The King

The King
Episode 31


__ADS_3

Zahid melihat perempuan yang akan menjadi istrinya murung sejak pulang dari studio tempatnya bekerja tadi. Pasti ada sesuatu yang terjadi, karena Layla benar-benar bungkam dan tidak ingin menanggapi perkataan Zahid sama sekali. Sampai mereka sampai di rumah, Layla tetap bungkam dan tidak tersenyum sama sekali. Zahid mulai bangga karena rencananya membuat calon istrinya itu cemburu berhasil.


"Pak, apa yang harus saya siapkan untuk makan malam?" tanya Layla membuat Zahid menjadi tidak begitu yakin lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?"


Layla terlihat terkejut dengan pertanyaan Zahid. Kali ini, perempuan itu mendongak dan melihat Zahid dengan mata sayu.


"Tidak ada. Saya hanya bingung dengan menu makan malam hari ini"


Ada yang terjadi, Zahid yakin hal itu. Tapi ... perempuan ini terlihat malas mengungkapkan semuanya. Yang bisa dilakukan Zahid hanyalah bersabar untuk menghadapi calon istrinya yang masih sangat muda ini.


"Buat yang sederhana saja"


"Baiklah"


Layla meninggalkan ruangan dan masuk ke dalam dapur. Zahid hanya bisa mengawasi calon istrinya itu dari jauh. Malam tiba dan setelah Zahid membersihkan tubuh, Layla memanggilnya untuk makan malam.


"Semuanya enak. Aku sangat menikmatinya" puji Zahid tidak membuat Layla tersenyum ataupun tersipu sama sekali. Jelas sekali ada yang mengganggu pikiran perempuan ini. Zahid merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat saat dia melihat Layla duduk di taman belakang yang diterangi lampu. Sendiri menatap langit hitam di atasnya dengan tenang.


"Apa ada yang terjadi di studio tadi?" tanya Zahid tidak bisa menahan penasaran.


"Pak"


"Pasti ada sesuatu yang terjadi, sampai kau terus termenung seperti ini"


Layla terdiam sebentar lalu mulai bercerita.


"Saya bertemu dengan sahabat saya di studio tempat Pak Zahid bekerja. Dia terlihat sangat bahagia dengan pekerjaannya"

__ADS_1


Zahid tidak mengerti kenapa hal seperti itu membuat Layla merasa sedih.


"Lalu?"


"Melihatnya bisa melakukan apa saja membuat saya merasa iri"


Sungguh kejutan yang tidak pernah dibayangkan oleh Zahid. Seorang putri Tuan Graham yang sangat kaya ternyata memiliki perasaan seperti itu kepada temannya sendiri.


"Maksudmu?" tanya Zahid lagi, mencoba membuat calon istrinya ini bicara lebih banyak.


"Entahlah, memiliki kebebasan untuk bisa melakukan apa saja sepertinya sungguh menyenangkan. Sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan mungkin sampai selamanya nanti"


Setelah mengatakan apa yang ada di kepalanya, Layla menundukkan wajah. Membuat Zahid tidak bisa berkata apa-apa. Karena dia tahu jati diri perempuan yang sedang duduk di sampingnya. Ternyata, menjadi seorang putri yang kaya raya dan memiliki segalanya tidak terlalu baik. Sebelum terpaksa menjadi orang dewasa setelah ayahnya tiada, setidaknya Zahid masih bisa menjalani hidupnya dengan bebas. Tapi, Layla sepertinya tidak bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginannya. Juga dengan pernikahan yang akan terjadi pada keduanya. Hal itu membuat Zahid berpikir, mungkin saja perempuan ini sebenarnya tidak ingin menikah dengannya. Tapi Zahid tidak bisa menanyakan hal ini kepada Layla.


"Kadang, kita terpaksa menjadi seseorang seperti keinginan kita"


Layla melihat ke arah Zahid dengan wajah yang penuh tanya.


Penjelasan majikannya membuat layla terdiam dan melihat ke arah langit hitam yang kososng sekali lagi. Sebagai seorang yang dewasa? Dia baru berumur dua puluh satu tahun dan diwajibkan untuk menerima pernikahan ini. Apa mungkin itu memang kewajibannya sebagai putri dari pemilik perusahaan seperti ayahnya?


