
Layla melihat rumah yang dia kenal. Ingatan tentang bagaimana dia bisa mengenal rumah ini kembali dalam otaknya. Raya, berpern besar dalam hal itu dan Layla saat itu sangat bersyukur memiliki tempat tinggal sekaligus pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Apalagi, gaji yang diberikan majikannya dulu lumayan besar. Tapi, sayangnya semua hanyalah kenangan. Apa yang terjadi setelah itu tidak membuat Layla bahagia. Majikan yang berubah menjadi suami, ayah yang bahkan tidak menghargai usahanya, dan yang didapat oleh Layla hanyalah sebuah kegagalan demi kegagalan. Meskipun kini dia memiliki pekerjaan, impiannya untuk memimpin perusahaan telah kandas. Yang diinginkannya sekarang hanyalah mendirikan sebuah usaha yang dimilikinya, dibangun olehnya dan nantinya akan menjadi kebanggaannya.
"Apa Anda tidak akan masuk Nona?" tanya Frank yang mengantarnya.
"Berapa lama aku harus tinggal disini?"
"Nyonya besar telah memerintahkan untuk mengirim semua barang Anda ke dalam rumah ini. Jadi ... "
"Aku yakin ibu ingin sekali aku tinggal lama disini"
"Apa Anda ingin tempat lain?"
"Tidak, tapi simpan rumah sewaku. Kita tidak tahu kapan ibu berubah pikiran"
"Baik Nona"
Layla melangkahkan kakinya ke depan rumah mantan majikannya dan memencet bel. Biasanya dia yang membuka pintu dari dalam, tapi sekarang pak Boni-lah yang melakukannya.
"Nyonya"
"Pak Boni"
"Selamat datang, Presdir akan segera datang setelah memberikan keterangan pada media"
Layla sama sekali tidak peduli dengan laki-laki yang berhasil mekmasanya tinggal di rumah ini. Dia lebih tertarik menjelajahi dalam rumah dan mencoba membandingkan dengan ingatannya dulu.
"Sepertinya, semua masih sama dengan yang dulu" kata Layla menyentuh meja dapur tempat dia bekerja di tempat ini.
"Rumah ini tidak digunakan sejak saat ... Nyonya pergi. Presdir memilih untuk tinggal di apartemen selama transisi saat itu"
"Pak Boni bisa memanggilku seperti dulu. Tidak perlu terlalu formal"
"Bagaimana bisa saya melakukannya. Anda adalah ... "
"Istri Presdir Graham Real Estate?"
__ADS_1
"Bukan. Anda adalah ... "
Pak Boni belum selesai bicara dan ada suara mobil masuk ke dalam garasi rumah. Pemilik rumah pasti sudah selesai memberi keterangan pada media dan pulang ke rumah ini. Akhirnya, Layla akan serumah dengan suami yang terus dihindarinya sampai sekarang.
"Sebaiknya saya pergi"
"Apa Pak Boni akan datang lagi besok?"
"Iya, saya akan menjemput Presdir bekerja dan mulai besok akan ada seseorang untuk mengantar Anda bekerja"
"Frank yang akan mengantarku"
"Presdir telah mengutus orang baru karena Frank harus menemani Tuan Besar Graham ke Perancis besok"
"Perancis? Kenapa aku tidak mendengarnya dari Frank?"
"Saya tidak tahu hal itu"
Layla masih bertanya-tanya tentang kepergian ayahnya yang tidak pernah didengar olehnya, dan seorang laki-laki masuk dari pintu depan. laki-laki yang memberikan jasnya kepada Layla.
"Saya baru saja akan pergi. Selamat malam Presdir, Nyonya"
Layla ingin menahan Pak Boni tapi hal itu tidak akan membuatnya terlepas dari rumah ini. Jadi, dia memilih untuk diam dan melihat Pak Boni pergi dari rumah. Meninggalkan dia dengan mantan majikannya dan memasuki suasana canggung.
"Karena kita akan tinggal bersama disini,. aku akan menjelaskan beberapa hal" kata Pak Zahid membuka pembicaraan.
