
Dengan kekuatannya, Layla mendorong laki-laki yang ada di atasnya sampai terjatuh di lantai.
"Aduhh" laki-laki itu manatap protes kepadanya, tapi Layla tidak peduli. Dia mendengar suara ibu mertuanya mendekat dan tidak ingin tertangkap dalam keadaan yang memalukan.
"Layla, Zahid, kalian di dalam?"
Suara ibu mertuanya terdengar lagi, kali ini lebih keras dan Layla segera bangkit dari sofa.
"Itu hanya ibuku. Kenapa kau?" protes laki-laki itu tapi Layla tidak menghiraukannya dan pergi ke pintu depan untuk menyambut ibu mertuanya.
"Aku diberitahu ibumu kalau kalian akan tinggal dalam rumah yang sama mulai semalam"
"Kenapa Nyonya membawa banyak barang kemari?" tanya Layla saat mebantu ibu mertuanya membawa dua kotak besar yang dia tidak tahu isinya.
"Rumah ini sudah lama tidak dihuni. Pasti tidak ada makanan di dalam lemari esnya"
Ternyata, ibu mertuanya mengkhawatirkan mereka tidak akan makan di rumah ini. Padahal, pak Boni telah mengurus semuanya dengan sangat baik.
Saat Nyonya Hannah masuk ke dalam rumah, Layla tidak melihat suaminya di lantai lagi. Laki-laki itu berdiri di dekat jendela dan kelihatannya masih marah karena kejadian barusan.
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Nyonya Hannah pada putranya.
"Berdiri"
"Apa?"
"Apa yang ibu lakukan disini?"
"Aku dan Martha mengkhawatirkanmu yang tinggal di rumah ini lagi"
Tante martha khawatir pada pak Zahid? Atau putri Tante Martha yang menjadi kekasih pak Zahid yang khawatir? Layla memilih diam saja saat suami dan ibu mertuanya bicara setelah lama tidak bertemu.
"Aku juga membawakanmu makanan. Martha juga membuatkan beberapa makanan pendamping untuk kalian"
"Tidak perlu. Akan ada pelayan yang datang kemari"
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Layla tidak akan terlalu capek karena harus bekerja dan mengurus rumah"
"Itu sudah tugasnya"
"Apa kau bilang?"
"Dia adalah istriku, wajib untuk melakukan semua itu"
"Zahid, apa yang kau katakan. Layla bukan perempuan yang bisa kau perintah seperti itu"
"Ibu pulang saja. Aku akan menyuruh Boni mengantarmu pulang":
Layla memang tidak terlalu sering bertemu dengan ibu mertuanya. Karena pekerjaan dan kesibukannya kuliah, dia bahkan belum sempat berkunjung ke rumah mertuanya lagi setelah resmi menikah. Tapi, itu bukanlah alasan sebenarnya dia tidak pernah pergi. Keberadaan Nyonya Martha, ibu sang kekasih Pak Zahid, menyebabkan dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Lagipula, ibu mertuanya itu tidak pernah memperlakukannya sama seperti dulu, setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
"Maaf, tapi saya harus pergi ke suatu tempat sekarang. Untuk urusan pekerjaan" kata Layla emmotong pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Apa? Kemana?"
Nyonya Hannah memukul lengan putranya dan melihat dengan cara aneh ke arah Layla.
"Kau tidak boleh bertanya seperti itu. Layla boleh pergi kemanapun yang dia inginkan."
Layla merasa asing, itulah yang dia rasakan sekarang. Seperti kehadirannya tidak diharapkan di dalam rumah ini. Kalau seperti itu, dia lebih baik pergi.
"Maaf Nyonya Hannah, saya tidak bisa menemani Anda"
"Tidak. Kenapa kau bilang seperti itu. Aku yang harusnya minta maaf karena mengganggu"
"Baik. Saya pergi dulu"
"Tunggu ... "
Layla tidak menunggu untuk pergi sesuai dengan apa yang diinginkan pak Zahid. Dia segera keluar rumah dan berlari ke sebuah halte bis yang pernah diingatnya dulu.
Zahid melihat punggung istrinya menghilang di balik pintu lalu beralih ke ibunya.
"Apa yang ibu lakukan?"
"Apa? Ibu tidak melakukan apa-apa"
"Dia adalah Nona Besar. Ibu hanya melakukan yang seharusnya"
Zahid tidak habis pikir kenapa ibunya berkata seperti itu pada Layla. Selama ini ibunya tidak pernah menunjukkan rasa tidak suka pada istri Zahid itu.
"Sebaiknya ibu pulang saja"
"Ibu tidak tahu apa pertimbangan Tuan dan Nyonya Graham melakukan ini. Tapi Layla masih sangat muda. Anak itu memiliki masa depan yang cerah sebagai putri keluarga Graham. Jangan pernah menghancurkannya"
"Maksud ibu aku akan menghancurkannya?" Zahid tidak mengerti dengan pola pikir ibunya yang aneh.
