
Perlahan Dewi Akane mengangkat tangan kanannya dan mengusap sisi samping wajah sang suami dengan begitu lembut dan penuh kasih. Sebuah senyuman yang begitu hangat dan pernuh dengan ketulusan mulai menghiasi wajah ayunya yang kini sudah terlihat sangat pucat.
"Ka-karena aku mencintaimu, Pangeran Shibata Katsuie ... suamiku ..." ucap Dewi Akane begitu lirih dan dia mengatakannya dengan tulus.
Untaian kata dari Dewi Akane terasa menusuk bagi pangeran Shibata Katsuie. Karena selama ini dia merasa belum bisa menjadi seorang suami yang baik untuk sang istri. Bahkan dia tak pernah memberikan hak-hak untuk istrinya. Dan dia sekalipun tak pernah mempedulikan Dewi Akane selama menjadi istrinya.
Selama ini mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan harus tinggal dan hidup bersama karena sebuah janji pernikahan. Hanya itu!
"Akane ... maafkan aku. Maafkan aku karena selama ini aku tidak pernah sedikitpun berbuat baik untukmu. Maafkan aku karena aku karena selama ini tak bisa menjadi seorang suami yang baik untukmu. Maafkan aku, Akane." ucap pangeran Shibata Katsuie penuh penyesalan.
Dewi Akane tersenyum tipis mendengar ucapan dari pangeran Shibata Katsuie. Dia juga mengangguk samar. Meskipun semua itu dilakukan oleh pangeran Shibata Katsuie di masa lalu. Namun Dewi Akane tak pernah sedikitpun membencinya atau menyesali perasaan cintanya yang selalu suci dan tulus.
Perlahan Dewi Akane mulai memejamkan sepasang matanya dan hal itu semakin membuat pangeran Shibata Katsuie terpukul. Dia menangis dan meraung-raung seolah-olah tak kuasa untuk melepaskan Dewi Akane. Karena kini hatinya sudah mulai goyah dan mulai mencintainya.
"Akane, jangan pergi!! Jangan tinggalkan aku sendirian, Akane!! AKANE!!!!"
Pekikan pangeran Shibata Katsuie menggema di segala penjuru istana dan dia semakin memeluk erat tubuh Dewi Akane. Untuk pertama kalinya dia merasakan tak ingin berpisah dengan sang istri yang selama ini selalu tak pernah dia inginkan dan tak pernah dia sentuh. Untuk pertama kalinya dia menangis hanya untuk sang istri. Dan untuk pertama kalinya dia memeluk erat tubuh Dewi Akane yang kini sudah tidak bernyawa.
"AKANE!!! Tidak!! Jangan pergi!! Ijinkan aku untuk menjadi suami yang baik untukmu, Akane!! Hiks ..."
Berulang kali pangeran Shibata Katsuie menyesalu semuanya. Namun semua itu adalah sia-sia. Karena nasi telah menjadi bubur, dan dia tak akan bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Karena Dewi Akane kini sudah pergi untuk selamanya.
Hingga akhirnya sebuah cahaya menyilaukan mulai menyinari sekujur tubuh Dewi Akane. Dan kini pangeran Shibata Katsuie mulai menyaksikan hal paling menyesakkan dalam seumur hidupnya, dimana kini dia melihat tubuh Dewi Akane mulai binasa dan berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang berkilauan dengan cahayanya tersebut.
__ADS_1
"AKANE!!! Aku akan melindungi batu kristal bunga jiwa milikmu ini! Aku tidak peduli jika aku harus menjadi siluman naga sepertimu! Aku akan terus menunggu untuk bertemu denganmu!!"
Suara tangis dan lolongan penuh penyesalan kembali menggaung di sepanjang istana.
Semenjak kepergian Dewi Akane, pangeran Shibata Katsuie semakin berubah menjadi pendiam dan penyendiri. Bahkan dia memutuskan untuk tak akan pernah menikah lagi. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, jika suatu saat dia akan menemukan Dewi Akane di dunia selanjutnya dan akan membalas cinta dari sang Dewi.
