
"Malam ini akhirnya tiba juga" kata Boni lalu duduk di depan Zahid.
"Iya"
"Apa kau gugup?"
"Entahlah"
"Lihat ibumu, sanagt senang inginbertemu dengan calon menantu yang sebenarnya sudah dikenal olehnya"
Zahid melihat ibunya membawa gaun yang akan dipakainya untuk acara makan malam hari ini. Dan dirinya sendiri? Tidak tahu apa dia harus senang karena akan bertemu dengan perempuan yang dirindukannya atau gugup karena hal yang sama. bagaimana pendapat Layla saat melihatnya datang sebagai calon suami yang tidak diinginkan. Dan tidak menunggu waktu lama, Zahid telah menemukan jawaban akan rasa penasaran yang sejak tadi menyiksanya. Layla tampil sangat cantik dengan riasan dan gaun biru langit. Menunjukkan bahwa perempuan itu memang masih sangat muda. Dan wajahnya ... seperti melihat hantu.
Zahid tidak bisa menyalahkan perempuan itu. Dia juga sangat terkejut saat mengetahui asisten rumah tangga yang disukainya adalah calon istrinya. Tapi sekarang sepertinya bukan hanya Layla yang merasa terkejut dengan pertemuan ini. Ibunya juga memiliki wajah yang sama dengan Layla.
"Selamat datang di rumah kami" sapa Nyonya Graham yang sepertinya sangat baik.
"Terima kasih"
"Zahid, ada sesuatu yang harus kita bicarakan sebelum makan malam" kata Tuan Graham lalu memberi sinyal untuk mengikutinya. Dengan patuh Zahid melangkah mengikuti calon mertuanya dan membungkuk di depan Nyonya Graham,
Tuan Graham mengajaknya ke sebuah ruangan di dalam bangunan ketiga yang ada di rumah ini, melalui lorong yang terkesan sepi.
"Masuklah!"
Zahid masuk ke dalam ruangan dan disana ada Frank yang menunggu keduanya.
"Baik"
"Duduklah, ada sesuatu yang harus kau tanda tangani"
Sebelumnya tidak ada kesepakatan tertulis apapun diantara mereka. Kenapa sekarang tiba-tiba?
"Apa saya boleh membacanya?"
"Silahkan"
Frank memberikannya kertas yang sudah ditandatangani Tuan Graham, memberi kesan kalau Zahid harus menyetujui semua yang ada di dalamnya.
Surat itu berisikan sesuatu yang diluar perkiraan Zahid. Di dalamnya tertulis bahwa Zahid tidak boleh sekalipun menyentuh Layla Graham dengan paksaan. Semua hubungan fisik diantara mereka harus dilakukan atas dasar suka sama suka, bukan paksaan. Apa??? Zahid ingin sekali melempar surat ini tapi wajah Tuan Graham dan Frank sepertinya sangat serius. Ternyata ... Tuan Graham dan Frank menyayangi Layla.
__ADS_1
"Saya adalah laki-laki sehat" kata Zahid.
"Aku tidak meragukannya"
"Kalau hal ini karena kejadian seminggu yang lalu, maka ... "
"Aku hampir saja memerintahkan Frank membunuhmu saat itu"
Ancaman Tuan Graham sepertinya akan benar-benar terjadi kalau Zahid menantangnya. Tapi ... Zahid percaya bahwa pesonanya akan membuat putri Tuan Graham bergerak lebih dulu untuk menyentuhnya. Setelah menandatangani surat tidak berguna itu, Zahid berdiri dan mengancingkan jas-nya.
"Anda perlu tahu kalau Layla tidak menolak sentuhan saya saat itu. Dan sepertinya ... nantinya dia hanya akan menikmati apapun yang saya lakukan" katanya lalu meninggalkan ruang kerja calon mertuanya. Senyum tipis mengembang di wajahnya, membayangkan apa yang bisa dia lakukan dengan Layla ketika resmi menjadi suami istri.
"Sungguh percaya pada potensi dirinya sendiri. Aku tidak salah memilih penerus" kata Harold bangga.
"Tapi, Tuan. Apa sebaiknya kita menunda pernikahan ini?" tanya Frank gugup. Dia tidak ingin anak majikannya yang selama ini selalu dia jaga seperti anak sendiri dipermainkan oleh aktor itu.
"Dia sangat yakin Layla akan menyukainya. Dia tidak mengenal putriku"
Mendengar perkataan majikannya, Frank menjadi agak tenang. Benar juga, Nona Layla tidak mungkin mudah menyerahkan dirinya pada laki-laki seperti itu.
"Anda benar"
"Baik Tuan"
Frank mengikuti majikannya untuk kembali ke ruang keluarga yang hening.
