The King

The King
Episode 67


__ADS_3

"Mmmm, apakah Anda akan meminta saya membuat laporan tentang sejarah kerja sama perusahaan?" tanya Layla sedikit membuyarkan konsentrasinya pada tubuh istrinya itu.


"Aku akan bertanya padamu tentang hal penting yang akan kau temukan nanti"


"Jadi, seperti tes?"


"Iya"


"Kalau saya salah menjawab. Apakah Anda akan menurunkan jabatan saya?"


Zahid melihat ke arah Layla dan seperti mendapatkan lampu hijau untuk masalahnya.


"Kau bisa melakukan hukuman yang lain"


"Misalnya?"


Kalau ditanya langsung seperti ini, Zahid jadi malu.


"Kita bicarakan nanti. Tapi apa yang kau temukan sejauh ini?"


"Belum ada. Tapi ... "


Kini Zahid melihat Layla yang serius.


"Tapi?"


"Saya baru tahu kalau ayah bekerja keras dari lama sekali. Saya sebagai putrinya tidak tahu dan menilai ayah selalu saja keluar untuk bekerja. Tidak pernah ada di rumah"


"Apa karena itulah kau membenci ayahmu?"


Layla memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat Zahid ingin segera memeluk dan menciumnya.


"Iya. Saya selalu berpikir seperti itu"


Zahid tidak tahan lagi, dia meninggalkan kursinya lalu mengangkat Layla dalam pelukannya. Lalu, tangannya bergerak dari punggung Layla menunju ... .


"Kau ... "


"Apa yang sedang Anda lakukan?"


Karena pertanyaan itu, Zahid menatap istrinya dengan menahan rasa malu. Sepertinya dia melakukan sesuatu yang salah. Pertama, dia menjauhkan tangannya dari pantat Layla lalu berusaha mencari alasan yang tepat untuk menghindar.

__ADS_1


"Aku ... "


Layla segera menjauh dan tampak canggung dengan apa yang baru saja terjadi. Dan sebelum Zahid bisa menjelaskan, pintu ruangannya terbuka.


"Kak Zahid ... "


Kedatangan Sarah memang membuat suasana menjadi tidak canggung. Tapi Layla segera pergi karena mengetahui Sarah datang untuk menemui Zahid. Seharusnya tidak begini, pikir Zahid lalu memperhatikan Sarah duduk di tempat istrinya tadi.


"Apa yang kau inginkan?"


Sarah berdiri, lalu mendekat ke arah meja kerja Zahid.


"Aku ... ingin minta maaf. Kelakuanku kemarin pasti mengejutkan kak Zahid. Tapi ... aku benar-benar tulus menyukai kak Zahid. Bisakah kak Zahid mempertimbangkan untuk bersama denganku setelah resmi bercerai dengan wanita itu?


Bercerai. padahal Zahid sudah lupa dengan kata yang dibencinya itu. Sejak kemarin, dia tidak pernah berpikir akan bercerai dengan Layla. Karena dia sangat mencintai istrinya itu. Tapi ... percuma saja dia berpikir begitu kalau Layla tidak memiliki keinginan yang sama. Tapi ... bukankah Layla yang meminta mereka bercinta kemarin? Apakah itu tandanya perempuan itu juga mencintainya?


"Kak. Apa Kak Zahid masih marah?"


Zahid melihat ke arah Sarah dan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh di kepalanya. Layla pasti hanya ingin melakukannya. Tapi malam kemarin adalah yang pertama kalinya untuk perempuan itu. Zahid bisa merasakannya. Jadi ... apakah Layla menyukainya atau tidak? Lalu apakah mereka akan tetap bercerai setelah setahun?


Rasanya kepala Zahid akan meledak karena memikirkan hal itu. Dia kembali melihat ke arah Sarah dan adik temannya itu sudah ada di atas meja kerjanya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa? Kenapa aku harus melakukan itu?"


Sarah kini turun dari meja lalu duduk di pangkuan Zahid.


"Atau aku saja"


"Turun!!" perintah Zahid lalu berusaha mendorong Sarah turun. Adik temannya itu jatuh ke bawah meja dan Zahid berdiri dari kursinya dengan merasa marah.


