The King

The King
Episode 77


__ADS_3

"Anda harus beristirahat lebih banyak" kata dokter keluarga yang memeriksa Layla. Padahal dia merasa baik-baik saja.


"Apa kemampuan Anda berkurang karena sudah tua?" tanya Layla mengejutkan dokter, pak Zahid dan juga ibu mertuanya.


"Layla!"


Dokter keluarga Graham sebenarnya tidak begitu tua. Hanya beberapa tahun lebih muda daripada ayah Layla.


"Saya membutuhkan waktu dengan Nona sendiri" kata dokter setelah melihat keadaan Layla.


"Baiklah. Kami akan menunggu di bawah" jawab Nyonya Hannah lalu mengajak pak Zahid pergi dari kamar.


Setelah semuya pergi, dokter mulai melihat Layla dengan seksama. Membuatnya tidak merasa nyaman.


"Kenapa? Kenapa melihat saya seperti itu?"


"Nona, Anda ... "


"Apa? Kenapa denganku?"


"Dengan siapa Anda melakukannya?"


"Apa? Apa yang kulakukan?"


"Seharusnya Anda memeriksakan diri lebih awal"


"Kenapa? Memangnya ada yang salah denganku?"


Kali ini Layla cukup merasa takut. Dia tidak merasakan sakit selain mual yang datang dan pergi sesukanya. Juga emosi berlebihan seperti yang sedang dirasakannya malam ini.


"Apa yang Anda rasakan akhir-akhir ini?" tanya dokter mulai membuatnya sedikit takut. Sakit perutnya sejak dulu selalu menjadi masalah tahunan yang tidak pernah berakhir. Itu karena dia memikirkan banyak hal dan tidak makan dengan teratur.


"Hanya mual dan kesal. Seperti yang selalu terjadi padaku" jawab Layla jujur. Dia tidak memikirkan hal lain terjadi padanya.


"Saya membutuhkan beberapa pemeriksaan agar pasti. Tapi sepertinya Anda hamil"


Sebuah kata yang dua kali didengar oleh Layla hari ini. Dari Raya dan sekarang dari dokter keluarga yang mengenalnya bertahun-tahun.


"Apa?! Bagaimana bisa ... "


Kata-kata yang akan keluar dari mulut Layla seakan tertelan kembali dan hampir membuatnya tersedak.


"Saya harap Anda datang ke rumah sakit besok pagi. Sebaiknya saya pergi sekarang agar Anda bisa beristirahat"


"Tunggu!" tahan Layla.


"Apa ada yang Anda butuhkan?"


"Hal ini... bisakah tidak ada yang tahu selain saya?"


"Nona. Ini adalah kabar baik untuk keluarga Graham. Bukankah sebaiknya ... "


"Tidak. Aku ingin menyimpannya sendiri"


"Tapi ... "

__ADS_1


Meskipun permintaan Layla agak sulit dilakukan tapi dokter keluarga Graham itu bersedia tutup mulut.


"Aku akan sangat menghargai kalau dokter tidak mengatakannya pada siapapun"


"Baik. Tapi Anda harus tetap pergi ke rumah sakit besok"


"Iya"


Setelah mendengar janji Layla, dokter keluar dari kamar dan meninggalkannya dalam keadaan bingung.


Hamil. Kalau benar dia hamil ... lalu bagaimana? Apakah dia masih bisa memimpin perusahaan? Bukan. Bukan itu yang lebih penting. Kalau sampai pak Zahid mengetahui tentang kehamilannya, apakah mereka akan bercerai? Tapi laki-laki itu mencintai wanita lain. Layla masih berkutat dengan pikirannya dan tidak menyadari ibu mertuanya masuk ke dalam kamar membawa sesuatu.


"Lebih baik kamu makan Layla"


Layla terkejut dan melihat wajah Nyonya Hannah. Dulu hubungan mereka baik sekali saat Layla masih menjadi asisten rumah tangga pak Zahid. Tapi setelah mengetahui kalau ibu mertuanya itu mendukung pak Zahid mengejar cintanya pada Sarah, Layla mengambil jarak yang cukup besar. Agar hatinya tidak tersakiti lagi.


"Nyonya tidak perlu melakukan itu"


"Kita jarang sekali bertemu selama satu tahun lebih ini. Aku harap kau menjaga tubuhmu dengan baik"


"Agar tidak merepotkan pak Zahid?" tanya Layla sinis.


"Meskipun pernikahan kalian diatur tapi tetaplah sebuah pernikahan. Zahid tetap harus bertanggung jawab terhadap keadaanmu"


Seperti sebuah pernikahan diatur yang biasanya. Asalkan masing-masing menjaga diri sendiri dengan baik, maka tidak akan ada masalah yang berarti.


"Saya pastikan segera menjadi pemimpin perusahaan ayah dengan cepat. Agar pak Zahid bisa terbebas dari pernikahan ini"


"Apa?"


Zahid melepaskan kepergian dokter tanpa mendapat informasi apa-apa tentang keadaan istrinya. Hanya perintah beristirahat dan makan yang teratur. Karena keadaan perut Layla memang agak terganggu dari kecil. Selain itu ... tidak ada lagi. Hal itu membuat Zahid kurang puas tapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Di dalam rumah dia melihat ibunya dari lantai atas. Sepertinya memberi sesuatu untuk Layla.