"Layla... Layla ... Layla"
Setelah namanya dipanggil tiga kali, layla tersadar dari lamunannya.
"Apa, Bu?"
"Kenapa kau tidak bicara sama sekali? Di depan kita adalah calon suami dan calon mertuamu, juga calon adik iparmu. Saya tidak tahu kalau Zahid memiliki seorang adik"
"Bukan" jawab Layla membuat ibunya terkejut.
"Apa?"
"Itu adalah manajernya"
__ADS_1
"Oh, benarkah?" tanya ibu Layla kepada keluarga besannya.
"Benar Nyonya. Ini adalah Boni, manajer saya. Saya mengajaknya kemari karena Boni segera menjadi asisten pribadi seperti yang Frank lakukan dengan suami Anda"
"Aduuh. Suaramu benar-benar dalam dan mempesona. Tapi kenapa kau masih memanggilku Nyonya. Aku akan menjadi ibu mertuamu, jadi ... panggil saja aku ibu"
"Ibu!!" protes Layla.
Ibunya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Layla melihat laki-laki yang duduk di depannya dan sebuah senyuman ada disana. Laki-laki ini ... membohonginya. Lalu, apa arti perbuatannya seminggu yang lalu? Pertanyaan Layla tetap berada dalam hatinya setelah ayahnya kembali dari ruang kerja. Acara makan malam lalu dilanjutkan dan hanya ibunya yang sering bicara dan bertanya. Pak Zahid dan Nyonya Hannah berusaha menjawab keingintahuan ibunya yang berlebihan itu.
Akhirnya makan malam berakhir, tapi ibunya tidak membiarkan pak Zahid, pak Boni dan Nyonya Hannah pergi. Ibu Layla mengajak Nyonya Hannah bicara di halaman samping. Frank mengajak pak Boni untuk mendapatkan beberapa pengarahan. Ayah Layla kembali ke ruang kerjanya dan meninggalkannya sendiri dengan pak Zahid. Keheningan diantara keduanya tercipta tanpa bisa dihindari. Disaat ini Layla terus saja berpikir tentang kebodohannya karena tidak pernah mengetahui kalau pak Zahid sebenarnya adalah laki-laki yang dijodohkan dengannya. Padahal, beberapa kali dia menemukan surat dengan nama perusahaan ayahnya. Juga pernah mendengar pembicaraan pak Zahid dan pak Boni yang menyebut nama ayahnya.
Kenapa dia sama sekali tidak menyadari hal itu? Saat layla sibuk berpikir, laki-laki di depannya tidak sabar untuk bicara.
"Aku khawatir saat kau tidak ada di rumah waktu itu" kata laki-laki itu membuat layla mengingat hari disaat Frank membawanya pulang. Dan semua itu karena laki-laki ini meninggalkan tanda kepemilikan di leher dan dadanya.
"Frank ke rumah Anda dan ... " Layla tidak bisa menceritakan kelanjutan apa yang dialaminya hari itu.
"Ada sesuatu di lehermu" kata pak Zahid lalu menunjuk ke arahnya
Layla segera meraba lehernya dan teringat kalau tanda merah yang ditinggalkan oleh laki-laki di depannya sudah hilang beberapa hari lalu.
Layla menatap kesal pada laki-laki yang tersenyum cerah itu.
"Apa kau merindukanku?" tanya pak Zahid tiba-tiba.
RIndu? Seminggu sudah dia tidak melihat wajah laki-laki yang membuatnya merasa senang, kesal dan sedih itu. Dia sebenarnya ingin sekali bertemu lagi dengan laki-laki ini. Tapi ... kenapa situasinya seperti ini? Layla tidak pernah menyangka kalau dia akan menghadapi sesuatu yang seperti ini.
"Sejak kapan pak Zahid tahu?"
"Kalau kau adalah putri keluarga Graham?"
"Iya"
"Sebulan yang lalu"
"Bagaimana bisa?"
"Aku melihat fotomu dengan Frank tepat di atas laptopmu"
__ADS_1
Layla berusaha mengingat-ingat dan sadar kalau dia melakukan kesalahan besar dengan mengeluarkan foto itu dari tasnya. Tiba-tiba dia juga mengingat pernah menemukan kertas dengan kop surat perusahaan ayahnya di tumpukan naskah pak Zahid. Apa mungkin ayahnya membuat pak Zahid membaca berkas perusahaan? Karena pak Zahid adalah calon menantunya? karena pak Zahid mungkin adalah anak laki-laki yang tidak pernah dimiliki oleh ayahnya? Tiba-tiba, ada rasa kesal dan benci di dalam hati layla. Dia merasa kesal karena ayahnya melakukan semua ini.