The King

The King
Episode 49


__ADS_3

Zahid melihat jam di tangannya dan bergantian menatap langit gelap yang ada diluar ruangannya dari jendela. Baru siang tadi dia pulang dari Tiongkok dan segera kembali lagi ke perusahaan untuk bekerja. Tapi dia beristirahat sejenak untuk meminum kopi panjas yang dimintanya pada Boni.


"Aku tidak tahu badanmu sangat kuat. Padahal kau sudah lama tidak berolahraga" kata Boni membuatnya mengalihkan pandangan dari langit gelap diluar.


"Aku mulai terbiasa" jawabnya lalu kembali ke belakang meja.


Dua bulan lalu mungkin Zahid tidak akan pernah membayangkan dapat mengatakan hhal ini. Dia merasa kelelahan disaat baru saja menjadi Presdir dan tidak dapat istirahat bahkan makan yang cukup. Kini, dia sudah lebih terbiasa dan dapat memberi waktu untuk tubuhnya rehat disaat tidak terlalu sibuk.


"Padahal kita belum pulang selama lebih dari tiga minggu. Dan begitu pulang, kita harus terus bekerja"


Zahid mengerti kalau Boni kelelahan. Latar belakangnya sebagai asisten aktor tidak mendukung jabatan barunya. Mungkin karena pekerjaannya semakin banyak, tubuh Boni mulai menyusut.


"Kalau kau lelah, pulanglah! Aku bisa menyelesaikannya lalu pulang" jawab Zahid.


"Aku juga heran sekali dengan perempuan yang kukenal. Padahal kupikir dia baik. Tapi kenapa seperti ini?" tanya Boni lalu berpose seperti muram.


"Siapa?"


"Layla"


Mendengar nama perempuan yang tiga minggu lebih tidak dilihatnya membuat penah Zahid berhenti bergerak.


"Kupikir perempuan itu sangat memperhatikanmu"


"Pulanglah!" perintah Zahid pada Boni yang mulai membicarakan tentang istri barunya itu.


"Lihat, kau juga memperhatikannya. Kalian memang saling menyukai lalu memutuskan menikah. Ternyata ... "


Zahid semakin kesal dengan komentar-komentar yang dikeluarkan oleh Boni.


"Lebih baik kau pulang!"


Mendengar peringatan Zahid, ternyata Boni tidak berhenti.


"Apa ... kalian sudah melakukan malam pertama?"


Zahid melemparkan berkas yang ada di atas mejanya ke wajah Boni. Baru kali ini dia melakukan hal ini pada asisten yang sudah menemaninya lima belas tahun itu.


"Bereskan semuanya. Aku pulang" Zahid berdiri dari kursinya dan keluar begitu saja, meninggalkan Boni di dalam ruangannya.

__ADS_1


Dia sampai di basement dan mendapati pengawalnya siap disana dengan mobil.


"Tuan Abassy"


"Aku ingin pulang" katanya lalu pintu mobil dibuka oleh pengawalnya.


Mobil Zahid berjalan mulus ke rumah keluarga Graham. Terlihat rumah berlantai dua tapi berukuran lebih kecil dari rumah utama keluarga Graham. Pintu mobil kembali terbuka dan Zahid turun di depan rumah yang baru satu kali ditinggalinya.


"Kami akan menjemput Anda besok pagi. Pak Boni telah emmerintahkan kami untuk datang pukul tujuh pagi" kata pengawal Zahid lalu pergi bersamaan dengan mobilnya. Zahid berjalan masuk ke dalam rumah dengan ragu. Banyak pertanyaan muncul di dalam kepalanya saat pintu telah berada di depan wajahnya. Apakah perempuan itu merindukannya? Apakah Layla menunggunya di balik pintu? Apakah istrinya itu merasa kehilangan karena berjauhan darinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu segera hilang karena pelayan membuka pintu rumah. Ada rasa kecewa muncul di dalam hatinya.


"Selamat datang, Tuan muda. Tadi Tuan dan Nyonya Besar ingin mengundang Anda makan malam tapi mempertimbangkan kalau Anda lelah maka dibatalkan"


"Ya" jawab Zahid lalu mengitarkan pandangan ke dalam rumah.


"Nyonya muda belum pulang dari Universitas" lapor pelayan yang kira-kira berumur lima puluh tahunan itu.


"Iya"


Zahid dibimbing oleh pelayan ke dalam kamar yang pernah ditidurinya sekali.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin tidur" jawab Zahid lalu menutupm pintu di belakangnya.


