
Setelah berpandangan agak lama, Zahid tidak tahan lagi. Dia mencium rakus bibir istrinya dan tidak membiarkan perempuan itu mengambil napas. Dia tidak peduli meskipun perempuan itu sedang meronta dan ingin lepas darinya. Setelah puas, akhirnya Zahid melepaskan dirinya dan melihat air mata turun di ujung mata Layla. Perempuan itu menangis?
"Anda keterlaluan!" bisik Layla lalu beranjak pergi dari toilet.
Zahid tersenyum dan menganggap misinya berhasil. Inilah memang yang diinginkannya. Layla membencinya, kalau bisa sangat membencinya. Tapi kenapa dia merasa bersalah? Apa karena air mata yang mengalir di pipi istrinya? Zahid mengacak-acak rambutnya dan merasa kesal pada diri sendiri.
"Tuan" Akhirnya Boni masuk ke dalam toilet.
"Apa?"
"Nyonya sepertinya sakit. Wajahnya pucat"
Pucat? Itu bukan karena sakit tapi disebabkan ileh apa yang baru saja dilakukan oleh Zahid.
"Biarkan dia pulang"
"Tapi ... "
"Kirimkan semua pekerjaan yang belum dia selesaikan ke rumah. Dia harus menyelesaikan semuanya dengan cepat"
Zahid kembali tenggelam dalam pekerjaan tapi bayangan Layla yang menangis di depannya tidak bisa hilang dari pikirannya. Saat waktu pulang tiba, dia memutuskan membawa seikat bunga sekedar untuk menyatakan rasa menyesalnya pada Layla. Dia masuk ke dalam rumah dan tidak melihat istrinya dimanapun. Baik di depan televisi maupun kamarnya. Tapi Leonard tidak melaporkan kalau Layla pergi keluar dari rumah hari ini. Apa pengawal istrinya itu mulai berbohong padanya sekarang? Zahid sekali lagi mengitari rumah dan menemukan pintu kamar yang dulu digunakan Layla saat masih menjadi asisten rumah tangganya terbuka. Dia masuk dan menemukan Layla tertidur di atas tumpukan berkas dengan sebuah laptop menyala.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Zahid dengan suara keras, sengaja ingin membangunkan Layla. Perempuan itu bergerak sedikit lalu menoleh ke arahnya berdiri. Sedikit terkejut dan masih merasa mengantuk, membuat perempuan itu berdiri dengan goyah. Tentu saja Zahid maju dan memeluk pinggang istrinya sebelum perempuan itu terjatuh ke bawah. Tapi Layla tidak mengharapkan pertolongannya dan menghalau tangan Zahid dengan kasar.
"Apa yang Anda lakukan disini?"
"Aku yang bertanya padamu lebih dulu. Apa yang kau lakukan disini?"
"Saya menyelesaikan laporan yang Anda inginkan. Ini!" kata Layla lalu menyerahkan sebuah laporan di tangan Zahid.
"Kenapa kau mengerjakannya disini?"
"Saya merasa nyaman disini"
"Lakukan di kamar atau di sofa"
"Terserah saya"
"Apa sekarang tiba saatnya untukmu beranjak dewasa?"
"Apa?"
Dari tadi Zahid merasa kesal karena ucapan kasar Layla yang terus ditujukan padanya.
__ADS_1
"Kau marah tanpa alasan"
"Tanpa alasan?"
"Kau juga mengulangi apa yang aku katakan"
"Apa? Memangnya kenapa? Kalau Anda tidak suka pergi saja sana"
"Kau adalah istriku dan bawahanku. Jangan pernah bicara dengan nada seperti ini padaku!"
"Kenapa? Apa Anda ingin saya selalu bicara manja dan halus seperti Sarah?"
"Kenapa kau membawa-bawa nama Sarah?"
"Ohhh. Anda marah rupanya saya menyinggung nama Sarah"
Zahid tidak mengerti dengan perubahan sikap yang sekarang ditunjukkan oleh Layla. Perempuan ini seperti api yang menyala dan sulit sekali untuk tenang. Padahal sebelum dia pergi ke Tiongkok, Layla tidak seperti ini.
Akhirnya perempuan itu tenang setelah Zahid terdiam untuk sejenak. Lalu Layla mulai membereskan berkas yang ada di bawahnya dengan wajah yang kesal. Karena melayani kemarahan istrinya, Zahid melupakan bunga yang ada di tangan kanannya. Dia menyodorkan bunga itu ke arah istrinya dan sekali lagi menerima perlakukan kasar yang tidak biasa ditunjukkan oleh Layla.
"Anda ingin memamerkan bunga untuk Sarah?"
