The King

The King
Episode 61


__ADS_3

Zahid tidak suka dengan kata-kata itu. Cerai. Selama ini dia menghindari Layla karena tidak ingin mendengar kata-kata itu di telinganya. Tapi sekarang, kata itu telah terucap dari mulut perermpuan yang baru saja bangun tidur Sebelum hari ini, mungkin Zahid akan bereaksi berlebihan ketika mendengar kata itu. Tapi kini, dia lebih tenang. Karena ibunya telah menyadarkannya. Beda usia antara Zahid dan Layla memang terlalu jauh, lima belas tahun. Saat ini, Layla tampak bisa mencapai apapun yang diinginkannya. Sedangkan Zahid hanya bisa menjalani apa yang ada di depannya dengan sebaik-baiknya. Zahid juga tidak mungkin memaksa perempuan yang sebenarnya sah menjadi istri itu untuk melayaninya. Dia takut menyakiti tubuh muda Layla. Jadi ... .


"Lakukanlah yang kau inginkan. Aku akan menyiapkan diri untuk pergi dari perusahaan dan kehidupanmu" kata Zahid lalu keluar dari kamarnya sendiri. Dia ingin sekali turun dari lantai dua tapi langkahnya tertahan di tangga. Selama tiga puluh enam tahun hidupnya, baru kali ini Zahid seperti tidak memiliki kekuatan apapun. Dia duduk di tengah tangga dan hanya bisa melihat ke arah halaman belakang. Tempat dia sadar menyukai perempuan yang sekarang mungkin akan segera menjadi mantan istrinya itu.


Layla tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya. Ternyata perceraian memang sudah lama menjadi pertimbangan keduanya. Hanya saja tidak bisa dikatakan karena mereka berdua memang jarang bertemu. Tapi sekarang, sepertinya Layla bisa merelakan semuanya. Kalau perceraian ini membawa hal yang baik untuk pak Zahid, maka jadilah. Dia tidak bisa menahan laki-laki itu untuk mendapatkan keluarga yang lebih baik daripada harus bersamanya. Meskipun hatinya terasa perih, Layla menarik napas panjang dan turun dari ranjang. Dia harus segera menyiapkan makan malam. Setidaknya, selama mereka berdua masih berstatus suami istri, Layla ingin melakukannya dengan sebaik mungkin.


Dia turun dari kamar dan tidak mendapati laki-laki itu dimanapun. Apa pak Zahid keluar? Layla tidak mendengar suar mobil keluar dari tadi. jadi, laki-laki itu pasti masih ada disini. Layla pergi ke dapur dan mulai berpikir akan memasak apa.


"Kau tidak perlu memasak"


Layla terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Tapi ... "


"Karena kita tidak lama lagi berpisah, jangan melakukan sesuatu yang merepotkan. Lagipula, masakanmu tidak begitu enak"


"Apa?"


"Lebih baik kau mulai mempelajari perusahaan dan jangan melakukan hal lain yang tidak berguna"


Tidak berguna? Tidak begitu enak? Kenapa Layla tidak marah mendengar ejekan-ejekan itu. Apa memang masakannya selama ini tidak enak? Layla sibuk berpikir dan tidak sadar kalau suaminya sedang berada dekat dengannya. Aroma laki-laki yang kuat menyelubungi tubuhnya dan hal itu membuatnya sesak.


Layla terpaksa bergeser agar tidak terlalu dekat dengan suaminya.


"Sepertinya masakanku tidak terlalu buruk"


"Oh ya. Apa kau mencobanya?"


"Iya. Selama tinggal sendiri, aku juga memasak"


"Pasti lidahmu sudah rusak"

__ADS_1


"Apa?"


"Pesan makanan saja. Daripada aku harus keracunan masakanmu. Gara-gara kembali menjadi seorang putri, sepertinya kemampuan memasakmu hilang tak bersisa"


Kesal, itulah yang dirasakan oleh Layla sekarang. Dia memang jarang memasak karena inggal sendiri. Tapi apa masakannya begitu buruk sehingga harus mendapatkan ejekan itu.


"Dan juga, jangan bicara santai padaku!"


Kali ini Layla tidak mengerti lagi tentang permintaan laki-laki itu.


"Maksudnya?"