Puluhan tahun, hingga ratusan tahun pangeran Shibata Katsuie memutuskan untuk bermeditasi. Hingga batu kristal bunga jiwa milik Dewi Akane yang sebagai ras siluman naga bersisik putih yang telah menyatu di dalam tubuh pangeran Shibata Katsuie dan selama ini menjadi kekuatan daei kehidupannya, perlahan mulai merubah pangeran Shibata Katsuie menjadi siluman naga bersisik putih. Yang pada akhirnya menempati dan menjadi penunggu goa langit malam hingga sampai saat ini.
.
.
.
Satu tahun berlalu, dan kini akhirnya sebuah portal kembali terlihat di dalam goa langit malam itu. Xiao Yu, prajurit Ieyasu dan prajurit Hidemitsu yang sudah bersabar menunggu Fujin kembali kini mulai berbinar saat menyaksikan portal yang terlihat seperti sebuah retakan sebuah dinding goa yang bersinar dengan begitu menyilaukan.
Tubuh Fujin dan tubuh Saika yang masih mengenakan pakaian laki-laki serba hitam mulai terhempas dari dalam portal itu dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Sementara siluman naga bersisik putih yang sebenarnya adalah jelmaan dari pangeran Shibata Katsuie, kini mulai bermeditasi panjang kembali di ujung goa langit malam ini. Sepasang mata kebiruannya mulai terpejam dan masih dengan aura penuh kesedihan karena penantiannya menunggu Dewi Akane.
Xiao Yu, prajurit Ieyasu dan prajurit Hidemitsu akhirnya memutuskan untuk membawa Fujin dan Saika meninggalkan goa langit malam. Dan kini mereka beristirahat di sebuah rumah tua kosong yang kebetulan ada tak jauh dari tempat tersebut.
Tidak ada luka serius yang dialami oleh Fujin maupun Saika. Hanya saja mereka masih belum tersadar kembali setelah terkena jurus ilusi milik sang naga sisik putih.
__ADS_1
Xiao Yu yang cukup mahir dalam ilmu sihir kini mulai mengalirkan qi / chakra pada kedua tangannya. Lalu dia mulai menyalurkannya pada tubuh Fujin. Namun Xiao Yu lebih menekankan pada bagian wajah dan kepala Fujin, agar Fujin segera tersadar kembali dengan ingatan yang baik.
Dan benar saja, setelah 15 menit melakukannya, kini Fujin mulai membuka matanya. Setelah itu Xiao Yu juga melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan Saika.
"Syukurkah langeran Fujin sudah sadar dan kembali." ucap prajurit Ieyasu penuh haru dan membantu Fujin untuk duduk dengan tegap.
Fujin menatap prajurit Ieyasu dan prajurit Hidemitsu dengan tatapan rumit. Karena prajurit Ieyasu dan peajurit Hidemitsu kini sudah terlihat memiliki rambut yang semakin panjang, memiliki kumis yang lebih panjang dan juga memilili jambang. Seolah sudah cukup lama mereka tak merawat diri.
Fujin berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. Namun dia tak mengingat apapun kecuali saat dia terlempar ke dalam portal di dalam goa langit malam. Namun Fujin merasa sangat yakin jika dia sudah berada cukup lama di dunia dimensi lain itu.
"Sudah berapa lama aku pergi?" tanya Fujin lirih.
Seharusnya sudah cukup lama aku pergi. Mungkin 10 bulan, atau sudah hampir satu tahun.
Batin Fujin memperkirakannya.
"Sudah satu tahun, Pangeran pertama Fujin." jawab prajurit Ieyasu dengan nada rendah.
"Satu tahun?" gumam Fujin dengan kening berkerut.
Oh tidak! Itu artinya aku hanya memiliki waktu selama 1 tahun lagi sebelum waktu yang telah diramalkan itu tiba. Tapi ... mengapa aku sama sekali tidak mengingat apapun yang terjadi saat berada di dalam dimensi lain itu?
Batin Fujin mulai beralih menatap Saika yang kini sudah mulai tersadar dia mulai terduduk dengan memegangi keningnya.
__ADS_1
Gadis itu? Mengapa aku merasa sangat tidak asing ketika melihatnya? Rasanya sudah seperti sering bertemu dengannya sebelumnya. Padahal aku hanya yakin dan mengingat jika kita baru bertemu pertama kali saat dia berada di perairan perbatasan. Dan aku menyelamatkannya dari siluman air.
Batin Fujin masih memandangi Saika dari kejauhan, sementara Saika masih terlihat pusing dan terduduk dengan memegangi keningnya.