The King

The King
Episode 70


__ADS_3

Zahid terus saja melihat ke arah Layla. Selama malan malam dan kini di mobil, istrinya itu tidak mengatakan apapun padanya. Sepertinya marah karena sesuatu. Tentu saja. Dari awal datang, Layla telah menyaksikan sendiri begitu hebatnya akting dari aktris yang disewanya untuk menjadi selingkuhan. Meskipun tidak nyaman, Zahid harus menyambut wanita itu dengan baik. Juga beradu akting agar tidak membuat sepupu Layla yang paling berbahaya itu curiga. Ada alasan aktris itu juga diundang malam ini. Dan Zahid tidak bisa mengutamakan perasaan Layla.


"Kau marah?" tanyanya tidak menerima jawaban dari Layla.


Aktris wanita itu akhirnya harus diantar pulang oleh Boni karena tidak tahan dengan situasi yang dihadapinya. Dan Zahid curiga kalau aktris itu mendapatkan beberapa perlakuan tidak senonoh dari sepupu Layla. Kalau itu benar, maka Zahid terpaksa harus mencari selingkuhan baru. Dia tidak ingin ada siapapun terancam bahaya hanya karena rencananya.


"Kau tidak bisa terus diam seperti ini" katanya lalu menghadapi keheningan.


"Saya hanya ingin pulang"


Akhirnya perempuan ini membuka mulutnya.


"Apa kau cemburu?"


"Bisakah Anda tidak bicara tentang malam ini. Saya lelah sekali"


Berada dalam satu ruangan dengan suami dan selingkuhannya, pasti melelahkan sekali. Zahid mengerti. Apalagi menanggapi semua cibiran dari sepupu dan paman yang berpura-pura akrab.


"Kau tidak boleh lelah. Karena aku ... " Terbayang malam panas di otak Zahid. Mmebuatnya bersemangat untuk memacu mobilnya lebih cepat ke rumah.


Sampai di rumah Layla mendahuluinya masuk ke dalam. Dia harus menghubungi Boni sebelum masuk ke dalam rumah. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada selingkuhan bayarannya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Anak bodoh itu menawarkan uang agar dia bicara"


"Apa dia bicara?"


"Tidak. Karena uang dari kita lebih besar. Tapi ... "


"Apa?"


"Anak bodoh itu hampir menyentuhnya kalau kita tidak datang dengan cepat"


"Sial. Apa dia meminta untuk berhenti?"


"Tidak. Dia merasa bisa menangani hal seperti ini."

__ADS_1


"Baguslah. Untuk sementara sembunyikan dia. Jangan sampai ada yang tahu keberadaannya"


"Baik"


Zahid mendesah berat. Sial. Pada Sarah mereka tidak berani melakukan hal ini. Kenapa sekarang berbeda? Apa karena Sarah tampak terlalu kuat untuk dirayu? Mungkin Zahid harus mempertimbangkan keberadaan Sarah di sisinya lagi. Hanya untuk beberapa bulan sampai Layla siap menjadi Direktur perusahaan. Dia memeriksa keberadaan pengawal sebelum masuk ke dalam rumah.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya saat melihat Layla telah berada dibawah selimut hangat. Perempuan itu memilih untuk tidur di sofa, pasti untuk menghindarinya.


"Tidur"


"Kau akan tidur disini? Kita sudah memiliki perjanjian"


"Saya ingin tidur cepat"


"Kau akan tidur di lantai dua atau aku akan mengangkatmu"


Perempuan itu mulai bergerak dan membuat Zahid ingin tertawa. Dia sungguh mencintai perempuan ini. Perempuan yang polos dan lucu, juga tidak sadar memiliki segalanya di genggaman tangannya. Tapi juga menyimpan ancaman bahaya yang harus ditanggungnya seumur hidup. Zahid menarik selimut yang membungkus tubuh Layla dan tersenyum.


"Apa yang Anda?"


Dia kemudian berbaring di sebelah istrinya, membuat sofa besar itu terasa sempit.


"Saya tidak marah"


"Kau marah"


Hanya dengan perempuan ini, Zahid bisa menjadi dirinya sendiri. Liar dan nakal. Bukan Zahid penurut yang harus menyenangkan orang lain.


"Tidak" jawab Layla kesal.


Wajah mereka begitu dekat sehingga Zahid bisa mencium bau parfum istrinya. Seketika keinginannya menindih istrinya menjadi semakin besar.


