The King

The King
Episode 29


__ADS_3

Layla merasa tubuhnya kaku tidak bisa bergerak sama ekali. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa majikannya menciumnya? Dan juga, kenapa Layla merasa jantungnya berdebar setelah laki-lai itu melepaskan bibirnya? apa dia menyukai aikannya sendiri? Disaat dia sudah ditunangkan dengan orang lain. Lyla tidak berani bergerak ataupun membuka mata. Pikirannya penuh seakan ingin menghilangkan bekas hangat yang masih terasa dibibir dan hatinya. Ayahnya telah mengatur sebuah pernikahan untuknya setelah lima bulan ke depan, dan Layla tidak boleh menyukai orang lain. Apa yang harus dilakukannya?


Tangannya mengepal dengan keras, berusaha menghapus semua perasaan yang timbul kepada majikannya. Mia lalu membuka matanya secara perlahan dan melihat ke arah jalan.


"Kau sudah bangun?"


Tanpa melihat ke arah majikannya, Layla menjawab "Iya"


"Kita akan berangkat ke tempat pemotretan, disana kau bisa meihat pekerjaanku"


Layla terhenyak, kenapa juga dia harus tahu pekerjaan Tuan Zahid? Meskipun merasa aneh dengan ajakan majikannya, Layla tetap diam karena takut mengatakan apapun yang ada dalam otaknya.


Mereka sampai di sebuah gedung yang tinggi dengan seluruh lantai satu sampai lima ditutupi dengan material yang membuatnya berkilaau bagaikan berlian. Sungguh megah dan cantik. Apa perusahaan ayahnya pernah membangun gedung seperti ini? Sepeertinya tidak.


"Kau sedang apa?"


"Apa, Pak?" tanya Layla yang masaih sibuk mengagumi gedung CJ entertaintment itu.


"Keluarlah, aku tidak bisa menunggu lama"


Layla tersadar lalu membuka pintu dan masuk ke  gedung cantik itu bersama majikannya. Tentu saja beberapa orang melihat ke arah mereka, dan Layla yakin kalau semuanya sedang menikmtai wajah majikannya.


"Berjalanlah disampingku" Tiba-tiba saja Pak Zahid melingkarkan lengannya di pinggang Layla. Menariknya sehingga mereka berjalan berdampingan. Hal itu seegera membuat beberapa orang berseru dan Layla tidak mengerti kenapa. Baru setelah berada di dalam lift, dia mengerti alasannya. Semua pandangan mata dan telunjuk diarahkan bukan ke majikannya. Tapi ke dirinya. Ke asisten rumah Tuan Zahid. Layla segera merasa tidak nyaman.


"Pak"


"Apa?"


"Apakah ... " Mia tidak yakin bisa menanyakan esuatu seperti ini disaat antara dirinya dan majikannya tidak ada hubungan papaun.


"Apa?"


"Tidak" Dia tidak merasa percaya diri bertanya tentang sesuatu seperti ini.


Keluar dari lift, majikannya mengajak Layla ke sebuah ruangan dengan batas atap tinggi. Disana telah siap beberapa ... bukan ... banyak orang yang menyiapkan pemotretan. Dan mereka semua melihat ke arah Layla dan majikannya yang baru saja datang. Sungguh tidak nyaman.


"Layla, kenappa kau ikut kemari?" tanay suara yang sering Layla dengar.


"Pak ... ini" Layla belum sempat menjelaskan, pak Zahid sudah menyelanya.

__ADS_1


"Aku yang mengajaknya kemari. Mana bajuku?"


Kehadiran Layla segera dilupakan saat pemotretan dimulai. Disana, Layla hanya bisa berdiri di tepi ruangan dan melihat ke arah pak Zahid yang sedang berpose di depan kamera.


Baru kali ini, Layla melihat wajah pak Zahid begitu serius. Apa laki-laki itu memeang keren disaat bekerja? Apa itu yang membuatnya sangat terkenal? Mata Layla tiba-tiba bertatapan dengan mata pak Zahid. Dia tidak bisa memalingkan mata karena melihat seorang laki-laki yang menjadi semakin tampan dibawah semua lampu itu. Tiba-tiba saja, pak Zahid tersenyum dan membuat jantung Layla berdetak kencang. Meskipun dia berusaha bernapas dengan lambat dan teratur, detak jantungnya tidak kunjung mereda. Dan seperti ngin lebih mempercepat detak jantung Layla, laki-laki yang berada di set itu membuka baju dan menampilkan otot perut dan dadanya. Mia segera memalingkan wajahnya yag memanas. majikannya memang gila. Apa maksudnya melakukan hal itu?


