The King

The King
Episode 34


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Hannah melihat anaknya duduk diam di depan jendela kamar.


"Hanya mengamati langit"


"Ibu dengar Tuan Graham mengundur acara pertemuan keluarga"


"Iya, dua minggu lagi"


"Lalu, bagaimana dengan rencana memperkenalkanmu ke semua orang pada saat ulang tahun Nyonya Graham?"


"Sepertinya semua dipadatkan"


Hannah berjalan mendekati putranya dan duduk di kursi yang ada disana.


"Apa kau masih keberatan menikah dengan putri Tuan Graham?" tanyanya tidak mendapatkan jawaban dari Zahid, melainkan hanya keheningan. Sepertinya, putranya ini belum bisa menerima perjodohan ini. Hannah mengerti hal itu kemungkinan disebabkan karena Zahid belum bertemu dengan putri Tuan Graham. Dia juga tidak pernah sekalipun mendengar tentang putri satu-satunya penerus semua kekayaan dari Graham Real Estate itu.


"Tidak"


Hannah terkejut dengan jawaban putranya yang terdengar sangat yakin.


"Benarkah?"


"Iya. Hanya saja ... "


"Apa?"


"Sepertinya perempuan itu tidak menyukaiku"


"Tidak mungkin. Putraku sangat tampan dan terkenal. bagaimana bisa putri Tuan Graham tidak menyukaimu?"


Zahid ingin sekali mengatakan siapa sebenarnya putri Tuan Graham pada ibunya. Tapi dia menahan diri sekuat tenaga. Semua itu agar tidak terjadi sesuatu diluar rencana yang telah direncanakan setelah selama ini. Dan kini Zahid tidak yakin kalau Layla akan menyetujui perjodohan ini. Terutama setelah apa yang dilakukan Zahid tadi pagi. Bodoh. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu pada perempuan yang akan menjadi istrinya? Seharusnya dia menahan diri dengan kuat dan ... tapi tubuh Layla sungguh menggodanya. Membuatnya tidak tahan untuk menyentuh dan meremas. Dan benar saja ... ternyata bagian tubuh Layla memang sebesar telapak tangannya yang besar. Lembut untuk diremas, apalagi kalau dia memiliki kesempatan untuk menji ... .


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Pertanyaan ibunya menyadarkan Zahid dari lamunan mesumnya. Apa yang terjadi padanya sekarang? Kenapa dia tidak bisa menahan diri sama sekali? Apa karena hormonnya yang sedang naik? Zahid menarik tangannya yang terulur bebas di udara dan merasa malu pada dirinya sendiri.


"Tidak ada. Aku akan menyruh Layla menyiapkan makan siang"

__ADS_1


Zahid bangkit dari duduknya dan ingin keluar kamar.


"Tapi, Layla sakit. Kau memberinya libur hari ini"


Perkataan ibunya, membuat Zahid berhenti melangkah dan memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan.


"Kita makan di luar" katanya lalu mengambil kunci mobil. Kenapa dia tidak bisa berpikir dengan benar sekarang?


Zahid turun ke bawah dan menemukan Layla sedang membersihkan barang bawaan ibunya dengan memperlihatkan leher putih yang kemerahan. Zahid segera mendekati Layla karena tidak ingin ibunya melihat tanda kemerahan pada leher perempuan itu. Tapi tangannya tidak melakukan apa yang sudah direncanakan. Dia mendekatkan bibirnya pada leher putih itu dan memberikan tanda kepemilikn lainnya. Layla mengerang dan terkejut secara bersamaan membuat Zahid semakin tidak bisa mengendalikan diri. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak bisa berhenti melakukan hal ini pada Layla.


"Lepaskan, Pak!?" pinta Layla dengan berbisik. Zahid semakin bersemangat dan membiarkan tangannya menjelajah tubuh itu lagi.


"Zahid kau lupa jaketmu" teriak ibunya membuat Zahid tiba-tiba mendorong perempuan di pelukannya ke depan. Layla mendarat ke karpet tebal dengan bagian tubuh depannya terlebih dahulu. Sial, pikir Zahid menyesal. Dia melihat ibunya berlari ke bawah dan segera menolong perempuan yang didorongnya. Tentu saja Layla memiliki raut wajah kesal karena perbuatannya.


"Layla, apa kau terjatuh?" tanya ibunya dengan napas tersengal. Zahid menarik ikat rambut Layla dan membuat rambut perempuan itu tergerai halus. Harum rambut Layla tercium di hidungnya dan sesuatu di pangkal paha Zahid terbangun dengan mudahnya. Apa yang terjadi dengannya?


Layla tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia terjatuh dengan wajah duluan. Untung saja ada karpet bulu tebal yang menyelamatkan wajah dan tubuhnya. Dan semua ini karena laki-laki yang sedang sibuk melepas ikat rambutnya dengan sembarangan. Ingin sekali dia mengumpat pada laki-laki itu tapi tidak bisa karena ibu majikannya berteriak. Terpaksa layla bangun dengan bantuan laki-laki yang menyebabkan jatuhnya dan berusaha tersenyum.