"Kau cemburu dan marah, tapi aku menyukainya"


"Anda gila"


"Yah, gila karenamu"

__ADS_1


Zahid membungkam istrinya dengan beberapa ciuman sebelum merasakan tendangan kuat yang memaksanya jatuh ke lantai.


"Anda benar-benar gila" kata Layla lalu berlari pergi ke lantai dua. Zahid merasakan sakit di punggung tapi tidak menurunkan keinginannya untuk bersama Layla malam ini. Dia mengejar istrinya yang berusaha kabur dengan sekuat tenaga.


"Kenapa kau tidak memakai gaun tidur yang tipis? Aku sangat suka melihat kulitmu tampak disana-sini" rayu Zahid setelah berhasil memeluk istrinya dari belakang.


"Lepaskan! Saya ingin tidur malam ini"


"Kau bisa tidur setelah kita melakukannya"


"Tidak mau!"


"Bagaimana ini? Kelihatannya kau tidak memiliki pilihan lain"


Zahid melepaskan pelukannya dan membiarkan Layla untuk kabur beberapa meter sebelum mengerjarnya lagi. Sungguh menyenangkan melakukan ini dengan perempuan ini. Kehidupan pernikahan seperti inilah yang selalu diinginkannya. Setelah tertangkap untuk kedua kalinya, Zahid tidak melepaskan Layla lagi. Dia memaksa perempuan itu untuk melayani nafsunya yang meluap-luap. Saat benar-benar puas, Zahid akhirnya melihat air mata yang menetes di pipi istrinya.


"Kau menangis?"


"Saya benci Anda. Benci!!" tegas Layla merobek hati Zahid.


"Bencilah aku. Benci aku!" kata Zahid lalu menghadiahkan beberapa ciuman.


Semakin Layla membencinya, maka itu bagus. Karena disaat nanti mereka berpisah, layla akan menjalani kehidupan barunya tanpa harus terluka karenanya.


"Berhenti!" kata Layla dengan suara yang kelelahan.


"Baiklah. Aku akan berhenti sekarang. Tidurlah!"


Zahid dengan berat hati mengangkat tubuhnya dan membiarkan Layla untuk mendapatkan oksigen sebanyak-banyaknya sampai tertidur. Dia menatap wajah cantik istrinya dan merasa sedih. Hanya setahun, bisakah nanti dia melepaskan Layla tanpa terluka? Apa yang akan dia lakukan saat berpisah dengan Layla? Bagaimana hidupnya nanti tanpa kehadiran istrinya ini? Sepertinya hari-hari itu akan menjadi sangat suram. Tapi dia tetap harus menghadapinya. Layla memiliki kehidupan panjang di hadapannya. Tugasnya hanyalah menyiapkan istrinya dan kemudian pergi.


"Aku mencintaimu" bisik Zahid di telinga Layla.


Layla terbangun dalam keadaan remuk. Sekali lagi, dia merasakan betapa kuatnya fisik suaminya. Apa memang seharusnya seperti ini? pikir Layla. Untuk seseorang yang tidak mencintainya dan memiliki selingkuhan diluar, tingkah pak Zahid sangatlah aneh. Apakah mungkin bagi seorang laki-laki bercinta dengan perempuan sembarangan? Bukankah semua ini membutuhkan sedikit perasaan di dalam hati? Layla ingin turun dari ranjang saat mendengar pak Zahid bergumam dalam tidurnya.


"Aku sangat mencintaimu"


Apa benar yang didengarnya? Apa pak Zahid sekarang sedang menyatakan cinta padanya? Atau suaminya itu sedang memimpikan wanita lain?Mengingat suaminya memperlakukan aktris itu di rumah paman pertamanya, Layla yakin kalau ucapan itu bukanlah untuknya.

__ADS_1


Dia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan turun ke lantai bawah. Matahari masih belum terbit sekarang dan rumah ini terasa sangat sepi. Sebaiknya dia tidur lagi, kali ini di sofa saja. Dia tidak sanggup kalau harus melayani keinginan pak Zahid. Saat berbaring, dia kembali melihat berita tentang suaminya. Dikatakan disana pak Zahid berada dalam cinta segitiga. Tapi namanya tidak disebutkan di dalamanya. Cinta segitiga yang dimaksud oleh berita itu adalah antara Sarah dan aktris baru itu. Menyedihkan. Dialah istri resmi pak Zahid tapi tidak pernah diberitakan dengan suaminya. Bahkan fotonya tidak pernah muncul unuk dipasangkan disebelah pak Zahid. Semua ini membuat dadanya terasa sesak. Sebaiknya dia tidur saja daripada harus merasa seperti ini.


__ADS_2