"Kau sudah tiga puluh enam tahun. Bukankah kau seharusnya bersama dengan wanita yang dewasa? Tunggulah sampai Tuan Graham memutuskan utnuk memberhentikanmu dari pekerjaan ini. Lalu kau bisa menikah dan mencintai seorang wanita yang pantas"
Zahid terdiam mendengar apa yang sudah dikatakan oleh ibunya. Ternyata ini maksud ibunya seallu bersikap sopan pada Layla. Dia tidak pernah berpikir tentang hal itu. Dia pikir, Layla adalah miliknya, istrinya.
"Meskipun Sarah sering mengeluh tentang perlakuan orang-orang padanya, ibu lebih setuju kau bersamanya. Lagipula, kalian memang sudah saling dekat"
"Tidak"
"Apa?"
"Aku tidak pernah menganggap Sarah seperti itu"
__ADS_1
"Tapi, berita kalian sudah ada dimana-mana.dan Martha mulai khawatir dengan masa depan putrinya."
Zahid tidak menjawab dan tidak ingin berkomentar apapun tentang hal ini. Yang ingin dia lakukan hanyalah melihat wajah Layla di depannya. tapi kelihatannya itu tidak akan terjadi lagi hari ini.
"Pernikahan dan jabatanmu yang menyiksa ini memang salah ibu. Tapi, setidaknya ibu ingin kau bahagia dengan seseorang yang nyata. Bukan dengan seorang putri dari negeri khayalan yang seharusnya tidak boleh kau sentuh"
Layla terdiam dan tidak berani melangkah lagi ke dalam rumah. Sebelum sampai di halte bis, dia sadar telah melupakan buku catatannya. Buku yang menampung semua ide dan coretan masa depan yang diinginkannya. Dia baru saja melangkahkan kaki di dalam rumah saat terdengar suara Nyonya Martha yang sedang bicara dengan putranya. Dia mundur satu langkah lalu berbalik pergi. Ternyata, seperti itulah pemikiran semua orang terhadapnya. Bahkan Nyonya Martha yang sebelumnya memperlakukannya dengan baik, berpikir seperti itu.
"Apa Anda sudah memesan Nona?" tanya Frank yang datang setelah Layla memanggilnya ke sebuah cafe pusat kota.
"Belum"
"Apa Anda ingin saya memesan?"
"Aku ... akan masuk ke dalam perusahaan" kata Layla dengan penuh pertimbangan.
"Apa?"
"Aku ... ingin masuk ke dalam perusahaan. Aku ingin dikenal orang sebagai putri keluarga Graham. Dan aku juga ingin banyak orang mulai mengenalku sebagai putri tunggal keluarga Graham"
Frank membatalkan niatnya untuk memesan minuman dan duduk di depan nona mudanya.
"Apa Anda yakin?"
"Iya. Sudah waktunya aku memimpin perusahaan ayahku"
Apa artinya Layla terus bersembunyi dari semua orang. Kalau orang di dekatnya selalu melihatnya sebagai putri keluarga Graham. Dan bukan Layla. Dia muak. Dia tidak ingin lari lagi dari takdir yang memang seharusnya menjadi miliknya. Setidaknya, dia tidak ingin membuat orang lain terluka karena pilihannya lagi. Layla akan maju ke medan perang yang disebut perusahaan dan menerima apapun yang akan terjadi.
"Saya akan memberitahu Tuan Besar"
"Iya"
"Apa Anda ingin sebuah posisi khusus di dalam perusahaan?"
"Wakil Direktur"
"Anda sudah mempertimbangkannya?"
"Aku ... adalah pemilik perusahaan itu Frank. Bukankah setidaknya aku berhak masuk ke posisi itu?"
Kelihatannya Frank terkejut dengan kemantapan hati Layla dan tidak bisa berkomentar selama beberapa detik.
"Saya akan mempersiapkan segalanya. Besok, Anda sudah bisa masuk ke dalam perusahaan"
"Tidak besok. Lusa saja. Aku harus mengundurkan diri dengan baik di perusahaan Raya dulu"
"Baiklah. Saya akan menyiapkan segalanya untuk lusa"
__ADS_1
"Terima kasih"
Frank berdiri, melihat wajah Layla untuk terakhir kalinya sebelum pergi dari cafe. Layla mulai bisa bernapas dengan normal lagi sekarang. Dia menggertakkan gigi dan membusungkan dada hanya untuk membuat Frank mempercayai tekadnya yang kuat. Kini tinggal beberapa urusan yang harus diselesaikannya dengan baik. Terutama urusannya dengan seseorang yang terpaksa ada di dekatnya.