
Tepat sebelum tengah malam, Zahid memutuskan turun dari kamarnya. Dia ingin minum sesuatu untuk menjaga kesadarannya malam ini. Dan di atas sofa yang ada di dekat ruang makan, terbaring seorang perempuan yang sejak tadi dihindarinya. Ternyata perempuan ini benar-benar tidur disini. Sungguh keras kepala. padahal Zahid menunggu Layla berjalan masuk ke dalam kamar dan mereka bisa membicarakan sesuatu dan nantinya melakukan hal-hal yang mengarah ke sentuhan fisik. Tapi ... disinilah Zahid sekarang berada. Berjongkok di depan wajah istrinya yang tidur dengan nyenyak.
Zahid menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah istrinya dan akhirnya melihat Layla. Layla yang tidak pernah dilihatnya dalam jarak sedekat ini, kurang lebih setahun yang lalu. Wajah yang kecil, hidung mungil, dan bibir tipis yang menggoda. Perlahan tangannya tidak tahan untuk membelai rambut Layla yang halus dan memberikan kecupan kecil di dahi istrinya. Sebenarnya tangannya tergoda untuk menyusuri tubuh istrinya yang tersedia di depannya. Tapi ... apa daya, dia tidak berani. Dia tidak ingin perempuan ini takut padanya. Mungkin saja nanti, kalau waktunya tepat. Istrinya akan datang sendiri padanya dan mereka bisa melakukan yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri. Untuk sementara, Zahid lebih baik menghindari tatapan langsung dengan istrinya. Tapi ...
Padahal, sebenarnya Layla belum bisa tidur sampai sekarang. Berada di lingkungan baru setelah terbiasa dengan rumah sewanya, membuatnya tidak bisa tidur. Lalu, apa yang sebnarnya dilakukan oleh laki-laki itu? Membelainya, mengecupnya tapi meninggalkannya begitu saja? Bukankah harusnya laki-laki itu merengkuhnya dan memperlakukan dia seperti selayaknya seorang istri? Mereka hanya berdua saja di rumah ini. Layla tersenyum, menertawakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tentu saja laki-laki itu tidak akan pernah melakukan apa yang sedang dipikirkan Layla. Kenapa? Karena laki-laki itu tidak mencintainya. laki-laki itu menyukai orang lain dan terpaksa ada dalam rumah ini bersamanya karena perintah ibu Layla. Sungguh menyedihkan, pikir Layla lalu kembali berbaring di atas sofa dan mencoba untuk tidur.
Tidak tahu jam berapa, Layla terbangun dan melihat sinar matahari masuk dari balik tirai jendela. Dia merentangkan tangan dan memeriksa jam tangan yang diletakkannya di atas meja. Pukul delapan pagi. Untung saja sekarang hari Minggu, dia libur bekerja. Ingin sekali Layla tidur lagi lalu tersadar kalau dia tidak berada di rumah sewanya yang kecil. Dia melihat sekeliling dan mengingat apa yang dikatakan oleh suaminya. Tidak ada pelayan saat hari libur. Dia yang harus menyiapkan makan. Dengan malas, Layla membereskan peralatan tidurnya, pergi ke kamar mandi bawah untuk membersihkan diri lalu datang ke dapur. Memeriksa bahan makanan dan mulai merencanakan makan pagi sederhana yang bisa dibuatnya.
Setelah memasak, dia menata semuanya di atas meja dan kembali ke dapur untuk makan. Dia tidak akan mau makan bersama laki-laki yang bahkan tidak ingin bersamanya. Hal itu terlalu menyedihkan untuk dirasakan. Setelah sarapan, dia mulai melihat-lihat keadaan rumah yang setahun lebih tidak pernah dia datangi. Semuanya benar-benar masih sama, hanya satu tempat di halaman inilah yang berbeda. Sebuah tempat bersantai yang terkesan feminin mempercantik halaman ini. Apalagi ada banyak sekali bunga dan tanaman berdaun warna-warni, membuat halaman terasa menyenangkan. pasti buka pemilik rumah yang membuat halaman ini menjadi seperti ini. Apa ibu mertua Layla yang membuat halaman rumah secantik ini? Nyonya Hannah memang memiliki selera yang bagus.
Setelah puas mengamati halaman, Layla kembali ke dalam rumah dan melihat laki-laki yang semalam meninggalkannya di sofa sendiri sedang makan.
"Aku pikir ini untukku" kata laki-laki itu
"Iya"
"Kau sudah makan?"
