The King

The King
Episode 52


__ADS_3

Harold melihat foto pernikahan putrinya. Di foto itu, Layla terlihat tidak bahagia dengan pernikahannya. Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya. Dan akhirnya, keluarganya memanfaatkan hal ini dan meminta makan malam keluarga hari ini. Pasti nanti akan ada pembicaraan masalah perusahaan. Hanya dengan lima bulan pelatihan menjadi pemimpin perusahaan, apakah Zahid, menantunya dapat menghadapi serangan keluarga Harold?


Memiliki anak setelah berusia hampir empat puluh tahun tidak menjadikannya ayah yang baik. Dia sibuk berpikir memajukan perusahaan untuk egonya sendiri. Dan melupakan bagian hidupnya yang terpenting. Kini, putrinya masih dua puluh tahun dan belum siap menghadapi semua yang telah dialaminya. Terutama desakan keluarganya untuk memilih salah satu keponakannya yang jahat untuk menjadi Presiden Direktur Perusahaan Graham Real Estate.


"Saya telah menginformaskan makan malam hari ini kepada Tuan dan Nyonya Muda" lapor Frank yang baru masuk ke dalam ruangannya.i


"Bagaimana pendapat Zahid?"


"Sepertinya Tuan Muda menganggapnya biasa saja"


"Benarkah? Sungguh mengejutkan"


"Apakah Anda mempercayai Tuan Muda untuk menghadapi makan malam ini?"


"Kita akan melihatnya nanti malam. Bersabarlah"


Harold meletakkan foto pernikahan putrinya di atas meja dan berjalan tertatih ke arah sofa. Saat memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, Harold merasa lebih santai dan nyaman berada di rumah. Mendapatkan pelayanan dari istri yang selama ini selalu dinomor duakan olehnya sendiri.


"Sayang" Harold melihat wanita yang dicintainya masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa?"


"Frank, aku tidak tahu kau ada disini"


"Saya akan keluar Nyonya, Tuan"


Setelah Frank keluar ruangan, istrinya mengeluh tentang makan malam yang mendadak diadakan.


"Aku belum menyiapkan gaun, apa yang akan kita gunakan nanti?"


"Tenang saja. Apapaun akan cantik saat kau pakai"


"Apa? Kau pasti mengejekku"


Harold tersenyum mesar lalu tiba-tiba terdiam karena merasakan sakit yang teramat sangat di kakinya. Efek samping kecelakaan yang dialaminya sepuluh tahun yang lalu mulai membuat tubuhnya rapuh.


"Ada apa?" tanya istrinya khawatir.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir tempat mana lagi yang belum kita kunjungi"


"Kau ini, aku khawatir dengan makan malam hari ini tapi ... "


"Tenanglah. Kali ini kita tidak akan menjadi pemeran utama"


"Itulah yang kukhawatirkan. Apakah Layla dan Zahid akan baik-baik saja?"


Graham memeluk istri yang telah menemaninya selama lebih dari tiga puluh tahun dengan masih menahan sakit.


Layla sampai di rumah dengan perasaan yang rumit. Dia tidak berhasil membujuk laki-laki itu untuk tidak hadir di acara makan malam hari ini. Juga menerima sesuatu yang sepertinya lebih berbahaya daripada makan malam keluarga. Kenapa dia melakukan semua itu tadi? Dan kenapa dia menerima ciuman dan sentuhan suaminya begitu saja? Sepertinya dia terlalu banyak belajar dan menginginkan pengalihan yang kuat. Tidak ... tidak boleh. Dia harus fokus untuk belajar dan menyelesaikan kuliahnya. Hanya dengan itu dia bisa keluar dari rumah ini dan membangun hidup yang diinginkannya.


Teori memang lebih mudah dipikirkan daripada prakteknya. Karena sekarang, Layla sedang melihat dirinya sendiri di depan cermin dengan gaun merah yang terlihat lebih dewasa dari umurnya. Gaun ini berpotongan rendah di bagian punggung, dan membungkus tubuhnya dengan ketat.

__ADS_1


"Apa ini?" tanyanya pada pelayan yang membawakan gaun untuknya.


"Tuan Muda yang membawakan gaun ini untuk Anda Nyonya. Nyonya muda kelihatan sangat cantik sekali"


Layla tidak senang dengan pujian pelayannya, meskipun itu memang benar. Dia terlihat lebih berbeda dari biasanya.


"Tuan Muda menunggu Anda di bawah"


Layla lupa kalau laki-laki itu sudah sampai di rumah sejak petang tadi.


"Iya, aku akan turun sebentar lagi"


Layla turun dari kamarnya dan melihat pak Zahid dengan setelan jas berwarna gelapnya. Bagaimana bisa laki-laki itu terlihat tinggi dan tampan malam ini?


"Kau cantik" puji laki-laki itu menghasilkan hawa panas masuk ke dalam tubuh Layla.


"Kita harus pergi sekarang" jawab Layla sebelum wajahnya memerah seperti gaunnya.


"Rumah utama dekat sekali. Apa kau ingin berjalan?"


