
Sebelum Layla habis kesabaran, ibunya datang dengan Nyonya Hannah. Begitu juga dengan pak Boni yang kembali dengan Frank. Sedangkan ayahnya tidak lagi menyambut tamunya lagi. Namun itu bukan sesuatu yang aneh lagi untuk Frank, Layla dan ibunya.
"Maafkan aku, suamiku sangat sibuk sekarang. Dia senang dengan pertemuan keluarga ini" kata ibunya berusaha menutupi ketidak pedulian suaminya.
"Tidak apa-apa ... Ibu" jawab pak Zahid membuat Layla tidak percaya. bagaimana bisa laki-laki ini memanggil ibunya dengan sebutan itu.
"Kami akan pulang sekarang" lanjut pak Zahid lalu melihat ke arah Layla.
"Iya, aku dan ibumu telah membicarakan masalah pertunangan kalian yang akan diumumkan bersamaan dengan ulang tahunku minggu depan. Semua pasti lancar karena Frank telah menyiapkan segala sesuatunya"
Layla sama sekali tidak ingin bicara atau melihat ke arah Nyonya Hannah dan mantan majikannya. Dia tidak pernah tahu apapun tentang rencana pertunangan dan pernikahan secara detail. Semua ternyata sudah ditentukan dengan baik oleh Frank dan orang tuanya.
"Baiklah, kami akan pergi. Selamat malam, Nyonya Graham dan Layla"
Kini Layla terpaksa tersenyum dan mengangguk hormat kepada calon mertua yang dikenalnya.
Yang tidak pernah diduganya adalah mantan majikannya itu mendekatinya dan menghadiahkan sebuah ciuman hangat di dahi Layla. Tentu saja hal itu mengejutkannya, tapi laki-laki itu tersenyum dan berbalik pergi.
"Ya Tuhan ... putriku, kau baru saja menerima ciuman dari aktor paling terkenal di negeri ini!!!!" seru ibunya tidak tahu kalau Layla pernah menerima lebih dari ini.
Setelah mantan majikannya pulang, Layla segera pergi ke ruang kerja ayahnya.
"Apa semua ini rencana ayah?" tanyanya tanpa mengindahkan kesopanan lagi. Dia kesal sekali. Kesal karena ayahnya meneruskan rencana perjodohan yang tidak diinginkannya. Layla marah karena apapun upaya yang dilakukannya tidak pernah mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Dan terakhir, Layla kesal sekali karena semua kejadian kebetulan ini tampak telah direncakan oleh ayahnya.
"Kenapa kau pikir seperti itu?"
__ADS_1
Seperti biasa, ayahnya tidak pernah melihat ke arahnya ketika berbicara. Semua itu karena Layla adalah anak perempuan. Bukan anak laki-laki yang diharapkan ayahnya.
"Tidak ada di hidup ini yang merupakan kebetulan"
"Ayah tidak akan melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti itu"
Jawaban dari ayahnya membuat Layla kesal. Kalau bukan ayahnya yang merencanakan pertemuannya dengan pak Zahid, lalu siapa? Apa mereka benar-benar bertemu karena kebetulan?
Layla keluar dari ruang kerja ayahnya dan pergi ke kamar. Tentu saja sekarang kamar itu berbeda jauh dengan kamarnya di rumah pak Zahid. Dengan luas tiga puluh lima meter persegi, Layla memiliki ranjang luas, sebuah ruang untuknya belajar, kamar mandi lengkap, dan lemari besar dan tinggi untuk menyimpan semua baju, celana serta gaunnya. Di kamar itu juga tersedia penyimpanan rahasia tempat Layla meletakkan semua perhiasan mahal pemberian orang tuanya. Tapi, kamar seluas itu tidak memberinya perasaan yang sama seperti sebelumnya. Setelah mengetahui kehidupan penuh kebebasan di luar sana, Layla merasa sepi di kamarnya sendiri. Padahal, banyak sekali pelayan berlalu-lalang untuk melayani orang tua dan dirinya.
Dia menatap buku-buku ekonomi yang dipelajarinya selama ini dan merasa kesal. Baru kali ini dia tidak memiliki keinginan untuk belajar lagi. Semua yang dilakukannya selama ini sia-sia saat resmi menjadi istri dari pak Zahid. Tunggu ... . Layla bangun dan duduk di atas ranjangnya. Kenapa ayahnya memilih laki-laki itu untuk menjadi suaminya dan penerus perusahaan? pak Zahid adalah seorang aktor dan tidak memiliki latar belakang memimpin perusahaan sama sekali. Pak Zahid juga sepertinya bukan orang yang menyukai hal-hal seperti itu. Lalu, apa alasan ayahnya memilih laki-laki itu?