"Sudah"
"Baguslah"
__ADS_1
Pembicaraan apa ini? pikir Layla heran. Kenapa suami istri bicara dengan canggung seperti ini? tapi Layla tidak ingin memikirnya terlalu berat dan segera mengambil ponselnya. Memeriksa yang sedang terjadi di media sosial dan merasa puas karena kejadian semalam di pesta ulang tahun perusahaan tidak ada disana. Tapi, beberapa temannya menyaksikan apa yang terjadi. Apakah tidak akan ada masalah saat besok dia harus bekerja? Apakah Layla harus berhenti bekerja saja? Lalu, apa yang harus dilakukannya? Mencari pekerjaan di tempat lain atau bersekolah lagi? Kali ini ke luar negeri yang jauh dari keluarganya.
"Apa yang sedang kau lihat?" Layla terkejut mendengar suara laki-laki yang berada dekat sekali dengan telinganya. Dia tidak percaya laki-laki yang baru saja berada di meja makan kini ada di belakangnya.
"Hanya ... " jawab Layla lalu mencoba menyembunyikan ponselnya.
"Kau ingin pergi ke luar negeri?"
"Ahh, itu hanya ... . Yang terjadi semalam sepertinya akan mempengaruhi beberapa orang dan aku pikir akan lebih baik kalau ... "
"Kau ingin lari lagi?"
"Apa?"
"Lakukan apa yang kau inginkan tapi jangan merepotkanku lagi!"
Merepotkan? Layla merepotkan? Baru kali ini dia menerima sebuah komentar yang tidak disangkanya. Selama ini dia berusaha untuk membuat semua orang tidak menyadari kehadirannya. Dan semua itu dia lakukan hanya untuk kepentingan orang lain. Bukan dirinya. dan sekarang dia merepotkan? Perlahan, amarah yang selalu ditekannya selama ini menguap ke atas.
"Tidak akan. Aku tidak akan merepotkanmu dan kekasihmu karena hal ini"
Laki-laki itu menghentikan langkahnya di tengah tangga dan melihat Layla yang tidak peduli.
__ADS_1
"Apa katamu??"
"Aku pikir telah bicara dengan sangat jelas"
"Kau cemburu karena aku membawa Sarah kemanapun? Termasuk ke perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu?"
Sarah? Berani sekali laki-laki ini membawa nama perempuan lain saat bicara dengannya.
"Aku tidak peduli tentang itu"
"Kau pikir kenapa aku membawa Sarah dan bukan dirimu?"
Layla tidak ingin lagi mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki ini. Selama satu tahun, dia berusaha menyembunyikan dirinya karena tidak ingin perusahaan terganggu. Dia juga menekan perasaannya sendiri karena berpikir laki-laki ini telah menggantikan ayahnya memimpin perusahaan dengan baik. Layla berdiri dari sofa dan ingin menghindar dari pembicaraan yang menuju pertengkaran ini. Tapi .... laki-laki itu tidak mengijinkannya bangkit dan menekannya ke sofa dengan seluruh kekuatan tubuhnya.
Layla merasakan gesekan antara kulit kakinya yang terbuka dengan celana katun laki-laki yang ada di atasnya. Perlahan, panas tubuhnya meningkat dan detak jantungnya semakin cepat.
"Kau, begitu merepotkan Layla Graham"
Kini, wajah mereka menjadi sangat dekat. Napas laki-laki itu mulai menghanbgatkan pipi dan leher Layla. Rasanya sungguh tidak nyaman dan ... menyenangkan. Layla merasa sangat bodoh sekarang. Bagaimana bisa dia menganggap diinterogasi, diejek dan ditekan oleh laki-laki yang sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai istri ... menyenangkan?
"Kalau begitu kenapa kau tidak membawaku pergi dari sini?" tanya Layla dengan suara kecilnya. Sebenarnya, Layla ingin sekali berada di samping laki-laki ini. Ingin sekali mendukung dan memberi semangat pada laki-laki yang terpaksa menikahinya untuk kepentingan perusahaan. Tapi dia malu. Karena semua ini terjadi karenanya. Seandainya saja dia lebih dewasa dan bukan perempuan, mungkin keadaannya akan lain.
__ADS_1
Layla mengangkat tangannya dan mulai menyentuh wajah laki-laki yang ada diatasnya. Dia sungguh merindukan laki-laki yang menjadi suaminya ini. Meskipun laki-laki itu telah menjalin hubungan dengan perempuan lain, Layla masih tetap merindukannya. Sedetik kemudian, bibir mereka bersentuhan dan laki-laki itu memberikan kecupan di leher dan wajah Layla. Mereka menyatukan bibir lagi dan sepertinya tidak ingin memisahkan diri sampai kapanpun. Tapi, semuanya terpaksa berhenti saat Layla mendengar pintu depan terbuka.
"Zahid, Layla ... apa kalian ada di rumah?".