The King

The King
Episode 62


__ADS_3

Bangun tidur, Layla tidak menemukan pak Zahid di sebelahnya. Dia ingin sekali bangun tapi ... ini adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan Raya. Dan temannya itu telah menyetujui pengunduran dirinya kemarin. Jadi ... hari ini Layla libur. Itulah yang ada di pikirannya. Tapi ternyata tidak bisa. Karena pak Zahid ternyata telah menyiapkan berbagai agenda untuknya.


"Yang itu dan ini saja" kata pak Boni yang ditugaskan untuk membantunya memilih baju kerja.


"Apakah harus sebanyak ini Pak?"


"Nyonya harus tampak berkelas dan seius kalau memang ingin tampil di depan karyawan. Hal itulah yang utama bagi seorang pemimpin masa depan. Dan satu lagi, jangan pernah panggil saya dengan sebutan Pak lagi. Saya adalah bawahan Anda"


"Ohh. Iya maaf"


"Hapuskan kata itu juga dari kosa kata Anda! Anda tidak boleh meminta maaf untuk semua hal"


Ini seperti les etika privat. Semua yang dilakukan Layla mendapatkan komentar dari pak Boni. Duduk, berjalan, berbicara, semuanya mendapatkan perbaikan. Sungguh, Layla mengingat kembali cara ibunya mengajarinya etika saat masih berusia sepuluh tahun.


"Baiklah"


"Kali ini kita harus pergi membeli beberapa perhiasan"


Layla mengikuti pak Boni kemanapun pergi. Ada sesuatu yang berbeda saat ini, kehadiran tiga pengawal yang ada di sekitarnya. hal itu membuat beberapa orang mulai emmeberikan perhatian kepadanya. Apa mungkin inilah yang diinginkan oleh suaminya? Agar dia menyita perhatian banyak orang. Dengan begitu, perkenalannya besok akan menjadi lebih mudah.


Setelah membeli beberapa perhiasan, tas dan sepatu, akhirnya Layla masuk ke dalam mobil. Tak lama lagi dia akan pulang dan bisa meregangkan kakinya. Dan secara tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam mobilnya dalam kecepatan luar biasa. Laki-laki itu menutup dan mengunci pintu mobil lalu bergerak ke kursi yang ada di sebelah Layla.Laki-laki itu memakai topeng dan segera membuat kepanikan pengawal dan pak Boni yang ada di luar mobil. Tapi Layla tidak merasa ketakutan. Dia merasa biasa saja karena tidak pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya.


"Sungguh pengawal bodoh"


Tunggu, kenapa Layla seperti mengenal suara laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


"Dan lagi, kenapa Anda tidak berteriak Nona?"


Begitu laki-laki itu membuka topeng dan memperlihatkan wajah ke arahnya. Layla menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Teringat lagi kenangan masa remajanya yang penuh dengan kebahagian, tangis dan sakit hati itu.


"Leonard" ucapnya lirih, merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya sekarang.


"Selamat siang Nona. Apa Anda baik-baik saja?"


Tanpa menjawab, layla segera memeluk laki-laki yang ada di depannya. Dia tidak percaya bisa melihat Leonard lagi sejak hari itu. Hari dimana dia mengalami sesuatu yang mengerikan. Air mata mulai menggenangi matanya dan berusaha untuk lolos dari tempatnya.


"Leo"


"Apa Anda terkejut dengan gaya rambut baru saya Nona?"


Air mata Layla perlahan mengering, berganti dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Aku sudah bilang berapa kali, kau tidak cocok berambut pendek"

__ADS_1


Keudnya tertawa ringan lalu Layla memegang tangan Leo.


"Syukurlah kau tidak apa-apa"


"Iya"


Suasana pertemuan kembali mereka tiba-tiba berubah mencekam saat pengawal Layla memecahkan kaca mobil.


"Wah, mereka kuat juga" komentar Leo lalu membuka pintu mobil dan berdiri dengan santai.


"Kalian boleh juga. Tapi kalian emmiliki banyak kesalahan"


"Siapa Kau???" tanya pak Boni dengan berteriak.


"Kau pasti asisten Tuan Zahid. Bisakah pelankan sedikit suaramu?"


"Kutanya siapa kau??"


Layla tidak ingin menimbulkan keramaian yang lebih besar lalu memukul belakang kepala Leo dengan keras.


"Nona??"