"Iya, saya pusing sekali" ujarnya lalu menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.


"Aku akan mengantarnya ke kamar" kata laki-laki di sebelahnya lalu memapah Layla ke kamar. Laki-laki ini sepertinya ingin sekali merasakan kemarahan Layla.


"Maafkan aku" kata laki-laki itu lalu memperlihatkan raut wajah seperti menyesal. Membuat Layla tidak bisa marah dan kesal. Layla belum menjawab, terdengar suara ibu majikannya dari luar kamar.


"Ibu akan menunggumu diluar. Sepertinya kita harus pergi membelikan Layla obat untuk sakitnya"


Setelah mendengar langkah kaki menjauh dari kamarnya, Layla segera menepis tangan majikannya yang masih bertengger di pundaknya.


"Saya minta Anda keluar" katanya dengan tegas. Dia tidak ingin melihat laki-laki ini di depannya lagi. Setidaknya untuk sisa hari ini.


"Baiklah, Tapi samarkan tanda merah di lehermu"


Layla tidak percaya laki-laki ini mengatakan hal itu. Padahal bukan Layla yang menyebabkan tanda merah yang ada di tubuhnya, terutama leher. Ingin sekali dia memukul majikannya yang mesum ini tapi layla bisa menahan kemarahannya.


"Baiklah" jawabnya dengan menekan tiap suku kata yang diucapkannya.


Akhirnya majikan dan ibu majikannya keluar dari rumah. Meninggalkan Layla sendiri di dalam rumah. Dia keluar dari kamar dan mulai membersihkan barang bawaan ibu majikannya. Tidak lama semua selesai dan layla juga menyiapkan beberapa makanan kecil untuk Nyonya Hannah. Layla kembali ke kamar setelah melakukan semua itu dan berhenti karena mendengar suara bel pintu luar. Apa majikan dan ibu majikannya itu sudah kembali dari makan siang? Cepat sekali.

__ADS_1


Layla keluar dan melihat orang yang dikenalnya ada di luar rumah. Segera dia keluar rumah dan membuka pagar untuk teman sekaligus pengawalnya yang paling setia.


"Frank"


"Nona"


Layla memeluk Frank yang dirindukannya dan tidak sadar syal penutup lehernya terlepas begitu saja karena terlalu senang.


"Ada apa ini? Kenapa kau datang kemari?"


"Nona, saya datang untuk mengambil ... "


Frank tidak melanjutkan perkataannya dan menyibakkan rambut layla dengan kasar. Layla yang ingat tentang tanda merah di lehernya dan berusaha menutupi dengan rambutnya lagi.


"Anda ikut dengan sya sekarang juga!"


"Apa?"


Frank masuk ke dalam rumah lalu pergi ke kamar Layla dan segera mengemasi barang-barang di dalamnya. Layla terkejut dengan apa yang dilakukan pengawalnya ini.


"Frank, kau tidak berhak melakukan ini. Ayah memberiku waktu dua minggu lagi untuk bekerja disini!" teriaknya lalu berusaha menghalangi Frank mengemasi barangnya.


"Tidak. Anda harus ikut saya pulang sekarang juga"


"Frank, aku belum memberikan surat pengunduruan diriku pada majikanku"


"Tidak perlu"


Frank berhasil mengemasi semua barang lalu memberikan jasnya pada Layla.


"Aku tidak mau pergi" kata Layla kesal. Bagaimana bisa orang yang paling dipercaya olehnya melakukan hal ini.


"Saya adalah pengawal Anda, Nona. Saya berhak memutuskan Anda pergi dari sini karena merasakan bahaya"


Frank bicara dengan sopan, itu artinya dia marah. Layla tidak berani lagi bersikeras untuk tinggal dan keluar dari rumah yang telah menjadi tempatnya bekerja selama beberapa bulan saja. Di luar rumah Layla menunggu Frank memasukkan kopernya ke bagasi dengan wajah suram. Dalam hati dia mulai menyalahkan majikan bodoh itu karena memberikan tanda merah yang jelas di lehernya. Apa sebenarnya maksud laki-laki itu melakukan hal ini? Layla ingin sekali bertanya pada pak Zahid tentang hal itu tapi percuma saja. Lagipula, dia akan segera menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya.


Frank membuka pintu untuk Layla,mengharapkan dia segera masuk ke dalam mobil. Layla melihat ke belakang dan tampak rumah yang tidak akan bisa dilihatnya lagi. Selamat tinggal pak Zahid, Nyonya Hannah, Pak Boni dan kamar kecilku, pikirnya dalam hati. Dia melihat ke arah Frank dan mulai merasa kesal.

__ADS_1


"Perlu kau tahu. Majikanku tidak melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Jangan laporkan dia kepada ayah" pintanya sebelum masuk ke dalam mobil. Mulai sekarang dia harus kembali ke istana yang mengurungnya.


 


__ADS_2