The King

The King
Episode 44


__ADS_3

"Putriku memang sangat cantik" kata ibu Layla tepat setengah jam sebelum pernikahan dilangsungkan. Salah satu hotel milik ayahnya telah dikosongkan selama beberapa hari sebelumnya hanya untuk acara ini.


"Iya" sambung Raya memberikan senyuman yang mencurigakan.


"Zahid sudah datang dan ibu terkejut karena dia tampak lebih tampan dari biasanya"


Layla berhenti tersenyum saat mendengar tentang calon suami yang akan segera dinikahinya itu. Dia teringat tentang apa yang terjadi kemarin malam di ruang kerja ayahnya.


Dia belum sempat bertanya tentang kenapa pak Zahid yang dipilih sebagai suaminya, sebuah tiket pesawat  disodorkan ke depannya.


"Maksud ayah?"


"Kau bebas untuk bersekolah dan melanjutkan studimu ke luar negeri kalau kau mau"


Sepertinya, ayahnya berkata kalau Layla menikah maka dia akan dibebaskan dari segala kewajiban sebagai putri seorang Graham. Apakah menjadi seorang perempuan merupakan sebuah kesialan bagi keluarganya? Kini, saat ayahnya akan segera memiliki penerus yang sesuai dengan keinginannya, Layla diusir begitu saja.


"Kalau ayah mengijinkan, aku ingin tetap ada di negeri ini. Aku akan menyelesaikan sekolah dan tidak akan mengganggu masalah perusahaan"


"Ayah masih berpikir lebih baik kau ke luar negeri"


Layla tersenyum pahit. Apakah dia sangat tidak berguna sampai harus diusir jauh dari perusahaan? padahala ayahnya juga tidak pernah peduli dengan semua perhargaan yang pernah diraihnya. Sungguh menyedihkan. Kini Layla hanya merasa bahwa kehadirannya memang tidak pernah berarti apa-apa di dalam keluarga Graham. hanya sebuah alat agar ayahnya mendapatkan seorang penerus.


"Aku tidak akan mengganggu pak Zahid dan urusan perusahaan. Aku juga tidak akan mengganggu ayah lagi setelah besok. karena besok aku adalah seorang Nyonya Abassy"


Layla berbalik dan meninggalkan ayahnya begitu saja. Dia tidak ingin tahu lgai alasan ayahnya memilih pak Zahid sebagai penerusnya. Yang harus dipikirkannya adalah dirinya sendiri. Masa depan apa yang diinginkannya setelah kehilangan peluang menjadi pemimpin perusahaan ayahnya secara sepenuhnya.


"Ayo, kita turun!" kata ayahnya dengan tatapan datar. Layla menyambut tangan ayahnya dengan dingin dan tidak berkata apa-apa. Di tempat pernikahan ternyata sudah penuh dengan tamu yang kebanyakan adalah keluarga. Media menunggu diluar untuk meliput tapi keamanan ayahnya tidak mengijinkan siapapun masuk. Dan laki-laki itu berdiri di ujung jalan, menanti Layla dan ayahnya masuk. Seorang laki-laki dengan postur, ketampanan, dan wibawa yang luar biasa. Layla tidaka akan bisa menyaingi pak Zahid untuk memimpin perusahaan. Apalagi, Layla dengar dari Frank, laki-laki itu menyelesaikan pendidikan Strata Duanya di luar negeri. Sebuah jenjang yang belum pernah dicapai oleh Layla. Entah kenapa, kekaguman pada laki-laki ini kini berubah menjadi kecemburuan.


Pernikahan berjalan begitu cepat dan lancar. Akhirnya ... Layla menjadi istri dari laki-laki yang berumur lima belas tahun lebih tua darinya. Akhirnya Layla hanya akan menjadi pajangan rumah seumur hidupnya.


"Dimana suamimu?" tanya Raya yang selalu menemainya sejak pagi tadi.


"Menghadapi media" jawab Layla kesal. Bahkan untuk menghadapi media, Layla tidak diijinkan berada di depan bersama laki-laki itu. Perannya sungguh kecil sekali di pernikahan yang baru berjalan selama lima puluh mneit ini.


"Lalu ... apa yang akan kau pakai nanti malam?" tanya Raya.


"Maksudmu?"


"Layla, kau menikahi laki-laki paling sexy di negeri ini. Dan malam nanti kalian akan segera ... "


"Segera apa?" Layla lapar sekali, dia ingin makan sesuatu. Dan tidak mempedulikan ucapan sahabatnya.


"Berhubungan badan"


Layla belum makan apapun, dia hanya minum air putih yang dibawakan pelayannya dan tersedak.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kenapa? Kalian kan sudah menikah"


Sebuah kenyataan yang tidak pernah dipikirkan oleh Layla selama ini. Dia lupa, tidak ... dia tidak pernah berpikir tentang hal ini sama sekali. Dan sesuai pengalamannya, laki-laki itu ... pasti akan menerkamnya. Tidak, tidak mmungkin.