"Yang hormat. Bagaimanapun mereka berusia lebih tua daripada kita berdua"


Layla tersenyum kepada pak Boni dan ketiga pengawalnya. Dia berusaha menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa laki-laki yang tadi menguncinya dalam mbil juga merupakan salah satu dari pengawal keluarga Graham.


"Tapi Nyonya, dia masuk tanpa permisi lalu ... "


"Tidak apa-apa pak Boni. Aku akan menghukumnya menggantikan kalian kalau perlu"


"Wah ... wah... sudah kembali dari tempat yang jauh. Kedatanganku disini rupanya tidak dihargai" ucap Leo sedikit memelas. Berusaha terlihat dikasihani.


"Sudah Leo. Kau harus bertanggung jawab mengganti kaca mobil ini dan segera lapor pada Frank"


"Kenapa? Bukan aku yang merusaknya. Dia yang merusaknya" jawab Leo dengan menunjuk salah satu pengawal Layla.


"Laporlah pada Frank dulu"


"Sudah"


"Jadi?"


"Mulai sekarang. Akulah pemimpin kalian di dekat Nona Graham. Keselamatan Nona adalah tanggung jawab kita dan aku tidak akan membiarkan kalian melakukan kesalahan yang bisa membuat keselamatan Nona terancam"


Layla menghela napas melihat wajah Leo yang kini menjadi mengerikan. Bahkan pak Boni tampak was-was berdekatan dengan laki-laki itu.

__ADS_1


 


"Akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan Nona mulai hari ini!! Itu yang dikatakan anak itu Tuan. Bagaimana Tuan? Apa kita harus bertanya pada Frank?" lapor Boni begitu kembali ke perusahaan.


"Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu. Itu urusan Frank dan Tuan Graham"


"Tapi, hubungan pengawal baru itu dengan Nyonya kelihatan lebih dekat. Sepertinya mereka memang kenal sejak kecil, padahal anak itu kelihatan masih muda sekali"


Zahid menghentikan tangannya yang sedang menandatangani beberapa berkas perusahaan lalu melihat ke arah Boni.


"Apa benar begitu?"


"Iya. Bahkan Nyonya kelihatan sangat memperhatikan anak itu dan berani memukul belakang kepalanya"


Siapa dia? tanya Zahid dalam hati. Sejak Layla berencana ke perusahaan untuk mengambil tahtanya, Frank tidak lagi melaporkan apapun. Apa dia perlu bertanya pada Frank? Zahid menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Lupakan masalah itu! Apa yang kuperintahkan beberapa hari lalu, sudah kau kerjakan?"


"Masalah pindah keluar negeri itu?"


"Iya"


"Aku sedang mencari negara yang kira-kira aman untuk ditinggali. Mungkin butuh beberapa hari lagi"


"Percepat pekerjaanmu!" perintah Zahid pada Boni.


"Tapi Tuan, apa benar kau akan melepaskan semuanya dan pergi begitu saja?"


Zahid melihat ke arah Boni yang kedengaran seperti mengkhawatirkannya.


"Iya. Semua ini memang bukan milikku"


"Tapi, seharusnya mereka tidak melakukan itu. Karirmu sangat bagus sebelum menjadi Presdir lalu, bagaimana nantinya?"


"Aku tidak ingin menjadi aktor atau semacamnya lagi. Aku hanya ingin memiliki hidup tenang dengan ibuku"


"Sarah dan Nyonya Martha juga?'


"itu adalah tanggung jawab yang harus aku ambil karena mereka adalah keluarga temanku"


"Hubunganmu dengan Sarah?"


"Apa kau digaji untuk bertanya? Kenapa kau lebih parah daripada wartawan?"


"Aku hanya bertanya. baiklah kalau kau tidak ingin menjawabnya. Tuan"

__ADS_1


Zahid melihat Boni pergi dari ruangannya. Dia lalu duduk bersandar di kursinya dan melihat pemandangan spektakuler dari jendela ruangan yang super besar itu. Dia bisa saja egois dan tidak ingin meninggalkan semua ini. Tapi, akhirnya dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Layla juga sudah mengatakan akan melepasnya pergi. jadi ... sekarang saatnya untuk menyiapkan kehidupannya yang baru. Bukan sebagai Presdir perusahaan orang lain. Bukan sebagai aktor yang dibentuk dari pengamatan orang lain.; Tapi hidup sebagai Zahid Amizan Abassy yang selalu diinginkannya. Kehidupan sederhana di sebuah desa dengan ibunya. Itu saja.


__ADS_2