"Panggil aku dengan hormat. Aku berumur lima belas tahun lebih tua darimu"


"Ah" Layla menyadari kalau beberapa hari ini dia selalu menggunakan bahasa santai pada laki-laki ini. "Baiklah" katanya setuju.


"Hal pertama yang harus kau lakukan untuk menjadi pemimpin perusahaan adalah tampil percaya diri dan tidak mau direndahkan orang lain. Bukan seperti ini"


"Apa?"


Layla tidak bisa percaya. Dia akan emnerima pelatihan menjadi Presiden Direktur? Tidak dapat dipercaya. Tapi ... mungkin dia membutuhkannya. Lagipula, tidak akan ada orang yang bisa mempersiapkannya selain pak Zahid. Laki-laki yang kini menjabat menjadi Presiden Direktur Perusahaan Graham. Disaat layla berpikir, dia tidak tahu kalau laki-laki yang ada bersamanya selalu memperhatikan semua gerak-geriknya. Seperti ingin merekam semuanya dengan detail, tanpa ada yang terlewat.


"Baiklah. Saya akan senang menerima pelatihan dari Anda"


"Kalau begitu, pelatihan pertama dimulai. Jangan mendengarkan ejekan orang lain dan lakukan apa yang menurutmu benar"


"???" Layla tidak mengerti lagi.


"Memasaklah. Aku lapar" kata laki-laki itu lalu keluar dari dapur dan duduk di ruang makan. Apa?? Tadi masakan Layla diejek dan sekarang? Menahan rasa kesal, Layla segera mengambil bahan makanan dari lemari es dan mulai memasak.


"Silahkan" kata AMbar lalu menghidangkan makanan sederhana yang bisa dia masak cepat.

__ADS_1


"Duduklah!"


"Tidak saya ... "


"Kau tidak boleh merasa malu atau tidak enak pada orang lain kalau ingin menjadi Presdir yang baik. Kau harus sedikit ... egois"


Mendengar hal itu, membuat Layla duduk tepat dihadapan suaminya. Dia makan dengan tenang, tanpa mengatakan satu patah kata-pun. Sesekali, layla juga melihat laki-laki di depannya menikmati makanannya.


Malam semakin larut dan Layla kini selesai mencuci piring. Dia membuat es kopi dan pergi ke kamar tidur atas. Disana ternyata ada pak Zahid yang sedang berbaring di ranjang.


"Oh, sebaiknya saya tidur di bawah"


"Tidur saja disini. AKu juga tidak akan berbuat apa-apa padamu"


"Tapi ... " Layla ragu.


"Dua tahun menikah, aku tidak pernah menyentuhmu. Jadi ... apa masalahnya sekarang? Lagipula, mulai hari ini kita bukan lagi suami istri. Hanya guru dan murid yang terpaksa tinggal bersama"


 Layla heran. laki-laki ini begitu mudah bicara seperti tidak merasakan apapun dalam hatinya. Layla ingat saat mereka berciuman tadi pagi. Waktu itu Layla merasakan kehangatan dari suaminya. Tapi sekarang ... semuanya sudah berubah. Mungkin karena perkataan Nyonya Hannah dan juga permintaan cerai Layla.


"Iya" Layla menyerah. Dia meletakkan es kopinya di meja dan perlahan duduk di pinggir ranjang.


"Jangan pernah tidur terlalu malam"


"Apa?"


"Kau butuh tenaga penuh untuk besok pagi. Jadi, selalu tidur cukup setiap malam atau kau tidak akan bisa menghadapi siapapun di perusahaan"


Belum genap dua jam Layla mengatakan bahwa dia akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Kenapa laki-laki ini terus saja memberi nasehat padanya?


"Tapi, Anda sering tidak tidur kata pak Boni"

__ADS_1


"Aku laki-laki dan biasa tidak tidur karena profesiku dulu. Tapi kau ... "


Layla menggigit bibir bawahnya. Benar juga, laki-laki ini terbiasa menghadapi pengambilan gambar yang tidak mengenal waktu. Berbeda dengannya yang selalu butuh waktu tidur malam. Tidak ingin mendengar lagi nasehat dari laki-laki yang berbaring di sebelahnya, Layla memutuskan untuk tidur. Malam itu, dia tidur nyenyak sekali sampai matahari pagi datang menyapa.


__ADS_2