"Aku akan mengantar ibu pulang"


"Tidak perlu. Sebaiknya kau menjaga Layla saja"


"Dia hanya perlu tidur malam ini. Tunggu aku mengambil jaket dulu"


Zahid mengambil; jaket di kamar pakaiannya dan segera mengeluarkan mobil. Tanpa memeriksa keadaan Layla sama sekali.


"Layla tadi bilang pada ibu kalau dia akan segera mengambil kursi pimpinan" kata ibunya saat mereka dalam perjalanan.


"Iya. Dia sedang bekerja keras untuk itu. Tapi kemampuannya masih ... "


"Tapi ... Layla juga berkata akan membebaskanmu dari pernikahan ini. Apa itu artinya kalian akan bercerai?"


Zahid terdiam. Dia belum pernah membahas ini pada siapapun. Perempuan itu ternyata sudah mendahuluinya.


"Kalau Layla bisa memimpin perusahaan maka keberadaanku tidak ada artinya lagi"


"Tapi paman pertamanya yang mengancam akan merebut perusahaan itu bagaimana? Katamu mereka akan melakukan apa saja agar Layla tidak bisa duduk di kursi Presdir"


Zahid terdiam lagi. Semua ini sebenarnya masih dirahasiakan dan Zahid sedang memikirkan cara agar paman pertama Layla tidak pernah mengetahui rencananya dengan berpura-pura tidak memperhatikan perusahaan juga Layla. Dengan mengeluarkan kabar perselingkuhannya dengan Sarah.


"Sampai sekarang mereka belum bergerak. Tapi mereka sudah tahu Layla bekerja di perusahaan. Mulai sekarang semuanya harus bergerak lebih cepat lagi"

__ADS_1


"Apa keadaanmu akan baik-baik saja? Melihat kesehatan Tuan Graham yang semakin menurun, ibu jadi khawatir"


"Yang terpenting adalah segera menjadikan Layla layak memimpin"


"Lalu kalian akan berpisah begitu saja?"


Zahid tidak suka dengan pembahasan p[erceraian ini, tapi semua itu akan segera datang baik dia siap atau tidak.


"Iya"


"Apa kau akan baik-baik saja?"


Baik-baik saja? Bagaimana dia akan baik-baik saja berpisah dengan perempuan yang dia cintai? Tapi nsemua itu demi Layla. Agar perempuan itu menemukan laki-laki lain yang lebih layak darinya yang sudah tua ini.


"Iya"


Setelah menjawab ibunya, Zahid kembali melihat ke arah jalan dengan pikiran yang dipenuhi dengan kata perceraian. Tiba-tiba dia merasa kesal lalu sebuah mobil mendadak memotong jalannya. Dia segera menginjak rem dengan kencang dan menahan tubuh ibunya yang tersentak keras. Untunglah jalan yang mereka lalui sedang kosong. jadi meskipun mobil Zahid terpaksa meliuk-liuk sebelum berhenti, tidak ada kendaraan lain yang terpengaruh.


"Apa ibu baik-baik saja?"


"Apa itu tadi?"


Syukurlah ibunya baik-baik saja. Zahid menekan gas perlahan dan melihat mobil yang memotong jalannya juga berhenti di depannya. Seperti ingin memastikan keadaannya setelah melakukan hal itu. Apa mereka? Sial. Seharusnya dia membawa pengawal tadi.


Sebuah telepon masuk ke ponselnya saat Zahid melalui mobil putih yang memotong jalannya itu.


"Halo"


"Kupikir kau berjalan-jalan dengan Layla"


Hampir saja Zahid berhenti dan ingin memeriksa siapa sebenarnya yang ada di dalam mobil putih itu. Tapi dia ingat harus tetap tenang dalam keadaan apapun, apalagi berhadapan dengan sepupu Layla yang gila ini.


"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya mengantar ibuku pulang"


"Kasihan sekali Layla. Apa dia harus mengalami malam yang sepi lagi?"


"Seperti biasanya"


"Kau adalah suami yang buruk Zahid"


"Aku tidak dapat memperbaiki kelakuanku"


Terdengar suara taw yang licik dari telepon dan membuat Zahid marah sekali. Sampai kapan dia haruys melakukan ini? Menjaga Layla tetap kesepian dan membencinya karena tidak ingin perempuan itu terluka oleh sepupu gilanya.


"Kau jahat sekali. Tapi aku menyukai gayamu Zahid"


"Kau seharusnya sedih mendengar adik sepupumu diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri"


Terdapat keheningan sesaat sebelum Zahid melihat mobil putih itu bergerak lagi. Kali ini mendahului mereka dengan kecepatan luar biasa dan emnghilang begitu saja. Zahid masih harus mengawasi sekitar dan berjaga-jaga agar tidak terjadi apa-apa lagi.


"Aku sangat sedih. Karena itu aku ingin mengundang kalian dalam pestaku. Tapi kau pasti akan membawa Sarah dan bukan Layla"


"Iya. Karena aku tidak suka didampingi anak kecil yang badannya bahkan belum berkembang itu"


"Sial. kau jahat sekali rupanya mengatakan hal itu tentang sepupuku. Pastikan ibumu selamat sampai rumah malam ini"

__ADS_1


Telepon itu diakhiri begitu saja, meninggalkan Zahid yang merasa marah sekali. Sampai telepak tangannya mencengkeram setir dengan begitu kuat.


__ADS_2