
Zahid terpaksa menyusul Tante Martha untuk memastikannya pulang ke rumah dengan selamat. Tapi dia terlambat, ibu Lucas itu sudah pergi ke stasiun untuk pulang. Lalu, dia mendatangi Sarah yang bekerja di pusat perbelanjaan dan menerima tamparan keras.
"Ternyata itu alasanmu meninggalkan kakak?"
"Sarah, itu bukan alasan yang tepat"
"Kau meninggalkan temanmu demi uang dan ketenaran. Yang kukatakan selama ini ternyata benar"
"Sarah, kita sebaiknya bicara di tempat lain"
Zahid khawatir ada seseorang yang mengenalinya meskipun berada di basement pusat perbelanjaan.
"Tidak. Sudah cukup. Aku tidak ingin melihatmu lagi"
Sarah meninggalkan Zahid dalam keadaan kesal tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Dia terpaksa kembali ke rumah dan menghadapi ibunya yang merasa bersalah.
"Bagaimana?" tanya ibunya
"Tante Martha sudah pergi dan Sarah marah"
"Sarah juga tahu hal ini? Maafkan ibu. Semua ini kesalahan ibu"
Zahid melihat ke arah ibunya yang sempat gembira tadi pagi tapi siang ini kembali bersedih.Belum sempat menenangkan ibunya, ponselnya berdering. Frank. Sial, dia melupakan janji makan siang hari ini.
"Siapa?" tanya ibunya.
"Frank"
"Angkat saja. kalau ada sesuatu"
"Sudahlah Bu. Aku bisa mengurusnya sendiri!"
__ADS_1
Ibunya terdiam dan tidak berani berkomentar apapun ketika Zahid melewatinya untuk pergi ke ruangannya. Zahid melempar ponselnya ke ranjang dan tidak ingin mendengarkan apapun.
Besok paginya, Zahid dikejutkan dengan kehadiran Boni dan timnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa baju dan semua ini?"
"Zahid, kau akan melakukan sesuatu yang penting besok. Bukankah seharusnya aku melakukan ini?"
Boni mengambil sesuatu dari rak baju dan menghampiri ibu Zahid.
"Ini adalah gaun yang akan Anda pakai malam besok" katanya lalu kembali ke hadapan Zahid.
"Apa Frank menghubungimu?" tanya Zahid penasaran. karena setelah kemarin siang, dia tidak mendengar ponselnya berdering lagi.
"Tidak. Memangnya ada apa?"
Zahid heran dengan situasi yang baru ini. Biasanya Frank akan marah besar karena dia tidak menurut. Kemarin siang dia tidak hanya lupa janji makan siang, juga tidak mengangkat telepon Frank. Lalu apa yang terjadi kali ini?
"Selamat malam Tuan Graham. Selamat ulang tahun Nyonya" sapanya lalu membimbing ibunya melakukan hal yang sama.
"Selamat malam. Kau tampak sangat tampan calon menantuku" jawab Nyonya Graham dengan suara yang sangat halus.
Zahid tidak melihat kehadiran Layla dimanapun. Apa mungkin pengumuman perjodohannya dibatalkan karena kelakuan Zahid? Atau Layla yang membatalkan karena kecewa dengan kejadian Kamis siang kemarin. Tapi tidak ada pembicaraan mengenai hal itu dari Tuan Graham. Kegiatan saling menyapa itu tidak berlangsung lama, hampir sama seperti para tamu yang lain. Dan disinilah Zahid dapat melihat semua anggota Graham dan Nyonya Graham. Semua terlihat sangat berkelas dan ... sombong. Mereka benar-benar menunjukkan kalau mereka adalah anggota keluarga Tuan Graham. Terlihat dari penampilan dan perhiasan yang mereka pakai.
"Nyonya silahkan duduk" kata Boni mengawal ibu Zahid untuk duduk di tempatnya. Tapi Zahid tidak diperbolehkan duduk oleh Nyonya rumah.
