The King

The King
Episode 54


__ADS_3

Zahid melempar setumpuk berkas ke arah Boni.


"Laporan apa ini? Apa aku meminta sesuatu yang seperti ini?"


"Tapi, Zahid. Aku sudah mengerjakan sesuai yang kauinginkan."


"Jangan pernah panggil aku dengan nama disini. Di perusahaan ini akulah Presdirnya"


Meskipun Boni terlihat tidak mengerti dengan perubahan sikap Zahid yang mendadak, asistennya itu tidak melawan. Boni memilih untuk pergi ke ruangan yang ada tepat di sebelah ruangan Zahid.


"Aku akan memperbaikinya"


"Yah, kau harus!!"


Sebenarnya Zahid tidak memiliki masalah apapun dengan laporan yang diberikan oleh Boni. Dia marah, karena menjalankan ide dari Boni dan tidak memperkirakan akibatnya sama sekali. Setelah makan malam keluarga Graham, sudah seminggu istrinya itu tidak pulang sama sekali. Layla benar-benar menghindarinya dan memilih untuk tidur di rumah utama dengan alasan merindukan masa-masa sendirinya. Tentu saja orang tuanya merasa bahagia tapi Zahid kesal. Sangat kesal. Seharusnya seminggu lalu dia sudah mendapatkan apa yang seharusnya diberikan oleh Layla sebagai seorang istri. Tidak sendirian di atas ranjang yang luas, di dalam rumah yang sepi dan di lingkungan rumah yang masih asing itu.


Dan semua itu karena ide bodoh Boni. Ide yang seharusnya dia tolak mentah-mentah. Dan sekarang tidak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk menghindari hal ini. Meskipun kini para sepupu Layla itu mendekatinya seperti anak buah yang setia. Zahid menyesal melakukan semuanya. Dia tidak membutuhkan sepupu Layla yang mengharapkan kehancurannya. Yang dibutuhkannya adalah istrinya ada di atas ranjang tempatnya tidur.


 


Hari demi hari berlalu. Minggu dan bulan-pun berjalan begitu cepat tanpa merubah apapun yang terjadi diantara pasangan suami istri yang akan merayakan satu tahun pernikahannya itu. Beberapa bulan yang lalu, akhirnya Layla menerima satu gelar yang sangat diidam-idamkannya. Demi kelangsungan mimpinya untuk memimpin perusahaan, Layla mengambil pendidikan lanjutan juga belajar untuk mendirikan perusahaan sendiri dari sahabatnya.


"Bisakah kau ambilkan itu?" tanya Raya menunjuk sebuah properti yang akan dipakai salah satu artisnya pemotretan produk sponsor.


"Bisa" jawabnya singkat lalu menjalankan perintah Raya.


Sudah lebih dari dua bulan Layla bekerja sebagai asisten Raya dan rasanya sangat tidak mudah. Berbeda sekali dengan saat dia menjadi asisten rumah tangga mantan majikannya dulu. Saat itu, Layla merasa pekerjaannya ringan karena mantan majikannya tidak sering ada di rumah.


"Ini" katanya lalu menyerahkan properti pemotretan pada Raya.


"Letakkan disitu! Eh, bukan disini saja"


Tapi, ini adalah jalan hidup yang diinginkannya. Setidaknya sampai dia benar-benar memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin perusahaan ayahnya. Tapi, yang tidak pernah disadarinya. Pak Zahid sekaligus suaminya dia atas kertas itu kelihatannya memimpin perusahaan dengan baik. Nilai saham perusahaan yang tidak pernah turun membuktikan hasil kerja laki-laki itu. Sebenarnya Layla kesal menyadari keberhasilan pak Zahid. Namun di sisi lain, Layla bersyukur perusahaan ayahnya tetap berdiri di puncak kejayaannya selama ini.


"Layla, kenapa kamu diam?" tanya Raya menyadarkan Layla dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa lagi yang dibutuhkan?"


"Kamu bawa model kita ke tempat pemotretan"


"Oke"


Dengan sigap, Layla mengambil semua keperluan model dan mengawal ke mobil.


Di tempat pemotretan ternyata sudah dipenuhi banyak orang. Mungkin karena model yang dibawa Layla sekarang sedang terkenal saat ini. Karena konten kecantikan yang diposting oleh model itu sendiri.


