The King

The King
Episode 74


__ADS_3

Meski canggung karena kejadian tadi siang. Layla tetap pulang ke rumah suaminya dan juga bertemu laki-laki yang sudah membuat hatinya kembali sakit itu.


"Nyonya" sapa Pak Boni lalu meninggalkannya di rumah dengan suaminya.


"Iya"


Tanpa menunggunya berbalik, laki-laki itu berjalan naik ke lantai dua dan tidak menunjukkan batang hidungnya sampai tengah malam. Layla memang sengaja tidak tidur di kamar dan lebih memilih berbaring di sofa besar ruang tengah. Dan saat suaminya turun, dia berpura-pura menutup mata. Ada hembusan angin dan suara napas yang terdengar jelas karena keadaan rumah yang sepi. Laki-laki itu pasti ada di dekatnya. Tapi untuk apa?


Tidak ada kata atau pun bisikan yang terdengar di telinga Layla saat dia menunggu. Dan akhirnya setelah keberadaan laki-laki itu tidak terasa lagi, dia membuka mata. Sebuah gelas berisi susu tiba-tiba ada di atas meja. Apa laki-laki itu yang meletakkannya disitu? Untuk apa? Bukannya pak Zahid tidak menyukainya? Lalu kenapa laki-laki itu? Layla ingin sekali mengutuk dirinya sendiri karena kelepasan menyatakan cinta padahal dia bisa menahannya. Sekarang pasti semuanya akan berjalan seperti sebelumnya. Sebelum Layla memberikan dirinya seutuhnya pada pak Zahid.


Dan benar saja. Sejak hari itu, berita kembalinya pak Zahid pada pelukan sang kekasih Sarah bertebaran dimana-mana. Layla tidak lagi terkejut tapi masih merasa tidak nyaman setiap kali melihat berita itu muncul. Tapi dia tidak terlalu mempedulikan perasaannya dan melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh Presdir Zahid.


"Ini sudah satu bulan dan kau masih belum mengetahui bagaimana cara ayahmu menjalankan bisnisnya?" tanya pak Zahid dengan suara agak keras.


"Maaf" jawab Layla merasa kecil sekali. Dia sudah mencoba memetakan semuanya tapi masih belum mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh laki-laki di depannya ini. Ayahnya mengadakan ribuan kerjasama selama dua puluh lima tahun.


 "Seharusnya kau sudah tahu dari jumlah investasi dan perusahaan apa yang ayahmu ajak kerjasama. Kau baru lulus kuliah satu tahun yang lalu dan melupakan semua pelajaranmu?"


Layla benar-benar merasa kerdil. Dia tidak pernah dipermalukan sampai seperti ini.


"Saya akan mencoba mencari tahu lagi"


"Lakukan dengan benar!! Dan kali ini kau hanya memiliki waktu lima hari sampai aku kembali dari Taiwan"


Layla kembali ke ruangannya dan tiba-tiba merasa sangat lelah. Mungkin karena dia terus berdiri untuk menunggu pak Zahid untuk melapor kurang lebih selama satu jam. Sepertinya, pekerjaan paruh waktunya dulu tidak terlalu melelahkan seperti sekarang.


"Kenapa Nona? Anda tidak terlihat baik" ucap Leonard yang menunggu di depan ruangannya.


"Kenapa kau terus saja ada disini?"


"Apa?"


"Kenapa kau terus menjaga disini?"


Tiba-tiba Layla merasa kesal dengan keberadaan Leonard dan segala pertanyaan-pertanyaannya. Dia ingin sendiri tapi di perusahaan Leonard selalu bersamanya. Sedangkan di rumah, dia harus melawan kata hati yang terus berbunyi di pikirannya.


"Apa Anda tidak apa-apa?"


"Pergilah!!" teriak Layla lalu sadar kalau dia sudah berlebihan. Sehrusnya dia tidak melampiaskan kekesalannya pada Leonard yang selalu setia menemani dan menjaganya itu. Hanya saja ... dia benar-benar ingin sendiri.


"Maaf. Tapi aku ingin sendiri" lanjut Layla lalu batal masuk ke dalam ruangannya.


"Nona, Anda akan pergi kemana?" susul Leonar seperti tetap ingin bersamanya.


"Toilet"


Layla memang berjalan ke toilet tapi dia tidak masuk ke dalamnya. Dia memilih untuk pergi ke lantai bawah menggunakan tangga darurat. Tepat dua lantai di bawah ruangan Presdir, terdapat banyak sekali pegawai yang juga sibuk. Karena sebagian besar tidak mengenal Layla, dia bisa berjalan dengan santai melalui semua ruangan-ruangan pegawai dengan santainya. Dan akhirnya dia sampai di kedai kopi yang terletak dekat dengan lobi perusahaan di lantai dasar.

__ADS_1


"Satu es kopi. Tolong" katanya lalu mengeluarkan uang dari dalam dompet.


