina masih mengharuskan dia tinggal sampai lusa?"


"Tidak. Tuan Abassy saat ini sudah ada di dlam pesawat dan kembali ke perusahaan. Anda sebaiknya kembali ke ruangan dan melanjutkan pekerjaan"


Apa? melanjutkan pekerjaan? Apa Leonard sudah gila? bagaimana bisa dia melanjtkan pekerjaan setelah melihat kejadian seperti ini? Dia seharusnya meminta penjelasan kepada sepupu pertamanya itu karena sudah berperilaku seenaknya di perusahaan ini. Tapi Leonard sungguh-sungguh dengan ucapannya dan memaksa Layla kembali ke ruangan. Sampai kedatangan suaminya yang seperti habis melakukan maraton.


"Kau ... disini" kata pak Zahid membuat Layla heran. Kenapa laki-laki itu terengah-engah hanya untuk datang ke perusahaan?


"Ya. Saya disini. Memangnya saya ada dimana?"


"Kau,keluarlah!" kata pak Zahid dan memeberi isyrata pada Leonard untuk pergi dari ruangan.


"Kenapa Anda sudah kembali? Bukankah harusnya Anda ada di luyar negeri sampai lusa?'


Belum mendengar jawaban, laki-laki di depannya memandang layla dengan aneh. Dari atas ke bawah dan seperti memeriksa sesuatu.


"Kau ... kenapa ke ruanganku?"

__ADS_1


"Apa salahnya?"


"Kau tidak perlu pergi ke ruanganku walaupun sepupumu datang lagi nanti"


"Kenapa? Dia sudah berani duduk di kursi Anda. Bukankah seharusnya tidak boleh seperti itu?"


"Lakukan apa yang kuperintahkan dan lakukan hanya ... pekerjaanmu. Jangan memikirkan sesuatu yang bukan termasuk pekerjaanmu"


"Kenapa?"


"Kenapa kau selalu bertanya?"


"Apa?"


"Kau semakin banyak bertanya saat aku tidak ada disini. Lakukan pekerjaanmu dan segera pulang!"


Layla tidak habis pikir. Kenapa pak Zahid berperilaku seperti ini. Tadi dia juga merasa heran karena kelakuan sepupunya yang sudah berada diluar batas. Tapi ternyata apa yang diperbuat pak Zahid sekarang lebih aneh lagi. Seperti membiarkan saja sepupunya melakukan apapun. Apa hubungan mereka sedekat itu sampai pak Zahid mungkin akan memberikan perusahaan pada sepupunya begitu saja? lalu apa yang dilakukan Layla sekarang? Bukankah laki-laki itu berjanji akan mengajarinya agar dapat memimpin perusahaan ketika sudah siap?


Tidak sabar dengan semua kecurigaannya, membuat Layla keluar dari ruangan dan mencari suaminya. Dia harus tahu arti keberadaannya di tempat ini. Dan kembali menegaskan kesiapannya untuk memimpin perusahaan. Lalu setelah itu, membebaskan pak Zahid agar dapat menjalani kehidupan bahagia meskipun tanpanya. Kebetulan Leonard tidak ada dimanapun dan Layla segera berjalan ke ruangan pak Zahid.


"Nyonya" sapa pak Boni yang terlihat kelelahan.


"Apa pak Zahid ada di dalam ruangannya?"


"Iya, tapi"


Dengan tidak sabar, Layla membuka ruangan Presdir dan melihat sesuatu yang mengejutkannya. Laki-laki itu sedang membuka baju dan menampakkan bagian atas tubuhnya yang berotot. Layla tahu bagaimana rasanya dipeluk kencang oleh otot itu sampai tidak bisa melawan. Dia mulai merasa ketakutan dan emmbatalkan niat untuk meminta penjelasan.


Dengan perlahan, dia mundur dan berusaha membuka pintu tanpa bersuara sedikitpun. Hanya satu centi lagi dan dia dapat keluar dari pintu itu. Dan usahanya ternyata sia-sia saja. Kini Layla mulai merasakan napas hangat yang berhembus di telinganya.


"Kau sangat merindukanku sampai menerobos masuk?"


Layla menyesal tidak bisa menahan diri dan pergi ke ruangan pak Zahid. Seharusnya dia diam saja sampai pulang nanti.


"Tidak. Saya hanya ingin bertanya sesuatu"


Tangan pak Zahid mulai menyentuhnya. Memberikan sensasi geli di perut dan dada Layla.


"Apa yang ingin kau tahu?" tanya pak Zahid dengan suara dalamnya.


"Sebaiknya saya keluar sekarang"


"Kenapa kau pikir bisa keluar?"


"Karena ini ruangan Anda"


"Lalu"


"Ini perusahaan"

__ADS_1


"Siapa yang akan berani mengganggu kita?"


Tidak. Tidak mungkin laki-laki ini akan ... . Layla berbalik dan melihat tatapan suaminya yang begitu lembut dekat sekali dengannya. Aroma laki-laki itu mulai menyelimuti tubuhnya dan memberikan nuansa hangat yang nyaman. Tidak tahu sejak kapan, tapi Layla mulai merasa terbiasa dengan kedekatan mereka saat berdua saja. Mungkin juga karena sebenarnya dia masih mencintai laki-laki ini. Meskipun hatinya sering merasa sakit, tapi dia memang mencintai suaminya.


__ADS_2