"Layla akan keluar, kau sebaiknya disini. Dia merias dirinya dengan sangat baik hari ini"
"Baiklah, Nyonya"
"Setelah malam ini sebaiknya kau tidak memanggilku dengan sebutan itu lagi"
__ADS_1
Zahid tersenyum mendengar candaan Nyonya Graham. Dia mendapat kesan kalau Layla memiliki selera humor dari ibunya yang terlihat santai bahkan di acara resmi seperti ini. Keberadaan Zahid di sebelah Tuan dan Nyonya rumah tiba-tiba saja menarik perhatian beberapa orang. Mereka mulai bertanya-tanya kenapa seorang aktor dekat dengan seorang pengusaha yang sangat kaya itu.
Namun, perhatian ke Zahid berpindah dengan cepat ke seseorang yang memasuki tempat pesta. Perempuan yang biasanya terlihat sangat sederhana berubah menjadi seorang putri. Tanpa riasan, Layla juga terlihat cantik. Tapi sekarang, Zahid tidak bisa berkata apa-apa saat melihat calon istrinya berjalan bersama Frank.
"Putriku memang santik" kata Nyonya Graham bangga.
"Iya, Sangat cantik" jawab Zahid tanpa dapat mengalihkan pandangan.
Layla sampai di depan Zahid tanpa menundukkan wajah, terlihat percaya diri.
Acara segera dimulai setelah Layla hadir. Semua orang terkejut dengan perkenalan singkat putri Tuan Graham yang selama ini selalu disembunyikan. Dan tidak lama, mereka juga tampak tidak bisa berkata apa-apa karena pertunangan Layla Graham dan Zahid.
Zahid mengambil tangan Layla dan merasa darahnya mendidih. Perempuan ini bisa membuatnya tidak bisa berpikir. Setelah perkenalan singkat dengan semua anggota keluarga dan tamu yang hadir, keduanya kembali ke kursi dan mulai makan. Zahid memberi perhatian khusus pada tunangannya itu dan juga sebuah kecupan kecil di punggung tangannya. Reaksi Layla yang malu membuat Zahid ingin meletakkan beberapa tanda kepemilikannya di tubuh Layla. tapi dia menahan nafsunya dengan baik. Tidak tahu kalau dua pria menargetkannya untuk dibunuh setelah pesta ini, karena cemburu.
Esok harinya, semua media sibuk menuliskan kabar yang mengejutkan. Sang Raja akan segera menjadi raja yang sesungguhnya karena menikahi putri Tuan Graham.
Layla melihat berita di media dan menarik napas panjang. Dia sebenarnya menyiapkan diri untuk hal ini, tapi tidak dengan reaksi berlebihan beberapa komentar penggemar pak Zahid. Mereka menyalahkan Layla karena merebut pak Zahid yang merupakan idola mereka.
"Ibu baru tahu kalau kehidupan seorang aktor ternyata berat seperti itu. Zahid pasti merasa lelah dengan semua komentar yang ada di media sosialnya" kata ibunya yang juga membaca tiap artikel di media.
"Mereka juga pernah masuk tanpa ijin ke rumah pak Zahid" ucap Layla tidak sadar. Ibu dan kepala pelayannya tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Layla dengan cepat menyadari kesalahannya lalu meletakkan tab-nya.
"Aku mendengar dari Frank"
"Ooo, begitu. Ternyata menjadi aktor terkenal tidak terlalu menyenangkan ya"
Layla melarikan diri dari ibunya dan menuju ke kamar. Dia harus menjaga mulutnya. jangan sampai ibunya tahu kalau selama ini putrinya tinggal bersama calon suaminya. Dan pernah hampir melakukan sesuatu yang berbahaya. Dia duduk dan melihat amplop coklat di atas meja. Layla membuka amplop itu dan kaget. Ada surat membatalkan cuti kuliahnya selama satu tahun menjadi satu semester saja. Pasti ayahnya yang mengurus semua ini. Jadi, ayahnya memegang janjinya. Layla akan segera kembali kuliah bulan depan. Dia sangat gembira dan mulai merayakan, tidak peduli dengan calon suaminya yang memulai pelatihan sebagai Presiden Direktur Graham Real Estate.
__ADS_1