Terlalu banyak berpikir membuat Layla pusing. Dia memutuskan untuk segera berganti pakaian dan tidur. Dalam mimpinya, dia masih melakukan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah mantan majikannya. Dia tersenyum senang dan tertidur pulas. Besok paginya, dia duduk di depan dua orang tuanya untuk makan pagi. ini saatnya dia menanyakan sesuatu yang kemarin malam mengganggunya.
Tentu saja pertanyaan mendadak Layla merusak suasana pagi di keluarga itu. Keheningan semakin terasa saat ayahnya tidak mengatakan apapun untuk pertanyaan Layla.
"Pasti karena Zahid adalah pria paling tampan di negeri ini, sayang. Apa kau pernah menemui laki-laki dengan badan kekar, tinggi dan tampan seperti dia?"
Jawaban ibunya tidak membuat Layla puas. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan ayahnya ketika memilih menantu sekaligus calon suaminya.
"Dia memiliki hutang besar pada ayah" jawab ayahnya lalu berdiri dan meninggalkan ruang makan begitu saja. Hal itu membuat Layla bingung. Hutang? Pak Zahid memiliki hutang pada ayahnya? Dia tidak boleh berdiam diri di rumah dan segera mendapatkan jawaban untuk hal yang membingungkan ini. Layla tidak menyelesaikan makannya dan berdiri.
"Mau kemana?"
"Bu, aku harus pergi"
__ADS_1
"Kemana?"
"Rumah pak Zahid"
"Untuk apa? Keputusan ayahmu adalah yang terbaik dan kau tidak perlu menanyakan tentang itu lagi, sayang. Yang harus kau lakukan hari ini adalah pergi ke desainer langganan ibu untuk memesan gaun pertunangan dan pernikahan. Ibu tidak ingin putri ibu tampak kurang menarik di hari bahagianya"
Layla mencibir semua yang dikatakan ibunya. bagaimana bisa hal ini tidak penting dari memilih baju. Bukannya keputusan ayah merupakan keputusan yang aneh? Frank juga tidak ada disana karena harus mengurus sesuatu di luar kota. Layla tidak dapat memuaskan keinginannya untuk mencari tahu dan menyerah. Dia mengikuti ibunya hari itu hanya karena tidak ingin melihat wanita yang paling menyayanginya itu sedih.
Sedari pagi, Zahid disibukkan dengan kegiatan terakhirnya sebagai aktor. Besok pagi, adalah saatnya Direktur tempat perusahaan yang menaunginya mengumumkan pengunduran diri Zahid dari dunia hiburan. Boni yang seharusnya menemaninya kini pergi bersama atasan barunya, Frank. Meninggalkan Zahid dengan pengawal-pengawal yang tidak dikenalnya. Para pengawal itu mulai mengikutinya kemanapun pergi sejak kemarin malam. Dan Zahid tidak percaya Tuan Graham telah membeli rumah di sekitar rumahnya yang sekarang untuk tempat para pengawal itu. Masa depannya yang sudah ditentukan akan segera terwujud.
"Zahid, aku akan merindukanmu, kita bekerja sama dengan baik di film kali ini" kata pemeran utama yang berusaha memeluk Zahid. Dan pengawal yang menjaghanya di sebelah kanan dan kiri tidak memperbolehkannya. Tentu saja semua orang merasa bingung dengan situasi baru ini, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.
"Maafkan aku. Aku harus pergi mengantar ibuku"
"Oh, iya"
Sore harinya, Zahid akhirnya bisa pulang ke rumah dan melihat ibunya memasak berbagai hidangan ditemani teman setianya.
"Kapan Bibi Martha kemari?" tanyanya mengejutkan kedua wanita itu.
"Zahid, aku tidak tahu kalau ternyata akhirnya kau menikah!!" seru Bibi Martha dengan nada tinggi.
"Ibu menceritakan tentang perjodohanmu yang luar biasa itu. Ibu sangat terkejut ternyata asisten rumahmu adalah calon istrimu nanti"
Zahid tidak bicara dan melihat ekspresi yang diperlihatkan teman ibunya. Ada senyum dan kepahitan disana. Mungkin sedih karena mendiang putranya tidak bisa mengalami hal yang sama dengan Zahid. Dan semua itu adalah kesalahan Zahid.
__ADS_1