"Apa?"
"Kenapa kau pikir aku membelinya untuk Sarah?"
"Lalu untuk siapa? Nyonya Hannah? Nyonya Martha? Apa mereka datang kemari dengan Sarah dan akan mengusir saya pergi?"
Belum sempat menyangkal, Layla keluar dengan tumpukan berkas dan laptop di tangannya. Melewati Zahid begitu saja tanpa merasa menyesal telah berkata sesuka hati. Dia pergi menyusul Layla dan melihat kedatangan ibunya berdiri di tengah ruangan.
"Ibu. Sejak kapan?"
"Baru saja"
Layla kembali menunjukkan tingkah laku yang lain dari biasanya. Perempuan itu pergi ke lantai dua tanpa menyapa ibu Zahid.
"Layla!"
"Kenapa dengan Layla?" tanya ibunya yang juga terkejut melihat keanehan pada Layla.
"Tidak tahu. Tingkah lakunya benar-benar aneh hari ini"
"Apa Layla sakit?"
__ADS_1
Zahid kembali melihat ke arah kamarnya di lantai dua dan berusaha menahan emosinya.
Layla masuk ke dalam kamar dan melempar semua berkas yang dibawanya di atas ranjang. Dia kesal setiap melihat wajah laki-laki itu. Sejak pagi ini laki-laki itu datang, kejadian di kamar mandi kantor dan sekarang, semuanya semakin membuat Layla merasa kesal. Dia ingin mencakar dan menggigit tubuh laki-laki itu dengan taringnya. Seakan ingin merobek-=robek daging pak Zahid yang selalu membuatnya seperti istri yang tidak ada harganya di hadapan semua orang.
"Dasar gila!" teriaknya lalu membanting tubuhnya sendiri di atas ranjang. Menjatuhkan berkas yang tadi menutupi ranjang ke lantai dan menimbulkan suara berdebum yang lumayan keras.
Tak lama, ada suara langkah kaki mendekat. Layla melihat ke arah pintu dan merasa semakin keal saat laki-laki itu masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa ada suara sesuatu jatuh? Kenapa kau membuat semuanya berantakan?"
Layla tidak tahan lagi mendengar semua ocehan laki-laki yang kemarin tidak ada di rumah itu. Tidak tahu kenapa, sekarang Layla berharap suaminya pergi ke luar negeri lagi unbtuk urusan apapun dan bersama siapapun.
"Aku mau tidur. Keluar sana!"
"Kenapa denganmu?"
"Keluar!!!"
Tidak pernah sekalipun Layla pernah berteriak sekerasa ini pada siapapun. Dia sendiri juga terkejut karena bisa mengeluarkan nada sekasar itu pada laki-laki yang ada di depannya. Tapi hatinya merasa baik-baik saja. Dia tidak menyesali apapun yang sedang dilakukannya sekarang.
"Aku tidak tahu ternyata kau memiliki sifat seperti Nona Muda"
Emosi Layla bangkit kembali dan semakin memanas mendengar komentar suaminya.
"Memangnya kenapa? Apa saya salah berlaku seperti yang seharusnya sebagai putri satu-satunya keluarga Graham? Penerus perusahaan yang sekarang Anda pimpin hanya karena menikah dengan saya?"
"Layla"
"Kenapa? Apa ada ucapan saya yang salah?" ucap Layla dengan berkacak pinggang di atas ranjang. Seperti seorang putri yang ingin menunjukkan kehormatannya. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemah lalu tak sadarkan diri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya suara yang seperti jauh disana itu.
Layla membuka matanya perlahan dan melihat wajah laki-laki yang membuatnya kesal sampai pingsan itu.
"Sial. Pergi sana"
"Kau pingsan. Apa kau sakit? Dokter akan datang lima menit lagi. Bertahanlah!"
Layla berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat suaminya dan berbalik menghindari wajah itu.
"Tidak perlu. Saya baik-baik saja"
"Aku tahu kau marah padaku. Tapi kau bisa menlanjutkannya nanti setelah tubuhmu sehat. Bencilah aku lagi nanti. Sekarang perhatikan saja dirimu sendiri"
__ADS_1
Cih, menyebalkan sekali mendengar kata-kata itu dari laki-laki yang bahkan berselingkuh dengan terang-terangan meskipun sudah memiliki istri sepertinya. Sepertinya mulai sekarang Layla akan terus membenci laki-laki itu dengan segenap hatinya. Dia tidak ingin merasa sedih dan meratap sendiri lagi. Lebih baik seperti ini agar dia memiliki kekuatan yang cukup untuk memimpin perusahaan saat mereka bercerai nanti.