Zahid bersenang-senang dengan kehadiran Layla di ruangan tempat dia melakukan pekerjaannya. Mungkin seperti ini rasanya diikuti oleh istri saat bekerja. Rasanya sangat menyenangkan.


"Apa-apaan kau?" tanya Boni mengganggu kesenangannya. Zahid segera memakai pakaiannya dengan baik dan melihat ke arah Layla yang masih menyembunyikan wajahnya. Senyum mengembang lebar di wajah Zahid.


"Aku hanya bekerja, Boni. Bekerja"


"Lalu, kenapa kau bawa Layla kemari? Bagaimana kalau ada rumor yang muncul tentang kalian?"


Zahid tidak peduli kalau ada rumor yang muncul, karena Layla adalah calon istrinya.


"Biarkan saja semua muncul, aku tiidak keberatan"


"Kau sudah gila rupanya"


Zahid masih tersenyum lebar sesaat sebelum kembali bekerja. Dan saat dia haus berganti pakaian,  Zaid sengaja melakukannya di depan Layla. Untung saja Boni yang cekatan membawanya menjauh sehingga tidak terjadi kekacauan.


"Tuan G" kata Boni dengan nada suara bergetar. Sial, pikir Zahid.


"Selamat malam Tuan" Boni memberi ruang untuk Zahid menerima telepon dan menjauhkan orang lain.


"Apa yang sedang kaupikirkan sekarang?" Sebuah pertanyaan yang memiliki jawaban sangat banyak, dan Zahid tidak berani mengeluarkan salah satunya.


"Saya tidak akan mengulanginya lagi" jawab Zahid setelah berpkir keras. Pasti Tuan Graham tidak suka dia berperilaku eperti itu di depan putrinya.


"Kau harus mengabarkan kepergianmu dengan putriku ke Frank. Aku tidak suka putriku keluar tanpa pengawal"


Zahid segera menyadari kesalahannya.


"Baik, Tuan"


"Jangan panggil aku seperti itu. Kita akan segera menjadi keluarga"


Zahid merasa tertekan dengan kata-kata yang diucapkan calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Baik, Ayah"


"Bagus. Frank sudah mengirim pengawal ke tempat itu. Jaga putriku dengan baik!"


Zahid membungkuk padahal Tuan Graham tidak ada di depannya. Dan saat telepon itu berakhir, Zahid segera memanggil Boni.


"Carikan Layla duduk di tempat yang nyaman!"


"Apa? kenapa aku harus melakukan itu untuk sorang asisten rumah tangga?"


Sebenarnya Zahid ingin menyembunyikan identitas asli Layla pada Boni. Tapi rasanya, manajernya ini harus tahu siapa majikannya sebenarnya.


"Karena Layla adalah calon istriku. Putri Tuan Graham yang bahkan memiliki gedung ini"


Seperti tersambar petir, boni berteriak denegan kencang mendengar kebenaran yyang tidak pernah diduganya itu.


"Kau bohong"


"Aku tidak pernah membohongimu, ingat itu"


"Tunggu, benarkah itu?" Boni masih belum percaya dengaan apa yang dikatakan oleh Zahid.


"Benar"


Zahid keluar dari ruangannya berganti baju lalu mendekati Layla.


"Duduklah di ruanganku, kakimu akan sakit nanti"


"Tidak apa, Pak. Saya"


"Kau akan menuruti perkataanku atau aku harus menggendongmu kesana?"


Mendengar itu, layla segera bergerak ke ruangan Zahid dan bertemu dengan Boni yang ingin keluar.


"Duduklah disana dan aku akan segera selesai bekerja"


"Baik, Pak" jawab Layla lalu bertubrukan dengan Boni yang keluar dari ruangan.


Zahid menghela napas melihat perlakuan Boni yang canggung terhadap Layla. tapi hal ini benar untuk dilakukan. Layla adalah seorang putri yang berharga, dan juga perempuan yang akan menjadi istrinya. Seharusnya Zahid mmempertibangkan dengan baik, apa yang akan dilakukannya, kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2