"Ya"
"Aku meminta pelayan datang hanya pada saat hari kerja. Untuk akhir pekan, kau yang harus menyiapkan makanan dan membersihkan rumah. Semua barangmu telah ditata di ruang ganti dan kita akan tidur di kamar yang sama"
Layla tidak keberatan dengan ada atau tidaknya pelayan dalam rumah ini. Dia juga tidak keberatan tinggal di rumah ini, tapi tidur dalam kamar yang sama? Sejak menikah sampai sekarang, Layla tidak pernah sekalipun tidur dalam kamar yang sama dengan suaminya.
"Aku akan tidur di kamarku yang dulu"
"Kamarmu sudah dijadikan gudang"
__ADS_1
"Aku akan tidur di sofa saja"
"Terserah kau saja. Aku tidak ingin berdebat denganmu"
Laki-laki ini ... kenapa mengijinkannya untuk tidur di sofa? Apa karena Layla memang tidak semenarik Sarah dan para wanita yang dirumorkan pernah menghabiskan malam bersama Pak Zahid? Dan kenapa dia merasa kecewa karena hal ini? Apa dia masih menyimpan perasaan pada laki-laki ini? Tidak, tidak boleh. Layla menarik napas dan mengangkat pundaknya yang melemah. Dia tidak ingin sekamar dengan suaminya dan itu akan terlaksana. jadi ... seharusnya dia senang. Laki-laki itu juga sudah meninggalkannya untuk beristirahat.
Layla pergi ke kamarnya dulu dan menemukan beberapa barang memang dibiarkan menumpuk disana. Padahal di kamar inilah dia mulai bermimpi menjadi pemilik usaha kecil-kecilan. Lalu dia berjalan ke arah kamar ganti dan tidak menemukan baju-bajunya. Tentu saja. Ibunya pasti membuang semua baju yang dibawa oleh Layla dan menggantinya dengan yang baru. Malas bertengkar dengan ibunya lagi, Layla memilih sebuah terusan dan mengganti pakaiannya. Dia kemudian mencari tempat penyimpanan selimut dan bantal yang dulu diingatnya berada di pojok ruang ganti. Setelah lama mencari, akhirnya dia menemukannya dan segera keluar dari ruang ganti.
"Apa saja yang kau lakukan di dalam sana?" tanya seseorang mengejutkan Layla yang baru keluar dari kamar ganti.
"Aku mencari selimut dan bantal"
"Kau bisa mengambil yang ada di kamar, untuk apa mencari lagi?" kata laki-laki itu lalu menerobos masuk ke dalam ruang ganti. Layla lupa, kalau ruang ganti ini sekarang mereka gunakan bersama. Setelah menata bantal dan selimut di sofa, Layla mulai mencari gelas di dapur untuk minum. Karena setahun sudah lama berlalu, dia sedikit harus mengingat dimana tempat semua barang-barang dapur.
"Apa lagi yang kau lakukan?" tanya pemilik rumah, lama-lama mengganggu Layla.
"Aku mencari gelas"
"Tidak bisakah kau mencarinya besok?"
Kesal sekali saat kau mencari sesuatu tapi ada yang terus saja bicara denganmu dan tidak membantu apa-apa.
"Sudah pergi saja sana!" kata Layla kesal lalu berjongkok muntuk memeriksa laci bawah.
"Kau mengusirku dari rumahku sendiri?"
Layla berhenti mencari selama beberapa detik untuk menarik napas dan melanjutkan apa yang dilakukannya. Tanpa mempedulikan laki-laki yang berdiri di pintu dapur.
"Kau mengusirku dari rumahmu dan sekarang kau mengusirku dari rumahku sendiri. Tidk dapat dipercaya"
Sungguh, Layla ingin sekali kembali ke rumah sewanya dan merasakan kedamaian tiap pulang bekerja. Kenapa juga dia menerima perintah ibunya begitu saja dan tidak melakukan perlawanan? Layla ingin membalas perkataan laki-laki itu tapi kemudian menemukan gelas yang dicarinya. Rasa marahnya telah hilang begitu saja sekarang. Dia berdiri dan menunjukkan gelas yang dicarinya.
"Ketemu!!"
Dia berjalan ke arah lemari es dan mengambil minum. Akhirnya ... rasa hausnya berganti dengan kesegaran yang menenangkan jiwa dan raganya. Layla menoleh ke arah pintu dapur dan ingin memamerkan kesegaran itu, tapi laki-laki yang sempat berdiri disana telah pergi. Disaat itu ada rasa kecewa yang menusuk hati Layla sekali lagi.
__ADS_1