Dia melihat ruangan kosong yang sepi. Lebih baik tinggal di hotel daripada rumah yang sepi seperti ini, pikirnya lalu pergi ke kamar mandi.


Layla pulang dari perpustakaan Universitas tepat saat tengah malam. Rumahnya yang sepi kini terasa lain. Ada beberapa pengawal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Selamat malam Nyonya muda" sapa pelayan yang secara mengejutkan masih ada di rumahnya.


"Selamat malam. Kenapa ... ?"


Belum selesai dia bertanya, pelayannya memberi kabar kalau Tuan Abassy, suaminya pulang dari tugas luar dan sekarang tidur di kamar mereka. Layla berdiri diam di ruang tamu dan tidak dapat melangkah lagi. Seharusnya dia tidak pulang malam ini dan belajar sampai pagi. Tapi terlambat, dia telah berada di rumah.


Setelah pelayannya kembali ke rumah utama, Layla berjingkat menuju ke satu-satunya kamar di rumah ini. Tiga minggu sudah dia tidak pernah memikirkan tentang laki-laki yang menjadi suaminya itu. Bukan karena lupa tapi kesibukannya mengerjakan tugas akhir sangat tinggi. Berusaha membuka pintu dengan perlahan lalu masuk ke dalam kamar dan melihat punggung lebar yang ada di atas ranjang. Untunglah laki-laki itu tidur. Dia hanya perlu mengambil baju ganti dan barang-barangnya lalu pergi ke ruang perpustakaan bawah.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Perrtanyaan dengan suara dalam dan serak itu berhasil mengejutkan Layla. Dia menjatuhkan baju ganti dan peralatan mandi yang ada di tangannya. Pak Zahid tidak mempedulikan barang-barang yang jatuh ke lantai dan memperlihatkan raut wajah mengantuk.

__ADS_1


"Maaf, saya mengganggu istirahat ... "


"Keluarlah! Aku perlu toilet"


Layla pikir kalau laki-laki ini memergokinya, ternyata ...


"Iya" jawabnya dengan meraup semua barangnya yang jatuh dan melangkah pergi dari kamar mandi.


Ini merupakan kesempatan untuknya keluar dari kamar tapi Layla berdiri di depan kamar mandi seperti orang bodoh. Dan saat laki-laki itu keluar dari kamar mandi, Layla baru berbalik pergi.


"Ambilkan aku teh lemon hangat!" perintah pak Zahid membuat Layla heran.


"Apa?" Dia tidak pernah disuruh melakukan apapun sejak kembali ke rumah beberapa bulan lalu.


"Ambilkan aku teh lemon hangat! Apa kau tidak bisa mendengar?"


Merasa kesal dengan nada kesal yang disuarakan oleh mantan majikannya, Layla keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Entah kenapa dia mulai ingat hari-hari saat dirinya menjadi asisten rumah tangga pak Zahid.


"Ini, Pak" katanya lalu menyodorkan segelas teh lemon hangat pada mantan majikannya.


"Letakkan saja di atas meja!" jawab laki-laki yang duduk menghadapnya.


"Saya akan tidur. Anda sebaiknya beristirahat"


Beberapa detik sebelum dia keluar dari kamar, terdengar lagi suara suaminya.


"Tidak bisakah kita kembali seperti enam bulan lalu?"


Mulut Layla tercekat. Otaknya menghadirkan semua kenangan saat jantungnya selalu berdebar ketika berdekatan dengan mantan majikannya itu. Tapi itu sudah berlalu. Tidak ada nama laki-laki ini dalam tujuan hidupnya ke depan.


"Tidak bisa" jawabnya tegas dan menatap mata hitam kelam yang seperti mengupas kulitnya.


Tiba-tiba mata hitam itu menunduk dan tidak pernah melihatnya lagi.


"Aku akan membeli sebuah apartemen di dekat perusahaan. Dan kukira, orang tuamu tidak akan keberatan dengan hal itu asalkan kita menghadiri tiap acara penting bersama-sama"


Napas Layla memendek, jantungnya memanas setelah mendengar laki-laki di depannya berkata seperti itu. Ada bagian dalam tubuhnya menolak perkataan itu.


"Saya setuju" Tapi dia tidak dapat menepis keinginan kuatnya membangun kerajaan bisnis untuk membuktikan diri pada ayahnya.

__ADS_1


Jadilah kini dia duduk di ruang perpustakaan sendiri. Mencoba mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Bulir air perlahan mengalir dari matanya. Tidak tahu kenapa. Tapi hatinya terasa sakit sekali sekarang.


__ADS_2