Layla kembali ke ruangan kecilnya dan merasa tidak baik. Sarah, berapa kali perempuan itu datang kemari? Padahal Layla sebagai putri pemilik perusahaan saja dilarang untuk datang ke perusahaan. Layla duduk di kursinya dan merasa menyesal telah menyerahkan dirinya semalam. Seharusnya dia menahan diri dan menjaga kesuciannya demi laki-laki yang benar-benar mencintainya. Bukan laki-laki yang menyukai wanita lain tapi bercinta dengannya. Kenapa sekarang dia merasa melakukan sesuatu yang salah pada Sarah?


"Apa Anda sudah makan, Nona?"


Leonard masuk ke dalam ruangannya dan sedikit membuatnya terhibur.


"Dari mana saja?" tanya Layla.


"Saya sedang memeriksa akses pintu keluar masuk perusahaan dan membelikan Nona makan"

__ADS_1


Layla tersenyum, merasa senang Leo kembali ke ruangannya. Setidaknya dia memiliki seseorang untuk diajak bicara.


"Sebenarnya aku sudah makan tadi. Tapi ... akan ku makan saja"


"Makan dengan siapa?"


"pak Zahid"


"Anda ke ruangan Presdir?"


"Iya, hanya sebentar"


"Kebetulan sekali. Saya memiliki sesuatu untuk dibicarakan dengan suami Anda. Bisakah Anda mengantar saya ke sana? Seorang pengawal baru seperti saya belum memiliki akses untuk pergi ke ruangan Presdir."


"Oh. Baiklah. Aku akan mengantarmu ke sana"


Layla dan Leonard berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Presdir. Mereka melewati ruangan sekretariat Presdir tapi tidak menemukan siapapun di sana. Mungkin pak Boni dan sekertaris lainnya sedang makan siang di kantin.


"Bagaimana bisa ruangan Presdir tidak memiliki banyak orang?" komentar Leo, membuat Layla mengangguk. Benar juga, bukankah seharusnya ada dua pengawal minimal untuk menjaga pak Zahid? Pengawal yang kemarin mengikuti Layla berbelanja.


"Apakah ini berbahaya?"


"Tidak, tapi saya tidak akan pernah meninggalkan Anda dalam keadaan seperti ini"


Mendengar perkataan Leo, membuat Layla menoleh ke kanan dan kiri. Memeriksa apakah ada pengawal yang menjaganya saat Leo pergi tadi. Benar saja, ada bayangan pria berbadan besar yang selalu mengikuti langkah Layla.


Mereka sampai di ruangan Presdir lalu Leonard membuka pintu dan mengumumkan kedatangannya. Tapi, pemandangan yang tampak di mata menghentikan langkah Layla. Baik Layla dan Leo melihat Sarah bangun dari kolong meja Presddir. Wajah Pak Zahid memerah, begitu juga dengan Sarah. Apa yang baru saja mereka lakukan? Apakah mereka melakukan sesuatu yang ada dalam pikiran Layla sekarang?


"Wow, mohon maaf Tuan Presdir. Saya pikir Anda sendiri" ujar Leo lalu ditarik keluar ruangan oleh Layla.


"Kita kembali nanti" katanya lalu berbalik pergi. Kembali ke ruangan kecilnya.


"Saya tidak menyangka. Ternyata aktor itu memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu di kantor dengan selingkuhannya"


"Hentikan. Cukup Leo"


Layla duduk di kursinya dan mulai membuka berkas yang harus dia pelajari.


"Apa Anda akan diam saja? Meskipun ini hanyalah pernikahan di atas kertas, seharusnya aktor itu tidak melakukan ini di depan Nona"


Layla tidak ingin menanggapi komentar Leonard dan ingin fokus pada pekerjaannya saja. Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi. Karena dia terus saja merasa menyesal telah menyerahkan diri pada suaminya. Suami yang mencintai wanita lain. Suami yang berani melakukan hal semacam itu di kantor ayahnya. Sungguh, Layla merasa menyesal karena tidak bisa menahan diri semalam.

__ADS_1


"Bisakah kau menyediakan laptop, dan semua peralatan kantor disini?" pinta Layla tiba-tiba. Meskipun tidak mengerti tujuannya, Leo melakukan apa yang dimintanya dan meninggalkan ruangan. Membuat suasana di dalam ruangan sempit itu menjadi sepi kembali. Kini, Layla harus fokus pada pekerjaannya.


__ADS_2