"Raya, bolehkan aku menginap di rumahmu?"


"Kenapa?" Tiba-tiba saja wajah Raya berubah seperti ingin menggodanya.


"Memangnya, apa pernah terjadi sesuatu diantara kalian selama kau bekerja di rumahnya?"


Raya sangat peka. Sahabatnya ini pasti bisa merasakan ketakutan dalam diri Layla sekarang.


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku lapar"


Layla segera berdiri dan berjalan menuju meja makanan. Dia terdiam disana selama beberapa waktu dengan piring di tangannya. Pikirannya mengelana pada saat pak Zahid memberikan semua tanda merah di leher dan dadanya.


"Apa yang kau inginkan?"


Sebuah tangan besar mengambil piring dari tangannya dan mengambil beberapa roti.


"Apa kau suka daging?"


Seorang laki-laki dengan rambut hitam, tuksedo dan ketampanan luar biasa berada di sebelahnya. Detak jantung Layla perlahan meningkat.


"Aku tidak menepati janji untuk makan siang denganmu waktu itu. Aku juga tidak pernah menemuimu sampai saat ini. Maafkan aku"


"Tidak apa-apa"


"Pekerjaan di perusahaan ternyata lebih banyak dari yang kukira"


Layla baru ingat kalau laki-laki ini sudah bekerja di perusahaan sejak dua bulan lalu.


"Pasti tidak lebih melelahkan daripada syuting selama satu bulan penuh"


Laki-laki itu tertawa dan Layla sedikit tersipu karena mendengarnya.


"Apakah kau akan memijatku kalau aku kelelahan?"


"Apa?"


"Kau istriku sekarang. Kau harus menyuapiku, membangunkanku tidur, memijatku dan ... melayaniku"


Layla menelan ludah dan berusaha pergi dari depan meja penuh dengan makanan itu. Dia tidak berselera lagi makan sekarang. Tapi pinggangnya telah ditahan tangan laki-laki itu.

__ADS_1


"Saya ingin ke kamar kecil"


"Aku akan mengantarmu"


"Apa??? Hahahaha, tidak perlu"


"Gaunmu sangat berat, kau pasti butuh seseorang untuk mengangkatnya"


"Saya bisa sendiri, saya kuat"


"Kau harus menghemat kekuatanmu"


"Untuk apa?"


"Malam ini"


Sungguh, Layla belum pernah merasa ketakutan sampai detik ini. Kenapa laki-laki di depannya ini terasa seperti monster yang akan memakan habis dirinya. Dia mencoba untuk menenangkan hati dan berpikir bijaksana. Memang dia istrinya, namun bukan berarti laki-laki ini berhak melakukan apapun sesukanya. Lalu apa yang harus dikatakannya sekarang? Kenapa otaknya tiba-tiba saja bersih?


"Layla, Zahid"


Layla merasa sangat beruntung karena dia masih memiliki ibu yang akan menyelamatkan dirinya disaat sulit seperti ini.


"Ibu" jawabnya lalu berpindah tempat ke sebelah ibunya. Tapi gaunnya memang berat dan membuatnya hampir terjatuh. Untungnya tangan kuat itu menahan tubuhnya dengan baik.


"Aku sudah bilang. Gaunmu berat"


"Layla, apa yang terjadi kalau tidak ada Zahid. Kau itu memang masih bertingkah seperti anak kecil saja"


Ibunya pergi setelah mengeluarkan senyuman menggoda, membuat Layla tidak bisa pergi.


"Terima kasih pak Zahid"


"Kau masih memanggilku seperti itu?"


"Saya belum mmenemukan panggilan yang tepat"


Sesuatu mengejutkan Layla lagi. Kali ini tangan pak Zahid berada di pipinya


"Biasanya mempelai laki-laki akan mencium pengantinnya. Tapi entah kenapa tadi tidak ada yang mengatakan hal itu"


Wajah pak Zahid tepat berada di depannya, jantung Layla rasanya ingin meledak. Seseorang tolong, pintanya dalam hati.


"Tidak tahu, mungkin karena untuk menyingkat waktu"


"Kalau begitu, sekarang kita punya banyak waktu"

__ADS_1


Mata Layla terpaku pada mata hitam legam milik suaminya. Dia tidak bisa menghindar lagi. Meskipun dia berusaha memiringkan wajahnya agar tidak menerima ciuman, hal itu tidak membuat laki-laki ini berhenti. Pak Zahid menggunakan kedua tangannya untuk menahan wajah Layla dan memberikan kecupan pada bibirnya. Sebuah kecupan yang kemudian diperdalamnya.


__ADS_2