Layla terkejut, dipikirnya pak Zahid adalah orang yang tidak suka berjalan. Mungkin karena pekerjaannya yang sebelumnya.


"Boleh"


Mereka akhirnya berjalan menyusuri padang rumput rapi disekitar rumah. kali ini minim penjagaan karena mereka ada di dalam lingkungan rumah Graham.


"Apa kau tahu tujuan diadakannya makan malam kali ini?" tanya pak Zahid mengejutkan Layla. Dia teringat lagi masalah saudara ayahnya yang tamak dan jahat.


"Baiklah. Lalu, apa yang kau siapkan setelah makan malam ini?"


"Apa?"


Pak Zahid berhenti melangkah membuat Layla sedikit takut memikirkan waktu setelah makan malam.


"Kau tidak lupa telah menjanjikan sesuatu padaku?" kata laki-laki itu lalu merengkuh tubuh Layla dengan mudah.


"Kita di ... "


"Apa? ini hanya padang rumput luas yang kosong"


Layla melotot, merasa kalau mantan majikannya ini siap melakukan apapun disini sekarang juga.


"Jangan ... "


"Jangan apa?"


Layla yakin kalau saat ini pak Zahid sedang menggodanya.


"Bisakah kita bicarakan hal itu setelah makan malam?"


Melihat wajah suaminya dalam jarak sedekat ini, membuat Layla merasa malu.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi aku tidak akan menahan diri nanti"


Terbayang sudah malam yang menyeramkan untuk Layla. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya ketika mereka sampai di rumah utama.


Satu persatu saudara ayah beserta putra putri mereka tiba juga di rumah utama. Layla menyambut semuanya dengan setengah hati.


"Ini pertama kalinya kami bertemu denganmu secara dekat Tuan Abassy" kata kakak ayah Layla yang sering menyodorkan putra pertamanya.


"Senang bertemu Anda"


Layla pikir, makan malam kali ini akan berjalan buruk karena pernikahan mendadaknya dengan pak Zahid. Ternyata tidak. Keluarga ayah Layla sepertinya menyambut pak Zahid dengan baik. Tepat sebelum makanan penutup dihidangkan, ternyata kakak ayah tidak tahan lagi menahan kejahatannya.


"Sungguh aneh melihat seorang Abassy memimpin perusahaan Graham" kata-kata kakak ayah kemudian dilanjutkan dengan komentar pedas dari anggota keluarga lainnya.


"Dia adalah menantuku" jawab ayah berusaha membela pak Zahid. Layla dan ibunya hanya diam saja di kursi mereka masing-masing.


Pembicaraan tentang penerus perusahaan terhenti sampai disitu. Makan malam akhirnya berakhir tapi keluarga ayah tidak memiliki keinginan untuk pulang. Terpaksa Layla dan ibunya menemani semua orang dengan senyum palsu mereka. Merasa bosan, Layla berdiri dan meminta ijin untuk ke kamar kecil. Dia melewati taman yang penuh dengan sepupunya, juga suaminya.


"Bagaimana bisa seorang aktor sepertimu menipu sepupu kami?"


"Iya. Layla masih sangat kecil dan tidak memiliki keinginan untuk berpacaran"


"Benar, kupikir anak itu tidak menyukai laki-laki"


Layla ingin sekali pergi ke kumpulan laki-laki tidak sopan itu lalu menghajar mereka satu-persatu.


"Mungkin karena Layla tidak dapat menolak pesonaku" kata pak Zahid dengan sombongnya. Tapi itu memang benar. Layla tidak dapat menolak wajah, tubuh dan sosok suaminya. Bahkan saat menjadi asisten rumah tangga laki-laki itu.


"Lalu, bagaimana dengan wanita lainnya itu?"


"Oh, iya. Aku melihat berita dan wajah kekasihmu terpampang disana"


Layla teringat masalah Sarah. Kali ini bagaimana pak Zahid akan menjawab pertanyaan sepupunya?


"Bukankah dia cantik?" tanya pak Zahid balik membuat Layla bingung. Dia berusaha menyembunyikan dirinya sendiri di balik tembok.


"Apa?" seru sepupunya.


"Kalian bertanya tentang perempuan itu. Apakah menurut kalian dia cantik?"


"Jadi, kau memang memiliki kekasih dan tetap menikah dengan Layla?"


"Kalian pasti mengerti kalau laki-laki sepertiku seharusnya memiliki banyak penggemar"


Layla tidak percaya mendengar kata-kata itu dari mulut suaminya. laki-laki yang beberapa saat yang lalu menggodanya.


"Wah, kami kira kau sama dengan si tua Harold itu Ternyata ... "


"Akan sia-sia memiliki tubuh dan wajah sepertiku lalu bersumpah setia hanya pada satu perempuan"


Semua sepupu laki-laki Layla berseru, mengagumi kehebatan pak Zahid dalam menipunya. Dia tidak ingin mendengar apapun lagi lalu bergegas untuk pulang ke rumahnya sendiri. Dia ingin sendiri sekarang.

__ADS_1


__ADS_2