"Baik. Apa Anda ingin gula?"


"Iya, satu saja"


"Baik. Silahkan tunggu"


Layla menerima kembalian uang lalu duduk di bangku dekat kaca dan melihat pemandangan diluar gedung perusahaan ayahnya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


"Layla!"


Dia berbalik dan menemukan temannya yang hampir dua bulan ini tidak pernah ditemuinya. Sejak dia pindah ke rumah pak Zahid.


"Raya!"


Keduanya berpelukan seperti tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun lalu duduk bersama dan menikmati kopi.


"Kenapa kamu disini?" tanya Layla.


"Aku ada kerja iklan"


"Oh"


"Apa yang kau lakukan disini? Minum kopi sendirian."


"Sudah satu bulan kita tidak bertemu.Apa kau baik-baik saja?" tanya Raya.


"Kenapa memangnya?"


"Kudengar suamimu memiliki kekasih baru lalu kembali ke kekasih lamanya"


"Oh, yang itu. Aku baik-baik saja. Semua itu tidak lagi mengusikku"


Bohong. Lagi-lagi Layla harus menyembunyikan perasaannya baik itu di depan Raya. Dia tidak ingin terlihat lemah karena masalah seperti itu.


"Apa kau benar-benar akan bercerai nanti?"


"Tentu saja. Tapi aku masih harus belajar banyak hal"


"Yah. Tentu saja. Menjalankan perusahaan sebesar ini pasti membutuhkan banyak kekuatan. Kamu pasti bisa"


Senang sekali mendengar dukungan dari sahabatnya yang selalu menemaninya disaat sedih maupun senang.


Tapi tiba-tiba perut Layla terasa tidak enak. Seperti ingin mual dan dia terpaksa menutup mulut dengan tangannya.


"Kenapa?" tanya Raya.

__ADS_1


"Mual. Sebentar"


Layla mencari toilet dan berlari sekencang-kencangnya diikuti oleh Raya. Di toilet, Layla memuntahkan hampir semua yang dimakannya tadi pagi. Kenapa perutnya terasa aneh seperti ini? Apa semua ini karena kopi yang dia minum? Tapi dia tidak pernah memiliki masalah dengan makanan sebelumnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Layla melihat Raya saat melihatnya keluar toilet.


"Iya"


"Apa kau?"


Layla melihat ke arah temannya dan tidak mengerti dengan ekspresi aneh yang ditunjukkan temannya itu.


"Apa?"


"Hamil?"


Layla tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Raya. Dia hamil? Hanya kerena mual? Ingin sekali dia memukul temannya itu lalu sebuah kecurigaan mulai muncul di kepalanya. Apakah mungkin? Tapi ... apa mungkin? Perlahan rasa takut merasuki hatinya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Dia memang tidak pernah melihat pak Zahid memakai pengaman setiap kali mereka melakukan itu. Tapi mereka melakukannya hanya beberapa kali. Tidak setiap hari seperti layaknya suami istri normal. Layla melihat ke arah temannya yang curiga dan mencoba untuk tertawa.


"Mana mungkin? hamil darimananya? Aku hanya kebanyakan minum kopi semalam dan hari ini"


"Apa kau tidak pernah melakukan hal itu dengan suamimu? Kalian kan tinggal bersama"


"Bagaimana mungkin? Dia kan memiliki ... "


Mendadak rasa mual itu muncul lagi saat Layla mengingat wajah bahagia Sarah yang muncul di berita. Kenapa dengan tubuhnya? Apa benar dia hamil? Tidak mungkin. Pasti tidak mungkin.


"Kau baik-baik saja?" tanya Raya lagi saat dia kleuar dari toilet untuk yang kedua kalinya.


"Iya"


"Apa kita perlu ke dokter?"


"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar"


"Tapi apa benar kau tidak pernah melakukannya dengan suamimu? Kalian kan hidup bersama sudah lebih dari satu bulan?"


"Raya. Itu tidak mungkin. Pak Zahid memiliki kekasih dan mereka saling mencintai"


"Layla"


"Aku sebaiknya kembali ke ruangan sekarang. kau juga sibuk kan?"


"Tapi ... sebaiknya kita ke dokter"


"Tidak perlu"


Layla dan Raya keluar dari toilet bersama-sama lalu berpisah di lift yang membawa mereka ke lantai tujuan masing-masing. Dalamkepalanya, Layla sibuk memikirkan apa yang harus dai lakukan. Apa dia harus membeli alat tes kehamilan? Dimana? Apotek? Kapan dia akan membelinya saat Leonard terus mengikutinya? Tapi apakah mungkin dia hamil? Atau ini hanya rasa mual karena kebanyakan minum kopi? Lift Layla terus naik membawanya ke lantai Presdir dimana semua orang disana sedang sibuk mencari keberadaannya.

__ADS_1


__ADS_2