"Tidak perlu bingung sekarang. jalani saja hari demi hari seperti kau tidak akan bertemu besok. Lalu kau akan merasa bersyukur sudah menjalani kehidupan yang luar biasa" kata pak Zahid lagi, memukau Layla.


Sebagai seorang selebritis, pak Zahid ternyata sangatlah pintar menghibur orang sepertinya.  Akhirnya dia tersenyum dan melepaskan beban yang terasa berat di pundaknya.


"Benar. Masih ada waktu untuk menikmati hidup"


"Apa yang ingin kau lakukan besok?" tanya majikannya.


"Besok? Saya harus memasak, membersihkan rumah dan peralatan syuting pak Zahid, lalu ... "

__ADS_1


Tiba-tiba saja, tangan pak Zahid menggenggam erat jari-jari Layla.


"Tenang saja, aku akan ada di setiap langkah yang akan kau buat nanti"


Layla kini tidak mengerti dengan arah pembicaraan majikannya yang terasa aneh. Apa pak Zahid berusaha mengatakan akan bersama dengan Layla sampai akhir nanti? Hal itu mustahil untuk dilakukan. Karena Layla akan menikahi orang lain, pria yang sudah ditentukan oleh ayahnya. Segera saja dia menepis tangan besar yang memberinya kehangatan itu.


"Sebaiknya saya tidur sebelum terllau larut"


Layla segera pergi meninggalkan laki-laki yang menawarkan dirinya itu. Padahal, ingin sekali dia memeluk laki-laki itu dan bersama meleburkan perasaan yang mendesak hatinya selama beberapa hari ini. Sayangnya, tidak ada masa depan diantara mereka. Akan sangat sia-sia kalau Layla menuruti hatinya.


Pagi harinya, layla menerima akibat dari penolakannya. Pak Boni mengirim pesan agar dia menyiapkan keperluan pengambilan gambar majikannya. Dan segera setelah pak Zahid bangun dari tidurnya, seluruh asisten termasuk mpengawal dan pak Boni sampai di rumah. Keramaian di pagi hari yang sangat jarang terjadi. Layla juga sibuk menyiapkan makan pagi untuk semua orang yang ada disini. Dan seperti sebuah kilat yang cepat datang dan cepat pergi. Semuanya pergi dalam waktu satu jam setelah sarapan. Layla ditinggalkan sendiri di rumah besar ini lagi. Tanpa adanya kata apapun dari majikannya.


Dia mngalami hari-hari yang sepi sekali lagi, dan kini lebih lama dari sebelumnya. Satu setengah bulan. Waktunya mengalami kebebasan akhirnya selesai sudah. Layla hanya perlu menunggu majikannya yang akan datang soer ini untuk mengajukan surat pengunduran diri. Akhirnya malam tiba dan kedua majikannya tiba. Dengan suasana hati yang tidak baik.


"Aku sudah minta maaf berulang kali padamu"


"Tapi kau tidak perlu mengatakan semuanya pada mereka"


"Aku tahu, aku minta maaf"


 "Semuanya sudah terjadi, sekarang pikirkan bagaimana kau harus menanganinya"


"Tapi Tuan Graham dan Frank belum menghubungiku"


Layla menajamkan telinganya dan mendengar nama ayah dan pengawalnya disebutkan dalam pembicaraan antara kedua majikannya. Sungguh tidak biasa. Apa hubungan mereka dengan ayah sampai tahu tentang Frank?


Tapi sayangnya kedua majikannya tidak bicara lagi dan Layla gagal menemukan hubungan anatara semuanya. Yang dia tahu, sepertinya malam ini adalah waktu yang buruk untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Dia memutuskan untuk membuat kopi panas untuk pak Zahid dan pak Boni yang sedang bertengkar.


"Silahkan, Pak"

__ADS_1


Pak Zahid segera bangkit dari sofa setelah melihat Layla dan pergi ke arah kamarnya. Pak Boni juga terlihat sangat kesusahan malam ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Ada masalah apa sampai keduanya bertengkar? Bukankah mereka adalah aktor dan manajer yang kompak?


__ADS_2