"Mana minumku?" tanya model itu ketus.


"Saya sudah pesan. Tapi antriannya sangat penuh"


"Memangnya tidak bisa kalau minta didahulukan? Aku sangat sibuk"


"Saya akan mengambilnya sekarang"


Dalam pekerjaan ini, kesabaran Layla diuji sampai batasnya. Dia harus menghadapi banyak orang dengan sifat serta sifat berbeda. Tidak sedikit juga yang memperlakukannya dengan tidak baik karena menjabat pekerjaan penting saat baru saja diterima.. Tapi itu bukan masalah baginya, yang terpenting tidak ada yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.


"Apa benar? Duh, senang banget aku ketemu aktor yang kusukai itu"


"Ini adalah kesempatan bagus untukmu. Katanya Zahid sedang tidak akur dengan kekasihnya. Mereka terlihat sedang bertengkar beberapa waktu lalu"


"Kekasihnya yang pegawai mall itu?"


"Iya"


"Kalau kekasihnya yang artis terkenal itu?"


"Itu hanya rumor"


"Wah, itu berarti kesempatan buat aku"


"Iya, apalagi, kamu masih baru dan cantik. Eh, udah. Tuh asisten Bu Raya. Katanya kan Bu Raya temen istri Zahid"

__ADS_1


"Oh, iya"


Layla datang membawa dua minuman model baru itu. Untungnya, model itu tidak mengeluh apapun tentang minumannya.  Lalu pergi ke salah satu pegawai fotografer yang akan bekerja sama.


"Selamat siang"


"Oh, Layla. Kau sudah datang?"


"Iya. Pukul berapa pemotretan akan dilakukan? Model kami telah menunggu selama dua puluh menit"


"Sepertinya pemotretan akan ditunda sampai seseorang datang"


"Siapa?"


"Pemimpin perusahaan Graham Real Estate"


"Apa?" Layla terkejut dengan kabar baru yang tidak pernah didengar sebelumnya.


"Iya. Apa Bu Raya tidak mengatakan apa-apa?"


Layla menarik napas besar dan menghembuskannya lagi. Tentu saja Raya tidak akan pernah mengatakan apa-apa padanya. Layla pasti akan bersikeras untuk mundur dengan alasan apapun.


"Tidak" jawab Layla singkat lalu kembali ke model perusahaan Raya.


Semua orang di lokasi pemotretan menunggu selama lebih dari sepuluh menit lalu akhirnya Presdir Graham Real Estate datang. Dan Layla akan segera melihat suami yang tidak pernah dilihatnya selama satu tahun. Lalu, model yang ada disebelahnya mulai melakukan sesuatu yang berlebihan. Menebalkan riasan, mencoba pose yang berbeda dan lebih banyak bicara.


"Apa yang Anda lakukan?" tanyanya pada model itu.


"Aku ingin lebih naik kelas"


Layla bosan sekali mendengar sesuatu seperti ini. Dia sering melihat kabar cinta kasih suaminya dengan beberapa orang di media juga laporan dari sepupunya untuk bahan ejekan padanya. Kini dia tidak peduli lagi dengan siapapun suaminya diatas kertas itu bermain cinta. Perasaannya untuk pak Zahid perlahan juga menghilang sedikit demi sedikit.


"Oh, iya" jawabnya ringan lalu perlahan mundur untuk menyembunyikan diri. Dia tidak ingin seseorang dari perusahaan Graham Real Estate mengenalinya di tempat ini.


Saat beberapa orang mulai bergerak ke satu arah. Layla semakin dalam bersembunyi diantara banyak orang yang ingin melihat suaminya dari jarak dekat. Tapi dia tidak terlalu jauh dari model yang menjadi tanggung jawabnya. Dan akhirnya dia melihat laki-laki dengan setelan jas lengkap, tubuh tegap dan tinggi, serta wajah tampannya berjalan ke arah pusat lokasi pemotretan. Laki-laki itu menyapa beberapa orang dan mulai melihat ke arah model dari perusahaan Raya. Layla menunduk untuk menghindari mata suaminya, pak Boni dan dua pengawal yang mendekat.

__ADS_1


__ADS_2